Antara Luka dan Rahasia

1284 Words
“Mommy!” Suara dua bocah itu memecah riuh bandara. Zean dan Zoya berlari kecil ke arah Aurora yang sedang duduk di area makan, lalu langsung memeluknya erat. Aurora tersenyum lega, tapi sorot matanya cepat berubah jadi curiga. “Kok lama banget, hmm? Jangan bilang kalian sempat keluyuran dulu?” tanyanya dengan nada menggoda tapi waspada. Zean menggeleng cepat. “Nggak, Mom. Tadi kami ketemu tante galak yang marahin Zoya. Jadi Zean harus belain Zoya dulu.” Aurora langsung menegakkan tubuhnya. “Tante galak?” ulangnya, nada suaranya meninggi. “Iya, Mom! Galak banget sampai Zoya nangis,” sahut Zean, menatap Zoya yang masih menunduk, pipinya memerah dan matanya basah. Aurora langsung menatap putrinya penuh iba. “Bener, sayang? Ada yang marahin kamu?” Zoya pelan mengangguk, suaranya lirih, “Iya, Mom...” Aurora mengepalkan tangan, rahangnya menegang. “Kurang ajar!” serunya spontan sambil menepuk meja hingga gelas di depannya bergetar. Beberapa orang menoleh penasaran. “Siapa yang berani-berani marahin anak Mommy sampai nangis begini?” Zean buru-buru menenangkan mommynya. “Udah tenang aja, Mom. Tante itu udah Zean kasih pelajaran kok. Zean udah bela Zoya.” Aurora memandangi anak laki-lakinya itu beberapa detik, kemudian senyum tipis muncul di bibirnya. “Hebat kamu, Nak. Mommy bangga banget. Kamu jagain adikmu dengan baik. Zean tersenyum bangga. “Iya, Mom. Zean janji bakal selalu jagain Zoya.” Aurora menarik napas panjang, menenangkan diri, tapi hatinya tetap bergejolak. Dalam diam, ia menatap ke arah kerumunan bandara mencoba menebak siapa “tante galak” yang berani membuat anaknya menangis. Senyumnya perlahan lenyap, berganti dengan tatapan tajam seorang ibu yang siap melindungi anak-anaknya apa pun taruhannya. Bianca yang sedari tadi hanya diam ikut tersenyum kecil melihat kehangatan antara ibu dan anak itu. Ada sesuatu di d**a Aurora yang terasa sesak tapi hangat campuran bangga dan luka lama yang belum sembuh. “Wah... Zean hebat banget ya,” puji Bianca lembut. “Berani, sayang, dan selalu melindungi Zoya.” Zean menegakkan punggungnya bangga. “Iya dong, Aunty. Zean kan satu-satunya anak laki-laki Mommy. Zean harus jaga Zoya... dan juga Mommy.” Aurora tertegun mendengar kalimat sederhana itu. Ada getar halus di suaranya ketika ia membelai kepala Zean. Namun suasana hangat itu seketika berubah ketika Zean melanjutkan dengan suara kecil. “Tapi... kalau daddy masih ada, pasti daddy yang jaga kami bertiga, ya, Mom?” Kalimat itu seperti menyayat udara. Bianca menatap Aurora yang tiba-tiba terdiam. Wajah wanita itu menegang, senyumnya memudar. Bianca buru-buru menimpali, mencoba menenangkan. “Tapi Zean, Aunty lihat... tanpa Daddy pun Mommy Aurora hebat banget. Mommy kamu sudah jadi Mommy dan Daddy buat kalian. Kalian beruntung punya Mama sekuat itu,” ucapnya lembut. Zean mengangguk kecil, tapi tiba-tiba matanya berbinar. “Tapi Aunty, tadi Zean ketemu Om-Om baik banget! Ganteng banget, matanya mirip Zean. Zean rasa Om itu orang baik.” Aurora langsung menoleh cepat, jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat. “Apa... Zean ketemu siapa tadi?” Suaranya terdengar nyaris bergetar. “Om itu, Ma. Di dekat toilet. Matanya mirip Zean, loh Mom. Oh, iya, dia juga kasih kartu namanya," jawab Zean polos sambil mengeluarkan kartu nama yang diberikan Lucas padanya dan menyodorkannya ke arah Auraora. Aurora menelan ludah. Jantungnya berdegup cepat, udara tiba-tiba terasa sempit. Melihat kartu nama itu, jantung Aurora semakin berdegup. Ketakutan menjalar. “Tidak mungkin... tidak mungkin kebetulan seperti ini,” batinnya bergetar. Aurora mencengkram bahu Zean. "Bukannya Mommy udah bilalng, jangan ngobrol dengan orang asing, huh? Bagaimana kalau orang itu jahat? Bagaimana kalau Zean dibawa pergi, huh?" Aurora tidak bisa membendung rasa takutnya. "Sorry Mommy. Zean nggak ngulangin lagi," ucap Zean meminta maaf, wajahnya penuh rasa bersalah. Melihat raut wajah putranya seperti itu Aurora merasa bersalah. Ia mencoba tersenyum, menenangkan diri di depan anak-anaknya. Dalam hatinya, satu nama berputar tanpa henti Lucas. Bianca menatap Aurora, Aurora pun mengangkat kedua bahunya tidak tahu, dan tak ingin memikirkan hal ini terlalu jauh, ia menganggap