Suasana ruang rektor terasa mencekam. Aurora duduk di kursi paling depan, tubuhnya kaku, kepala tertunduk. Jari-jarinya saling menggenggam erat, seolah itu satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk tetap tenang. Di sekelilingnya, beberapa dosen menatap dengan tatapan tajam yang menusuk.
“Aurora! Apa benar kamu hamil?” suara rektor menggema dingin di ruangan itu. Nada suaranya tegas, tanpa sedikit pun empati.
Aurora mengangkat wajahnya perlahan. Matanya berkaca-kaca.
Ia hanya mengangguk lemah.
Rektor menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan berat. “Saya benar-benar kecewa, Aurora. Kamu bukan mahasiswi sembarangan. Kamu teladan, berprestasi, dan selama ini jadi kebanggaan kampus. Tapi sekarang… semua itu hancur.”
Aurora menelan ludah, suaranya nyaris bergetar. “Maaf, Pak….”
“Maaf?” Rektor menatapnya tajam. “Kesalahanmu ini gak bisa ditolerir. Kamu telah mencoreng nama kampus. Dan setelah mempertimbangkan semuanya… keputusan kami sudah final. Kamu dikeluarkan dari universitas ini.”
“Apa?!” Aurora menatap tak percaya, air matanya jatuh. “Pak, tolong… ini semester terakhir saya. Saya cuma butuh sedikit waktu untuk menyelesaikan kuliah saya. Saya janji gak akan bikin masalah lagi.”
Rektor menggeleng pelan. “Terlambat, Aurora. Gosip tentangmu sudah tersebar ke mana-mana dan lebih parahnya gosip itu sangat buruk tentang kamu, kamu menjadi simpanan orang yang berisistri. Dan kami sudah dapat bukti medis yang membenarkan kabar tentang kehamilan kamu.”
“Saya memang hamil, Pak,” suaranya pecah, “tapi saya bukan seperti yang mereka bilang. Saya bukan perempuan murahan, bukan simpanan siapa pun!”
Salah satu dosen perempuan menatapnya dengan dingin. “Kenyataannya tetap saja mencoreng nama kampus. Kamu tidak bisa kami biarkan bertahan.”
Aurora menunduk, air matanya jatuh tanpa henti. “Tapi Pak, saya mohon....”
“Sudah cukup, Aurora!” potong rektor. “Silakan keluar dari kampus ini. Dan jangan pernah kembali.”
Bianca, yang sejak tadi duduk di sampingnya, langsung meraih bahu Aurora dan memeluknya erat.
“Pak, kalau sudah selesai, saya bawa Aurora pergi,” ucap Bianca dengan nada tajam menahan emosi.
Para dosen hanya mengangguk.
Aurora baru saja berdiri, tapi suara rektor kembali menghentikannya.
“Tunggu, Aurora.”
Aurora menoleh, wajahnya penuh air mata. “Ya, Pak?”
Rektor menatapnya lekat. “Sebenarnya, masih ada satu cara agar kamu bisa tetap kuliah.”
Aurora menatapnya penuh harap. “Apa itu, Pak?”
“Kamu harus menikah dengan pria yang menghamili kamu. Dan dia tidak boleh suami orang. Kalau kamu bisa membuktikan itu, kami akan pertimbangkan.” jawab rektor dengan penuh penekanan.
Aurora terdiam lama. Harapan di matanya perlahan padam. “Kalau cuma itu syaratnya, saya tidak bisa, Pak…” suaranya melemah. “Lebih baik saya menanggung semuanya sendiri.”
“Kalau kamu tidak bisa membawa pria itu ke hadapan kami,” ujar dosen perempuan itu dengan sinis, “berarti gosip yang beredar memang benar.”
Aurora menatap mereka satu per satu, lalu mengusap air matanya.
“Percuma saya menjelaskan. Silakan anggap saya apa pun. Saya akan keluar dari sini tanpa menyeret nama kampus ini.”
Bianca menggenggam tangannya kuat-kuat, menuntunnya keluar.
Begitu mereka melangkah ke koridor, bisik-bisik langsung menyambut. Tatapan sinis, tawa mengejek, dan suara berbisik yang sengaja dikeraskan.
"Aku gak nyangka, Ra ternyata kamu seliar ini. Waktu sama aku kamu sok suci, ternyata kayak gini kelakuan asli kamu, dan malah sampai hamil.” Suara bariton itu menusuk telinganya.
Aurora berhenti. Ia mengenali suara itu, Dion, mantan kekasihnya.
Ia memejamkan mata, lalu membuang napas kasar. “Aku sok suci atau liar, itu bukan urusan kamu!”
“Wuuuh, marah! Kalau udah liar ya liar aja, ngaku dong!” sahut mahasiswa lain sambil tertawa.
“Cukup!” suara rektor mendadak menggelegar di ujung koridor. Semua langsung diam.
“Bubar semuanya!” tegasnya. “Aurora akan menanggung hidupnya sendiri, dan kalian tidak berhak menghakimi!”
Aurora hanya berdiri kaku, menunduk, sementara Maya, perempuan yang paling membenci Aurora tersenyum sinis dari kejauhan. Tatapan puas terpampang jelas di wajahnya.
Bianca membawa Aurora pulang ke kos. Begitu pintu tertutup, Aurora langsung jatuh berlutut dan menangis histeris di pelukan sahabatnya.
“Hidup gue hancur, Bia!” tangisnya pecah, suaranya parau.
Bianca mengusap punggung Aurora lembut. “Ra, kamu masih bisa perbaiki semuanya. Cukup bilang siapa laki-laki itu, biar dia tanggung jawab. Kamu bisa balik kuliah lagi.”
Aurora menggeleng keras, air matanya terus jatuh. “Aku gak bisa, Bia. Aku gak mau nyebutin namanya. Aku gak mau dia hancur karena aku.”
(Aurora menatap perutnya yang mulai terasa hangat)
"Aku gak mungkin bilang kalau Lucas ayah dari anak ini... dia sudah dijodohkan dengan wanita lain. Aku gak pantas di sampingnya," batinnya pilu.
Bianca menggenggam tangan Aurora erat. “Terus kamu mau ngapain sekarang? Kamu butuh biaya, dan anak ini juga.”
Aurora menarik napas panjang, lalu menatap sahabatnya. “Bia, tolong bantu aku… Aku mau keluar negeri. Aku mau kerja dan kuliah di sana. Aku harus mulai dari nol.”
Bianca terkejut. “Ra, kamu gila? Kamu sedang hamil, dan mau kerja di negeri orang?”
“Aku gak punya pilihan, Bia. Kalau aku tetap di sini, aku cuma akan terus diinjak. Aku gak mau anakku lahir dengan cibiran orang.”
Mata Aurora menatap lurus, tegas tapi penuh luka.
Bianca terdiam, lalu menggenggam tangan Aurora lebih erat. “Kalau ke Paris gimana? Tante aku tinggal di sana. Dia punya sekolah desain, kamu bisa lanjut di sana. Aku yakin dia mau bantu kamu.”
Aurora menggeleng pelan. “Aku gak mau desain lagi, terlalu banyak kenangan buruk. Aku mau mulai dari bidang lain.”
“Jadi kamu mau ninggalin impian kamu?” tanya Bianca pelan.
Aurora tersenyum getir. “Aku gak ninggalin. Aku cuma gak mau berada di dunia yang ngingetin aku sama orang-orang kayak Maya dan Dion.”
Bianca mengangguk mantap. “Baik, aku bantu. Aku akan hubungi tanteku malam ini.”
Aurora langsung memeluk sahabatnya erat-erat. “Terima kasih, Bia. Kamu satu-satunya orang yang masih percaya sama aku.”
Dan malam itu, keputusan besar dibuat.
Aurora gadis berprestasi yang kehilangan segalanya akan meninggalkan Indonesia tanah kelahirannya.
Bukan untuk melarikan diri, tapi untuk memulai hidup baru… dengan anak yang ia kandung.
Bianca langsung membantu mengurus berkas-berkas Aurora, dan semua kebutuhan untuk keberangkatan Aurora.
Di kamar kos Aurora terasa lebih sunyi dari biasanya. Semua barang-barangnya sudah dimasukkan ke dalam koper, tinggal satu foto kecil yang belum ia kemas foto dirinya bersama teman-teman satu angkatan saat lomba desain nasional.
Aurora menatap foto itu lama. Matanya merah, tapi air matanya sudah kering.
“Udah cukup, Ra… cukup nangisnya,” gumamnya pelan, suaranya serak. Ia menaruh foto itu di dalam koper, menutupnya, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengelus perutnya yang masih rata.
“Maaf ya, Nak… Mama belum bisa jadi ibu yang kuat,” bisiknya dengan suara bergetar. “Tapi Mama janji… kita bakal mulai hidup baru, jauh dari semua orang yang udah ngehina Mama.”
Ketika pintu diketuk, Aurora buru-buru menghapus sisa air mata di pipinya. Bianca masuk sambil membawa dua gelas cokelat hangat.
“Aku tahu kamu belum tidur,” katanya lembut.
Aurora tersenyum tipis. “Kamu juga belum.”
Bianca duduk di sampingnya. “Besok pagi jam tujuh pesawatnya, Ra. Tanteku udah siap jemput kamu di bandara. Aku udah kirim semua berkas pendaftaran kursus bahasa dan surat rekomendasi kerja paruh waktumu di sana.”
Aurora menatap sahabatnya dengan mata berkaca. “Kamu terlalu baik, Bia.”
Bianca memutar bola mata. “Aku cuma ngelakuin hal yang seharusnya dilakukan sahabat. Lagian, kalau aku biarin kamu tetap di sini, kamu bisa gila.”
Aurora terkekeh kecil, lalu terdiam.
Sunyi beberapa detik. Lalu ia berkata lirih, “Bia, aku takut.”
Bianca menatapnya serius. “Takut apa?”
“Takut gak kuat… takut sendirian di tempat asing. Takut anak ini nanti nyalahin aku karena gak punya ayah.”
Suara Aurora pecah di akhir kalimat. Bianca langsung memeluknya erat.
“Ra, kamu bukan perempuan lemah. Kamu cuma sempat jatuh. Tapi besok… kamu akan mulai lagi. Dan aku yakin kamu bisa.”
Aurora menangis dalam diam di pelukan sahabatnya. Air matanya jatuh satu-satu di bahu Bianca.
Malam itu mereka tidak banyak bicara lagi. Dua perempuan itu duduk bersebelahan, memandangi koper yang sudah siap di sudut kamar simbol perpisahan dan awal baru.