8. Keputusan

1389 Words
Cukup lama Rey memperhatikan sosok Alina yang selalu menatap Daniel seakan tanpa berkedip sama sekali. "Kau menyukainya?" Tanya Rey membuat Alina menoleh ke arah Rey yang juga tengah menatap dirinya saat ini. "Tidak pak. Saya hanya menatap pak Daniel saja tidak lebih, tidak mungkin jika saya menyukai pak Daniel," Jawab Alina dengan nada gugup. Alina menatap ke arah Rey yang tengah sibuk dengan ponselnya kali ini. "Oh benarkah? Tapi kau menatap Dani terlalu lama. Alina, dan aku beri tahu ya. Banyak yang menyukai Dani jadi jangan sampai kendor karna jika kau sekali saja melepaskannya bisa saja Dani di ambil oleh gadis lain. Lagian, Dani adalah incaran para gadis jika kau tahu," Ujar Rey dengan senyuman gelinya membuat wajah Alina bersemu merah saat mendengar ucapan Rey pada dirinya. Setelah menyelesaikan presentasinya, Daniel kembali duduk di kursi pemimpin. Daniel bisa melihat jika para rekan bisnisnya tengah berbisik satu sama lain, Daniel tahu mereka tengah menilai presentasi mereka. "Rey boleh aku memberi nasehat untukmu. Ada baiknya kau mencari seorang sekertaris, setidaknya dia bisa membantumu untuk setiap hal. Lihat dirimu, kau terlihat sangat kerepotan jika hanya bekerja sendiri. Apa kau tidak berniat mencari seorang sekertaris? Ya setidaknya dapat membantumu dalam hal seperti ini?" Tanya Daniel membuat Rey menatap ke arahnya dengan ekspresi cuek. "Aku rasa aku bisa menangani semuanya sendiri. Lagian aku sudah terbiasa bekerja sendiri, oh ya. Dani? Aku ingin bertanya padamu? Apa kau tidak berniat membuka hatimu untuk seorang gadis? Lagian usiamu sudah sangat matang untuk memiliki seorang pendamping hidup," Kata Rey sambil menatap ke arah Alina. "Sepertinya saat ini aku belum berniat untuk menjalin sebuah hubungan Rey. Karna aku masih ingin fokus akan hubungan kau dan adikku dan soal mencari pendamping hidup? Aku rasa aku belum berminat sama sekali, Apa lagi masih ada hal yang lebih penting yang belum aku selesaikan. Aku rasa kau sudah paham akan maksudku," Kata Daniel membuat Rey mengangguk paham akan ucapan Daniel pada dirinya. Mendengar ucapan Daniel membuat Alina merasa sedikit bersedih, entahlah. Kenapa Alina sampai seperti ini ia pun tidak tahu, yang jelas Alina merasa sedikit patah hati mungkin saja. Melihat wajah kusut Alina membuat Rey hampir saja tertawa saat ini, karna Rey tahu bagaimana perasaan Alina pada Daniel. "Oh. Ho. Aku rasa ada yang tengah patah hati akan penolakanku itu Dani," Sindir Rey pada sosok Alina membuat Alina tersedak air liurnya sendiri. Membuat Daniel tersentak kaget sambil memberikan segelas air minum pada Alina membuat Daniel merasa heran akan tingkah laku Alina. "Ada apa Alina? Kenapa kau bisa tersedak seperti ini?" Tanya Daniel heran. "Ah tidak apa - apa pak. Tiba - tiba saja tenggorokan saya terasa sedikit gatal maka dari itu saya tersedak," Bohong Alina membuat Rey pada akhirnya terkekeh geli, membuat Daniel menatap Rey dengan satu alis terangkat saat ini. "Kau kenapa Rey? Kenapa kau malah tertawa seperti itu?" Tanya Daniel heran. "Begini Dani a...!!! Ucapan Rey di potong dengan cepat oleh Alina. "Saya rasa pak Rey tidak apa - apa pak. Mungkin pak Rey hanya terbawa suasana saja," Potong Alina dengan cepat membuat Daniel mengangkat satu alis nya saat melihat Rey tengah menyembunyikan gerak tawanya saat ini membuat Alina menahan rasa gugupnya saat ini. "Rey, sebenarnya ada apa kenapa kau tertawa seperti ini?' Tanya Daniel merasa sangat penasaran saat ini. Karna sangat jarang seorang Rey tertawa sampai seperti ini. "Wah, ada apa ini pak Rey. Kenapa anda tertawa dan kau tahu untuk pertama kalinya kau tertawa karna memang selama ini kami tidak pernah melihat mu tertawa?" Tanya pak Dewa dengan sebuah sindiran. "Benar apa kata pak Dewa biasanya anda sangat kaku dan pendiam. Kenapa anda hari ini terlihat sangat bahagia?" Tanya Ardi. "Atau jangan - jangan Nona Melodi sudah membalas pesan anda, hingga anda sampai tertawa seperti ini?" Tanya Ardi lagi. "Wah. Apa itu benar pak Rey? Berarti hanya tinggal menunggu hari saja berarti," Selidik pak Dewa membuat senyuman Rey seketika luntur. "Saya permisi dulu," Pamit Rey tanpa menjawab panggilan dari Daniel. Membuat Daniel memanggil sosok Rey yang sama sekali tidak merespon sama sekali. Membuat Daniel merasa sangat khawatir pada sosok calon adik iparnya itu. Daniel menatap para rekan kerjanya dengan tatapan datarnya. "Seharusnya pak Dewa dan pak Ardi tidak berbicara seperti itu pada Rey. Itu sama saja membuat pak Rey merasa sangat tidak berarti di depan saya dan tentunya memancing kemarahan calon adik ipar saya," Kata Daniel merasa tidak setuju akan ucapan para rekan kerjanya. "Maafkan atas sikap kami pak Daniel, sungguh kami tidak bermaksud untuk melakukan hal ini, kami kira ucapan kami tidak akan menyakiti hati pak Rey. Tapi ternyata hati pak Rey sedang tidak baik - baik saja, tolong maafkan kami," Ujar pak Dewa yang merasa bersalah saat ini. "Tolong maafkan kami pak Daniel. Sebenarnya kami hanya ingin membuat sebuah candaan tapi nyatanya perasaan pak Rey sedang tidak baik - baik saja saat ini. Karna pak Rey selalu sibuk dengan ponselnya membuat kami ingin sedikit membuat candaan pada pak Rey," Kata Ardi merasa sangat bersalah kali ini. "Dan kami juga meminta maaf pada nona Alina. Maaf jika sifat kami sangat melukai hati anda," Mohon Ardi tulus membuat Alina mengangguk. "Tidak masalah pak. Saya sangat mengerti dan saya juga sudah memaafkan atas sikap bapak pada saya," Jawab Alina. "Tidak masalah pak Dewa, pak Ardi dan semua rekan kerja lainnya. Oh iya, bagaimana hasil presentasi yang kamu bawakan tadi. Apa penilaian anda pada presentasi kami?" Tanya Daniel dengan senyuman ramahnya. "Hasil yang di bawakan oleh pak Rey dan pak Daniel sangat memuaskan dan sepertinya kerja sama ini akan terjadi. Ya. Kami berniat bekerja sama dengan pak Rey dan juga pak Daniel," Putus pak Dewa membuat Daniel merasa sangat puas dengan jawaban yang diberikan oleh rekan bisnisnya. "Terima kasih atas penilaian anda pada perusahaan kami dan saya sangat berharap jika kerja sama ini berjalan dengan baik," Kata Daniel membuat Alina merasa sangat lega kali ini. "Baiklah jika begitu. Kami semua permisi dulu pak Daniel dan nona Alina," Pamit pak Dewa bersama rekan - rekan lainnya. Daniel maupun Alina menatap kepergian para rekan bisnis dengan perasaan lega. **** Di ruangan Daniel Melodi tengah berdiri dibalik jendela besar milik Daniel, Melodi tengah menatap suasana kota Swiss yang nampak padat saat ini. Tanpa Melodi sadari jika sedari tadi Rey tengah menatap dirinya dari balik pintu masuk. "Sampai kapan kau akan seperti ini Mel? Sampai kapan aku harus menunggumu dan sampai kapan pura rasa bersalahmu akan hilang dari dirimu sendiri Mel? Kau bukan hanya menyiksa diriku saja tapi juga menyiksa dirimu sendiri Mel. Aku lelah dengan semua tingkah lakumu itu," Batin Rey dengan perasaan marah. **** "Di mana kak Daniel ya? Kenapa meeting kali ini sangat lama dan aku berharap tidak ada Rey di kantor ini. Jika ada, aku sungguh tidak ingin bertemu dengannya bahkan aku tidak sanggup menghadapi kemarahannya itu," Ujar Melodi sambil mondar mandir di ruangan Daniel dengan perasaan cemas. Ckreek Suara pintu ruangan dibuka membuat sosok Melodi tersentak kaget saat dirinya mendengar suara pintu yang dibuka sedikit kasar kali ini. Membuat Melodi menoleh ke arah pintu, tubuh Melodi seketika lemas saat dirinya melihat sosok Rey yang tengah melangkah ke arahnya membuat Melodi melangkah mundur dan terduduk seketika di atas kursi roda miliknya saat ini. "Rey. Ka... Kau di sini?" Tanya Melodi takut - takut. "Kalau ia kenapa? Kau tidak suka dengan kedatanganku yang tiba - tiba ini?" Tanya Rey sambil memutar kursi roda Melodi untuk menghadap dirinya saat ini." Kenapa? Kenapa kau harus menyiksa dirimu dengan cara seperti ini Mel? Kau itu baik - baik saja bahkan sangat baik, tapi kau memilih untuk duduk di kursi bodoh ini? Apa maumu sebenarnya Mel. Kau ingin semua orang menganggap kau memiliki kekurangan fisik seperti yang kau lakukan saat ini. Kau sangat bodoh Mel, sungguh kau membuang - buang waktumu saja. Apa kau pikir dengan ini kau bisa menebus semua kesalahanmu itu? Kau salah besar jika itu yang kau pikirkan Mel. Tatap aku Mel dan jawab semua pertanyaanku," Perintah Rey dengan nada tegas membuat Melodi menatap ke arah Rey sesuai yang pria itu inginkan saat ini. "Rey. Bukan itu maksudku tolong mengertilah, aku mohon kau harus mengerti akan keputusanku ini," Balas Melodi dengan perasaan takut yang hinggap di hati kecilnya saat ini. "Cukup Mel. Tidak ada waktu lagi, karna bulan depan kita akan segera menikah, suka tidak suka kau harus menerima keputusanku ini," Kata Rey dengan nada tegas membuat Melodi menggelengkan kepala seakan menolak apa yang di ucapkan oleh Rey pada dirinya saat ini. Tbc,
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD