Volume 3 - Prolog

1091 Words
"Sekarang aku permisi... Aku harus membersihkan badanku dulu" Ucap Lucien kemudian segera meninggalkan kedua bersaudara tersebut di ruang makan. "Lucien lama sekali... Huh, dasar, apa yang sedang dia lakukan ?" Sahut Elise yang tidak bisa tidur. Lucien masuk kedalam kamarnya, kemudian segera menuju kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya yang telah lengket dan gatal. Sementara itu didalam kamar Elise, wanita tersebut nampak tidak dapat tidur dengan tenang. "Permisi nona Elise..." Sahut Anna didepan pintu kamar Elise dan mengetuk pintu kamar itu. "Iya, masuklah Anna !" Ucap Elise. Anna membuka pintu kamar itu yang tidak terkunci. "Saya kira anda telah tertidur" Anna melihat Elise yang belum juga tidur. Anna segera menghampiri tempat tidur Elise. "Aku tidak bisa berpikir dengan tenang... Apa kamu melihat Lucien saat datang kemari ?" Tanya Elise yang telah duduk ditempat tidurnya. "Iya saya melihatnya, nona... Tadi saya bertemu tuan Lucien diruang makan. Hanya sebentar, dan dia kemudian segera pergi ke kamarnya" Sahut Anna menjawab. "Memangnya ada apa nona ?" Balas Anna bertanya. "Tidak ada apa-apa... Kenapa kamu kemari Anna, ada apa ?" Ucap Elise mengelak serta membalas pertanyaan Anna. "Saya membuat sup telur untuk anda. Silahkan anda makan, agar perut anda tidak kosong" Sahut Anna memberikan semangkuk sup telur kepada Elise. "Terima kasih Anna, dari dulu kau selalu perhatian kepadaku. Maaf telah merepotkanmu" Balas Elise. "Tidak perlu sungkan nona, hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membalas budi pada keluarga nona Elise !" Ucap Anna dan tersenyum lepas kearah Elise. "Iya, Anna. Terima kasih kembali... Aku coba dulu sup ini..." Sahut Elise, kemudian dia mencoba sup telur itu. "Ini enak Anna, mulutku bahkan terasa tidak ingin berhenti memakan sup ini" Kemudian Elise terlihat lahap memakan sup telur tersebut. "Terima kasih nona Elise, sebaiknya anda pelan-pelan makannya. Supnya masih panas..." Ucap Anna memperhatikan Elise. Sembari memakan sup telur tersebut, Elise dan Anna nampak mengobrol dengan asyik. Bukan sebagai seorang pelayan dan majikannya, melainkan seperti sahabat yang begitu akrab hingga semakuk sup itu telah habis. "Saya permisi nona... Semoga cepat membaik" Sahut Anna yang segera pergi meninggalkan kamar Elise, dan membawa mangkuk yang telah kosong. "Hmm... Sekali lagi terima kasih, Anna" Balas Elise mengangguk kepada pelayan setianya itu. Elise masih terlihat kurang tenang, dia terduduk bersandar ditempat tidurnya menunggu kedatangan Lucien. Didalam kamar Lucien, pria tersebut nampak sedang memakai bajunya setelah dia membersihkan badannya. Setelah selesai memakai baju dia segera kembali menuju kamar Elise. Sontak dia sadar, pasti Elise telah menunggu dirinya. "Pasti dia masih menungguku, mana mungkin dia bisa tidur..." Lucien bergumam dalam hati. Secepatnya dia menuju ke kamar Elise, setibanya diruang tengah dia melihat Tivani duduk disalah satu sofa yang nampak sedang kebingungan. "Tivani, ada yang bisa aku bantu !?" Tanya Lucien yang tiba-tiba menghampiri Tivani serta duduk didepannya. "E-Eh, tuan Lucien... Tidak ada, ini hanya masalah bisnis biasa !" Ucap Tivani dengan cepat menutup salah satu dokumen dengan sebuah map diatas meja kaca didepan Lucien. "Sudahlah, aku tau ada yang tidak beres disini !" Sahut Lucien. "Hmm... Bagaimana ya ? Saya tidak berani memberitahukan hal ini kepada nona Elise. Saya tidak ingin memperburuk kondisi nona sekarang ini" Balas Tivani. "Coba aku lihat, mungkin aku bisa membatumu..." Sahut Lucien memaksa. Dia mengambil dokumen tersebut, terlihat sebuah dokumen formulir permintaan tenaga untuk penjagaan sebuah barang berharga dari salah satu kediaman mentri dinegara A. "Ini adalah sebuah formulir tugas... Memangnya ada apa dengan tugas ini ?" Tanya Lucien. "Seperti detailnya, pelanggan ingin tenaga profesional. Dan itu dilakukan dalam situasi pesta besar yang diadakan nanti malam" Ucap Tivani menjawab. "Lalu..." "Kenapa kamu tidak meminta Hideki dan Gerald ?" Sahut Lucien. "Tidak akan cukup, mereka tidak akan bisa melakukannya sendirian" Ucap Tivani. "Meski aku tidak semahir mereka, aku akan ikut dalam tugas ini. Serahkan kepadaku" Lucien menawarkan diri untuk ikut dalam tugas tersebut. "Tapi, anda tau bahwa nona Elise sangat membutuhkan anda disini. Bagaimana jika dia tidak mengizinkan ? Ditambah tugas ini sangat beresiko..." Balas Tivani yang nampak tidak setuju dengan permintaan Lucien. "Tenang saja, soal Elise biar aku yang tangani. Kamu siapkan semua keperluan tugas ini, dan tolong beritahukan kepada Hideki dan Gerald untuk segera bersiap-siap" Sahut Lucien dan segera meninggalkan Tivani diruang tengah sendirian. "T-Tapi tuan..." "Sudahlah, percaya kepadaku" Lucien menuju kamar Elise, dia membuka pintu kamar tersebut. Dan melihat Elise telah duduk diatas tempat tidurnya sembari melihat ponsel. "Kau lama sekali... Kemana saja kau kali ini ?" Tanya Elise kesal dengan raut wajah yang sinis. "Hehehe... Tidak kemana-mana, hanya ada sedikit tambahan urusan kebersihan" Ucap Lucien dan duduk disamping Elise, wanita tersebut nampak sedang membaca sebuah berita dari ponselnya. "Lihat... Mentri keuangan akan menyelenggarakan sebuah pesta besar rupanya. Dikabarkan akan ada pameran berliannya juga !" Sahut Elise menunjukkan berita tersebut kepada Lucien. Sontak Lucien kaget dengan kabar berita tersebut. Pantas saja Tivani terlihat sangat kebingungan ketika harus menerima tugas penjagaan itu. "Sampai diberitakan... Namun hal ini juga bisa memicu sebuah tindak kejahatan. Dia benar-benar bodoh mempublikasikan hal ini" Ucap Lucien sembari membaca berita tersebut. "Apa dia tidak mengirim formulir tugas kepada kita ya ? Tivani tidak memberitahuku soal pesta ini, biasa pak mentri akan meminta bantuan kepada kita !" Balas Elise yang nampak penasaran. "Sudah, beristirahatlah... Jangan terlalu kau pikirkan. Aku yakin jika Tivani mendapat formulir tersebut dia pasti akan melapor kepadamu" Ucap Lucien mencoba mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana keadaanmu saat ini ?!" "Hmm... Aku sudah lebih baik, tubuhku sudah mulai terasa ringan" Elise menggerakkan kedua tangannya untuk peregangan. Lekuk tubuh Elise pada bagian dadanya membuat Lucien terpesona. Sontak Lucien memalingkan pandangannya dari Elise. "Hmm... Kenapa kamu memalingkan pandanganmu ?" Tanya Elise sinis kearah Lucien. "Tidak, bukan apa-apa..." Jawab Lucien singkat. "Oh, iya Elise, malam ini aku akan kembali ke apartemen lamaku. Aku akan mengambil beberapa barang yang tertinggal disana" Sahut Lucien. "Tidak boleh, kamu harus tetap disini..." Balas Elise tegas. "Tapi, sebentar saja... Salah satu barang itu adalah milik ibuku. Dan hanya itu, kenangan yang aku punya !" Ucap Lucien memohon dengan tulus kepada Elise. Perkataan Lucien telah berhasil membuat hati Elise meleleh. Wanita yang nampak manyun itu mengizinkan Lucien untuk pergi. "Baiklah, tapi kamu harus bersama Gerald atau Hideki. Dan cepatlah segera kembali..." Sahut Elise. "Terima kasih Elise, kamu benar-benar pengertian kepadaku !" Ucap Lucien senang. Sebenarnya, peninggalan yang Lucien punya hanyalah sebuah foto ketika bersama ibunya. Sebelum ibu Lucien meninggal dan foto tersebut selalu berada didalam dompet yang selalu dia bawa. Setelah mendapat izin dari Elise secara sengaja Lucien mencium kening wanita tersebut sebagai tanda terima kasih kepadanya. "L-Lucienn..." Ucap Elise kaget. "Hehehe... Sekali lagi terima kasih Elise. Kamu tekah mengizinkan aku untuk pergi" Sahut Lucien. "Iya, tapi ingat pesan dariku..." Balas Elise dengan wajah yang memerah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD