Delapan tahun kemudian...
Waktu yang cukup lama, seakan menelan luka yang sempat menghancurkan hidup Aurora.
Namun, ada satu hal yang membuatnya tidak ingin menyerah, saat dua detak jantung berdenyut di dalam rahimnya. Dia telah memutuskan, apapun yang terjadi dia akan menjalaninya. Bagi dirinya yang tidak memiliki keluarga, kehadiran dua bayi itu penyemangatnya. Dia tidak sendiri,dia memiliki keluarga yang terhubung dengan darah.
Dan kini... Dua malaikat kecilnya tumbuh menjadi cahaya dalam hidupnya, Zean yang tenang dan dewasa sebelum waktunya, serta Zoya yang ceria, cerewet, dan selalu tahu cara membuat ibunya tertawa di tengah lelah.
"Jangan bertengkar, Mommy pergi kerja dulu, oke. Pulang nanti, Mommy bawain cake buat kalian, Understand?"
“Iya, Mommy, kami nggak akan pentangkaah…” kata Zean dengan wajah serius, tapi lidahnya masih cadel di huruf “r”.
Zoya langsung ngakak. “Hehehe… pentangkaah! Zean ngomongnya lucuuuh!” ujarnya sambil menepuk bahu kakaknya.
“Enggak ah! Kamu juga nggak bisa bilang ‘lobot’, malah bilang ‘lobok’ kemalin!” balas Zean cepat, menirukan nada adiknya dengan ekspresi lucu.
Aurora sampai menahan tawa. “Udah, Twins Mommy jangan ribut ya. Mommy mau kerja dulu.” Aurora menunduk, mengusap rambut keduanya bergantian. “Janji nggak nakal?”
“Janjiii, Mommy!” jawab mereka bersamaan. Tapi Zoya malah salah angkat tangan, tangan kirinya terangkat tinggi.
“Itu tangan kiriii, sayang,” kata Aurora sambil tertawa lembut.
“Ehehe, salaah… tangaan kanaaan,” jawab Zoya cepat-cepat, pipinya memerah malu.
Aurora mencium pipi mereka satu-satu. “Mommy pergi dulu ya, anak-anak pinter Mommy.”
Begitu pintu tertutup, Zoya langsung menatap kakaknya dengan mata bulat berbinar.
“Zean, boleh aku mainin lobot kamu sebentaaaal aja? Aku janji nggak rusak, sumpaah deh!”
Zean menatapnya curiga. “Kemalin kamu bilang gitu, tapi tangan lobot aku copot!”
“Ehehe… itu nggak sengajaaah…” Zoya nyengir, menutupi wajah dengan tangan mungilnya.
Aurora yang belum jauh dari rumah mendengar tawa kecil dari dalam. Ia menggeleng sambil tersenyum, dua bocah itu memang selalu bikin hatinya hangat.
Aurora sendiri telah menemukan pijakannya. Ia menjadi dosen tamu di kampus tempat ia dulu menimba ilmu jurnalistik di Paris, kampus yang dulu seperti mimpi tak terjangkau.
Sementara butik milik Claire berkembang pesat, bahkan kini memiliki cabang kecil di Lyon, dengan koleksi yang sebagian besar berasal dari tangan dan ide Aurora.
Namun di balik semua kesuksesan itu, ada rahasia yang hanya ia dan Tuhan yang tahu. Di dunia desain perhiasan, orang mengenal sosok misterius bernama LuneBleue desainer muda dengan karya yang selalu jadi sorotan di majalah seni Eropa.
Tak ada yang tahu di balik nama itu, berdiri seorang ibu tunggal yang dulu diusir dari kampus dan hampir kehilangan segalanya.
Saat sampai di tempat kerjanya di butik milik Claire, Aurora menatap layar laptopnya tanpa berkedip. Kotak masuk email miliknya menampilkan satu pesan baru dengan logo Global Insight Media di pojok kiri. Jantungnya berdetak tak beraturan. Ia membuka email itu perlahan, seperti takut pada isi yang akan muncul.
