Mereka kembali ke resort dan Lucien nampak sedang duduk menyendiri dikantin. Elise menuju kamarnya meninggalkan Lucien sendirian diluar.
"Dasar Lucien bodoh...!" Elise bergumam kesal. Sedangkan Lucien terlihat seperti memikirkan sesuatu. "Huh, mana ada orang yang suka dalam jangka waktu beberapa hari saja, apalagi dengan sebuah ancaman yang menghantuinya... A-Ah, apa yang sedang terjadi sebenarnya ?!" Sahut Lucien dalam hatinya, yang sedang menggaruk-garuk kepalanya bingung.
"Sudahlah, lupakan dia Elise... Percuma membuat dia suka dengan cara seperti ini" Ucap Elise didalam hati yang terlihat masih kesal. Kemudian dia masuk kedalam kamar, dan membanting pintu kamar tersebut dengan keras.
"Kesal... Kesal..."
"Aku tidak boleh larut dalam perasaanku ini, dasar Lucien bodoh... Bodoh... Bodoh !"
Elise membaringkan tubuhnya ketempat tidur dan membenanmkan wajahnya dibantal. Sembari sesekali dia memukul-mukul tempat tidurnya.
"Apa yang harus aku perbuat ? Disisi lain perasaan ini memang tidak bisa aku rasakan, tapi dalam hal lain aku juga merasakan sebuah perbedaan rasa saat bersamanya..." Sahut Lucien didalam hatinya.
Hari mulai siang, matahari terlihat semakin berada ditengah pusat bumi. Terik panas membuat semua pengunjung resort segera menepi. Ada yang berteduh dimeja yang telah disediakan, ada juga yang mengunjungi mini bar di tepian pantai. Serta ada juga yang sedang makan siang dikantin resort.
Lucien yang kurang suka dengan keramaian memutuskan untuk segera kembali kekamar. Meski dengan perasaan yang bercampur aduk, tetapi dia tetap harus menjalankan pekerjaannya dengan baik.
Pria itu sampai didepan kamar Elise, kemudian langsung masuk kedalam kamar. Melihat Elise yang terlelap dengan tertelungkup membuat Lucien semakin merasa bersalah.
"Huft, maaf aku Elise. Bukan maksudku menyakiti perasaanmu tapi tolong berilah aku kesempatan untuk berpikir sebentar" Ucap Lucien pelan. Dan dia segera membenarkan posisi Elise menjadi terlentang agar dapat bernafas dengan lebih baik.
Seketika dia memandangi tubuh Elise, mulai dari lekuk tubuh bagian atas hingga unjung kaki bos wanitanya itu dan dengan Elise masih memakai bikininya.
Lucien dengan sengaja menyentuh d**a kanan Elise dengan tangan kirinya. Terasa empuk seperti sebuah puding, dan Lucien kemudian mencium bibir Elise.
Hal itu membuat Lucien menjadi b*******h, hingga dia memberanikan diri untuk membuka seluruh pakaian Elise. Sedikit gerakan tidak nyaman dikeluarkan Elise, namun wanita itu masih terlelap dalam tidurnya.
Kemudian Lucien menggigit bagian kecil balon kanan Elise, serta menyedotnya pelan hingga terdengar suara mendesis dikeluarkan Elise. Lucien melanjutkan dengan tangan kanan memainkan bagian lubang Elise, mengelusnya pelan dan memasukkan satu jarinya kedalam lubang.
Lucien memainkannya dengan seirama, hingga membuat sebuah cairan licin keluar dari lubang Elise. Jari Lucien basah karena cairan tersebut, dan Elise nampak mendesisi lebih keras lagi.
"Ughh... Lucien ? Apa yang kamu lakukan ?" Tanya Elise yang merasa seluruh badannya menjadi panas. "A-Anu, maafkan aku Elise. Aku tidak bisa mengontrol diriku !" Jawab Lucien yang seketika menghentikan perbuatannya.
"Lucien, kamu boleh meminta apapun dariku. Asalkan kamu mau menjadi milikku untuk selamanya" Balas Elise mengenggam erat tangan kanan Lucien. "Tapi Elise, kita baru saja kenal tidak lebih dari 3 hari yang lalu..." Sahut Lucien menjawab.
"Apa salahnya, meski kita baru saja bertemu tapi perasaanku ini tidak bohong" Ucap Elise menyakinkan Lucien. "Tapi tetap saja berbeda Elise... Aku juga tidak tau pasti, namun menurutku hal ini salah" Balas Lucien kembali.
Sontak Elise mencium bibir Lucien, dan membuat pria tersebut terdiam. Kemudian dia menarik badan Lucien hingga menindih tubuhnya, dan menyilangkan kakinya merangkul pinggul Lucien.
"Kalau seperti itu... Lakukan Lucien ! Aku memintamu sebagai bosmu !"
Elise sontak berkata cukup tegas kepada Lucien. Hal itu membuat pria yang sebagai pengawalnya tersebut menuruti permintaan bosnya itu. Kemudian Lucien terlihat telah melepas pakaiannya, dia memasukkan batangnya kedalam lubang Elise.
Dia memompa dengan kekuatan penuh, hingga Elise pun terlihat begitu sangat puas. 3 ronde telah mereka lalui, dan Lucien terlihat lemas berbaring diatas Elise.
Sedangkan Elise yang merasa rencananya telah berhasil merasa puas dengan apa yang telah Lucien perbuat terhadap dirinya.
"Aku sudah tidak kuat Elise..."
"Iya aku paham, bagaimana rasanya melakukan itu sepuasnya ?"
"Aku tidak bisa membayangkannya lagi..."
"Hmm... Terima kasih Lucien, mulai sekarang kamu resmi menjadi milikku. Dan jangan pernah kamu lupakan hari ini" Sahut Elise memeluk Lucien. "Kamu curang... Aku belum menjawabnya..." Balas Lucien dan kemudian tertidur karena kelelahan.
"Huh, sudah tidur ? Kerja bagus untuk hari ini, sekali lagi terima kasih Lucien" Elise mengecup kening Lucien dan segera membaringkannya disisi lain ranjang. Elise yang merasa badannya sudah lengket segera masuk ke kamar mandi.
"Kurasa liburan ini harus aku selesaikan secepatnya, rencanaku bahkan berjalan sangat lancar !" Sahut Elise pelan didalam kamar mandi. Serta Elise segera membasuh seluruh badannya yang lengket.
Hari kedua dikediaman Reinford, masih terlihat penjagaan yan sangat ketat diseluruh sudut rumah. "Tivani, bagaimana keadaan nona Elise ?" Tanya Gerald yang sedang duduk dikursi meja makan, sembari menikmati sepotong kue keju.
"Aku tidak tau, nona bahkan tidak mengabariku sama sekali" Jawab Tivani yang menyeruput secangkir kopi latte. "Kuharap rencana nona Elise dapat berjalan dengan lancar" Sahut Gerald.
"Kita tidak akan tau sebelum nona Elise memberi kabar tentang perkembangan rencananya" Balas Tivani kembali. "Memangnya sesulit itu, rencana nona Elise ?" Tanya Anna yang ikut bergabung dengan kedua orang tersebut.
"Kurasa tidak ada hal tidak mungkin bagi nona Elise" Ucap Akki mengikuti saudaranya. "Akki... Optimis seperti biasa" Sahut Gerald memuji. "Ya, aku rasa Akki benar juga" Ucap Tivani mendengarkan.
"Kita hanya bisa menunggu, sembari mempertahankan rumah ini" Ucap Gerald santai.
"Anda benar tuan Gerald" Balas Anna.
"Aku setuju !" Ucap Akki kembali.
"Sudahlah, rencana itu kita percayakan saja kepada nona Elise" Tivani beranjak dari tempat duduknya meninggalkan ketiga orang tersebut. "Kami permisi tuan Gerald, ada pekerjaan yang masih menunggu kami" Ucap Anna sopan.
"Baiklah, berhati-hati kalian saat bekerja, ya !" Sahut Gerald mengingatkan.
Meski ada banyak pelayan wanita dirumah tersebut namun Anna dan Akki adalah pelayan yang hanya di khususkan untuk melayani Elise dan beberapa anggota tertinggi di kelompok Reinford. Sedangkan total untuk pegawai dirumah tersebut berjumlah 35 orang belum termasuk para penjaga keamanan dan para anggota tertinggi dikelompok Reinford.
Elise yang selesai membersihkan badannya segera keluar dari kamar mandi. Terlihat Lucien masih terlelap dalam tidurnya. "Hallo Tivani... Aku akan segera pulang, rencana kita sudah selesai... Dengan hasil yang sangat memuaskan" Sahut Elise didalam telfon.
"Dan tolong kamu siapkan rencana berikutnya sesuai yang telah aku buat !" Sahut Elise menambahkan. "Baiklah nona, akan saya laksanakan secepatnya" Balas Tivani dan menutup telfon.
"Baiklah... Kali ini kesempatan terakhir untuk memberi pelajaran kepada keluarga Lockheart itu" Sahut Elise yang nampak begitu kesal. Elise yang terlihat hanya mengenakan handuk, segera mengganti pakaiannya. Dan secepat mungkin melakukan check out langsung kepada manager resort agar tidak diketahui oleh Lucien.