Hari ini Aurora benar-benar sibuk. Sejak pagi, ia sudah berkeliling rumah dengan map di tangan, mengurus berkas sekolah Zean dan Zoya sekaligus menyiapkan dokumen penting untuk pekerjaannya di Global Insight Media.
“Mommy, apa Mommy langsung kelja hari ini?” tanya Zean sambil menatap Aurora dengan mata bulatnya yang penasaran.
Aurora menoleh dan tersenyum lembut. “Iya, Sayang. Tapi sebelum Mommy kerja, Mommy mau daftarin kalian sekolah dulu, ya.”
Zean langsung menoleh ke Zoya, dan keduanya saling berpandangan, senyum mereka melebar, mata berbinar.
“Waaah! Kita bakal punya teman-teman baru!” seru mereka hampir bersamaan. Zoya bahkan melompat kecil sambil menepuk tangannya, sementara Zean mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi seolah merayakan kemenangan.
Aurora tak bisa menahan tawa melihat tingkah keduanya. “Iya dong, tapi kalian harus janji, belajar yang rajin dan nggak boleh malas, ya.”
Bianca yang sejak tadi memperhatikan ikut tertawa kecil. “Betul tuh,” katanya sambil mengusap kepala Zoya dengan lembut. “Harus rajin belajar biar pintar kayak Mommy kalian.”
Zoya mengangguk semangat, pipinya menggelembung karena tersenyum lebar. “Zoya mau jadi pintar juga, biar bisa bantu Mommy kelja!”
Aurora tertegun sejenak, lalu memeluk putrinya erat. “Aduh, anak Mommy paling manis deh,” katanya pelan, matanya sedikit berkaca-kaca.
Sementara Zean yang merasa tidak mau kalah menepuk dadanya sendiri. “Zean juga mau bantu Mommy! Nanti Zean jadi bos besar, biar Mommy nggak capek kerja!”
Aurora dan Bianca saling pandang, tertawa kecil, haru sekaligus bangga melihat dua anak kecil itu yang begitu polos tapi penuh cinta.
“Emm… Ra, sorry ya. Aku nggak bisa temenin kamu hari ini, aku harus berangkat ke kantor dulu,” ujar Bianca dengan nada sungkan. Ia menatap Aurora dengan wajah bersalah.
Aurora menoleh sambil tersenyum lembut. “Iya, Bia, nggak apa-apa kok. Kamu kerja aja. Aku bisa sendiri,” katanya sambil menepuk bahu sahabatnya pelan.
“Tapi kamu yakin nggak kenapa-kenapa? Jangan sampai nyasar, lho,” canda Bianca setengah khawatir, matanya memindai wajah Aurora.
Aurora terkekeh, mengangkat sebelah alis. “Bia, aku cuma pergi delapan tahun, bukan delapan puluh tahun. Aku masih hafal Jakarta, kok,” ujarnya sambil tersenyum geli.
Bianca tertawa kecil mendengar jawaban itu. Tapi tatapannya tetap lembut, seperti seorang kakak yang sulit berhenti khawatir. “Ya gimana, Ra… ini kan pertama kalinya kamu balik lagi ke kota ini setelah semua yang terjadi. Aku cuma… khawatir aja.”
Aurora sempat terdiam. Tatapannya menerawang sesaat sebelum ia mengangguk pelan. “Aku tahu, Bia. Tapi aku akan baik-baik aja. Kalau ada apa-apa, aku bakal langsung hubungi kamu.”
Bianca menarik napas panjang, lalu tersenyum. “Oke deh. Tapi janji, kalau kamu nyasar dan terjadi sesuatu dengan kamu, kamu langsung telepon aku. Aku jemput, jangan maksa sendiri.”
Aurora terkekeh lagi. “Siap, nyonya protektif. Sekarang kamu berangkat, nanti malah telat.”
“Dasar keras kepala,” gumam Bianca sambil menggeleng, lalu menarik tasnya. Ia sempat menoleh sekali lagi sebelum pergi. “Hati-hati ya, Ra.”
Aurora tersenyum kecil, menatap kepergian sahabatnya dari ambang pintu. “Kamu juga, Bia. Hati-hati di jalan.”
Begitu pintu tertutup, Aurora menarik napas panjang. Senyum di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan ekspresi kosong yang tak sempat ditunjukkan di depan Bianca. Ada sesuatu di matanya, campuran antara rindu, gugup, dan kenangan masa lalu yang belum benar-benar sembuh.
"Sekarang ayo kita pergi kesekolah baru kalian, dan ingat... jangan membuat masalah," kata Aurora yang memberi pesan.
"Iya Mommy, kami tak akan membuat masalah," sahut Zoya dan Zean bersamaan dengan mengangkat kedua jari mereka keatas.
Mereka pun berangkat kesekolah Zean dan Zoya terlebih dahulu.
***
Di perusahaan besar Maverick Jewelry Group, suasana ruang kerja Lucas pagi ini terasa menegangkan. Tumpukan berkas berserakan di meja kerjanya, sebagian terbuka dengan grafik penjualan yang membuat keningnya berkerut dalam.
“Bayu…” suara Lucas terdengar rendah namun mengandung bara. “Kenapa ini bisa terjadi? Bagaimana bisa penjualan kita turun sedrastis ini?”
Bayu, asisten pribadinya, menelan ludah. Ia tahu betul, nada seperti itu berarti Lucas sudah di ujung kesabarannya.
“Selama ini, penjualan kita kalah dengan LuneBlue, Pak,” jawabnya hati-hati.
Lucas mendongak cepat. “LuneBlue?” alisnya menyatu, suaranya naik setengah oktaf.
“Iya, Pak. LuneBlue sekarang menguasai pasar Eropa… dan....” Bayu menarik napas pelan, “mereka sudah mulai masuk ke pasar Asia juga.”
Lucas meremas pulpen di tangannya hingga hampir patah. “Bagaimana dengan para desainer itu?! Desainer yang katanya terbaik di industri! Apa yang mereka lakukan selama ini?!” bentaknya, membuat Bayu refleks mundur setengah langkah.
“Itu juga yang saya heran, Pak,” jawab Bayu dengan suara sedikit bergetar. “Padahal semua proyek berjalan normal, tapi… entah kenapa koleksi LuneBlue lebih menarik perhatian publik. Padahal mereka baru berdiri tiga tahun.”
Lucas menatap grafik di layar komputernya, rahangnya mengeras. “Tiga tahun, dan sudah berani menantang Maverick?” katanya dingin. Ia bangkit dari kursinya dengan gerakan cepat, menatap jendela tinggi yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari lantai 30.
“Panggil semua desainer ke ruang rapat sekarang. Aku ingin tahu, siapa yang membuat perusahaan ini kehilangan cahaya.”
“Baik, Pak Lucas.” Bayu membungkuk sedikit dan segera keluar, meninggalkan Lucas yang masih berdiri diam, tatapannya menusuk seperti batu permata yang belum diasah dingin, tajam, dan berbahaya.
Tak butuh waktu lama, semua desainer Maverick Jewelry Group sudah berkumpul di ruang rapat. Suasana hening, udara terasa menekan.
Pintu terbuka. Lucas masuk dengan langkah tenang namun berwibawa. Tatapannya tajam, membuat semua orang otomatis menunduk. Ia duduk di kursi utama dan menyilangkan tangan di d**a.
“Kalian tahu kenapa saya kumpulkan kalian di sini?” suara Lucas datar, tapi dinginnya menusuk ke setiap sudut ruangan.
Tak ada yang menjawab. Hanya tatapan saling melirik dan napas yang tertahan.
Sampai akhirnya Dion membuka suara, berusaha terdengar tenang meski dadanya berdebar.
“Maaf, Pak… kami memang belum bisa menandingi LuneBlue.”
Sebagai kepala desainer, Dion sudah tahu arah pembicaraan ini. Ia tahu persis kenapa Lucas bisa semarah itu, karena harga jual perhiasan Maverick terus merosot, dan pamor perusahaan perlahan tenggelam di bawah bayang-bayang LuneBlue.
BRAK!
Lucas menggebrak meja keras-keras. Semua terlonjak kaget.
Matanya memerah menahan emosi.
“Apa kamu pikir saya membayar kalian untuk alasan bodoh seperti itu?! Kalau kalian nggak sanggup, silakan keluar! Letakkan surat resign di HRD!”
Semua langsung menunduk, suasana makin tegang.
Lucas menarik napas berat, lalu berkata lebih pelan tapi tajam,
“Saya mau hasil kerja kalian berubah dalam satu minggu. Dan ingat…” ia menatap satu per satu wajah yang ketakutan,
“jangan sampai masalah ini bocor ke luar. Sekali saja ada yang berani, siap-siap tanggung akibatnya.”
Sunyi.
Hanya detak jam dinding yang terdengar, menggantikan kata-kata yang tak sanggup diucapkan siapa pun.