Akad Nikah dan Ijab Qobul

1076 Words
"Saya terima nikah dan kawinnya Greesha Danurdara Priyambodo binti Hadi Putra Priyambodo dengan Mas kawin seperangkat alat solat dan uang sebesar 8 juta rupiah tunai." "Pripun para saksi? Sah?" (Gimana) Tanya penghulu yang duduk di samping Ayah Hadi yang sedang menjabat tangan Andanu. "Kirang banter, Pak. Ulangi!" (Kurang keras) Ucap salah satu saksi yang merupakan Pakde dari Gege. Andanu menghela nafas pelan. "Ayo semangat! Habis ini mau bobol perawan." "Monggo diulangi, Mas." Kata penghulu itu mempersilahkan Andanu. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau Andanu Hastungkara bin Aryadi Hastungkara dengan putri saya Greesha Danurdara Priyambodo binti Hadi Putra Priyambodo dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar 8 juta rupiah dibayar tunai!" "Saya terima nikah dan kawinnya Greesha Danurdara Priyambodo binti Hadi Putra Priyambodo dengan Mas kawin seperangkat alat solat dan uang sebesar 8 juta rupiah tunai!" Ucap Andanu lantang dengan sekali nafas. "Pripun para saksi?" "Sah!!!!" "Alhamdulillah!!" "Barakallahu lakuma wabarakatu 'alaikuma wa jama'a bainakuma bi khoir." Setelah kata 'Sah' lantang di ucapkan oleh para saksi dan kerabat, pengantin wanita di arahkan untuk keluar menemui pengantin pria. Siapa lagi kalau bukan Greesha Danurdara Priyambodo. Gadis yang sudah mengakhiri masa lajangnya di usia yang terbilang muda. Yaitu 18 tahun berjalan. Meskipun masih terbilang belia, aura pengantin yang menguar sangatlah kuat dan mampu menyihir mata. "MasyaAllah, bojoku!" Gege dipersilahkan duduk di samping Andanu yang mati-matian menahan senyum dan hasrat untuk memeluk dan menciumi istrinya. "Keep profesional Andanu!!" "Salim dulu sama suaminya, Nduk." Perintah Ayah Hadi lembut. Gege menoleh dan mengulurkan tangannya meraih tangan Andanu yang terasa dingin karena sisa kegugupan beberapa saat lalu. Dan jangan lupakan ciuman kening yang wajib dilakukan. Dengan senang hati Andanu melakukan ciuman itu, apalagi lebih. "Tanda tangan disini." Pak Penghulu itu mengulurkan sepasang buku nikah untuk ditandatangani oleh keduanya. Andanu dan Gege menurut. "Nah, waktunya foto-foto dulu!" Seru Arjuna yang menjadi fotografer dadakan. Ditangannya terdapat kamera dengan tali yang menggantung di lehernya. Andanu bangkit dari duduknya dan membantu Gege untuk berdiri. Arsha bertugas memberikan mahar uang yang sudah dibingkai apik di pigora ukuran 70×40 cm. Mereka berdua memegang kedua sisi dan berpose untuk di foto. Setelah foto mahar, disambung sesi foto dengan buku nikah. Sungguh indah pemandangan hari ini. Kedua pengantin tersenyum lebar dan terlihat sangat bahagia. Semua keluarga dan kerabat juga merayakan hari bahagia ini dengan semangat. Setelah acara ijab kabul, dilanjutkan dengan beberapa prosesi pernikahan adat jawa. Setelah melalui beberapa prosesi tersebut dilanjutkan dengan sesi foto keluarga dan teman kerabat. Sesi pertama diisi dengan kedua orang tua pengantin dan keluarga inti. Tentu saja yang paling heboh dan bar-bar adalah Arjuna, Yusuf dan Gandhi. Tiga bujang berbeda generasi. Setelah sesi keluarga inti berakhir, waktunya para bujang dan gadis berswa foto bersama pengantin. "Net! Geser dong! Sempit nih." Protes Gandhi kepada Arjuna. "Santai dong! Ngegas mulu kayak Mas Danu!" Andanu mendelik tak terima mendengar dirinya diejek. Dasar adek laknat! "Jangan tegang ya, Mas ipar. Tegangnya nanti malem aja. Hehe." Sela Yusuf frontal. "Tu, wa, ga...!" Arah salah satu fotografer. Cekrek! Puluhan foto dengan berbagai gaya telah tercetak. Pelopornya adalah Arjuna dan Gandhi yang sebenarnya adalah seleb i********:. Meskipun tidak terlalu famous. Arjuna yang fashionable dan ootd-er menjadikan gayanya banyak diabadikan di laman i********: dan