Awal dari Kekacauan

1217 Words
Zean menatap Lucas dengan sinis, sambil nyeletuk khas anak kecil. “Om yang halus hati-hati,” jawab si bocah cepat, nada suaranya tegas untuk anak seusianya. “Tadi om hampil nablak aku duluan.” Lucas menaikkan alis, geli. “Kamu berani juga ya ngomel ke orang dewasa?” “Kalau orang dewasanya salah, Zean nggak takut,” balas bocah itu lantang. Nada bicaranya membuat Lucas ingin tertawa tapi yang keluar hanya senyum miring. Zean. Nama itu terngiang. Aneh. Ada sesuatu di dadanya yang terasa sesak mendengar nama itu, seolah tubuhnya mengingat sesuatu yang pikirannya tidak. Lucas berjongkok sejajar dengan bocah itu. “Namamu Zean?” Zean melipat tangannya di depan d**a, "Kata Mommy, enggak boleh ngomong dengan orang yang tidak dikenal nanti diculik," celaetuk Zean masih dengan tatapan sinisnya. Lucas tertawa kecil dengan celetuk anak kecil di depannya. Dia tidak suka anak kecil karena rewel, dan berisik tetapi entah kenapa anak laki-laki di hadapannya membuat nyaman. "Ini, om kasih permen," ucap Lucas yang mengeluarkan permen dar sakunya. Permen yang biasanya dia simpan sebagai pengganti rokok. "Oh, kata Mommy, kalau dikasih permen harus lebih hati-hati," tegas Zean menolak dengan wajah imutnya itu. Lucas benar-benar dibuat tertawa oleh tingkah Zean, membuat Lucas mengeluarkan name cardnya. "Om bukan orang jahat, om punya pekerjaan, ini kartu nama Om, kamu bisa mencarinya di Internet.Kamu bisa baca 'kan?" jelas Lucas mencoba untuk meyakinkan Zean. Zean melihat kartu nama itu, terkesima. Tatapan Zean masih belum berubah, sedikit sini, "Ya, baiklah. Kurasa Om bukan orang jahat. Jadi, nama Om siapa?" Lucas menatapnya beberapa detik sebelum menjawab, "Lucas." Zean ampak berpikir sebentar, lalu tersenyum polos. "Nama om keren." Lucas tidak tahu kenapa ia malah menatap lebih lama. Ada sesuatu pada bocah itu bentuk wajahnya, tatapan matanya, bahkan caranya berdiri dengan dagu sedikit terangkat. Sama seperti dirinya saat kecil. Dan untuk sesaat, Lucas merasa jantungnya berdetak aneh. Tidak nyaman, tapi juga tidak ingin berpaling. Lucas berdiri lagi, "Kamu sendirian?" Zean menggeleng pelan. “Aku sama adikku dan juga mommy. Tapi adikku lama banget di toilet, sedangkan mommy nunggu di sana.” Ia menunjuk ke arah deretan kursi dekat gerai makanan. Lucas menoleh mengikuti arah tunjuk Zean. Pandangannya menyapu kerumunan orang, para penumpang baru datang, keluarga yang menjemput, juga barisan meja makan yang penuh sesak. Namun terlalu ramai untuk tahu siapa yang dimaksud bocah itu. Yang ia tangkap hanya samar seorang wanita duduk di antara keramaian, mungkin ibunya anak itu. Lucas mengangguk pelan, lalu menatap jam tangannya. “Jangan lari-lari di bandara. Banyak orang aneh di sini.” Zean menatapnya dengan ekspresi polos tapi tegas. “Om juga kelihatan aneh, tapi Zean nggak takut.” Lucas tertawa kecil, suara tawanya berat dan jarang terdengar tulus seperti itu. Lalu tanpa kata lagi, Lucas berbalik pergi. Zean menatap punggung pria itu lama, lalu berbisik pelan, “Om itu kelen banget…” Dan tanpa sadar, ada debar kecil di d**a Zean yang sama persis seperti debar yang Lucas rasakan barusan, sama-sama tak tahu bahwa darah mereka mengalir dari tempat yang sama. Belum jauh Zean berjalan, suara tangisan terdengar dari arah toilet wanita. Suara itu langsung membuat langkah kecilnya terhenti. Ia mengenali tangisan itu. “Zoya!” serunya panik, lalu berlari kecil menuju sumber suara. Di depan toilet wanita, Zoya berdiri sambil menangis sesenggukan. Bahunya kecil dan bergetar hebat. Di hadapannya, seorang wanita berpenampilan glamor dengan kacamata hitam besar membentak kasar. “Kamu anak siapa, sih?! Lari-lari di tempat umum kayak nggak punya sopan santun! Kalau aku jatuh gimana?!” bentaknya keras sampai orang-orang mulai menoleh. Zoya terkejut, tubuh mungilnya mundur setapak. “M-maaf, Tante… Zoya nggak sengaja,” ucapnya terbata sambil mengusap air matanya. “Nggak sengaja?” wanita itu, Diandra mendengus tajam. “Anak zaman sekarang tuh kurang ajar