"Apa maksudmu ?!" Ucap Elise kembali bertanya kepada assistennya itu. "Coba jelaskan kepadaku,Tivani" Elise kemudian duduk dikursi kerjanya.
"Saya mendapat laporan bahwa kini keberadaan tuan Lucien sudah diketahui oleh kelompok lain" Jelas Tivani melapor. "Sial, kenapa secepat ini !" Ucap Elise yang nampak kesal.
"Maafkan saya sebelumnya nona, mengenai hal ini, menurut saya sangat wajar. Karena terakhir kali dia keluar, masalah yang cukup serius timbul !" Sahut Tivani.
"Apa maksudmu ? Dan masalah apa itu ?!" Tanya Elise yang tidak mengetahui masalah sebelumnya. "Ketika menjalankan tugas pengantar batu permata ke rumah lelang, terjadi sebuah insiden yang cukup serius" Tivani kembali menjelaskan.
"Dia terlibat dalam sebuah pengejaran disalah satu mall kota oleh beberapa anggota kelompok lain" Ucap Tivani menambahkan.
"Siapa mereka... Apa Lockheart ?! Ini benar-benar menyebalkan" Geram Elise mendengar laporan tersebut. "Tivani, kita tidak boleh membiarkan kabar ini semakin menyebar. Aku ada sebuah rencana, hingga Lucien mau mengakuiku..." Sahut Elise yang terlihat serius.
"Rencana ? Apa yang ingin anda lakukan nona !?" Tanya Tivani yang ingin mengetahui rencana Elise.
"Tolong kamu siapkan semua barang-barangku, aku akan meninggalkan rumah selama sepekan ini" Ucap Elise meminta tolong kepada assistennya tersebut. "Serta kamu siapkan juga semua keperluan untuk Lucien, usahakan dia jangan sampai tau hal ini" Tambah Elise berkata.
"Aku akan berlibur dipulau. Kamu mengerti apa yang harus dilakukan Tivani, aku mengandalkanmu !"
"Baiklah nona, akan segera saya siapkan semuanya. Serta saya akan menyiapkan penjagaan yang ketat disetiap sudut rumah ini" Balas Tivani dan segera pergi untuk menyiapkan semua permintaan Elise.
Elise yang terlihat marah masih duduk dikursinya yang nyaman. Meminum segelas wine yang sudah tersedia sebelumnya, agar membuat pikirannya menjadi lebih tenang.
"Siapa pun itu, tidak akan aku biarkan kalian merebut Lucien dari tanganku" Elise bergumam.
Sementara itu Lucien yang telah kembali ke kamarnya tiba-tiba harus membuka pintu kembali. Tivani datang dengan membunyikan bell, terlihat wanita tersebut membawa sebuah amplop putih.
"Siapa disitu ?" membuka pintu dan melihat kearah Tivani. "Rupanya kamu Tivani, ada apa datang ke kamarku ?" Tanya Lucien.
"Ini ada sebuah pesan dari nona Elise !" memberikan amplop tersebut kepada Lucien. "Saya permisi" Ucap Tivani kemudian meninggalkan kamar Lucien.
Setelah menerima amplop tersebut Lucien kembali kedalam kamarnya. "Hah... surat apa ini ? Si wanita itu, dasar, pasti tugas yang aneh-aneh lagi" seru Lucien yang sudah mengira pesan itu adalah tugas dari Elise.
Dia membuka amplop tersebut, dan membaca sebuah surat yang ada didalamnya.
"Persiapkan dirimu, besok akan ada tugas bersamaku. ttd Elise ❤"
"Hah... Tugas bersama dia ? Sudahlah kita lihat besok saja, sekarang tidur dulu" Ucap Lucien dan langsung merebahkan tubuhnya ditempat tidur.
Disisi lain rumah tersebut, para penjaga mulai menempati posisi masing-masing. Terlihat mereka sangat ketat hingga sudut terdalam dari rumah itu.
"Semua diharap untuk bersiaga, aku mengandalkan kalian !" Ucap Tivani lewat ruang pengawas. Melihat kearah layar monitor cctv diruangan itu.
Malam pun mulai datang, dan semua penjaga terlihat bersiaga. Elise yang masih memikirkan rencananya terlihat hanya duduk terdiam ditempat tidurnya sembari memainkan notebook miliknya. Sedangkan Lucien tertidur dengan pulas dikamarnya.
Malam yang sunyi telah berganti, sinar mentari mulai menyinari bunga-bunga ditaman. Semua pegawai terlihat sedang menjalankan tugas masing-masing. Serta para penjaga nampak sedang berganti giliran dengan lainnya.
Elise yang telah bersiap untuk pergi terlihat sedang menunggu Lucien diruang tengah. "Dasar lama sekali dia !" Menggerutu Elise kesal.
Kemudian datang Lucien dengan setelan Tuxedonya. "Maaf Elise, aku terlambat" Sahut Lucien. "Huft... Kenapa lama sekali, hampir aku meledakkan kamarmu" Ucap Elise bercanda.
"Iya maaf, hehe... Sekarang kita akan pergi kemana ?" Tanya Lucien.
"Sudahlah, tugasmu kali ini menjadi pengawalku. Sembari aku akan menguji kemampuanmu" Jawab Elise dengan sedikit menakuti Lucien.
"Astaga, tugas ini terlalu berat !"
"Semua hidupku bergantung kepadamu !"
Tidak lama kemudian datang Tivani dari arah pintu depan menghampiri Elise. "Nona Elise, mobil anda sudah siap" Ucap Tivani.
"Baiklah, ayo kita berangkat" Ajak Elise. Elise berjalan menuju mobilnya diluar serta diikuti oleh Lucien, dan terlihat dari wajah pria tersebut yang kurang percaya diri dengan tugas kali ini.
"Kamu pernah bilang, apa saja akan kamu lakukan, apa sebatas ini nyalimu !?" Tanya Elise memprovokasi Lucien.
"Tentu tidak, akan aku buktikan kepadamu" Balas Lucien yang kembali bersemangat. Karena tidak ingin menelan ludahnya sendiri.
Mereka berdua masuk kedalam mobil, terlihat Gerald sudah berada dikursi pengemudi. "Hay Gerald, semua sudah aman. Kita siap pergi sekarang" Sahut Lucien yang duduk disamping Gerald.
"Baiklah Gerald, sekarang kita berangkat ke dermaga" Ucap Elise, dan mobil tersebut berjalan dengan cepat kearah dermaga.
Setibanya didermaga kedua pria tersebut membantu mengeluarkan koper dari dalam mobil. Sedangkan Elise masuk kedalam kapal pribadi miliknya, beserta Lucien yang juga ikut bersamanya. Dan masih telihat sibuk dengan koper-koper bawaan Elise.
Setelah semua naik, Elise segera meminta kapten kapal untuk berangkat. "Tuan Harvie, ayo kita berangkat" Ucap Elise kepada kapten kapal itu.
Sembari menunggu Elise, duduk dikursi kabin kapal. "Kalau boleh tau, kita akan pergi kemana, Elise ?" Tanya Lucien yang berdiri disampingnya sembari memandangi birunya lautan.
"Kita akan berlibur, disalah satu pulau milik keluarga Reinford" Jawab Elise yang sedang membaca buku majalah.
"Pulau, kalian punya sebuah pulau ? Hebat sekali..." Ucap Lucien kagum. "Pulau itu adalah aset peninggalan ayahku, salah satu penopang keluarga Reinford hingga saat ini" Balas Elise dengan bangga.
"Wah, jadi kalian tidak hanya berbisnis dalam dunia gelap saja rupanya. Melainkan ada juga hal positif yang kalian lakukan" Sahut Lucien menyimpulkan.
"Hmm... Menurutku bisnis adalah bisnis, jika itu menguntungkan kenapa tidak !" Balas Elise berpendapat.
Setelah cukup lama meninggalkan daratan terlihatlah sebuah pulau yang sudah tidak jauh lagi. Tidak lama kemudian kapal telah berlabuh didermaga pulau tersebut.
Terlihat banyak kapal lain yang sudah terlebih dulu bersandar dipinggir dermaga. Dan nampak banyak turis sedang berlibur dipulau tersebut.
"Elise, ini sungguh menakjubkan !" Ucap Lucien memuji. "Ini biasa saja, terkadang jauh lebih banyak lagi daripada ini" Sahut Elise.
"Benarkah !?"
"Terima kasih Elise, telah mengajakku kemari. Meski hanya sebagai pengawalmu aku sangat senang" Ucap Lucien yang tulus dari dalam hatinya. "Sudahlah, ayo kita ke resort utama pulau ini" Ajak Elise, kemudian mereka menuju resort pulau tersebut.
Lucien yang sembari membawa koper-koper Elise berjalan dibelakang wanita tersebut. Ketika memperhatikan Elise dari belakang membuat Lucien seperti melihat sosok ibunya.
Dengan tingkah Elise yang terkadang sangat peduli kepadanya, membuat Lucien semakin terlarut dalam masa lalunya. "Ada apa Lucien ? Kenapa jadi melamun ?" Tanya Elise yang melihat Lucien berhenti secara tiba-tiba.
"Jangan membuatku takut, ayo masuk !" Sahut Elise mengajak masuk pria yang juga pengawalnya itu. "Maaf, iya baiklah..." Lucien mengikuti Elise masuk kedalam resort tersebut. Terlihat semua sudah dipersiapkan untuk menyambut Elise, sang pemilik utama pulau tersebut.
Ramai sorak para pegawai menyambut kedatangan Elise. Wanita yang terlihat kejam ini ternyata memiliki sebuah rahasia besar didalam dirinya. Hal itu membuat Lucien merasa ingin mencari tau lebih banyak tentang sosok Elise yang sedang bersamanya itu.