Ketika sedang mencari pintu belakang, Lucien terlihat oleh salah satu pria asing yang mengincar dirinya dan batu permata ruby tersebut.
"Haey itu dia... Ayo cepat kejar !" Teriak salah satu pria tersebut. Mereka kembali mengejar Lucien, dan dalam sekejap, Lucien yang merasa terancam berlari meninggalkan mereka.
Mereka berempat berpencar untuk mencari Lucien, sedangkan pria ini sedang kebingungan mencari cara agar lolos dari keempat pria asing itu.
"Bagaimana ini, mereka sangat teliti mencariku ?" Bergumam dalam benaknya, Lucien yang sedang bersembunyi disalah satu toko tas didalam mall tersebut.
"Jika ada Gerald dan Hideki disini pasti aku tidak akan kerepotan seperti ini"
Tiba-tiba seorang perempuan penjaga toko melihat Lucien yang bertingkah aneh. "Maaf tuan, apa ada yang bisa kami bantu ?" Ucap gadis pelayan toko tersebut.
"Maaf, saya hanya bersembunyi sebentar" Lucien meminta maaf kepada si pelayam toko. "Hey itu dia, disana... Didalam toko tas itu" Tunjuk salah satu pria yang melihat Lucien.
"Astaga... ! Sekali lagi saya minta maaf, ya..." Merasa dirinya telah ketahuan Lucien segera pergi dati toko tersebut, serta tidak lupa meminta maaf kepada pelayan toko.
"Cepat kejar dia...!"
Kedua pria asing mengejar Lucien, dan yang lainnya menghadang didepannya. Tanpa pikir panjang Lucien segera berbelok ke lorong lain, meninggalkan keempat pria asing tersebut.
Lucien yang kelelahan tanpa pikir panjang memasuki sebuah toko perlengkapan wanita. "Mereka benar-benar gigih..." Nafasnya terengah-engah, bersembunyi diantara baju-baju wanita didalam toko.
"Gawat... !"
Lucien kaget saat melihat salah satu pria berdiri didepan toko tersebut, dan nampak sedang mengawasi sekitar. Sontak langsung bersembunyi disalah satu ruang ganti pakaian di dalam toko.
Tanpa Lucien sadari terlebih dahulu, dibalik tirai tersebut ternyata sudah ada seorang wanita yang sedang mencoba salah satu pakaian dari toko tersebut, serta wanita itu telah melepaskan semua pakaiannya.
Dan terlihat hanyalah tubuh ramping yang mempesona. Serta rambut hitamnya yang terurai panjang.
"Aaaa..."
Dengan sekejap Lucien menutup mulut wanita tersebut agar tidak bersuara. "Maafkan aku... Kumohon jangan berteriak lagi" Berbisik kepada wanita berambut hitam tersebut.
Lucien mengintip keluar, kearah pria asing tersebut, setelah dirasa aman dia memutuskan untuk keluar. Sebelum itu dia meminta maaf kepada wanita didalam ruang ganti baju tersebut dan segera keluar meninggalkanya.
"Sekali lagi maafkan aku... Ini adalah situasi genting"
Bergegas pergi dan berlari dengan cepat menuju pintu belakang. Setelah berhasil lolos dari dalam mall Lucien memutuskan untuk berlari menuju rumah lelang.
Dengan memanfaatkan gang-gang kota, karena jarak rumah lelang yang tidak terlalu jauh dari mall tersebut. Dengan lincahnya dia melewati semua celah-celah gang yang sempit, dan meninggalkan keempat pria asing yang dari tadi mengejarnya.
"Akhirnya... Aku bisa lolos juga, baguslah !!"
Berlari menuju pintu belakang rumah lelang dan masuk kedalam. Dia langsung menuju keruang manager rumah lelang serta menyerahkan kotak berisi batu permata ruby tersebut.
"Terima kasih tuan, berkat anda batu permata ini sampai dengan aman ditempat ini" Ucap pria berbadan agak gemuk dengan tanda manager rumah lelang dikemejanya.
"Tidak masalah, dan terima kasih kembali" Ucap Lucien yang masih mengatur nafasnya. Dia pergi ke ruang pantri, terlihat disana sebuah limun dalam gelas kaca. "Beruntung sekali, aku sedang haus !" Lucien tanpa pikir panjang meminum air limun itu dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Tugas selesai dengan baik, kemudian Lucien menelfon kedua temannya. Gerald dan Hideki, terlihat mereka juga telah selesai dengan para penghadang tersebut. Lucien meminta agar menjemputnya dirumah lelang.
"Baiklah, akan aku tunggu..."
"Tugas kali ini membuat perutku lapar"
"Makan apa ya enaknya !?"