Subject: Invitation - Senior Investigative Journalist, Jakarta Office
Kepada Nona Aurora Zacky,
Kami dari Global Insight Media dengan hormat mengundang Anda untuk bergabung sebagai Jurnalis Investigasi Senior di kantor cabang Jakarta.
Kami telah lama mengikuti karya-karya Anda yang dipublikasikan di platform kami. Tulisan Anda menghadirkan kedalaman emosi dan perspektif tajam, sesuatu yang jarang kami temukan.
Dalam waktu dekat, tim kami akan mengadakan liputan eksklusif tentang pengusaha muda yang tengah naik daun di Indonesia, dan kami percaya Anda adalah sosok yang paling tepat untuk memimpin proyek tersebut.
Hormat kami,
Editor in Chief - Global Insight Media
Aurora membaca kalimat itu berulang kali. Tangannya gemetar, napasnya terasa berat. "Indonesia." Satu kata itu saja sudah cukup membuat dadanya sesak.
Delapan tahun ia berjuang membangun hidup baru di Paris, menata masa depan sambil menelan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Dan kini, satu email pendek dari redaksi Global Insight… membuat semua yang selama ini ia kunci rapat kembali terbuka begitu saja.
Ia menatap layar laptop, lalu perlahan menggeser pandangannya ke jendela. Langit Paris sore itu berwarna abu lembut, seolah mengerti perasaan hatinya yang campur aduk.
Setelah delapan tahun, tanah air itu memanggilnya lagi, tempat yang dulu menghancurkan hidupnya, tapi juga tempat semua kisahnya bermula.
Claire menghampirinya sambil membawa secangkir teh hangat. “Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu, Aurora,” ucapnya lembut.
Aurora menatap wanita yang selama ini menjadi penopangnya. “Aku… baru dapat tawaran kerja di Indonesia.”
Tatapan Claire pada Aurora dengan penuh arti. Dia tahu, bagaimana seorang wanita yang datang padanya untuk memulai hidup, ditambah dengan kondisinya tengah hamil itu begitu menyedihkan tetapi tidak pernah menampakkan sisi menyedihkannya selama ini.
Dia tegar, dan optimis, walaupun kadang dia mendengar Aurora sembunyi-sembunyi untuk menangis.
Namun, wanita yang ada di hadapannya saat ini. Aurora yang telah penuh rasa percaya diri, Aurora yang telah ditempah begitu banyak pahit, asam, manis kehidupan, apalagi hidup di Paris bukanlah sesuatu yang mudah.
Claire menyeletuk," come on, Baby, Paris sudah membuatmu menjadi Auroa seperti sekarang. Ya, tapi... mungkin memang sudah waktunya kamu kembali... berdiri di tempat yang dulu menjatuhkanmu."
Aurora tersenyum lemah, tapi sorot matanya berbeda. Tidak ada lagi ketakutan, hanya keyakinan yang tumbuh pelan tapi pasti. Ia menatap foto Zean dan Zoya di meja kerjanya dua wajah kecil yang selalu jadi alasan untuk terus berdiri.
"Waktu itu... benar-benar sangat kacau... Claire, sampai aku harus pindah ke sini... Mereka membuatku sangat terpuruk," gumamnya lirih."Jika bukan karena Zean dan Zoya, aku mungkin tidak akan bisa bertahan, tapi kau dan Paris mengajarkanku cara berdiri lagi," tambahnya.
Ia mengusap pipinya, menahan getar di d**a. "And now... aku akan pulang, bukan sebagai Aurora yang dulu... bukan Aurora yang mudah mereka jatuhi, tapi Aurora yang akan membalas mereka yang berani mengusikku. Bahkan jika aku harus bersekutu dengan iblis sekalipun, aku akan melakukannya. Asalkan membalaskan rasa dendamku."
Malamnya, setelah menidurkan Zean dan Zoya, Aurora duduk di depan laptop. Lampu kamar temaram, hanya suara jam dinding dan napasnya sendiri yang terdengar.
Ia menulis pesan untuk Bianca sahabat yang dulu menyelamatkannya dari jurang paling gelap hidupnya.