kalau yang bertemu dengan Zean tadi adalah orang yang memang kebetulan mirip dengan Zean. Setelah perut mereka kenyang, Bianca mengajak Aurora dan anak-anaknya menuju apartemennya. Siang itu matahari Jakarta bersinar terik, tapi angin dari pendingin mobil membuat suasana di dalam terasa tenang. Di balik kaca jendela, gedung-gedung tinggi berderet, sementara Aurora termenung menatap pemandangan kota yang lama ia tinggalkan. Sesampainya di depan pintu apartemen, Bianca menoleh sambil tersenyum lebar. “Nah, ini dia tempat Aunty. Gimana, Zean, Zoya? Kalian suka?” Zoya berlari kecil masuk lebih dulu, matanya berbinar. “Suka banget, Aunty! Tempatnya wangi dan nyaman!” Zean mengangguk setuju, ekspresinya tak kalah antusias. Bianca tertawa kecil melihat tingkah dua anak itu. Aurora berdiri di ambang pintu, menatap ruangan sederhana tapi hangat itu dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa lega sekaligus haru menyelusup di dadanya. “Makasih ya, Bia. Kamu selalu datang di saat aku benar-benar butuh seseorang. Aku... aku gak tahu gimana harus balas semuanya.” Bianca mendekat, menggenggam tangan sahabatnya erat. “Aurora, kamu bukan cuma sahabat buat aku. Kamu keluarga. Jadi jangan pernah merasa sendirian, karena selama aku masih bisa bantu, kamu gak akan pernah sendirian lagi.” Kata-kata itu menembus hati Aurora. Ia tak mampu menahan air mata yang akhirnya jatuh. Tanpa berpikir, ia memeluk Bianca erat, peluk hangat yang dipenuhi rasa syukur dan kerinduan yang lama tertahan. “Terima kasih, Bia...” bisiknya lirih. Bianca membalas pelukan itu, menepuk lembut punggung Aurora. “Kamu udah cukup kuat selama ini, Ra. Sekarang, biar aku yang jaga kamu sebentar.” Di balik pelukan itu, Aurora memejamkan mata. Untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, ia merasa benar-benar aman. Tapi di sudut hatinya, ada kegelisahan samar tentang seseorang dari masa lalu yang mungkin saja akan muncul kembali. “Aunty, kamar kami di mana?” tanya Zoya polos, matanya bergantian menatap Aurora dan Bianca yang masih saling berpelukan. Seketika keduanya terdiam. Aurora cepat-cepat melepaskan pelukan itu, mengusap sudut matanya yang basah. Bianca pun melakukan hal yang sama, berusaha menormalkan suasana meski suara hatinya masih bergetar. “Aunty dan Mommy nangis, ya?” tanya Zoya lagi, kali ini dengan tatapan cemas yang membuat d**a Aurora terasa sesak. Aurora tersenyum kecil, berjongkok agar sejajar dengan putrinya. “Enggak, sayang... Mommy dan Aunty enggak nangis. Kami cuma kangen aja.” Bianca menimpali lembut, suaranya bergetar tapi tetap hangat. “Iya, Aunty udah delapan tahun enggak ketemu Mommy kamu, Zoya. Jadi tadi Aunty senang banget bisa peluk Mommy kamu lagi.” Zean yang sejak tadi diam, menatap kedua wanita itu dengan mata tajam yang mengingatkan Aurora pada seseorang di masa lalu. “Berarti... Aunty sama Mommy sahabatan banget, ya?” Aurora mengangguk sambil mengusap kepala putranya. “Iya, sahabatan banget. Aunty itu orang yang selalu jagain Mommy dulu.” Bianca tersenyum tipis, menahan perasaan yang mendadak menghangat. “Dan sekarang giliran Aunty yang jagain kalian bertiga.” Zoya tersenyum cerah, lalu menarik tangan Zean. “Ayo, Kak! Kita cari kamar kita! Mommy dan Aunty harus istirahat, nanti nangis lagi,” candanya polos. Aurora dan Bianca tertawa bersamaan, tapi di balik tawa itu, ada keharuan yang masih menggantung di d**a campuran antara bahagia, lelah, dan takut kehilangan lagi. “Zoya, Zean! Kamar kalian ada di lantai dua, ya. Yang ada tulisan nama kalian di depan pintunya. Aunty udah siapin semuanya!” seru Bianca, suaranya agak meninggi karena dua bocah itu sudah berlari menaiki tangga. “Iya, Aunty!” sahut mereka hampir bersamaan, tawa mereka menggema di seluruh ruangan. Bianca tersenyum melihat keceriaan mereka. Aurora pun ikut tersenyum, tapi tatapannya kosong sesaat seolah pikirannya melayang entah ke mana. “Aurora…” panggil Bianca pelan, tapi nadanya sarat makna. Aurora menoleh. “Hmm?” "Tadi kenapa wajahmu? Apa jangan-jangan Zean ketemu daddynya? Wajah Aurora semakin menegang. Bianca kembali melanjutkan perkataannya," Tidak mungkin 'kan? Kau saja tidak tahu siapa daddynya. Ya, mungkin itu hanya mirip saja."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD