Aurora menatap keluar jendela pesawat, di bawah sana terlihat langit malam yang gemerlap yang akan segera ditinggalkannya. Meninggalkan masa lalu, dan berusaha untuk memulai hidup baru. Tanpa sadar, setetes air mata jatuh, membasahi pipinya yang pucat.
“Kalian harus kuat, ya…” bisiknya lirih, kedua tangannya refleks mengelus perutnya yang masih rata. “Karena cuma kalian alasan Mama bisa bertahan sejauh ini.”
Pesawat terus melaju menembus awan, membawa Aurora jauh dari semua luka dan bisikan kejam yang dulu menuduhnya tanpa ampun. Dua puluh jam perjalanan terasa seperti selamanya, tubuhnya lelah, tapi hatinya justru lebih tenang dari sebelumnya.
Dan saat akhirnya roda pesawat menyentuh landasan Charles de Gaulle, napas Aurora tercekat.
Ia benar-benar sampai di negeri asing yang dingin ini, ia akan memulai segalanya dari awal sendirian, tapi tidak lagi rapuh.
Begitu melewati pintu kedatangan, seorang wanita paruh baya dengan senyum hangat menunggunya, Tante Claire, tante Bianca. Wajahnya lembut, seperti embun pagi yang menenangkan.
“Aurora?” sapanya lembut.
Aurora mengangguk sopan. “Iya, Tante Claire.”
Wanita itu mengangguk, lalu memeluknya tanpa ragu. Pelukannya begitu tulus, membuat d**a Aurora terasa hangat untuk pertama kali setelah berhari-hari penuh tangis.
“Kamu pasti Aurora. Bianca sudah banyak cerita tentang kamu,” ucap Claire lembut. “Selamat datang di Paris, Aurora”
Aurora tersenyum kecil. “Terima kasih, Tante… maaf kalau merepotkan.”
Claire menggeleng, menepuk lembut bahunya. “Oh, tidak sama sekali. Bianca bilang kamu anak baik dan pekerja keras. Kamu di sini sekarang, itu sudah cukup. Sisanya… kita jalani pelan-pelan, ya?”
Mereka berjalan keluar bandara menuju mobil Claire. Di sepanjang jalan, Aurora hanya bisa memandangi kota itu dari jendela menara Eiffel yang berdiri jauh di kejauhan, jalanan batu basah oleh hujan, dan orang-orang yang berjalan cepat dengan payung warna-warni.
Paris terasa asing, tapi entah kenapa… juga memberi sedikit harapan.
Hari-hari pertama di Paris terasa seperti berjalan di kabut tebal asing, dingin, dan sepi.
Aurora duduk di pojok kamar kecilnya, menatap jendela yang berembun. Dari kejauhan, menara Eiffel tampak samar di bawah langit abu-abu. Indah, tapi terasa jauh dari hangat.
Setiap pagi ia bekerja di kafe kecil dekat Montmartre. Uap kopi, suara mesin espresso, dan teriakan pelanggan berbaur jadi rutinitas yang menyesakkan d**a. Bahasa yang asing membuatnya kikuk, dan setiap kesalahan kecil seolah mengingatkan bahwa ia hanyalah pendatang seorang perempuan hamil yang mencoba memulai hidup dari nol.
Kadang, saat lelah menumpuk, Aurora ingin menyerah. Tapi setiap kali ia teringat wajah kecewa rektor, tatapan sinis teman-temannya, dan air mata Bianca yang menahannya di terminal, ia menggenggam janji pada dirinya sendiri ia harus bangkit, demi anak yang tumbuh di rahimnya.
Sore itu, setelah bekerja di kafe, Aurora mampir ke butik kecil milik Tante Claire butik hangat berisi cahaya lembut dan aroma logam perak yang baru dipoles.
Awalnya Aurora hanya membantu menata pajangan kalung dan melayani pembeli. Ia tak pernah mengeluh, meski tangannya sering pegal, meski hatinya masih menanggung luka yang belum sembuh.
Sampai suatu malam, ketika toko hampir tutup, Claire melihat Aurora duduk di meja kerja, menunduk menatap buku catatannya. Ujung pensilnya menari cepat di atas kertas, membentuk lengkungan cincin dengan detail halus seperti serpihan cahaya.
Claire mendekat pelan, lalu terdiam.
“Desain ini…” suaranya pelan, tapi penuh takjub. “Cantik sekali. Kamu yang buat?”
Aurora tersentak, buru-buru menutup bukunya. Pipinya memerah.
“Iya, Tante… cuma iseng aja,” jawabnya gugup.
Claire tersenyum, lembut tapi tegas. “Kalau begitu, mulai besok kamu nggak usah di kasir lagi. Kamu bantu Tante di meja desain.”
Ia menepuk bahu Aurora pelan. “Bakat kayak begini nggak boleh disembunyikan.”
Aurora tertegun, lalu perlahan tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah semua kejatuhannya, seseorang mempercayainya lagi.
“Iya, Tante… terima kasih.” suaranya bergetar.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya juga, Aurora merasa mungkin Paris memang bukan tempat pelariannya, tapi tempat untuk mulai hidup dari awal.
Bulan-bulan berjalan cepat. Perut Aurora mulai membesar, tapi ia tetap gigih. Pagi kuliah jurnalistik di universitas kecil dekat pusat kota, siang bekerja di kafe, dan malam membantu Claire di butik. Tante Claire tidak pernah menanyakan siapa ayah dari anak itu, hanya berkata, “Kamu tidak sendirian, sayang. Kadang Tuhan memberi luka, bukan untuk menghukum, tapi untuk mengubah arah langkah kita.”
Suatu sore yang sunyi di Paris, Aurora duduk di ruang pemeriksaan dengan jantung berdebar. Tangannya yang dingin meremas ujung gaun hamilnya. Setiap kali detak kecil terdengar dari alat pemindai, napasnya ikut tertahan.
Ia tak tahu harus menantikan apa — atau siapa yang menunggunya di masa depan.
Dokter yang memeriksanya tiba-tiba tersenyum, menatap layar dengan lembut.
“Nona Aurora,” katanya pelan, “jantung bayi Anda… dua-duanya sehat.”
Aurora mengerjap. “Dua-duanya?” suaranya bergetar, nyaris tak keluar.
Dokter mengangguk penuh hangat. “Ya, Anda akan memiliki anak kembar.”
Hening sejenak. Lalu butiran air mata menuruni pipinya perlahan.
Aurora tersenyum di antara air mata. “Dua malaikat kecil… jadi ini alasan Tuhan belum membiarkan aku menyerah.”
Air mata mengalir tanpa bisa ia tahan. Rasa takut, bahagia, dan tak percaya bercampur jadi satu, menghantam dadanya. Aurora menatap hasil USG di tangannya dua titik kecil yang berdetak pelan. Dua bukti bahwa Tuhan masih memberinya alasan untuk bertahan.
Malamnya, dengan tangan yang masih gemetar, ia menatap layar ponsel sebelum akhirnya menekan nama “Bianca”.
Nada sambung berdering lama, dan ketika suara sahabatnya terdengar, suaranya langsung pecah.
“Bia… aku punya kabar,” bisiknya lirih.
“Kenapa, Ra? Kamu nangis? Ada apa?” suara Bianca terdengar cemas.
Aurora mengusap air matanya, tapi senyum tak bisa ia tahan. “Aku… aku akan punya bayi kembar.”
Hening beberapa detik. Lalu suara Bianca terdengar bergetar di seberang sana.
“Ya Tuhan, Ra… dua bayi? Astaga, Tuhan baik banget sama kamu.”
Ia terisak pelan. “Kamu gak sendiri lagi, Ra. Kamu punya dua malaikat kecil yang bakal jagain kamu setiap hari.”
Aurora menutup mulutnya, menangis dalam diam. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa… dicintai.
Hari-hari Aurora di Paris perlahan berubah menjadi kehidupan yang tenang dan damai.
Tak ada lagi bisikan sinis di belakangnya, tak ada tatapan menghakimi.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia bisa berjalan di jalanan Paris tanpa takut, hanya ditemani udara pagi yang sejuk dan aroma kopi dari kafe di sudut Montmartre.
Di kota asing itu, Aurora menemukan makna baru tentang bertahan dan tentang mencintai tanpa syarat.
Hingga akhirnya, di suatu pagi musim semi yang cerah, dua tangisan mungil memecah kesunyian ruang bersalin.
Aurora terdiam, menatap dua wajah kecil yang baru saja ia lahirkan. Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan.
Ada rasa takut, bahagia, dan cinta yang meledak bersamaan di dadanya.
“Mulai hari ini…” suaranya bergetar pelan, “Mama janji, gak akan biarin siapa pun nyakitin kalian lagi. Zean dan Zoya.”
Ia mencium dahi keduanya lembut, penuh janji.
Tante Claire yang berdiri di sudut ruangan ikut menangis haru. “Ya Tuhan… mereka seperti keajaiban kecil yang Tuhan kirimkan untukmu, Aurora.”
Sejak hari itu, rumah kecil mereka di pinggiran Paris berubah menjadi tempat paling hidup di dunia.
Tawa bayi, aroma s**u hangat, dan cahaya matahari yang menembus tirai menjadi saksi dari perjuangan seorang ibu muda yang menolak menyerah.
Dua bulan berlalu hari-hari Aurora padat kuliah jurnalistik di pagi hari, bekerja di butik perhiasan milik Tante Claire di siang hari, dan malamnya ia sibuk mengganti popok atau menenangkan tangis dua bayi kembarnya.
Namun di tengah lelah itu, ada kebahagiaan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Saat semua orang tertidur, Aurora duduk di meja kecil dekat jendela, menggambar.
Goresan demi goresan di buku sketsanya lahir dari cinta, dari luka yang berubah jadi seni.
Suatu malam, ia memutuskan mengunggah salah satu desainnya ke forum internasional dengan nama samaran “LuneBleue” atau bulan bulan biru, simbol dari harapannya yang tak pernah padam.
Awalnya hanya iseng. Tapi beberapa hari kemudian, notifikasi pesan dan email datang bertubi-tubi.
Desainnya menarik perhatian banyak orang. Pesanan berdatangan. Butik Tante Claire perlahan ramai dan tumbuh pesat.
Claire datang menghampiri, matanya berkaca-kaca. Ia memeluk Aurora erat.
“Aurora… kamu anugerah buat Tante. Sejak kamu datang, semuanya berubah.”
Aurora hanya tersenyum lembut, menatap dua bayinya yang tertidur di buaian.
“Aku cuma ingin bantu, Tante. Aku ingin anak-anakku tumbuh dan bangga… kalau mamanya gak pernah menyerah.”
Di luar jendela, langit Paris mulai berwarna keemasan.
Aurora menatapnya dalam diam, lalu berbisik,
“Terima kasih, Tuhan… sudah mengizinkanku jatuh agar aku tahu caranya bangkit.”