Bia, delapan tahun lalu aku datang ke Paris dengan hati yang remuk, dan kamu satu-satunya yang percaya kalau aku masih bisa bangkit.
Sekarang aku akan pulang, bukan sebagai gadis yang dikasihani… tapi sebagai ibu yang kuat.
Doakan aku, ya. Aku akan menghadapi semuanya.
Pesan dikirim.
Ia tersenyum tipis. “Terima kasih, Paris… untuk luka, untuk kekuatan, dan untuk semua yang membuatku jadi seperti ini.”
Lalu dengan satu tarikan napas panjang, Aurora berbisik pada dirinya sendiri, pelan, tapi penuh tekad.
“Sudah cukup bersembunyi. Sekarang waktunya pulang. Waktunya menghadapi mereka.”
Pagi-pagi sekali Aurora berdiri di depan koper terbuka, melipat pakaian satu per satu dengan hati yang belum sepenuhnya tenang. Di atas tempat tidur, Zean dan Zoya duduk sambil memperhatikan mommynya.
“Mommy, kita mau libulan, ya?” tanya Zoya sambil memeluk boneka kelincinya.
Aurora tersenyum lembut, meski matanya tampak letih. “Bukan liburan, sayang. Kita mau pindah ke Indonesia.”
Zean mengerutkan keningya. “Indonesia? Itu tempat Mommy lahil, kan?”
“Iya, sayang,” jawab Aurora pelan. “Mommy dulu besar di sana.”
Zoya memiringkan kepala. “Kenapa kita pindah, Mom? Di sini kan ada taman, ada bulung, ada es klim vanila kesukaan aku…”
Aurora berhenti melipat pakaian dan menatap dua wajah polos itu. Ia menarik napas panjang sebelum bicara lagi. “Mommy dapat pekerjaan baru di sana. Dan Mommy rasa, sudah waktunya kita… pulang.”
“Pulang?” Zean menatap sekeliling kamar. “Tapi lumah kita kan di sini, Mom.”
Aurora tersenyum kecil, lalu berlutut di depan mereka. “Rumah bukan cuma tempat, Zean. Rumah itu di mana hati kita merasa damai. Sekarang Mommy mau kita coba cari rumah yang baru.”
Zoya langsung merangkul leher Mommynya. “Nanti di Indonesia ada taman kayak di sini nggak, Mom? Yang bisa dikasih makan bulung juga?”
Aurora terkekeh kecil, menahan haru. “Ada, sayang. Bahkan mungkin lebih indah.”
Zean menunduk, jari-jarinya bermain di ujung sprei. “Di sana… ada Daddy, ya?”
Pertanyaan itu menusuk hati Aurora. Ia menatap lembut wajah anak laki-lakinya yang penuh harap. “Daddy kalian ada...” katanya pelan. “Tapi sekarang Mommy punya kalian. Itu udah cukup buat Mommy.”
Zoya mengerjap, suaranya lirih. “Jadi kita nggak bakal ketemu Daddy, Mom?”
Aurora mengelus pipi kecil putrinya. “Kalau nanti waktunya tepat, mungkin Tuhan yang atur semuanya. Sekarang yang penting, kita bertiga tetap sama-sama, ya?”
Zean mengangguk pelan lalu menggenggam tangan Mommynya. “Zean nggak apa-apa, Mom. Zean cuma mau Mommy senyum terus, jangan sedih lagi.”
Aurora tak bisa menahan air mata. Ia menarik keduanya ke dalam pelukannya yang hangat. “Mommy janji, Mommy nggak sedih. Mommy cuma bersyukur punya kalian berdua.”
Zoya tiba-tiba berucap polos, “Kalau gitu nanti di Indonesia, Zoya yang jagain Mommy, ya! Zean boleh bantu angkat kopel!”
Zean langsung menatap adiknya. “Nggak mau, aku aja yang jagain Mommy! Aku kan lebih kuat!”
Aurora tertawa di antara air mata. “Mommy yakin, dua bocil Mommy bisa jagain Mommy.”
Ketiganya saling berpelukan lama di tengah kamar yang perlahan dipenuhi koper dan tumpukan pakaian.