Tidak lama kedua temannya menghampiri Lucien dirumah lelang. Melihat keadaan Lucien yang masih utuh membuat Gerald merasa lega.
"Kenapa, Gerald ?" Ucap Lucien bertanya. "Tidak tuan, ternyata anda baik-baik saja" Jawab Gerald yang tadi mengkhawatirkan keadaan Lucien.
"Sebenarnya kami khawatir dengan keadaan anda tuan" Balas Hideki menyela percakapan mereka. "Oh, jadi mafia seperti kalian juga bisa khawatir ya...?! Haha..." Ucap Lucien tertawa sedikit mengejek kedua temannya itu.
"Sudah tuan, itu tidak penting" Gerald mengelak dengan perasaan malu, dan mencoba mengalihkan pembicaraan. "Hideki, kamu jangan berbicara seenaknya seperti itu !"
"...."
Kemudian mereka segera pulang menuju kediaman Reinford, terlihat ketiga pria tersebut mengobrol dan tertawa bersama disepanjang perjalanan pulang.
Mobil mereka telah sampai dirumah, Gerald memarkir kendaraan tersebut di basement rumah Reinford. Dan sesegera mungkin mereka melapor atas keberhasilan tugas kali ini.
Lucien yang merasa terlalu lelah segera munuju ke kamarnya. Dia menyerahkan semua laporan kepada Gerald, "Gerald aku lelah sekali, tolong kamu lapor kepada wanita itu, ya... Terima kasih !" Lucien pergi meninggalkan kedua temannya di basement.
Lucien memasuki kamarnya, karena merasa tubuhnya tidak dapat digerakkan lagi. Dia langsung berbaring diatas ranjang. "Aku akan beristirahat sebentar..." Sahut Lucien bergumam.
Pria tampan dengan rambut hitam tersebut memejamkan matanya dan mulai terlelap dalam tidurnya. Tidak lama setelah itu, Elise masuk kedalam kamar Lucien, serta menguncinya dari dalam.
Melihat posisi Lucien yang tidur terlentang membuat pikiran iseng Elise muncul. "Sepertinya kamu mengalami hari yang cukup melelahkan..." Ucap Elise pelan.
Elise dengan sengaja melepas celana panjang Lucien, dan pakain dalamnya. Serta membuka baju kemeja Lucien, sontak terlihat lekuk tubuh dari pria itu. Lalu pada bagian perutnya berbentuk sixpack. Semakin membuat Elise merasa panas.
Elise pun segera membuka semua pakaian yang dia kenakan. Terlihat tubuhnya yang molek mempesona. Keisengan Elise dimulai, dia menjilati batang Lucien dengan b*******h. Hal itu membuat batang tersebut menjadi keras.
Elise yang melihat hal itu langsung melahap batang itu, dengan lahapnya bagai sebuah es krim. Dia kemudian menekan serta menyedotnya hingga memenuhi mulutnya.
Tidak berselang lama, batang itu terasa berdenyut didalam mulut Elise. Setelah itu batang pun meledak, serta mengeluarkan banyak sekali cairan hingga memenuhi mulut Elise. Wanita itu sontak meminum semua cairan yang masuk dalam mulutnya.
"Hmmm... Yummy !" Ucap Elise pelan, terlihat dia sangat puas menikmti batang milik Lucien.
Waktu menunjukan pukul 16.50 dan Lucien masih belum juga bangun. Elise mencoba untuk membangunkannya dengan mencubit kedua pipi pria tersebut.
"Bangun Lucien... Ayo, Bangunn...!"
Lucien yang merasa pipinya dicubit oleh seseorang segera membuka matanya yang terasa berat. Sontak kaget dia melihat Elise disampingnya, dan dengan keadaan tanpa busana sehelai pun.
"A-Apa yang kamu lakukan disini !?" Tanya Lucien kepada bos wanitanya tersebut. "Aku ini bosmu, jadi aku berhak lakukan apa saja terhadap para pegawaiku" Jawab Elise dengan santai, yang salah satu tangannya sedang asyik memainkan batang Lucien.
"Ini kamarku, orang lain dilarang masuk kedalam sini !"
"Dan kenapa pintumu tidak kamu kunci ?" Ucap Elise mempermainkan Lucien. "Heh, soal itu, karena aku terlalu lelah dengan tugas yang kau berikan. Hingga aku lupa mengunci pintunya" Sahut Lucien yang mengelak.
"Sudahlah, ini rumahku, jadi aku dapat melakukan apapun yang aku mau. Ditambah kamu adalah anggota kelompok mafiaku, jadi kamu juga adalah milikku" Balas Elise memberikan sebuah kecupan dikening Lucien.