banyak disukai orang. Sedangkan Gandhi yang merupakan owner dari bengkel yang dibangunnya sendiri, dan sekarang telah mempunyai banyak cabang. Dengan gaya yang maskulin dan cool, dia menjadikan i********: sebagai tempat untuk promosi bengkelnya. Tentunya dengan mengabadikan foto-foto yang estetik ketika ia terjun langsung ke dunia perotak-atikan. "Selamat ya, Des. Gelar presiden jomblonya udah copot sekarang. Hahaha." Ucap Gashul yang ditanggapi kekehan oleh Andanu dan Gege. "Bisa aja, Pak. Hahaha." "Semoga sakinah mawadah warahmah. Kalau mau edukasi, saya siap jadi guru privatnya, Des." Kelakar Gashul. "Iya, Pak. Makasih banyak." "Selamat ya, Bu Kades. Semoga sakinah mawadah warahmah dan cepet diberi dedek bayi. Hehehe." Ujar Ratna, istri Gashul. "Iya, Mbak. Aaammmiinnn. Makasih banyak ya, Mbak." Balas Gege ramah. "Iya, sama-sama." Acara pagi-siang ini berakhir dengan lancar. Berakhir pukul 12:00 siang membuat raja dan ratu sehari itu menjadi sangat lelah. Terlihat dari guratan wajah keduanya yang menunjukkan tubuhnya memprotes agar segera mengisi energi. Apalagi Gege yang sedari pukul 4 pagi sudah harus bangun karena urusan per-make up an. "Nduk, ganti baju sana. Terus makan habis itu tidur bentar. Kamu keliatan capek banget." Perintah Mama Sonia kepada menantunya. "Mbak! Tolong ini dibukain baju sama kerudungnya." Mama Sonia memanggil tim MUA yang berada di ruang wadrobe yang memang disiapkan sementara untuk pernikahan Andanu dan Gege. "Iya, Bu." "Bentar ya, Nduk. Mama tak ambilin makan dulu." "Eh, gausah Ma. Nan--." "Hustt! Diem. Tak ambilin makan habis itu tidur. Manut sama Mama!" Tegas Mama Sonia kepada Gege. Mama Gue 'mertua-able' banget huhu *** "Ma! Istriku mana?" "Tidur." "Lho?! Aku kok nggak diajak?" "Lha kamu tadi kemana aja? Bininya tidur suaminya ngelayap." Ledek Mama Sonia kepada Andanu. "Wong tadi aku di depan, nyalamin orang-orang." "Yaudah. Nih, makan!" Mama Sonia menyodorkan sepiring makanan di depan Andanu yang sedang duduk di depan meja prasmanan. "Istriku dimana dulu Ma?!" Dasar ngeyel! "Kamu budeg ya?! Orang tadi Mama ngomong lagi tidur juga." Lama-lama Mama Sonia kesal juga dengan anak sulungnya ini. "Iya tau. Tapi dimana?" "Ya dikamar dong k*****t! Dasar nggak pinter!" "Ya santai aja dong, Ma! Ngegas mulu kayak vespanya Pak Bejo." "Hm." "Eh, Dan. Nanti mantu Mama jangan dibobol dulu. Soalnya lusa masih ada acara tinjo. Jangan buat mantu Mama nggak bisa jalan. Jadi ditunda dulu ya." Ucap Mama Sonia enteng. What?!!! "Mana ada kayak gitu! Orang itu istrinya Danu kok. Mama ngadi-ngadi nih." Protes Andanu. Kamar Gege Andanu sudah menyelesaikan kegiatan makan dan berganti pakaian, dan sekarang waktunya ia berjumpa dengan pujaan hatinya yang beberapa jam lalu sudah berganti status menjadi istrinya. Ceklek! Setelah menutup dan mengunci pintu, Andanu beringsut menghampiri Gege yang sedang terlelap tidur. Tubuh istrinya terbungkus selimut sampai kepala dan menyisakan celah sedikit untuk menghirup oksigen. "Jadi kayak buntelan gini? Kok bisa nafas sih, Yang?" Ucap Andanu sambil menyingkap selimut yang membalut tubuh Gege. Waw! Baru kali ini Andanu melihat rambut Gege. Rambut Gege yang panjang dan lurus terpampang indah di depannya. Poni yang sedikit berantakan di wajah Gege menambah kesan lebih bagi Andanu. Posisi Gege yang menyamping membuat siluet tubuhnya dari belakang terlihat lebih menggairahkan. Ditambah Gege hanya memakai baby doll terusan yang panjangnya hanya mencapai paha, membuat Andanu kelonjotan sendiri. Ini baru yang belakang, belum yang depan. So sexy! Ketika Andanu hendak mencium bibir Gege dari belakang, sebuah suara tanpa wujud menginterupsinya agar segera berhenti. "Jangan bobol mantu Mama dulu! Awas kamu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD