Kembali Pulang Setelah Delapan Tahun

1294 Words
“Ummmpphh…” Lenguhan pelan terdengar di ruangan kantor mewah lantai tiga puluh. Seorang wanita duduk di pangkuan Lucas, bajunya sudah berantakan. Lucas menciuminya dengan kasar, tanpa rasa, hanya pelampiasan. “Ah… Lucas…” Wanita itu mencoba menahan tubuhnya yang hampir kehilangan keseimbangan, tapi Lucas tidak berhenti. Wajahnya datar, dingin, tanpa emosi sedikit pun. Brak! Pintu terbuka keras. Wanita itu menjerit pelan, buru-buru menutupi tubuhnya dengan sisa pakaiannya. Lucas menoleh dengan tatapan kosong, tidak terkejut sama sekali. Di ambang pintu berdiri dua orang Baskara dan Anggi, orang tuanya. Wajah mereka tegang, marah, tapi juga shock setengah mati. “LUCAS!!” Suara Baskara menggema di seluruh ruangan, membuat wanita itu nyaris jatuh ketakutan. Anggi melangkah maju, matanya menyala dengan amarah yang membara. Tanpa menunggu, tangannya menghantam pipi Lucas. Pipi itu memerah seketika, panas terasa sampai ke tulangnya, tapi Lucas tetap berdiri tegap. Wajahnya datar, matanya dingin. Anggi menatap tajam, suaranya bergetar, “Kamu udah kehilangan akal, ya, Lucas?! Bawa perempuan kayak gitu ke kantor sendiri?!” Lucas hanya mengangkat satu alis, senyum sinisnya samar. Ia tak membalas, tak menenangkan diri, bahkan tidak menundukkan kepala. Lucas berdiri pelan, merapikan kerah kemejanya. “Tenang aja, Ma. Kantor ini masih milik keluarga kita. Atau Mama takut reputasi keluarga hancur cuma karena aku nggak hidup sesuai aturan kalian?” “Lucas!” bentak Baskara, nadanya tajam. “Kamu bikin malu nama besar keluarga kita!” Lucas tersenyum sinis. “Oh iya, nama besar. Semua cuma tentang itu, kan, Pa? Tentang status, posisi, dan citra keluarga sempurna.” “Lucas, jaga bicaramu,” tegas Baskara. “Kamu akan segera bertunangan dengan putri keluarga Wijaya. Mereka keluarga terhormat, setara dengan kita. Jangan sampai mereka tahu kamu begini!” Lucas tertawa pendek, tapi matanya dingin. “Tunangan, hah? Jadi itu alasannya? Karena dia setara?” Ia mendekat, suaranya merendah tapi menekan. “Kalian nggak cari menantu buat aku, kalian cari trofi buat kalian pamer di acara sosial.” Anggi menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kami cuma mau yang terbaik buat kamu, Lucas.” Lucas membalas tatapan itu, tajam dan getir. “Kalau ‘terbaik’ artinya hidup sesuai selera kalian, pura-pura jadi anak baik, pura-pura cinta sama orang yang bahkan nggak aku cinta… maaf, aku nggak tertarik.” Keheningan menyelimuti ruangan itu, Lucas menarik napas panjang, lalu menatap ke arah wanita panggilan itu. “Kamu, keluar.” Wanita itu cepat-cepat pergi, meninggalkan ketegangan yang masih menggantung. Lucas mengambil jasnya, berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia sempat menoleh sebentar. “Oh iya, Ma, Pa…” suaranya datar, tapi tajam. “Kalau nanti aku menikah sama perempuan pilihan kalian, anggap aja itu pengorbanan terakhir aku buat nama keluarga ini.” Pintu tertutup keras. Anggi menutup wajahnya sambil menangis. Baskara hanya berdiri kaku, rahangnya mengeras. Untuk pertama kalinya, mereka sadar… demi menjaga nama besar keluarga, mereka telah kehilangan anak satu-satunya. *** Malam itu Lucas tidak pulang ke rumah orang tuanya. Dia memilih apartemennya tempat yang sunyi dan bebas dari alasan-alasan keluarga yang mengekang. Sejak pulang dari luar negeri dua bulan lalu, Lucas belum pernah menginjakkan kaki di rumah itu lagi, rumah yang dulu penuh tawa kini terasa seperti seperti panggung yang dipakai orang tuanya untuk pamer. Di sofa, Lucas masih setengah mabuk, Lucas meneguk wine perlahan sambil menatap lampu kota lewat kaca. Mata kosongnya memantulkan jarum jam larut, tapi pikirannya berputar cepat. Sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya. Lucas menghela napas, malas membuka pesannya. Sekilas, ia membaca baris-baris itu. pesan dari mamanya. Bibirnya terangkat samar, bukan senyum, tapi sinis. “Lucas, besok Diandra Wijaya akan pulang. Jemput di bandara jam 10.00 pagi. Jangan buat malu papa dan mama.” isi pesan dari Anggi. Lucas menatap layar ponselnya sekilas. Pesan dari mamanya membuat sudut bibirnya terangkat samar bukan senyum, tapi sinis. Ia meletakkan ponsel itu di meja, lalu mengambil gelas wine dan meneguk isinya tanpa terburu. Setiap tegukan terasa pahit, tapi anehnya, hanya itu yang membuatnya tenang malam ini. Cahaya lampu apartemen memantul di wajahnya yang datar. Tak ada emosi, tak ada amarah. Hanya tatapan kosong menembus kaca jendela seperti menatap hidup yang sudah tidak berarti lagi. Begitu botolnya habis, Lucas menyandarkan tubuhnya di sofa, menutup mata, dan tertawa pelan tanpa alasan. Suara tawa itu hambar, seperti orang yang sudah lupa cara bahagia. Beberapa menit kemudian, ruangan itu kembali sunyi, hanya menyisakan aroma alkohol dan pria yang memilih tidur daripada memikirkan apa pun lagi. Pagi datang terlalu cepat. Sesosok membuka tirai cahaya masuk kasar, memaksa matanya terbuka. Bayu berdiri di ambang kamar. “Selamat pagi, Pak Lucas.” Suaranya rapi seperti biasanya. Lucas mengusap wajah. “Jam berapa sekarang?” “Jam 09.15, Pak.” “Apa!” Lucas melonjak berdiri, marah pada dirinya sendiri. “Kenapa baru bangunin saya jam segini?” Bayu hanya diam, menunduk, lalu mulai memunguti botol-botol kosong di lantai dengan gerakan tenang, seperti sudah hafal rutinitas itu. Tak ada suara selain dentingan kaca yang saling beradu. Tak lama Lucas keluar dari kamar mandi dengan rambut masih sedikit basah menempel di dahinya. Ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku, dipadukan dengan celana chino panjang warna krem. Penampilannya sederhana, tapi ada ketenangan dan kendali penuh dalam setiap gerakannya—sikap yang membuat orang lain tahu ia bukan tipe yang bisa dikuasai begitu saja. Lucas menatap sekeliling ruang tamu sebentar, lalu berjalan ke mobil dengan langkah mantap, seolah setiap gerakan sudah diperhitungkan. Di mobil, Bayu menyetir menuju Bandara Soekarno-Hatta. Lucas duduk diam, menatap jalan, Di bandara Soekarno-Hatta, Aurora menginjakkan kaki di tanah airnya setelah delapan tahun meninggalkan Indonesia. Hatinya masih berat, penuh luka, tapi ia berusaha menampilkan ketenangan demi anak-anaknya. Di sampingnya, Zoya dan Zean berlari-lari kecil dengan mata besar, rambut acak-acakan karena perjalanan panjang. “Mom… siapa yang menjemput kita?” tanya Zoya, menengadah pada Aurora dengan wajah penasaran. “Aunty Bianca yang akan menjemput kalian,” jawab Aurora lembut, menahan sedikit getir di bibirnya. “Bukan daddy ya Mom?” suara Zean terdengar lirih, penuh harap dan sedikit kecewa. Aurora tersenyum tipis, menatap anaknya sejenak. “Tidak, sayang. Sekarang kita bersama Aunty Bianca dulu, ya.” Tiba-tiba terdengar teriakan riang. “Auroraaa…!” Seorang wanita berlari kecil menghampiri mereka, senyum lebarnya mengembang sampai ke mata. Bianca menunduk sedikit untuk menyamakan tinggi dengan anak-anak, membuka tangan lebar. “Aurora! Kalian tiba dengan selamat!” Zoya dan Zean langsung memeluknya serentak. “Aunty Bia…!” teriak mereka bersamaan. “Hai keponakan Aunty, kalian manis sekali,” puji Bianca sambil tersenyum hangat. “Terima kasih, Aunty! Aunty juga cantik banget,” balas Zean polos. “Ah… terima kasih, Zean. Kamu pintar sekali memuji cewek cantik,” kata Bianca sambil tersipu malu. Tiba-tiba Zoya menoleh ke ibunya, bibirnya cemberut. “Mommy, Zoya kebelet pipis. Zoya mau ke toilet,” ujarnya dengan nada mendesak. “Zean, temani Zoya, ya. Jaga adikmu baik-baik,” ucap Aurora menegaskan dengan lembut. “Baik, Mom,” jawab Zean penuh percaya diri, menarik tangan adiknya. “Jangan khawatir, Zoya.” “Emmm… ingat, kalian hanya ke toilet, jangan kemana-mana,” Aurora memberi peringatan terakhir sambil menatap mereka berdua. “Iya, Mom!” jawab Zean dan Zoya kompak. Sementara itu, Bianca menunjuk ke sebuah gerai makanan tidak jauh dari situ. “Mommy dan Aunty pesan makanan dulu di sini, kalian pasti lapar setelah perjalanan panjang.” “Iya, Aunty. Kami memang sangat lapar,” kata Zean, matanya berbinar-binar. “Ya sudah, kalian anak pintar, pasti bisa menemukan kita nanti,” kata Bianca sambil mengusap lembut kepala Zoya. Senyumnya hangat, menenangkan suasana. Lucas melangkah cepat keluar dari area kedatangan, ingin segera pergi dari keramaian yang membuat kepalanya pening. Bau parfum, suara koper diseret, dan panggilan penerbangan di pengeras suara, semuanya terasa bising dan membuatnya muak. Namun langkahnya terhenti mendadak. Seorang anak laki-laki berlari dari arah toilet dan hampir menabraknya. Lucas memegang bahu anak itu spontan. “Hei, hati-hati,” ucapnya datar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD