Sumpah! Aku gak berniat sedikit pun mengambil harta Delvin. Karena aku bukanlah wanita matre. Buat apa aku mengambil hartanya jika keluargaku mampu?! Aku mentap nanar pada pria yang aku cintai. "Kenapa melihatku seperti itu hah?! Apa masih kurang nafkahku?" Aku menahan sakit yang bertambah. Lalu dia membuka dompetnya, melemparkan seluruh uangnya di depan wajahku. Serta kartu limitnya. "Apa itu semua sudah cukup, heh?" Tanyanya sarkastik. Dengan mengumpulkan keberanian aku menampar wajahnya. Wajahnya shock. Menatapku tidak percaya. "Aku bukan wanita matre seperti mantanmu! Dan aku, aku mencintai kamu dengan kesabaran dan hati ikhlasku. Tidak bisakah kau merasakannya? Aku sudah cukup sabar sama sikapmu. Sampai kapan aku harus bersabar?! Sampai aku mati?" Tanganku mengepal, ingin ras

