Dengan cekatan Lucien mengkomposisikan semua bahan yang sudah siap. Anna yang memperhatikan, terlihat kagum dengan kemampuan Lucien.
Wajar saja dikarenakan Lucien telah hidup mandiri cukup lama. Karena dia ditinggal oleh kedua orang tuanya disaat Lucien masih sangat muda, serta Lucien harus tetap bertahan hidup dalam kesendiriannya.
"Tuan sepertinya enak" Ucap Anna yang mencium harumnya masakan Lucien. "Tentu saja... Lihatlah, sebuah hidangan sederhana ala keluarga Ainsworth telah siap !" Sahut Lucien yang telah menyelesaikan masakannya.
Kemudian Lucien menyiapkan meja makan sedemikian rupa, dan menaruh masakan yang dia buat didepan kursi yang biasa Elise tempati. "Pasti dia akan ketagihan !" Ucap Lucien percaya diri.
"Maaf tuan, sebaiknya ada jangan terlalu percaya diri" Anna memperingatkan. "Saya permisi terlebih dahulu, saya masih harus menyiapkan masakan untuk yang lain" Anna meninggalkan Lucien dimeja makan.
"Aku yakin Elise akan suka masakan ini" Lucien menunggu Elise dimeja makan. Tidak lama Anna kembali, membawakan segelas s**u kocok untuk Lucien. Lucien terlihat menikmati minuman tersebut.
"Ini enak Anna, terima kasih" Ucap Lucien memuji s**u kocok buatan Anna.
"Terima kasih atas pujiannya, tuan !" Anna menundukkan kepala sopan.
Dari arah ruang tamu datang seorang maid lain, sontak Lucien menjadi bingung dengan apa yang dia lihat. "Anna lain... Mereka ada dua ?!" Sahut Lucien bergumam. Melihat seorang pelayan yang mirip dengan Anna.
Pelayan wanita tersebut menghampiri Lucien dan menyapanya. "Selamat sore tuan, permisi sebelumnya saya harus membersihkan meja makan terlebih dahulu !" Ucap pelayan wanita tersebut.
Dia membersihkan meja makan didepan Lucien. Lucien yang berada disana sontak bertanya, "Maaf kamu siapa ? Apa hubunganmu dengan Anna ?" Sahut Lucien.
"Maaf sebelumnya, saya Akki, adik serta kembaran Anna" Dia membungkuk dengan sopan memperkenalkan dirinya.
"Oh, jadi kalian kembar !"
"Iya tuan, dia adalah adik saya" Ucap Anna yang datang menghampiri Lucien dengan membawa sepotong kue coklat. "Kalian sangat mirip, aku jadi bingung... Hehe" Balas Lucien.
"Maaf tuan, saya permisi harus melanjutkan tugas saya" Ucap Akki yang langsung pergi melanjutkan pekerjaannya. "Baiklah, hati-hati saat bekerja" Sahut Lucien kembali.
"Oh, iya Anna, kenapa kalian bisa berada ditempat ini ?" Tanya Lucien yang sembari memakan kue coklat.
"Ceritanya sangat panjang tuan, maaf pekerjaan saya masih banyak... Saya permisi !" Ucap Anna dan kembali meninggalkan Lucien, nampak diraut wajahnya, dia tidak ingin membagi cerita mereka. Lucien yang masih penasaran dengan kisah si kembar tersebut hanya bisa menghela nafas.
"...Hmm, mungkin itu privasi mereka" Ucap Lucien sembari menyeruput s**u kocok buatan Anna.
"Wah ada tuan tampan rupanya" Elise terlihat datang menghampiri Lucien di meja makan. "Aku lama menunggumu, akhirnya kamu datang juga" Ucap Lucien yang melihat kedatangan Elise.
"Ada urusan apa kamu menungguku !?" Elise terlihat duduk ditempat biasa dia berada. "Hmm... Apa ini ?" Tanya Elise melihat kearah sebuah piring yang sedang ditutup. Lucien kemudian menghampiri, dan membuka penutup tersebut.
"Taddaa..."
Sebuah hidangan pasta dengan saus sarden pedas tersaji didepan Elise. Aroma dari masakan itu tercium hingga seluruh ruangan tersebut.
"Aroma ini... Wangi sekali !" Ucap Elise yang terkejut melihat hidangan tersebut. "Hidangan ini spesial aku masak untukmu, nona Elise" Sahut Lucien dengan membungkukan badan agar terlihat elegan.
"Hah ? Kamu yang memasak makanan ini ?" Tanya Elise kaget, serta melihat kearah masakan yang tersaji didepannya.
"Tentu saja, masakan spesial ala Lucien Ainsworth" Terlihat Lucien membanggakan dirinya. "Pasti rasanya juga biasa saja" Elise mengejek masakan Lucien.
"Mana tau jika belum dicoba !" Sahut Lucien agak marah. "Baiklah akan aku coba" Elise mengambil alat makan yang sudah tersedia dan memakan hidangan tersebut. Seketika Elise terdiam, dan terlihat dari matanya yang berkaca-kaca dia menyukai hidangan yang dibuat oleh Lucien.
"Ini sungguh kurang enak..." Ucap Elise yang tidak ingin mengakui rasa yang sebenarnya. "Ayolah, katakan yang sejujurnya !" Lucien memaksa. Datanglah Akki yang telah selesai dengan tugasnya menghampiri Anna.
Lucien kemudian meminta kedua pelayan tersebut untuk mencoba hidangan buatannya. "Kalau begitu, Anna dan Akki, kemarilah dan coba kalian rasakan hidangan ini" Sahut Lucien kepada dua pelayan itu.
Anna menghampiri Lucien begitu juga dengan Akie yang ikut bersama saudaranya tersebut. Mereka masing-masing mencoba hidangan yang dibuat oleh Lucien. "Hmm... Ini enak, sungguh rasa yang luar biasa" Ucap Anna yang mencoba pertama kali.
"Hehe... Bagaimana nona Elise sudah dengar sendiri bukan !?" Sahu Lucien puas. "Menurutku tetap kurang enak" Elise terlihat masih bertahan dengan pendiriannya.
"Sekarang penentuannya, Akki, cobalah !" Memohon Lucien meminta kepada Akki. Kemudian Akie mencoba pasta saus sarden pedas tersebut. "Hmm... Ini memang enak, saya rasa nona Elise, anda berbohong" Sahut Akki dengan polosnya.
"Hahaha... Anda dengar nona, dua orang telah mengatakan hal yang sama" Ucap Lucien yang merasa sangat puas dengan hasil masakannya. Elise yang merasa malu kemudian mengelaknya, "Ini karena aku kurang suka masakan pedas" Elise membalas.
"Tapi ini tidak sepedas namanya, nona Elise, hidangan ini cukup terasa ringan, manis dengan sensasi pedas menyegarkan" Ulas Akki menjelaskan. Perkataan Akki seperti sebuah bumerang bagi Elise, dia seperti menelan ludahnya sendiri.
"Sudah Akki, aku mengakuinya memang hidangan ini cukup enak" Sahut Elise mengungkapkannya dengan sedikit menekan rasa malunya.
"Hahaha..."
Lucien tertawa diikuti kedua pelayan wanita tersebut, dan Elise pun tertawa dengan apa yang telah dia ucapkan. Namun terlihat Akki hanya tertawa biasa, sikapnya yang dingin membuat Lucien semakin penasaran dengan cerita si kembar itu.
Anna dibantu oleh Akki kembali menyajikan hidangan utama, Elise serta Lucien nampak menikmati masakan Anna. "Elise, jika aku boleh bertanya, sejak kapan mereka berada disini ?!" Tanya Lucien menunjuk kearah Anna dan Akie yang sedang memasak didapur.
"Kamu tertarik dengan mereka ? Apa aku masih kurang bagimu !?" Balas tanya Elise menggoda Lucien. "Bukan itu maksudku" Ucap Lucien berbisik dan dengan nada emosi.
Akki kembali munuju meja makan membawa dua gelas minuman, sebuah smooties untuk Elise dan segelas jus jeruk untuk Lucien. Setelah memberikan minuman tersebut Akki kembali membantu kakaknya.
"Aku mengerti maksudmu, ini berawal saat ayahku masih hidup" Ucap Elise bercerita. "Dulu ketika ayahku sedang berkunjung disebuah kota kecil diutara kota A, dia melihat dua gadis itu sedang mengemis dijalanan kota tersebut" Jelas Elise.
"Lalu..."
"Karena ayahku merasa kasihan kepada mereka, kemudian diajaklah kedua bersaudara itu kerumah ini. Singkatnya, hingga saat ini mereka sendiri yang ingin tetap disini. Aku pernah menyuruh kedua bersaudara itu untuk meninggalkan keluarga ini tapi mereka menolaknya" Ucap Elise bercerita kepada Lucien.
"Oh... Jadi seperti itu, menurut pandanganku karena mereka menghormati keluarga ini, terutama ayahmu" Sahut Lucien sembari meminum jus jeruknya.
"Akhirnya kenyang juga !"
"Hah... Apa dari tadi kamu menahan lapar ? Tanya Elise. "Iya, dan aku sempat kebingungan mencari makanan. Karena disini tidak tersedia apapun untuk dimakam" Jawab Lucien dengan polosnya.
Setelah mereka selesai makan kedua orang terebut meninggalkan meja makan. Menyisakan sebuah pekerjaan baru untuk Anna serta Akki. Lucien menuju ke arah kamarnya, sedangkan Elise menuju ruang kerjanya.
Terlihat Tivani sudah menunggu diruang kerja Elise. Sontak membuat Elise kaget, "Ada apa, Tivani ?!" Elise bertanya. "Ada hal penting nona, ini tentang keberadaan tuan Lucien !" Ucap Tivani membawa sebuah kabar yang cukup serius.