Lucien berjalan semakin menjauh dari resort mengikuti Elise. Mereka telah memasuki sebuah hutan didalam pulau. "Elise, kemana kita akan pergi ? Ini terlalu berbahaya..." Lucien khawatir serta sembari mengawasi keadaan sekitar.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan... Sebentar lagi kita akan sampai, bersabarlah !" Ucap Elise membalas. Dan terlihat mereka berdua terus melanjutkan perjalanan masuk kedalam hutan. Disepanjang jalan nampak beberapa spot outbound yang dikelola oleh pihak resort.
"Ternyata ada wahana bermainnya juga, hebat !" SahutLucien. "Ini tidak seberapa, masih banyak wahana lain yang dapat dinikmati" Ucap Elise.
"Kau ini, benar-benar seorang yang kaya, Elise" Ucap Lucien kembali memuji. "Terima kasih, tapi semua ini berkat kerja keras ayahku sebelumnya. Dan aku hanya sekedar meneruskannya !" Sahut Elise dengan merendahkan dirinya. Hal yang tidak wajar nampak dari diri Elise, ketika seorang yang mempunyai segalanya namun terlihat tidak bahagia seperti apa yang dia inginkan.
"Tidak jadi masalah bukan ? Kamu telah memilik sebuah batu pijakan yang dapat kamu manfaatkan untuk kau berkembang. Dan jujur saja, aku lebih suka seseorang dengan jiwa bertanggung jawab dari pada seorang yang manja" Ucap Lucien mengungkapkan perasaannya.
"Benarkah, terima kasih Lucien. Kamu telah mau mengerti aku" Sahur Elise, dan setelah cukup jauh memasuki hutan. Terlihatlah sebuah wahana yang bertuliskan 'TUTUP' didepan pintu masuknya.
"Lihat, kita sudah sampai !" Ucap Elise menunjuk kearah sebuah gua didepan mereka. "Disana ? Apa kita harus memasukinya ?!" Tanya Lucien. "Tentu saja, didalam ada sesuatu yang dapat menenangkan pikiran dan jiwa" Jawab Elise dan segera masuk kedalam gua tersebut.
Pintu gua cukup besar, tapi karena pihak pengelola telah menghentikan pemakaian wahana tersebut. Sehingga banyak tumbuh tanaman semak belukar disekitar wahana yang menghalangi jalan masuk ke tempat tersebut.
"Seberapa dalam gua ini, disini semakin gelap !" Lucien yang berjalan dibelakang Elise menatap kearah depan dan hanya melihat gumpalan hitam bayangan disepenjang lorong gua. "Tenang saja, sebentar lagi hal yang ajaib akan muncul !" Ucap Elise yang masih terus berjalan masuk.
Setelah cukup dalam memasuki gua, ketika cahaya dari arah mulut gua benar-benar tidak dapat menerangi jalan mereka.
Dari dalam gua muncullah sinar warna warni terang yang berkelip menempel disepanjang dinding gua. Sinar tersebut menerangi langkah kedua orang tersebut. "Wah, indahnya, seperti kunang-kunang dimalam hari" Sahut Lucien yang kagum dengan batu-batu bersinar itu.
"Ini adalah batu alam yang dapat mengeluarkan cahaya disaat dalam gelap. Tidak banyak orang yang mengetahui tentang gua ini. Sejak wahana ini ditemukan, aku mutuskan untuk tidak membukanya pada umum karena alasan berbahaya" Ucap Elise menjelaskan.
"Tapi hal ini dapat menarik lebih banyak pengunjung, bukan !" Balas Lucien memberikan pendapatnya. "Ya, awalnya aku berpikir seperti itu. Namun jika hal itu aku lakukan, bagaimana dengan para kelompok lain ? Mereka tanpa memperdulikan sekitar dapat datang dan menginvasi semua yang ada disini" Sahut Elise menjelaskan.
"Tapi inikan pulau milikmu" Ucap Lucien.
"Tapi aku juga tidak ada disini untuk setiap saat" Balas Elise kembali. "Benar juga, untuk penjagaan saja kita harus membutuhkan tenaga penuh. Selain biaya, akan lebih sulit lagi jika harus memantau setiap satu dari mereka !" Sahut Lucien mengangguk.
"Maka dari itu aku menutup gua ini" Sahut Elise, dan nampak mereka berdua telah sampai ditempat terdalam gua tersebut. Sebuah kolam berukuran cukup besar berada ditengah ruangan tersebut. Dan pantulan sinar dari batu bersinar tersebut memantul kearah jernihnya air, menyebabkan pembiasan cahaya menjadi pelangi. Cahayanya menyebar diseluruh ruangan hingga menerangi tempat itu.
"Benar-benar indah sekali, perasaanku menjadi lebih tenang. Perkataanmu tadi benar Elise, aku merasa damai disini" Ucap Lucien yang sedang memandangi cahaya tersebut.
"Terima kasih Lucien..." Sahut Elise pelan.
"E-Eh, kamu bilang sesuatu ?" Tanya Lucien yang sekilas mendengar ucapan Elise. "Tidak, bukan apa-apa !" Jawab Elise mengelak.
"Oh, baiklah... Bagaimana kalau kita berenang disini ? Ayo..." Ajak Lucien yang kemudian meloncat kedalam kolam tersebut. "Hahaha... Disini hangat, ternyat ini sumber air panas, sungguh nyaman" Lucien terlihat berenang mengelilingi kolam.
Kolam tersebut cukup dangkal, kedalamannya sekitar satu setengah meter. Batuan didalamnya mengandung banyak meneral sehingga dapat memantulkan serta menyerap cahaya secara temporal dalam gelap.
Sinar yang dihasilkan dari batuan tersebut akan dibiaskan oleh jernihnya air, sehingga dapat memancarkan cahaya disekitar ruangan tersebut. Proses akan terus berulang, maka dari itu ruangan tersebut selalu terlihat bersinar meski tanpa sumber daya lain, seperti listrik.
"Sungguh indah... Ayo Elise berenag bersamaku. Disini hangat" Sahut Lucien mengajak Elise. "Hehehe... Aku disini saja !" Balas Elise yang hanya duduk ditepi kolam. Memainkan kaki kedalam air kolam itu.
"Ayo bersenang-senanglah bersamaku" Lucien memegang tangan Elise, serta menariknya kedalam air. Sontak Elise kaget, dan tiba-tiba tubuhnya telah masuk kedalam kolam.
Elise yang panik mencoba untuk berenang kepermukaan air. Namun dikarenakan Elise tidak pandai berenang, hal itu membuatnya semakin tenggelam.
"Elise, kamu baik-baik saja ?" Lucien yang melihat Elise tenggelam langsung menolongnya menuju kepermukaan air. Lucien mengangkat tubuh Elise ketepian kolam, dia melihat bahwa wanita tersebut telah pingsan.
"Elise ?! Bangunlah..."
Lucien dengan cekatan meluruskan tubuh Elise, dan menyelaraskan tangan serta kakinya agar sejajar dengan badan Elise. Dan Lucien memberikan sebuah nafas buatan kepada Elise, berulang-ulang Lucien memberikan pertolongan tersebut. Hingga akhirnya keluarlah air dari mulut Elise.
"Hukk... Uhukk... Uughh"
Elise memuntahkan semua air yang telah dia minum ketika didalam air."Maafkan aku Elise, seharusnya kamu bilang lebih awal bahwa kamu tidak bisa berenang !" Lucien yang merasa bersalah meminta maaf kepada Elise.
"Hahaha..."
"Kenapa ? Apanya yang lucu !?" Tanya Lucien bingung serta memiringkan kepalanya.
"Tidak, bukan apa-apa. Kamu telah tertipu... Hahaha" Sahut Elise tertawa keras kerana melihat wajah paniknya Lucien. "Tunggu... Maksudmu, kamu menipuku tidak bisa berenang ?" Ucap Lucien bertanya.
"Hehehe... Benar sekali, maafkan aku ya tuan tampan" Jawab Elise puas melihat wajah panik pengawalnya itu.
"Awas kau, jika ada sesuatu kepadamu aku tidak akan peduli lagi" Sahut Lucien kesal. "Ayolah jangan seperti itu, hanya bercanda" Balas Elise dengan manja.
"Baiklah, lupakan saja untuk kali ini. Ayo kita kembali, moodku sudah hilang..." Ucap Lucien kembali yang terlihat masih kesal, dan segera berjalan menuju keluar.
"Tunggu, apa kamu akan melewatkan kesempatan ini ?" Tanya Elise, terlihat dia sedang menggoda Lucien sembari berbaring dilantai gua. Dia membuka bikininya, serta menutup bagian d**a dengan salah satu tangannya dan tangan lainnya menutup bagian vital Elise.
Lucien berbalik dan melihat kearah Elise, sontak pria itu terdiam karena apa yang telah dilakukan oleh bos wanitanya itu. "Apa yang akan kamu lakukan ? Cepat kenakan pakaianmu !" Ucap Lucien kemudian memalingkan pandangannya.
"Apa kamu yakin, kesempatan ini tidak datang unuk kedua kalinya, loh !" Elise yang kemudian mendekatkan tubuhnya kepada Lucien. "Tentu saja, sebaiknya kamu tahan dulu hingga kita kembali ke resort !" Ucap Lucien menolak.
Elise yang takjub dengan keteguhan Lucien kemudian memakai kembali bikininya dan mereka berdua segera keluar dari dalam gua. "Sebelumnya aku minta maaf Elise, tidak sepantasnya aku mendapat perlakuan spesial darimu" Sahut Lucien. "Apa maksudmu ? Aku telah memilimu, ingat itu !" Balas Elise, terlihat mereka telah keluar dari dalam gua tersebut.
"Dengar Lucien, aku harus jujur kepadamu... Aku jatuh hati kepadamu" Ucap Elise yang sedang berjalan menuju resort.
Lucien yang mendengar perkataan Elise hanya terdiam tanpa kata, hal itu membuat Lucien semakin bingung dengan apa yang sebenarnya Elise rencanakan.