Di Ambang Kehancuran

1140 Words
“Ra, lihat deh. Maya makin besar kepala setelah merebut Dion… dan desain kamu juga,” kata Bianca, matanya menyorot tajam ke arah Dion dan Maya yang tertawa di bangku pojok kantin. Aurora menghela napas pelan, menatap sekilas dari balik gelas teh di depannya. “Biarin saja, Bia. Orang yang nyolong hasil orang lain nggak akan pernah bahagia. Suatu hari, karmanya bakal datang sendiri.” Bianca menatap sahabatnya dengan heran. “Kok kamu bisa sabar banget sih, Ra? Padahal jelas-jelas mereka nyakitin kamu, tanpa setitik rasa bersalah pun.” Aurora menunduk, mengaduk-aduk minumannya tanpa benar-benar berniat meminumnya, tapi pikirannya justru makin keruh. Senyumnya tipis, tapi sorot matanya masih menyimpan luka yang belum sembuh. “Daripada mikirin mereka, mending kita habisin makanan ini dan fokus ngerjain desain tugas akhir,” katanya pelan, berusaha terdengar santai meski suaranya bergetar halus. Bianca melirik sahabatnya. “Iya juga sih. Mereka udah lewat, gak pantas lagi dikasih tempat di kepala kamu,” ujarnya dengan nada lembut tapi tegas. Aurora mengangguk lemah, mencoba tersenyum. Tapi belum sempat menyuapkan bakso ke mulutnya, telinganya menangkap percakapan dari meja belakang. “Eh, kamu udah denger belum? Lucas pindah keluar negeri.” Nama itu seketika membuat Aurora berhenti. Sendok di tangannya bergetar. "Lucas?" “Apa? Lucas pindah? Maksudnya Lucas yang mana?” tanya temannya penasaran. “Lucas Maverick lah. Katanya kuliah di luar negeri bareng pacarnya.” Aurora mengangkat kepalanya pelan. Dadanya mulai terasa sesak. "Padahal udah sebulan loh pindahnya," sahut mahasiswa satunya. "Pantas saja sebulan ini aku gak pernah melihat Lucas," batin Aurora. “Seriusan? Padahal dia tuh tampan banget, keren, dan punya aura dingin yang bikin penasaran,” celetuk mahasiswa lain dengan tawa ringan. “Tapi gak nyangka dia pindah cuma buat nyusul pacarnya.” “Iya, katanya sih mereka udah dijodohi,” timpal yang lain. Sendok di tangan Aurora diremas sampai jemarinya memutih. Suara mereka menggema di kepalanya, seolah setiap kata menusuk balik luka lama yang belum sempat tertutup. “Katanya mau tanggung jawab,” gumam Aurora pelan, suaranya serak menahan emosi. “Tapi ternyata punya pacar, dan sekarang pergi demi pacarnya. Dasar laki-laki… manis di depan, tapi semua sama aja, pembohong.” “Ra?” panggil Bianca, suaranya lembut tapi cemas. “Kamu kenapa? Mukamu pucat banget.” Aurora buru-buru memaksakan senyum, menelan getir di tenggorokan. “Aku nggak apa-apa, Bi. Cuma… baksonya keras banget, susah ditusuk.” “Bakso keras?” Bianca mengernyit curiga. “Tapi....” Aurora sudah bangkit lebih dulu. “Bia, aku ke toilet dulu, ya. Nanti aku nyusul ke kelas.” “Eh, tapi makanan kamu belum....” “Aku udah kenyang,” potong Aurora datar, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi. Bianca hanya bisa menghela napas, menatap punggung sahabatnya yang menjauh. Di toilet, Aurora menyalakan keran air dan mencuci tangannya. “Pantas aja dia hilang sebulan ini, ternyata nyusul pacarnya ke luar negeri,” gumamnya getir. Tiba-tiba perutnya terasa melilit. “Hugh... Hoek!” Aurora terbungkuk, memuntahkan isi perutnya. Keringat dingin mengalir di dahinya, wajahnya pucat seperti kertas. “Kok aku mual… pusing juga….” bisiknya panik. Ia menatap cermin, melihat bayangannya sendiri dengan mata membesar. “Gak mungkin, kan cuma sekali…” ucapnya gemetar. Tapi pikirannya langsung melayang. “Ya Tuhan… aku belum datang bulan. Dua minggu…” Aurora memegang perutnya, jantungnya berdegup kencang. “Jangan-jangan aku benaran....” Ia tak sanggup menyelesaikan kalimat itu. Setelah merasa sedikit tenang, Aurora keluar dari toilet. Wajahnya masih pucat. “Ra!” Bianca langsung menghampiri. “Kamu kenapa? Pucat banget, sumpah.” “Aku cuma kecapekan, Bi. Mungkin masuk angin,” kilah Aurora. “Masuk angin dari mana? Kamu itu sering banget begadang ngerjain desain. Aku udah bilang, jangan maksain diri.” “Aku harus, Bi. Kalau aku gak ngerjain dengan baik, beasiswa aku bisa dicabut. Semua perjuangan aku bakal sia-sia.” Bianca menatapnya prihatin. “Tapi kalau kamu tumbang, beasiswa juga percuma. Aku anter kamu ke rumah sakit, ya?” Aurora menggeleng cepat. “Aku masih tahan, Bi.” Namun saat dosen masuk dan melihat Aurora, raut wajah pria itu langsung berubah. “Aurora, kamu baik-baik saja?” tanyanya. Bianca mengangkat tangan. “Pak, Aurora kelihatannya nggak enak badan.” Dosen menghela napas. “Aurora, kalau kamu sakit, jangan paksakan diri. Kirim saja tugasmu lewat email.” Dosen menatap Bianca. “Tolong antar Aurora ke rumah sakit sekarang juga.” Bianca tak membantah. “Baik, Pak.” Di rumah sakit, Aurora duduk gelisah di kursi tunggu, jari-jarinya sibuk meremas ujung baju. Bianca menatapnya cemas. “Kamu kenapa tegang banget sih, Ra?” Aurora hanya menggeleng. Dadanya sesak. Tak lama, dokter keluar dari ruang periksa dengan ekspresi serius. “Dok, gimana teman saya?” tanya Bianca cepat. Dokter menatap mereka bergantian. “Dia tidak sakit. Dia hamil.” “Ha… hamil?” Bianca nyaris berteriak. Tatapannya langsung beralih pada Aurora yang menunduk diam, wajahnya semakin pucat. “Kamu… hamil, Ra? Kok bisa?” suaranya bergetar, separuh tak percaya. Dokter menyerahkan resep. “Ini vitamin dan obat anti-mualnya. Jangan lupa istirahat.” “Terima kasih, Dok,” ucap Aurora pelan. Begitu keluar dari ruangan, Bianca langsung menatapnya tajam. “Sekarang jelaskan, Ra.” Aurora menarik napas panjang. “Aku… aku salah, Bi. Waktu itu aku lagi kacau setelah tahu Dion selingkuh sama Maya. Malam itu aku bermalam di hotel bersama dengan seorang pria, dia....” Ia berhenti. Suaranya pecah. “Udah, aku gak mau sebut siapa. Percuma juga. Orangnya udah pergi.” Bianca menatapnya lama, lalu memeluk Aurora erat. “Kamu gak sendirian, Ra. Aku di sini. Kita hadapi bareng.” Aurora menangis di pelukannya. “Makasih, Bia…” Tapi tanpa mereka tahu, di balik pintu koridor rumah sakit, seseorang berdiri sambil menyeringai. “Jadi ini rahasianya… kali ini kau benar-benar hancur, Aurora,” bisiknya pelan sambil menyimpan ponselnya ke dalam tas. Sore harinya, Aurora dan Bianca kembali ke kampus. Tapi langkah Aurora terasa berat. Begitu melewati koridor, bisik-bisik mulai terdengar. “Gak nyangka ya, kelihatannya polos, ternyata main sama om-om.” “Iya, katanya hamil juga. Kasihan, murah banget.” Aurora menunduk, bibirnya bergetar. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Kalian tuh gak tahu apa-apa, jangan asal ngomong!” bentak Bianca, marah. “Kalau gak sama om-om, sama siapa? Dion kan udah punya Maya!” sahut salah satu mahasiswi sambil menunjukkan ponsel. “Lihat aja video kalian sedang bicara soal Aurora hamil!” Bianca merebut ponsel itu, dan wajahnya langsung pucat. “Siapa yang nyebar ini?” desisnya. “Ra…” panggil Bianca pelan. Aurora hanya berdiri kaku. Napasnya tersengal. Lalu seorang mahasiswa datang tergesa. “Aurora, kamu dipanggil Pak Rektor.” Wajah Aurora membeku. “Bia… semuanya udah sampai ke telinga dosen dan rektor,” bisiknya ketakutan. Bianca menggenggam tangan sahabatnya erat. “Aku ikut. Kamu gak sendirian.” Aurora menatap ke arah ruang rektorat dengan d**a berdebar hebat. Ia tahu, begitu pintu itu terbuka… hidupnya gak akan sama lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD