Volume 2 - Part 2

1125 Words
Lucien terlihat bersiap menghadapi keempat pria tersebut. Sontak pertengkaran mereka mencuri banyak perhatian dari pelanggan bar lain. Nampak ketiga pria yang membantu si Bertove bersiap untuk menyerang Lucien. Seketika itu sebuah pukulan pria berbaju kuning dilancarkan menuju pipi kanan Lucien. Namun dengan ringannya ditangkis oleh Lucien menggunakan tangan kanan. "Hanya ini kemampuanmu ?" Ucap Lucien. Dan dibalaslah sebuah pukulan tangan kiri kearah perut pria tersebut. Hal itu membuatnya terpental dan jatuh tersungkur dilantai. Sontak para pelanggan bersorak riuh seakan itu sebuah hiburan yang menarik. "Heh, lemah...!" Sahut Lucien. Tiba-tiba pria berbaju biru melancarkan sebuah tendangan dari samping. Namun sekali lagi Lucien yang menyadarinya dapat menghindari dengan mudah tendangan itu. Dan diraihlah kaki pria berbaju biru, kemudian dilemparkan hingga terbentur ke salah satu meja bar. "Bruukk...!" Hal itu juga membuat pria tersebut terkapar diantara meja dan lantai. "Beraninya kau..." Teriak pria berbaju merah yang kesal melihat kedua temannya telah dikalahkan dengan mudah. Tanpa pikir panjang pria tersebut juga menyerang Lucien, dengan melancarkan beberapa pukulan kearah wajah Lucien. "Tidak sesuai ekspetasiku, ternyata kalian jauh lebih lemah dari pada seorang wanita sekalipun !" Sahut Lucien sembari menangkis semua pukulan pria itu. "Jangan remehkan aku, rasakan ini..." Balas pria berbaju merah dan memberikan sebuah pukulan keras tepat kearah wajah Lucien. "Hehehe..." "Mengesankan... Tapi masih terlalu lemah !" Lucien menangkis pukulan tersebut dengan satu tangan kanan, serta menangkap tangan pria berbaju merah itu. Terlihat pria tersebut semakin kesal, dia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Lucien. Tapi hal itu terlihat tidak membuahkan hasil. "Lepaskan, dasar sialan..." Ucap kasar pria tersebut. "Sudah menyerah ? Hanya ini saja kemampuanmu ?!" Tanya Lucien sembari mempermainkan pria tersebut, dia memutar pergelangan tangannya dan membuat pria itu merasa kesakitan. "A-Aaargghh... Iya, ma-maafkan kami..." Ucap pria itu karena merasa kesakitan. Sorak riuh para pelanggan semakin menjadi, ada yang ingin mereka diberi sebuah pelajaran dan ada yang tidak suka sebuah kekerasan terjadi ditempat itu. "Baiklah, kali ini aku maafkan kalian. Dan kau gendut, cepat ganti wine yang telah kamu pecahkan !" Sahut Lucien kearah Bertove yang tidak berdaya. "Ada apa ini ?!" Suara teriakan seorang wanita yang tidak asing lagi untuk Lucien terdengar ditelinganya. Sontak membuat para pelanggan terdiam menatap kearahnya wanita itu. "M-Maafkan kami nona Elise, ini tidak seperti yang anda lihat" Ucap manager resort yang datang menghampirinya. "Sudahlah tuan Steve, jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi disini" Tanya Elise yang kesal melihat keramaian tersebut. Seketika para pelanggan lain menjauh dari keempat pria yang sudah tidak berdaya itu dan menghindari Lucien yang telah berdiri disana. "Lucien, ada apa ini ? Kenapa kamu lama sekali ?" Tanya Elise yang juga menghampiri Lucien. "Lalu, ada apa dengan mereka ?" Melihat kearah empat pria yang tidak berdaya dilantai bar. "A-Anu, itu... Bagaimana menjelaskannya, ya ?" "Lucien...!!" Ucap Elise melotot kearah Lucien. "Baiklah, jadi seperti ini kejadiannya..." Lucien menjelaskan semua kronologi kejadiaannya sedetail mungkin. Dan para pegawai yang melihatnya juga angkat bicara untuk membantunya. "...Jadi seperti itu !" Sahut Lucien yang tidak merasa bersalah sama sekali. "Huft, kamu boleh membela diri tapi jika hal itu memicu sebuah keramaian usahakan jangan melanjutkannya. Kita memang kelompok besar tapi jangan sampai terlibat dengan para berandalan seperti mereka. Hal itu akan merusak reputasi kita, kamu paham Lucien ?!" Ucap Elise menerangkan. "Oh... B-Baiklah, sekali lagi maafkan aku" "Dan kalian, cepat ganti rugi wineku yang telah kalian pecahkan !" Tatap sinis Elise kearah empat pria tersebut. "I-Iya, baiklah nona Elise. K-Kami tidak tau jika itu adalah milik anda, nona" Jawab Bertove menjelaskan. "Huh, sekarang cepat kau ganti wineku. Aku sudah lelah, dan ingin segera beristirahat !" Ucap Elise meninggalkan mereka serta Lucien. "Hah, maafkan aku. Seharusnya aku tidak melakukan hal ini kepada kalian" Sahut Lucien menyodorkan tangan kanannya kearah Bertove. "Tidak, ini juga salahku. Maafkan aku juga" Bertove meraih tangan Lucien dan mereka terlihat berbaikan kembali. Bertove segera memesan sebotol wine dan memberikannya kepada Lucien. Kemudian mereka berpisah, serta Lucien yang nampak telah mendapatkan winenya segera kembali menuju kamar Elise. Tidak lama kemudian dia telah kembali ke kamar, membuka pintu dan masuk kedalamnya. "Lama sekali, aku sudah tidak sabar lagi !" Ucap Elise yang nampak sedang melihat ponselnya. "Iya maafkah aku..." Lucien membuka botol wine tersebut dan menuangnya kedalam sebuah gelas kecil. Serta memberikannya kepada Elise yang sudah berada ditempat tidur. "Hmm... Terima kasih !" Ucap Elise sembari meminum langsung habis segelas wine tersebut. "Pelan-pelan saja, tidak perlu terburu-buru" Sahut Lucien yang hanya berdiri memperharikan. "Tidak masalah, karena aku sudah terbiasa... Tambah lagi..." Elise kembali meminta, serta menyodorkan gelas itu lagi. "Huh, kau ini... Setidaknya tahan dulu" Ucap Lucien mengoceh, dan menuangkan kembali wine tersebut. Elise nampak menikmati wine miliknya. Waktu menunjukan pukul 20.30 dan Lucien segera menaiki tempat tidur. Dia meminta izin kepada Elise untuk segera beristirahat. "Sebaiknya kita cepat beristirahat, agar besok bisa lebih cepat bangun !" Sahut Lucien yang terlihat bersiap untuk memejamkan matanya. Elise yang melihat hal itu langsung ikut membaringkan badannya dan memeluk Lucien, dengan meraih lengan kiri pria tersebut. "Ehhmm... A-Anu... Elise, bisa dengan posisi yang biasa saja ?" Tanya Lucien merasa canggung. "Aku ingin seperti ini, jika kau tidak mengizinkannya lebih baik kau tidur dilantai saja" Elise menjawab dan semakin melekatkan badannya kearah Lucien. Hal itu membuat d**a Elise yang empuk menempel pada lengan Lucien. "Heh, curang sekali... Loh, sudah tidur ?" Balas Lucien yang terlihat telah ditinggal tidur oleh bosnya tersebut. "Dasar... Cepat sekali kalau sudah terkena wine" Ucap Lucien bergumam. Lucien memejamkan matanya dan ikut tertidur bersama dengan Elise. Malam mulai semakin larut, semua orang nampak kembali ke kamar masing-masing dan para pegawai telah terlihat sudah mulai untuk beristirahat. Resort kembali ditelan oleh hitamnya malam, suara ombak air laut terdengar hingga kedalam kamar penginapan. Semua orang terlelap dalam mimpi masing-masing. Sementara itu dikediaman Reinford, Tivani terlihat sedang sibuk dengan para penjaga yang bersiap untuk saling mengganti waktu penjagaan. Gerald yang masih terlihat sedang membersihkan salah satu mobil kesayangan koleksi milik pimpianan pendahulu Reinford. Hideki yang nampak mempersipkan semua kamera CCTV dari balik layar diruang pengawas. Dan si kembar yang sedang sibuk didapur memasak beberapa hidangan untuk beberapa orang. "Anna, dimana Gerald dan Hideki ?" Tanya Tivani yang tiba-tiba duduk disalah satu kursi meja makan. "Eh, nona Tivani rupanya, maaf saya juga tidak tau !" Jawab Anna dan membawakan segelas kopi s**u hangat kepada Tivani. "Terima kasih Anna" Ucap Tivani sembari dia menghirup uap kopi tersebut. "Emm... kopi latte, kamu benar-benar tau seleraku, terima kasih sekali lagi, Anna" Sahut Tivani sembari menyeruput kopi tersebut. "Terima kasih kembali nona Tivani, saya senang bisa melayani anda dengan baik" Balas Anna dan segera kembali kedapur. Tidak lama kemudian terlihat Gerald dan Hideki datang bersama menuju meja makan. Mereka kemudian mengobrol dengan Tivani, dan disambutlah mereka dengan hidangan yang telah matang. Anna dan Akki membawakan mereka makanan kesukaan masing-masing, bersama mereka menyantap hidangan tersebut. Serta Anna dan Akki juga bergabung dengan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD