Volume 2 - Epilog

1114 Words
"Bertahanlah Elise, kita segera sampai..." Ucap Lucien yang terlihat khawatir dengan kondisi Elise. Wanita itu nampak berkeringat, dan wajahnya semakin memucat. "Kita akan berlabuh tuan..." Sahut Harvie yang telah melihat dermaga sudah semakin dekat. "Baguslah, bisakah anda lebih cepat ?" Ucap Lucien. "Saya usahakan tuan..." Balas Harvie yang sedang membuat kapal tersebut untuk segera berlabuh. Tidak lama kemudian, kapal yang mereka tumpangi telah berlabuh tepat berada disisi dermaga. Terlihat Gerald sudah sampai disana, dengan segera Lucien membawa Elise turun dari kapal. Serta dengan segera masuk kedalam mobil yang telah disiapkan oleh Gerald. "Terima kasih tuan Harvie, kami pulang dulu..." Ucap Lucien kepada kapten kapal, si tuan Harvie. Setelah memasukkan semua barang bawaan Elise kedalam mobil, mereka segera pulang dan meninggalkan dermaga menuju rumah Reinford. Gerald memacu kendaraannya dengan sangat cepat, setibanya dikediaman Reinford para penjaga langsung menyiapkan tempat tidur yang dapat berjalan. Lucien segera membaringkan Elise diatas tempat tidur tersebut, dan secepatnya membawanya menuju kamar Elise. Seorang dokter wanita terlihat telah menunggu kedatangan nona besar pemimpin keluarga Reinford itu. Mereka segera mengikuti Lucien menuju kamar Elise. Setibanya didalam kamar Elise, Lucien kembali mengangkat dan membaringkan bos wanitanya tersebut ditempat tidur yang sudah disiapkan oleh pelayan sebelumnya. Dengan segera sang dokter memeriksa keadaan Elise. "Keadaan nona Elise baik..." Sahut si dokter setelah menyentuh kening Elise yang terasa sedikit panas. Kemudian dia memeriksa detak jantung Elise. "Tenang saja, kalian tidak perlu khawatir... Nona Elise hanya terkena demam biasa" Ucap si dokter sembari memeriksa bagian tubuh lain Elise. "Syukurlah ! Maaf telah merepotkan kalian semua" Ucap Lucien meminta maaf. "Tidak perlu sungkan tuan Lucien, lagi pula ini sudah menjadi tugas kami" Sahut Tivani membalas. "Saya akan berikan obat untuk menurunkan panasnya, dan dimohon untuk segera diminumkan setelah nona Elise siuman" Ucap si dokter wanita yang cantik serta mempesona itu. "Baiklah nona Karen, terima kasih telah menyempatkan waktu untuk datang kesini" Sahut Tivani sopan. "Ya, tidak apa-apa. Ini juga termasuk tanggung jawab saya !" Balas dokter Karen. "Kalau begitu saya akan kembali ke rumah sakit. Masih ada banyak pekerjaan yang menungguku disana" Sahut dokter Karen yang segera meninggalkan mereka, setelah memberi obat penurun panas kepada Tivani. "Sekali lagi terima kasih, dokter Karen" "Ya, terima kasih kembali... Saya permisi dulu..." Dokter Karen kemudian keluar kamar bersama Tivani dan Gerald mengikuti dari belakang. Setelah dokter Karen meninggalkan rumah Reinford tidak lama kemudian Elise siuman. "Aku dimana !?" Tanya Elise yang terlihat lemas dan pucat. "E-Eh, kamu sudah bangun Elise... Kamu sekarang berada dikamarmu" Sahut Lucien yang melihat Elise terbangun. "Badanku sakit, rasanya panas sekali..." Ucap Elise mengeluh, karena merasakan tubuhnya yang tidak enak. "Istirahatlah, tadi kamu pingsan..." Sahut Lucien. "Pingsan ? Pantas saja aku sama sekali tidak dapat mengingat apa pun..." Ucap Elise meminta maaf sembari tiduran karena badannya masih terasa lemas. Didalam kamar nampak Lucien yang duduk disamping tempat tidur, menjaga Elise yang masih terbaring ditempat tidurnya. Lucien memberikan obat penurun panas kepada Elise. "Minumlah, agar demamnya cepat turun, Elise" Ucap Lucien sembari menyodorkan sesendok obat penurun panas yang berupa sirup berwarna kuning. "Tapi aku tidak suka obat..." Sahut Elise manja, yang memalingkan kepalanya seolah menolak meminum obat tersebut. "Ayolah Elise, minum obat ini... Agar demammu cepat turun !" Balas Lucien memaksa. Elise dengan sengaja menggelengkan kepala menolak untuk meminum obat tersebut. "Elise, jangan sampai kamu bertambah lebih