semua!” “Cukup!” suara Zean memotong tajam. Ia berdiri di depan Zoya, kedua tangannya mengepal. “Tante, adikku udah bilang maaf! Jangan malah-malah telus, dong!” Diandra menatapnya dari ujung kepala sampai kaki, sinis. “Kamu ini siapa? Anak kecil sok berani!” Zean mendongak, wajahnya tegas tapi suaranya masih cadel lucu. “Zean nggak suka olang jahat ke Zoya! Zoya nggak salah!” Beberapa orang di sekitar mulai berbisik. Ada yang mengangkat ponsel, merekam. Suara kamera terdengar pelan, klik, klik, membuat Diandra menegang. Wajahnya langsung berubah. Ia sadar jadi pusat perhatian. “Berani banget kamu ngomel ke orang dewasa, hah?!” Zean tidak mundur sedikit pun. “Kalau olang dewasanya malah nggak benal, ya Zean ngomong!” suaranya bergetar, tapi matanya menatap tajam. Diandra hendak melangkah mendekat, tapi Zean mendorong tubuhnya spontan. Dorongan kecil itu membuat Diandra kehilangan keseimbangan dan jatuh duduk ke lantai. “Jangan malahi adikku lagi!” seru Zean dengan mata membulat, napasnya tersengal. Zoya menjerit kecil dan menutup mulutnya, takut sekaligus kagum pada kakaknya. Orang-orang di sekitar mulai bersorak pelan, ada yang menahan tawa, ada yang memuji keberanian bocah itu. Diandra menatap Zean tak percaya, wajahnya merah padam karena malu dan amarah. Ia mencoba berdiri, tapi pandangan orang-orang membuatnya tak berani membuka mulut. “Zoya, ayo lali!” Zean menggenggam tangan adiknya dan menariknya menjauh. Zoya sempat menoleh ke belakang, melihat wanita itu masih terduduk, lalu berbisik pelan di antara langkah terburu-buru mereka, “Zean, kamu hebat…” Zean hanya menjawab singkat sambil tersenyum kecil, “Kan Zean janji jagain Zoya.” Dan dua sosok mungil itu berlari meninggalkan tempat itu, sementara suara teriakan marah Diandra perlahan tenggelam di antara bisik-bisik orang yang menyaksikan. Beberapa detik kemudian, langkah sepatu kulit terdengar mendekat. “Diandra?” suara berat dan dingin itu membuat tubuh wanita itu kaku. Lucas berdiri tak jauh di depannya, mata tajamnya menyapu keadaan sekitar yang masih ramai. Wajah Diandra langsung berubah, berusaha tersenyum manja. “Anak-anak nakal itu mendorongku sampai jatuh, Lucas,” ucapnya dengan nada dibuat lembut. Lucas hanya melirik sekilas, ekspresinya datar. “Kamu ini sudah dewasa, Diandra. Kalau jatuh, bangun. Jangan ribut sama anak kecil.” Nada suaranya tenang tapi menusuk. Tak ada simpati. Tak ada niat menenangkan. “Kalau kamu masih mau di sini, silahkan, aku akan pergi,” ucap Lucas datar, menatap Diandra tanpa emosi. “Aku punya banyak urusan yang lebih penting daripada mendengar drama seperti ini.” Lucas berbalik, langkahnya santai namun tajam seperti bilah pisau yang membelah udara. Diandra menggigit bibirnya keras, lalu buru-buru mengejar. “Lucas! Tunggu!” Begitu berhasil menyusul, ia langsung menggandeng tangan Lucas, berharap pria itu menoleh. Namun, Lucas berhenti mendadak. Sorot matanya dingin menusuk, membuat Diandra refleks melepaskan genggamannya. “Lepas,” suaranya pelan tapi berwibawa, cukup untuk membuat beberapa orang di sekitar mereka menoleh penasaran. “Aku cuma nggak mau kamu marah kayak gini,” ucap Diandra, mencoba terdengar lembut. Lucas menghela napas, mengusap pelipisnya seolah muak. “Aku nggak marah, Diandra. Aku cuma nggak punya waktu buat hal sepele.” Nada suaranya tajam, tapi tetap tenang tipikal Lucas si cassanova yang terbiasa memperlakukan hubungan hanya sebatas permainan. Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Diandra yang hanya bisa berdiri kaku dengan d**a bergetar menahan malu dan amarah. Diandra mengepalkan tangan, menahan amarah yang hampir meledak. Dengan langkah cepat ia mengikuti Lucas dari belakang, dagunya terangkat tinggi antara gengsi dan kesal bercampur jadi satu. Lucas tidak tahu di antara keramaian yang sama, hanya beberapa meter darinya, dua anak kecil sedang berlari mencari ibunya. Dan salah satu dari mereka… baru saja memeluk bayangan masa lalu yang belum siap terungkap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD