Elise yang merasa badannya mulai lengket memutuskan untuk segera mandi. Dia masuk ke dalam kamar mandi yang ada dikamar Lucien. "Haey apa yang kamu lakukan ?" Tanya Lucien yang masih terduduk diatas ranjang.
"Tentu saja mandi..." Jawab Elise yang masuk ke kamar mandi.
"Tunggu..."
Lucien segera beranjak dari tempat tidurnya. Dan mengikuti Elise masuk kedalam kamar mandi. "Kenapa kamu mengikutiku, keluar sana dasar m***m !" Ucap Elise, mendorong dan mengusir Lucien untuk keluar.
"Ini kamar serta kamar mandiku, jadi aku berhak atas apapun yang aku lakukan disini !" Balas Lucien sembari mempertahankan dirinya untuk tetap didalam ruangan tersebut.
"Dasar..."
Elise mengakui kegigihan Lucien, dia membiarkan pria itu tetap didalam bersamanya. "Setidaknya kunci pintunya dahulu !" Sahut Elise melihat kearah pintu kamar mandi yang masih terbuka.
Kemudian Lucien mengunci pintu tersebut sesuai permintaan Elise. Wanita itu langsung menyalakan shower dan membasahi dirinya dengan air. Serta Lucien terlihat sedang melepaskan sisa pakaian yang masih dikenakannya, dan menggantungnya di dinding.
Elise yang sedang membasahi diri dengan air, terlihat mempesona dengan rambutnya yang jatuh lurus dan basah karena terkena air. Lucien melihat kearah wanita tersebut yang membuat dirinya kembali memanas.
"Akan aku bantu..." Ucap Lucien.
Pria itu mengambil sambun cair, dan mengoleskannya ke punggung belakang Elise. Serta menggosoknya pelan hingga mengeluarkan busa yang cukup banyak.
"Heey... Apa-apaan ini ?!" Sahut Elise yang ternyata tidak mendengar ucapan Lucien. Salah satu tangan Lucien tiba-tiba menyentuh balon didada Elise yang dipenuhi busa. Dan satu tangan lainnya tergelincir karena busa kearah lubang vital Elise.
Lucien secara sengaja mempermainkan tubuh Elise dengan perlahan. "A-Aahh... Cukup, Lucien..." Ucap Elise sembari mengeluarkan suara mendesis. "Ini balasan untuk yang kemarin !" Balas Lucien yang menambah keras mempermainkan tubuh Elise.
Suara mendesis Elise bercampur dengan suara air yang jatuh kelantai, dan semakin membuat b*******h.
"Awas saja nanti..." Ucap Elise mengancam. Terlihat Lucien tidak menghiraukan ancaman tersebut. Bagian bawah Elise nampak terasa telah basah karena cairan yang keluar dari dalam lubangnya.
Lucien yang menantikan momen tersebut seketika langsung membuat Elise agak menunduk. Serta menaruh kedua tangan Elise dibelakang tubuhnya serta Lucien memegangnya dengan kuat.
"Haey apa-apaan ini !?" Elise bertanya sembari mencoba memberontak namun genggaman Lucien terlalu kuat. "Tenang saja bos ! Kali ini akan aku beri pelayanan yang spesial" Sahut Lucien menjawab disertai senyuman licik.
Dengan sekejap Lucien memasukkan batangnya kelubang bagian bawah Elise. "T-Tunggu... Jangan... A-Aaggh !" Teriak Elise yang merasa sedikit ditekan pada bagian lubangnya.
Namun Lucien tidak menghiraukan perkataan Elise, dan melanjutkan menekan serta memompa lubang wanita itu dengan keras menggunakan batangnya.
Sontak membuat Elise merasa kesakitan, namun bercampur dengan rasa nikmat yang membuat seakan melayang. Mengikuti irama air yang terjatuh, Lucien telah berada dipuncaknya. Rasa ingin meledak terasa didalam lubang Elise, batang Lucien berdenyut kencang didalam lubang tersebut.
"Aku akan meledak..." Ucap Lucien yang masih memompa batangnya didalam lubang Elise. "T-Tunggu... Jangan disitu, keluarkan dulu..." Sahut Elise panik.
"Tidak bisa... Aku keluar...!" Lucien meledak didalam Elise, dan cairan miliknya meluap didalam lubang tersebut. Terlihat cairan itu keluar melewati celah diantara batang dan lubang, menetes bersama busa yang terkena air.
"Puas sekali aku, lega rasanya !" Ucap Lucien yang sedang meregangkan ototnya. "Dasar... Lucien, kau ini bodoh !" Sahut Elise yang kemudian bersandar kedinding kamar mandi serta lemas tidak berdaya.
"Hehe... Maafkan aku..."
"Tidak bisa dimaafkan...!!" Elise memukul-mukul kepala Lucien.
Tidak lama setelah itu, mereka berdua selesai membersihkan badan dan langsung keluar dari kamar mandi. Elise segera memakai baju miliknya dan meninggalkan kamar Lucien. "Awas saja jika kau berani melakukan hal itu lagi kepadaku !" Ucap Elise yang terlihat marah. Namun dibalik itu semua, sebenarnya Elise merasa senang atas perbuatan Lucien kepadanya. Karena pria tersebut telah melebihi apa yang diperkirakan oleh Elise.
"Maaf kurasa aku tidak akan mengulanginya lagi bos !" Balas Lucien dengan muka polosnya. Elise keluar dari kamar tersebut meninggalkan Lucien sendirian.
Hari mulai sore, cahaya matahari senja sudah diperaduannya. Lucien yang merasa sangat lapar bergegas menuju dapur dilantai satu, terlihat sebuah meja makan berukuran besar ditengah ruangan tersebut.
"Ah... Sialnya aku, tidak ada apapun yang bisa aku makan" Lucien melihat meja makan yang kosong.
Kemudian dari balik pintu sebuah ruangan keluar seorang maid berambut putih seperti sutra terurai rapi. "Haey tuan, apa yang sedang anda lakukan disini ?" Tanya maid tersebut kepada Lucien.
"Perutku sangat lapar, namun aku tak bisa menemukan apa pun disini" Jawab Lucien yang menunjuk kearah meja yang kosong. "Maaf sebelumnya tuan, memang belum saatnya jam makan nona besar. Jadi kami belum menyiapkan apa pun..." Balas maid berparas cantik itu dengan sopan.
"Oh, aku baru tau peraturan disini sampai seketat itu !" Lucien menyela perkataan maid tersebut. "Dan kalau boleh tau siapa namamu nona maid yang cantik ?" tanya Lucien sembari menggoda maid tersebut.
"Nama saya Anna, tuan" Pelayan wanita tersebut membungkukkan badannya dengan sopan.
"Wah... Salam kenal, aku..."
"Anda tuan Lucien, Lucien Ainsworth" Ucap pelayan wanita itu. "Anda sudah dikenal semua penghuni disini, termasuk pegawai dirumah ini tuan !"
"Saya permisi terlebih dahulu... Saya harus menyiapkan makan untuk nona besar" Dia pergi menuju counter dapur, meninggalkan Lucien yang masih dimeja makan.
Seketika dalam pikiran Lucien muncul sebuah ide menarik. "Bagaimana jika aku yang memasak untuk si wanita itu ?" Bergumam dalam pikiran Lucien, dia ingin menunjukkan kemampuannya dalam hal lain, yaitu memasak.
Sehingga Lucien meminta izin kepada Anna, bahwa dia akan memasak sebuah hidangan yang akan disajikan untuk Elise. "Baiklah tuan, namun saya tidak ikut campur dalam hal apapun termasuk komentar yang akan diberikan oleh nona besar" Sahut Anna mengizinkan serta memperingatkan Lucien.
"Tenang saja, semuanya aku yang akan menanggung resikonya !" Ucap Lucien percaya diri. Sontak dia mengambil beberapa bahan masakan, bukan sebuah bahan yang mahal. Hanya sebuah pasta dan beberapa daging ikan sarden kaleng.
"Tuan apa anda salah memilih !? Didalam lemari es cukup banyak tersimpan bahan masakan berkualitas tinggi, apa yang akan anda lakukan dengan bahan-bahan tersebut ?" Tanya Anna yang melihat Lucien mengambil beberapa bahan sederhana, dan murahan.
"Jangan salah paham dulu Anna, memang bahan-bahan ini hanya bahan murahan. Namun ditangan yang ahli akan menjadi sebuah hidangan yang mewah"
Lucien mulai memasak pasta tersebut dengan merebusnya bersamaan bawang putih yang sudah terlebih dahulu dia iris. Dan dia memotong beberapa sayuran hijau yang nampak segar, brokoli dan paprika hijau.
Setelah itu dilanjut Lucien membuka sarden kaleng dengan rasa pedas tertulis dibagian luarnya. "Apa yang sebenarnya akan anda buat tuan ?" Ucap Anna bertanya sembari menyaksikan Lucien yang sedang memasak.
"Tenang saja Anna, ini akan menjadi sebuah hidangan yang spesial !" Sahut Lucien yang asyik dengan masakannya. Terlihat semua komponen masakan telah siap, dan saatnya Lucien untuk memadukan semua komponen masakan tersebut.