parah... Cepat minum obatmu !" Sahut Lucien agak sedikit kesal. "Ouch... Aagh... K-Kepalaku pusing, ada apa denganku ?" Ucap Elise yang langsung memegang kepalanya. "E-Eh, kamu kenapa Elise ? Betahanlah, aku panggilkan bantuan dulu..." Sahut Lucien yang segera beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba tangan Lucien diraih oleh Elise, dan sontak tangan Lucien tertahan karena dipegang oleh Elise. "Sudahlah ! Aku baik-baik saja... Tetaplah disini, jangan pergi" Ucap Elise manja kepada Lucien. "Hah...? Apa kamu yakin ?" Balas Lucien sembari memeriksa kening Elise yang terasa masih panas. "Iya, maaf aku bohong. Kepalaku tidak pusing dan terima kasih Lucien... Kamu telah perhatian kepadaku !" Sahut Elise dan wajahnya menjadi merah. "Hahaha... Tidak perlu sungkan, karens aku sudah menjadi milikmu seorang" Balas Lucien. "Hmm... Terima kasih" Ucap Elise pelan. "Tapi bukan itu yang aku maksud..." Sahut Elise pelan menambahkan. "E-Eh, kamu bilang apa, Elise ?!" Tanya Lucien, yang kembali mengambil obat penurun panas. "A-Anu, tidak ada... Hehehe" "Sekarang minum obatnya, agar cepat sembuh" "Baiklah, tapi tolong kamu bantu aku..." Lucien membantu Elise duduk ditempat tidurnya. Dan dia membantu wanita tersebut untuk meminum obatnya, dalam sekejap Elise meminum habis obat yang diberikan oleh Lucien. "Selesai juga... Bagamana rasanya ?" Tanya Lucien. "Hmm... Tidak pahit, rasanya seperti kulit lemon" Jawab Elise. "Sudah, sebaiknya kamu segera beristirahat. Aku juga harus membersihkan badan, tubuhku terasa lengket dan gatal" Sahut Lucien dan membantu Elise untuk berbaring lagi, kemudian pria itu nampak menyelimuti tubuh Elise. "Segeralah kembali kesini, aku ingin kamu tetap disampingku" Ucap Elise manja. "Iya, aku akan kembali lagi. Tenang saja..." Balas Lucien dan dia terlihat beranjak dari tempat duduknya. Pria itu pergi meninggalkan kamar Elise, dan segera menuju ke kamarnya. Ketika melewati meja makan dia melihat Anna yang sedang membuat sesuatu didapur, dan Akki yang nampak sedang membersihkan meja makan. "Haey Akki..." Sapa Lucien kepada Akki dan duduk disalah satu kursi meja makan. "Hay juga tuan Lucien, bagaimana keadaan nona Elise ?" Tanya Akki sembari membersihkan meja makan. "Dia baik-baik saja, sekarang dia sedang beristirahat" Jawab Lucien dengan menghela nafas lega. "Oh, apa ada yang bisa saya bantu tuan ?" Tanya Akki kembali yang tidak sengaja melihat kearah Lucien. "E-Eh, tidak ada... Bisa minta tolong, ambilkan segelas air putih ?!" Sahut Lucien. "Hanya itu ? Sebentar tuan, saya ambilkan" Balas Akki yang segera menuju ke dapur. "Ya, itu saja. Terima kasih Akki" Ucap Lucien. Akki mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih dari dispenser. "Untuk siapa Akki ?" Tanya Anna yang melihat kearah saudaranya itu. "Ini untuk tuan Lucien..." Jawab Akki yang segera kembali menuju meja makan. "Silahkan tuan, air putih yang anda minta" Sahut Akki memberikan air putih tersebut kepada Lucien. "Terima kasih, Akie !" Menerima segelas air putih dari Akki dan segera meminumnya. Sontak gelas yang tadinya penuh berisi air sekarang tersisa setengahnya. "Ahh... Segar, air ini sungguh menyegarkan" Sahut Lucien setelah meminum air tersebut. "Permisi tuan... Silahkan anda coba sup telur buatan saya ini" Ucap Anna yang tiba-tiba memberikan sebuah mangkuk berisi sup telur kepada Lucien. "Eh, jadi merepotkan... Terima kasih juga, Anna" Sahut Lucien kepada Anna. "Baiklah, aku coba ya..." Lucien segera memakan sup telur tersebut. Sup itu terasa sangat lembut, dan seperti telur yang meleleh didalam mulut. "Hmm... Ini lembut, dan sangat menyegarkan. Ini enak Anna, sekali tarima kasih" Lucien memuji. "Iya tuan, terima kasih kembali. Sup telur ini untuk nona Elise, dan saya baru mencoba membuatnya" Ucap Anna. "Oh, benarkah ? Ya, ini memang cocok untuknya disaat seperti ini" Balas Lucien.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD