Pesta semakin meriah, banyak pengunjung yang datang untuk bergabung ke pesta tersebut. "Meriah sekali..." Sahut Lucien melihat kerumunan para pengunjung yang sedang menikmati pesta.
"Mereka terlihat bersenang-senang..." Ucap Elise melihat para pengunjung yang sedang berdansa ditengah lantai dansa. Alunan musik semakin menambah kemeriahan pesta itu. "Elise, maukah kamu berdansa denganku ?" Ucap Lucien bertanya.
"Sudahlah, Aku tidak pandai berdansa, Lucien" Sahut Elise menolak ajakan Lucien. "Ya, baiklah... Kalau begitu aku akan berdansa sendirian" Balas Lucien, dan meininggalkan Elise sendirian yang terlihat sedang bersandar dimeja counter bar.
"Hey nona Elise, maaf sebelumnya... Kenapa anda tolak ajakan tuan Lucien barusan ?" Tanya Cassie yang tidak sengaja mendengar ucapan Lucien. "Oh, Cassie... Bukan apa-apa, hanya saja aku merasa canggung" Ucap Elise menjawab. "Bukankah, nona Elise juga bisa berdansa ? Dan apa karena ada masalah lainnya ?!" Sahut Cassie bertanya kembali.
"Hehehe... Anu, maaf jika saya sudah lancang, nona Elise"
"Tidak apa-apa, dan memang benar, ada masalah yang sangat rumit terjadi diantara kami !" Jawab Elise.
"E-Eh, maafkan saya... Kalau begitu saya permisi sebentar. Sekali lagi maafkan saya nona Elise" Ucap Cassie dan meninggalkan Elise dimeja counter bar sendirian. Si bartender wanita itu terlihat sangat sibuk dengan pelanggan yang memesan minuman buatannya.
"Maafkan aku Lucien... Perasaan ini tidak bisa aku ungkapkan dengan jelas kepadamu" Elise nampak sangat tertekan, dan wanita itu terlihat meminum segelas minuman spesial buatan Cassie dengan cepat hingga habis tak tersisa.
Lucien yang berada ditengah kerumunan pengunjung lain nampak sangat menikmati pesta dengan bersemangat. Pria itu berdansa lepas dan seperti meninggalkan semua masalah yang sedang dihadapinya.
Namun Elise yang sudah tidak ingin berada disana memutuskan beranjak dari tempat itu. Dia kembali kekamarnya dan meninggalkan Lucien disana. Malam semakin larut, kemeriahan pesta mulai semakin memudar. Beberapa pengunjung mulai meninggalkan ruangan bar.
"Woohoo... Pesta yang meriah..." Sahut Lucien yang kembali ke meja counter bar. "E-Eh, Dimana Elise ? Bukankah tadi dia disini ?" Tanya Lucien bergumam dalam hatinya. "Maaf tuan, apakah anda mencari nona Elise ?!" Sahut Cassie bertanya.
"Eh, I-Iya Cassie, Apa kamu melihatnya ?"
"Iya, kurasa dia kembali ke kamarnya. Dan aku melihat dia sedang murung, sebenarnya ada masalah apa anda dengan nona Elise ?" Cassie bertanya dan terlihat sangat penasaran. "Tidak ada, kurasa dia hanya kepikiran soal masalah pekerjaanya... Besok, kami akan pulang, dan itu dikarenakan sudah ada pekerjaan baru yang menunggunya" Jawab Lucien menutupi masalah tetang Elise dan dirinya.
"Eh, jadi kalian akan pulang besok ? Cepat sekali..." Ucap Cassie. "Iya mau bagaimana lagi, ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan" Balas Lucien kembali.
"Aku berharap kalian akan sedikit lebih lama lagi" Ucap Cassie. "Ya, aku juga berharap lebih lama disini. Namun pekerjaan Elise memaksa kami harus segera kembali. Dan aku hanya sebagai pengawalnya, jadi tentu saja akan ikut kemana pun dan kapan pun dia akan pergi" Sahut Lucien menjelaskan.
"Oh iya Cassie sebelum pulang aku ingin merasakan minuman spesial buatanmu sekali lagi... Bolehkah ?" Ucap Lucien. "Ok, baiklah... Akan aku buatkan" Dan Cassie dengan cekatan mencampur beberapa minuman kedalam botol kocok serta melakukan aksinya mengocok botol tersebut dengan bergaya.
"Hebat, Cassie..."
"Terima kasih pujiannya tuan"
Cassie menuangkan minuman spesial tersebut ke gelas yang telah berada dihadapan Lucien. "Hmm... ini benar-benar enak. Lidahku seakan tidak ingin berhenti untuk meminumnya... Sensasi ini, meledak didalam mulutku, rasa begitu spesial" Sahut Lucien memuji minuman spesial itu
"Terima kasih Cassie, aku harus segera kembali ke kamar..." Ucap Lucien dan pergi meninggalkan Cassie di bar serta dia memberikan sebuah lambaian tangan kepada bartender wanita itu.
Cassie membalas lambaian tangan Lucien, dan terlihat pria tersebut telah menghilang dibalik pintu keluar bar. Tidak lama kemudian bar telah sepi pengunjung, beberapa pegawai terlihat sedang membersihkan tempat itu.
Cassie nampak sibuk dengan gelas-gelas yang dia gunakan. Membersihkannya kemudian menyimpannya ditempat aman, menaruhnya sedemikian rupa di rak meja khusus agar besok siap untuk dipakai kembali.
Lucien telah berada didalam kamar, dia melihat Elise telah terlelap dalam tidurnya. Seperti biasa dia tidur dengan memakai piyama tidurnya, terlihat baju dress yang dia kenakan saat pesta berserakan dilantai.
"Dasar, kebiasaan..." Ucap Lucien bergumam. Dan kemudian dia membereskan baju yang berserakan itu, menaruhnya dengan rapi kedalam koper. Agar besok langsung siap untuk pergi, dan tanpa harus membereskan lagi barang-barang tersebut.
Waktu menunjukkan pukul 23.50 dan setelah mengecek semua barang bawaan mereka, kemudian memastikan tidak ada yang tertinggal Lucien memutuskan untuk segera beristirahat.
Seperti dihari sebelumnya dia tidur disamping bos wanitanya itu. Sontak membuat Elise langsung memeluk lengan Lucien, seperti seakan telah menantikan Lucien untuk tidur disampingnya.
"E-Eh, dasar... Tidur saja masih bisa seperti ini" Ucap Lucien pelan, serta dia mengecup kening wanita yang telah membuatnya telah melakukan banyak hal bersama dirinya.
"Terima kasih Elise..." Lucien memejamkan mata dan terlelap kedalam tidurnya bersama dengan Elise.
Hari mulai terang, kedua orang tersebut telah siap untuk kembali pulang. Setelah menager menyelesaikan proses check out, mereka kemudian menuju dermaga pulau. Lucien sembari membawa koper mereka, pria tersebut berjalan dibelakang mengikuti Elise.
"Sebentar lagi kapal akan datang..." Ucap manager Steve yang telah berada didermaga. "Baiklah, terima kasih tuan Steve. Aku harap pulau bisa berkembang lebih maju lagi, aku puas dengan peningkatan kali ini" Sahut Elise yang juga sembari mengamati perkembangan salah satu bisnisnya itu.
"Terima kasih kembali nona, sebisa mungkin akan saya tingkatkan terus pelayanan dipulau ini" Ucap manager Steve. Tidak lama kemudian kapal yang biada bertugas menjemput Elise telah datang. Mereka berdua segera menaiki kapal itu, dan meninggalkan pulau untuk pulang.
"Ayo cepat tuan Harvie, kita langsung pulang !" Sahut Elise kepada kapten kapalnya itu. "Baik nona..." Balas Harvie dan segera meninggalkan dermaga pulau, kapal mereka terlihat melaju dengan cepat menuju arah pulang.
"Elise, kamu baik-baik saja ?" Tanya Lucien yang melihat wajah pucat Elise. Wanita tersebut terlihat tidak sehat, dia terduduk dibangku kapal dan tubuhnya berkeringat.
"Coba kamu minum air putih ini..." Dengan penuh perhatian Lucien memberikan sebotol air putih kepada Elise. Wanita itu meminum air tersebut, namun hanya sedikit yang dia minum.
"Sudahlah, Lucien, aku baik-baik saja..." Sahut Elise yang masih terlihat pucat. "Tidak Elise, badanmu panas. Kau sepertinya demam..." Balas Lucien yang telah memeriksa kening Elise, dan terasa panas tidak normal.
"Terima kasih Lucien..." Ucap Elise dan kemudian terjatuh dipelukan Lucien.
"E-Elise..."
Lucien membaringkan Elise diatas bangku kapal dan meminta tuan Harvie untuk segera menambah kecepatan. "Hallo Tivani... Tolong kamu siapkan kamar untuk Elise, dia terkena demam..." Sahut Lucien lewat ponselnya menghubungi Tivani.
"A-Apa ? Baiklah tuan... Segera akan saya siapkan..." Balas Tivani yang kaget mendengar kabar dari Lucien.
Sementara itu dirumah Reinford Anna dan Akki terlihat sedang menyiapkan kamar untuk Elise sesuai perintah dari Tivani. Terlihat Gerald dengan cepat membawa mobilnya segera menuju dermaga untuk menjemput Elise disana.