“Diem sayang...” Ucap Nakula pada Putri yang nampaknya sedang kurang kerjaan, merasa bosan, cukup kesal juga, di buat tak tahan karena sedari tadi di acuhkan kekasihnya, yang malah disibukan dengan buku tebal kedokterannya itu. Tangan Putri sedari tadi tak bisa diam, mulai dari memainkan rambut Nakula, mencubiti pipinya, bermain-main dengan ujung kemeja Nakula. Bahkan lebih jauh Putri kini tengah mencoba masuk ke sela-sela lengan Nakula, ingin masuk ke dalam tubuh kekasihnya itu. Putri yang sekarang ini sudah berada dalam pangkuan Nakula, terkurung oleh kedua tangan kekar yang masih memegang buku berjudulkan Anatomi itu, tengah mendongak, menatap wajah kekasihnya dengan wajah cemberutnya itu. “Put, sayang... kenapa sih, ya ampun kamu tuh ya...” Nakula sampai di buat terheran-her

