Volume 2 - Prolog

1162 Words
"Nona Elise kamar untuk anda sudah siap !" Ucap manager resort pulau tersebut. "Iya, terima kasih tuan Steve" Sahut Elise. Mereka berdua segera menuju kamar yang telah dipersiapkan sebelumnya. "Mereka benar-benar menghormatimu, ya !?" Sahut Lucien kagum. "Tentu saja, lagi pula aku atasan mereka. Jadi wajar saja mereka menghormatiku disini !" Balas Elise menyombongkan diri. "Hahaha..." Tawa Elise yang kejam muncul. "Iya, sudahlah... Terserah kau saja" Ucap Lucien. Kedua orang tersebut sampai didepan kamar bernomor B17 dengan tanda tambahan VIP. "Ini kamarnya, ayo cepat masuk !" Ajak Elise yang membuka pintu kamar tersebut. "Wah... Langsung dapat kamar VIP !" Ucap Lucien terheran-heran. "Ini biasa, dan ingat... Aku adalah atasan mereka" Sahut Elise kembali. "Iya juga sih, hehehe..." Balas Lucien. Elise memasuki kamar tersebut dan diikuti oleh Lucien yang membawa koper milik Elise. "Wah... Pemandangan disini indah sekali !" Lucien kagum, yang seketika itu langsung memandang kearah lautan lepas. Cahaya matahari yang memantul dari air laut membuat sebuah pantulan cahaya yang berkilauan didalam air. "Hebat bukan, karena inilah aku sering kesini untuk menenangkan diri sejenak" Ucap Elise. "Eh, menenangkan diri ? Apa dirumah ada masalah ?!" Dengan sadar Lucien mendengarkan saat Elise berbicara. "A-Anu... Tidak ada, hanya masalah bisnis, hahaha..." Sahut Elise mengelak karena hampir keceplosan. "Oh, bisnis rupanya. Jadi orang kaya memang lebih sering pusing karena bisnis yang mereka jalankan, ya ?!" Tanya Lucien dengan polosnya. "Ya begitulah, meski hidup serba ada tapi tetap harus memikirkan cara mendapat penghasilan lebih untuk kelangsungan hidup !" Ucap Elise yang terlihat sedang membuka koper miliknya. "Sampai seperti itu beratnya !" Balas Lucien menatap kearah Elise. "Iya, memang itulah hidup. Ditambah lagi kamu harus memikirkan para pegawaimu, dan kebutuhan saat mereka bekerja bersamamu. Hal itu terkadang membuat kepalaku menjadi pusing" Ucap Elise yang sedang mengambil beberapa pakaian dari dalam koper. "Kamu seorang mafia, tapi berhati emas. Aku kagum kepada Elise !" Sahut Lucien memuji wanita itu. "Banyak dari kelompok lain berpendapat seperti itu. Ayahku adalah seorang yang idealis, dia membenci sistem pemerintahan dinegara kita. Oleh karena itu dia ingin membuat sebuah ikatan dengan idealisme yang ayahku percaya" Balas Elise bercerita. "Ikatan ?! Dalam hal seperti apa itu ?" Tanya Lucien. "Dalam banyak hal, termasuk bisnis dan yang terpenting adalah ikatan kekeluargaan" Jelas Elise menambahkan. "Ayahmu sepertinya seorang yang hebat" Lucien kembali memuji. "Terima kasih, tapi hal itu tetap tidak akan merubah status keluarga Reinford dari daftar sebagai seorang keluarga mafia !" Sahut Elise yang terlihat sedang melepaskan pakaiannya. "Ya, kurasa hal itu ada benarnya juga" Ucap Lucien yang menatap kearah Elise. Dia mulai terbiasa dengan tingkah wanita berpangkat tertinggi dikeluarga Reinford saat ini. Bahkan tanpa rasa canggung Elise menampilkan seluruh lekuk tubuhnya yang molek dihadapan Lucien. "Elise, apa tujuan sebenarnya kita datang kesini ?!" Tanya Lucien yang nampak gelisah. "Hah, dasar bodoh, tentu kita akan berlibur dan bersantai !" Jawab Elise yang sedang memakai bikini berwarna merah yang telah disiapkan. "Perasaanku tidak enak, pikiranku tidak bisa lepas dari rumah !" Lucien kembali menatap kearah lautan lepas. "Kau tidak pernah bersantai rupanya, apa perlu aku mengajari kamu caranya menikmati liburan ?" Sahut Elise serta kembali bertanya. "Huft, aku tau itu, tapi hal ini sangat serius !" Ucap Lucien yang terlihat seperti memikirkan sesuatu. "Sudahlah, lupakan itu... Ayo kita nikmati liburan kali ini !" Elise yang mencoba mengalihkan pikiran Lucien. Dia menarik pria tersebut, dan membuka semua pakaian yang dikenakannya. "Sekarang ganti bajumu dan nikmati liburan kali ini !" Ucap Elise terlihat menawarkan sebuah kaus pantai dan celana pendek. "Hah, apa-apaan ini ?" Balas Lucien sembari menutup daerah batangnya. "Aku sudah sering melihat itu, jadi kamu tidak perlu sehisteris itu !" Sahut Elise menunjuk kearah Lucien, terutama pada bagian batangnya. "Hehehe... Bercanda" "Apa-apaan kamu ini... Sekarang cepat ganti bajumu, ini perintah langsung dari atasanmu !" "B-Baiklah !" Setelah mengganti pakaiannya Lucien dan Elise pergi keluar menuju kearah pantai. Terlihat banyak turis yang sedang berlibur, para pengunjung pantai sangat ramai bahkan terlihat seperti lautan manusia dari pada seperti lautan pasir. Mereka semua terlihat sedang asyik bermain, berjemur, mengobrol dan berenang. Elise yang tak ingin semua orang mengetahui keberadaan Lucien, dia membawa pria itu ketempat yang kurang ramai. "Kita akan kemana Elise !?" Tanya Lucien. "Ikut saja, aku sudah menyiapkan tempat yang spesial untuk kita bersantai" Elise terus berjalan meninggalkan keramaian dipantai. Mereka melewati sebuah tanda bertuliskan 'Bahaya' ditepi pantai yang cukup berbatu. "Elise ini terlalu berbahaya, kurasa sebaiknya kita kembali saja !" Lucien yang merasa khawatir namun masih mengikuti Elise ketempat berbatu dipinggir pantai itu. "Jika kamu tak ingin ikut, kembali saja sendirian" Balas Elise memancing Lucien. "Kamu ini... Jika hal itu aku lakukan dan terjadi sesuatu denganmu, aku akan mendapat masalah besar dari seluruh anggota keluarga Reinford !" Jawab Lucien yang masih mengawasi Elise dari belakang. "Sudahlah tidak perlu mencemaskan aku" Sahut Elise yang semakin memancing Lucien untuk mengikutinya. "Dasar... Kamu ini !" Ucap Lucien pasrah bercampur dengan rasa kesal. Akhirnya mereka berdua tiba disebuah teluk berbatu tak jauh dari pantai utama. Disana terlihat pasir yang sangat bersih, dan warna air yang lebih jernih daripada pantai disebelahnya. "Wah, ini lebih indah dari panati disebelah !" Ucap Lucien kagum. "Bagaimana, apa kamu ingin kembali ?" Tanya Elise mengejek. "Iya, aku mengakui kamu yang terbaik" Balas Lucien. "Pilihanku tidaklah ada tandingannya, sebenarnya ini adalah tempat favoritku ketika aku kesini. Maka dari itu aku menuliskan tanda bahaya didepan sana agar menjauhkan para pengunjung dari tempat ini" Sahut Elise menjelaskan. "Sungguh pintar sekali, kamu benar-benar cerdik, Elise" Lucien memuji. "Huft, hal biasa. Semua orang pasti akan melakukan apa saja demi sesuatu yang dia anggap spesial bagi dirinya !" Ucap Elise sembari melirik pria yang berada disampingnya itu. "Hahaha, kamu benar juga, Elise !" "Hahaha, tentu saja, karena aku Elise yang cerdik !" Mereka berdua terlihat tertawa bersama, serta nampak keduanya saling bercanda dengan akrab. Hari mulai siang, matahari sudah terlihat diatas kepala. Panas yang terik membuat semua orang berkeringat, dan terlihat beberapa orang telah meninggalakan pantai. "Panas sekali, lebih baik kita segera kembali ke resort" Ucap Lucien yang sedang berteduh disalah satu batuan karang bersama Elise. "Iya, aku juga setuju dengan pendapatmu itu" Terlihat Elise sedang terbaring lemas tidak berdaya karena kepanasan. Keringat yang keluar membasahi seluruh badan Elise. Yang hanya memakai mini bikini terlihat berkilau karena pancaran sinar matahari. Lucien yang melihat bos besarnya terbaring lemas, sontak langsung menggendong Elise dan membawanya kembali manuju resort. "Aku ingin limun segar..." Sahut Elise yang mengigau karena efek dehidrasi. "Iya, bertahanlah, sebentar lagi kita sampai !" Ucap Lucien yang sedang membawa Elise menuju sebuah mini bar ditepi pantai tersebut. Dia memesan segelas es limun segar untuk Elise, serta memesan segelas jus jeruk untuk dirinya. Mereka duduk disalah satu meja yang telah tersedia dan menatap indahnya pantai saat itu. Sembari mengobrol dan tertawa bersama, sejenak melupakan seluruh kesibukan yang ada. "Lucien, terima kasih telah menemai aku kesini !" Sahut Elise, hari mulai sore terlihat pantai telah sepi dari pengunjung. Dan beberapa wahana telah dalam proses penutupan. "Terima kasih kembali, aku juga senang kamu mengajakku kesini !" Balas Lucien sembari tersenyum lebar seperti telah melupakan kekhawatirannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD