Volume 2 - Part 1

1106 Words
Mereka berdua kembali menuju kamar, sontak lucien kaget ketika dia sadar bahwa hanya ada satu tempat tidur didalam ruangan tersebut. "Hah, aku tidur dimana !?" Tanya Lucien kaget melihat kearah tempat tidur didalam kamar itu. "Dasar bodoh, apa yang kamu lihat ?" Ucap Elise menunjuk kearah tempat tidur. "Maksudmu, kita tidur dalam satu ranjang !?" Ucap Lucien. "Huft, tidak perlu sekaget itu. Bukankah kita pernah tidur dalam satu ranjang sebelumnya ?" Sahut Elise menggoda pengawalnya itu. "Hal itu sebuah kecelakaan, jangan samakan dengan yang kali ini" Ucap Lucien mengelaknya. "Hahaha, hal itu tetap tidak akan merubah tempat tidur tersebut !" Elise tertawa kecil sembari menunjuk kearah tempat tidur didepannya itu. "Sudahlah, lebih baik aku mandi duluan" Lucien yang terlihat kesal masuk kedalam kamar mandi. Dan nampak diikuti Elise menyelinap dibelakang Lucien. "Hah, apa yang kamu lakukan ?" "Tentu saja ingin membalas dendam waktu itu, tuan tampan..." Elise mendorong Lucien ke dinding, mereka saling menatap satu sama lain. Kemudian Elise berlutut didepan Lucien, membuka celana pendeknya dan memainkan bola-bola dibatang milik Lucien dengan manja. "Ughh... Hentikan !" Lucien merasa kegelian, serta batangnya mulai mengeras. Kemudian Elise mengulum batang Lucien didalam mulutnya, serta menyedotnya seperti sebuah es krim. "Sudah, cukup... Aku tidak tahan lagi !" Ucap Lucien. Batang Lucien mulai berdenyut didalam mulut Elise, tidak lama kemudian dia meledak dan mengeluarkan cairan yang cukup banyak. "Hmm... Ini sangat nikmat, tapi kurang memuaskan !" Sahut Elise sembari menelan cairan tersebut. "Huh, kamu telah membuatku menjadi semakin panas !" Balas Lucien yang merasa semakin b*******h. Kemudian Lucien membuat keadaan berbalik, kali ini Elise yang berada diposisinya. "Aku akan sangat terhormat bisa melakukan hal ini bersamamu, Elise !" Sahut Lucien memojokkan tubuh Elise ke dinding. "Hmm... Silahkan kau rasakan tubuhku sepuasmu !" Elise nampak bersiap dengan apa yang akan diperbuat oleh Lucien. "Baiklah aku tidak akan sungkan lagi" Balas Lucien bersemangat. Lucien memasukkan batang miliknya kedalam lubang Elise. Suara mendesis dikeluarkan Elise bersama dengan semakin dalamnya batang masuk kedalam lubang miliknya. "Aagghh...!" Mereka terlihat melakukan hal tersebut bersama didalam kamar mandi. Lucien nampak memompa batangnya dengan penuh gairah. Hingga hari mulai menjadi gelap, cahaya senja berubah menjadi hitamnya malam. Kemudian, kedua orang itu terlihat keluar dari dalam kamar mandi. "Tidak buruk juga untuk kali ini. Tapi setidaknya biarkan aku bernafas sejenak" Elise mengganti pakaiannya dengan baju tidur. "Iya, baiklah, maafkan aku terlalu terbawa suasana tadi !" Balas Lucien yang juga sedang mengganti pakaiannya. Mereka terlihat memakai baju tidur masing-masing. Lucien mengenakan baju berwana putih hitam polkadot, sedangkan Elise memakai piyama tidur merah muda tanpa mengenakan pakaian dalamnya. Hal itu membuat lekuk tubuh Elise terlihat menonjol pada bagian dadanya. "Lucien, maaf merepotkanmu, bisakah kamu carikan aku segelas wine ?" Tanya Elise meminta tolong. Nampaknya sudah menjadi kebiasaan Elise harus meminum wine setidaknya segelas dalam satu hari. "Baiklah tunggu sebentar !" Lucien nampak masih menyelesaikan mengganti pakaiannya. "Jangan terlalu lama, aku tidak bisa tidur jika tidak menimun sebuah wine terlebih dahulu !" Ucap Elise yang sedang sibuk mengikat rambutnya didepan kaca rias. "Kamu sudah ketergantungan dengan minuman itu, aku sarankan kurangilah mulai dari sekarang !" Sahut Lucien memperhatikan. "Iya akan aku usahakan, jika kamu berhasil menyelesaikan setiap tugas yang aku berikan. Maka aku berjanji akan melakukannya" Balas Elise yang tiba-tiba menurut pada perkataan Lucien. "Baiklah, tunggu sebentar akan aku carikan dibawah" Lucien meninggalkan Elise sendiri didalam kamar. Dia langsung keluar mencari bar dilantai bawah resort tersebut. Waktu menunjukan pukul 18.40 dan didalam resort terlihat sepi. Lucien berjalan munuju bar didalam bangunan besar tersebut, dan menemukan banyak orang sedang berada didalam bar. Mereka ramai layaknya di dalam bar pada umumnya, dan banyak pelanggan yang sedang dalam pengaruh minuman beralkohol. Lucien yang kurang suka dengan suasana tersebut langsung menuju meja counter bar itu. Disana terlihat seorang bartender wanita yang cukup cantik. "Permisi, aku ingin sebotol wine !" Ucap Lucien kepada bartender wanita tersebut. "Ya, tuan, tunggu sebentar... Ini wine anda, Silahkan..." Balas bartender tersebut sembari memberikan sebotol wine kepada Lucien. "Terima kasih..." Lucien mengambil botol tersebut dan segera membayar. "Terima kasih kembali !" Sang bartender segera mengambil uang tersebut, dan seorang yang lain datang memesan sebuah minuman kepadanya. Lucien berjalan menuju pintu keluar, secara tidak sengaja seseorang berbadan gempal menabrak Lucien dari samping. Karena kaget, membuat botol yang dibawa oleh Lucien terjatuh dan pecah. "Praaakk...!" "Haey... Dasar pria kecil, jangan berjalan dihadapanku. Minggir sana..." Sahut orang berbadan gempal itu. "Hey... Gendut, siapa namamu ?!" Tanya Lucien bernada dingin serta menatap kesal kearah si gendut dihadapannya itu. "Gendut ?! Kamu bilang aku gendut... Aku adalah Bertove. Sebaiknya kamu meminta maaf kepadaku !" Sahut Bertove dan tangan kanan memegang kerah baju Lucien serta menantangnya. "Maaf ?! Seharusnya aku yang bilang seperti itu, gendut !" Balas Lucien berteriak kearah Bertove. Dia kemudian membalas dengan memegang tangan Bertove menggunakan tangan kirinya. Dia tekan dengan erat pergelangan tangan Bertove sehingga si gendut tersebut merasa kesakitan. "A-Aarggh... Be-Beraninya kau !" Ucap Bertove yang langsung melepas tangannya dari Lucien. Terlihat Bertove sedang memegangi tangannya yang sakit. "Tidak perlu ada perkelahian tuan, mohon mengertilah. Kurasa dia dalam pengaruh alkohol !" Tiba-tiba si bartender wanita sebelumnya datang mencoba melerai mereka berdua. "Oh, kamu rupanya. Hal ini tidak ada hubungannya denganmu !" Sahut Lucien yang tidak mendengarkan pendapat si bartender tersebut. "Bos ?! Ada apa bos ?" Tanya salah seorang teman Bertove. Mereka datang bertiga karena melihat si gendut tersebut sedang dalam masalah. "Hey, apa yang kamu lakuka kepada bos kami ?" Ucap salah satu yang lainnya. "Maaf, apa aku salah mendengar ? Dia, Bos...?" Sahut Lucien bertanya sekali lagi. "Iya dia adalah bos kami, dia adalah pemilik industri logam besar dibarat kota A" Jawab temannya yang lain lagi. "Heh, aku baru tau. Maka dari itu, kamu harus mengganti wine yang telah kau pecahkan !" Ucap Lucien yang terlihat lebih kesal lagi. "Apa-apaan kau ini, kau juga sudah menyakiti tangan bos kami. Ganti rugi apanya, kami tidak akan mengganti rugi sepeser pun !" Sahut salah satu dari mereka yang memakai baju merah dan sedang memegangi si gendut tersebut. "Iya, itu benar sekali. Kami tidak sudi untuk mengganti rugi" Ucap pria berbaju biru didepan Lucien. "Jika tidak mengganti rugi, aku akan memaksa kalian untuk melakukannya..." Balas Lucien mengancam. "Kami tidak takut dengan ancamanmu, kau kalah jumlah dari kami" Salah satu pria berbaju kuning maju untuk menantang Lucien. "Benarkah ? Belum tau hasilnya jika tidak dicoba" Tatap Lucien kearah mereka berempat yang mulai semakin serius. Sementara itu Elise didalam kamarnya, yang sudah menyelesaikan ikatan rambutnya. Menunggu kedatangan Lucien yang tidak juga kembali, kemudian dia memutuskan untuk mencari pria pengawalnya itu. "Dasar Lucien, kenapa lama sekali. Aku sudah tidak tahan lagi, awas saja jika ketahuan bersama wanita lain. Akan aku hukum dia seberat-beratnya !" Sahut Elise mengoceh kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD