Akhirnya Raimas dan kawan-kawan memilih perusahaan tempat Ibnu bekerja setelah memilih nama-nama perusahan terkenal di sekitar Jabodetabek. Atrust nama perusahaannya. Perusahaan yang bergerak dibidang jasa periklanan. Produk dari perusahaan ini adalah pembuatan iklan berupa foto, poster, vidio, audio dan lainnya banyak.
Salah satu pertimbangan mereka dalam memilih tempat magang adalah jarak. Jarak antara studio ke kantor Atrust adalah yang paling dekat ditempuh. Beruntung yang menentukan tempat magang adalah bukan kampus, kalau kampus bisa-bisa Rai Rakha libur berbulan-bulan.
Setidaknya sepuluh orang yang diterima magang disini, dan ini adalah hari pertama mereka melakukan magang sebagai bagian dari tugas kampus sebelum tugas akhir skripsi.
Raimas dan Ibnu datang bersama, ada campur tangan Ibnu juga dalam penerimaan Raimas di kantornya. Sebelumnya Rai memang meminta bantuan Ibnu untuk memasukan mereka ke sana, tetapi Ibnu tidak memberi kepastian karena peneriaman mahasiswa magang juga harus dipertimbangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan kantor. Akhirnya dari banyaknya yang mengajukan magang disana Ibnu bisa memasukan Rai dan teman-temannya, walau pun ada Indra juga disana. Ibnu masih menepis benih cemburu dalam hatinya.
“Makasih ya kak atas bantuannya, sampe teman-teman aku juga disana semua” Ibnu mengangguk.
“Itu juga karena memang kantor lagi butuh masukan-masukan fresh dari luar, biasanya mahasiswa lebih cemerlang ide-idenya. Aku gak banyak bantu juga, tapi kalo yang mengusulkan teman-teman kamu masuk disana memang aku” Ungkapnya
“Iya, pokoknya aku makasih banget kak” Rai mengucapkan dengan sungguh-sungguh menghadap Ibnu yang sedang focus menyetir “Kaya gimana ya rasanya kak kerja dikantor” Tanya Rai, penasaran.
“Kamu baru pertama ya kerja sama orang?”
“Iya” Rai menganggukan kepala “Aku memang punya kantor kecil-kecilan tapi aku gak tahu rasanya kerja diperkantoran sebenarnya”
“Ya sama kaya dikantor kamu, kerja mah dimana-mana juga sama. Sama capenya haha” Ibnu tersenyum getir.
“Ya beda donk kak, kalau Rai Rakha itu aku yang pegang, terserah aku mau digimanain, kalau ini kan posisinya aku jadi bawahan dan akan ada atasan yang memantau kinerja aku” Terang Rai “Sebaiknya nanti aku kaya gimana ya kak, nervous banget nih”
“Biasa aja, seperti kamu kuliah atau kerja, justru harus di bawa enjoy biar betah”
“Nanti kakak jadi atasan aku juga?” Tanya Rai penasaran
“Tergantung nanti kamu diposisikan dimana, kalau nanti aku jadi atasan kamu siap-siap aja kamu bikin kopi, photocopy berkas, siapin sarapan, makan siang dan makan malam buat aku setiap hari hahaha” Ibnu tertawa puas.
“Ikh mana ada kaya gitu, yang ada aku gak kerja karena kakak kasian sama aku, liat aku kecapean hahaha” Rai meledek.
“Huuu kepedean banget haha” Suasana dalam mobil sangat ceria, beberapa lagu ceria menemani perjalanan, definisi bahagia Vidi Aldiano sangat mendukung suasana bahagia keduanya.
Bersamaan dengan datangnya teman-temannya yang lain diparkiran kantor, Rai langsung salim dan pamit turun lebih dulu dari mobil dan berlari kecil mendekati teman-temannya.
Sebelum mulai bekerja, ada pembukaan penerimaan peserta magang, walau hanya sepuluh orang tetapi disambut dengan hangat oleh perusahaan. Tidak semua karyawan hadir dalam penyambutan ini, tetapi setiap ketua tim termasuk Ibnu ada dalam acara tersebut.
Mereka ditempatkan di beberapa divisi, Raimas tentu saja mendapat di bagian fotografi kali ini ditemani Azka, Rai sangat suka dengan zonanya sebagai fotografi, jadi ia tak menolak saat ditempatkan disana. Khadijah di perencanaan, berpisah dengan kedua temannya tetapi malah akan satu divisi dengan Ibnu. Sedangkan Richam dan Indra sebagai editing videography.
Wakil direktur, Shofiya mengarahkan peserta magang dan menerangkan tentang perusahaan dari A sampai Z. Hari pertama adalah waktunya untuk pengenalan perusahaan dan mereka pun saling memperkenalkan diri, sedangkan besok harus sudah langsung bekerja sebagaimana seorang karyawan bekerja.
Tidak sampai jam makan siang mereka semua sudah bergabung dengan para senior dan saling memperkenalkan diri di kubikel masing-masing. Kecanggungan tentu menghampiri mereka sebagai warga baru diperusahaan, untungnya para senior humble dan ramah membuat peserta magang nyaman.
Raimas terkesima melihat studio perusahaan dengan perlengkapan super lengkap, berbagai tipe kamera terpajang di ruangan besar yang sedang ia datangi. Properti pencahayaan gambar yang sangat menunjang kebutuhan pemotretan menambah kagum Rai pada perusahaan.
"Azka, kita bisa gak ya punya peralatan lengkap kaya gini? Sumpah, ini lengkap banget ya ka, terkesima gue lihatnya, betah kayanya gue disini" Sedikit berbisik mengungkapkan kekagumannya.
“Iya Rai, gue juga gak nyangka. Musti dimanfaatkan banget Rai, belajar lagi kita, belajar pake kamera yang mahal-mahal. Hihi”
“Selamat siang semuanya” Seseorang dengan suara barington masuk membuyarkan obrolan Azka dan Rai.
“Siang pak” Serempak, seluruh orang yang ada di studio menjawab salamnya.
“Baik kita mulai meeting kita untuk produk terbaru dari perusahaan ASDF"
“Pak, sebentar hari ini kita keadaan mahasiswa magang" Robi menyela. Ketika pembukaan tadi ketua divisi ini tidak hadir dan diwakilkan oleh Robi.
“Oh iya, saya terlupa, maaf tadi tidak bisa langsung dalam acara pembukaan. Yang mana orangnya?” Pemilik suara barinton itu menyisir pandangannya. Sampai menemukan dua wajah asing di sisi kiri ruangan tersebut.
“Silakan Rai dan azka, perkenalkan diri kembali” Ujar Robi.
Keduanya lalu memperkenalkan kembali lengkap dengan kampus, jurusan dan keahlian mereka.
“Ya baik, Azka dan Raimas perkenalkan saya Gaza, semoga kalian betah magang disini untuk beberapa bulan kedepan” Gaza mengungkapkan harapannya.
"Iya Pak" Keduanya menjawab bersamaan.
Setelah itu mulai meeting dan membicarakan produk-produk yang akan di foto, bukan hanya satu, tetapi banyak, mungkin ada sekitar lima belas pengiklan yang akan menggunakan jasa mereka.
"Siap-siap sibuk banget kita Rai" Azka menarik nafasnya dan membuang kasar, menyiapkan diri dengan dunia kerja dibawah tekanan orang lain.
“Tapi gue antusias banget Ka, gak nyangka bisa moto produk-produk terkenal yang sebelumnya gak pernah gue bayangin” Mata Raimas berbinar.
“Sebenarnya gue juga antusia Rai” Azka berbisik “Tapi gue antusiasnya sama pak Gaza, liat deh ganteng banget, mirip Adipati Dolken, hidungnya Rai, mancung banget, kayanya itu yang bakalan bikin gue betah” ungkap Azka.
“Duh penyakit jomblo nih, ada yang ganteng dijadiin motivasi kerja, baru juga hari pertama ka” Rai geleng-geleng kepala.
“Ya harus donk biar semangat” Ungkap Azka semakin semangat.
“Iya deh iya, semangat Azkaaa" Bisik Rai sambil mengepalkan tangannya memberi semangat.
Rapat di tutup tepat dijam makan siang. Sebelum dibubarkan Raimas dipanggil Gaza untuk menemui diruangannya.
“Kok lo aja sih yang dipanggil Rai” Azka cemberut dan meyimpan kepalanya dimeja, malas.
“Pengennya sih gue digantiin sama lo, laper gue pengen makan” Raimas mengelus perutnya yang keroncongan sejak tadi.
“Yaudah deh, gue duluan ya makannya, jangan lupa lho nanti lo ceritain sama gue, gak boleh ada yang dirahasiakan tentang pak Gaza”
“Iyuukkss yang udah kesem-sem atasan, bahaya nih” Ledek Rai
“Hehehe, yaudah ya gue duluan” Azka meninggalkan Rai dikubikelnya. Rai menarik nafas dan berjalan menuju ruangan Gaza. Ternyata itu adalah ruangan para ketua divisi, termasuk juga ada Ibnu di sana.
“Permisi, ada apa ya pak panggil saya?” Tanya Raimas.
“Rai, silakan duduk dulu” Gaza mempersilakan “Saya dengar kamu adalah fotografer terbaik diangkatan kamu” Sambil menyenderkan punggung pada kursi putarnya Gaza mulai pertanyaannya.
“Tidak juga pak” Jawab Rai singkat.
“Saya mau tahu hasil foto-foto yang kamu ambil, boleh saya lihat?”
“Hari ini saya tidak membawanya, mungkin besok” Sebenarnya bisa saja saat itu ia berikan hasil-hasil jepretannya yang ia simpan di drive penyimpanan onlinenya, tetapi terlalu lapar bisa bahaya untuk kesehatannya, mudah marah karena lapar harus Rai hindari.
“Oh begitu, baiklah. Saya minta nomor hp kamu ya, biar mudah menghubungi kamu atau yang lainnya”
“Kalau bapak memang harus segera melihatnya, bapak bisa melihat di halaman website Rai Rakha, disana banyak contoh gambar yang saya ambil”
“Oh boleh-boleh, tolong catet website dan nomor HP kamu disini” Gaza memberikan pulpen dan secarik kertas, dan Rai menuliskan yang diminta atasannya tersebut.
“Kalau sudah selesai, saya pamit undur diri pak”
“ya silakan”
Ibnu mendengarkan percakapan antara Rai dan Gaza yang memang satu ruangan dengannya. Hawa panas menerpa dirinya meski angin AC cukup untuk menyejukan ruangan tersebut. Ia langsung berdiri mengekor dibalakang Rai.
“Rai, tunggu” panggil ibnu, Raimas menoleh
“Iya kak?”
“Kamu hati-hati sama Gaza” Gaza memperingati.
“kenapa emang kak?”
“Ya hati-hati aja pokonya”
“Ikh kakak gak jelas. Jangan gitu deh sama teman sendiri”
“Kamu mau kemana?” Ibnu mengalihkan pembicaraan.
“Mau makan, lapar. Teman-teman udah nunggu dikantin” Jawab Raimas sambil mengelus perutnya yang sejak tadi sudah meronta-ronta minta diisi.
“Mau makan sama aku gak?” selesai dengan mengucap ajakan tersebut, tubuh Ibnu diserang hawa panas, takut. Lebih tepatnya takut ditolak.
“Kakak mau ikut?” Tanya Rai “Ayo, gabung sama teman-teman aku” Ajak Rai, Ibnu justru malah menggaruk kepala, niat hati ingin mengajak makan siang hanya berdua saja, malah berakhir ramai-ramai.
“Yaudah yuk” Ibnu pasrah.
“Gak apa-apa, kamu istriku Rai, masih banyak waktu aku buat makan berdua sama kamu, sekarang nikmatin aja dulu masa kamu sama teman-teman kamu” Ibnu membatin dan mengobati penolakan halus Rai, lebih tepatnya Rai tidak peka.
Suasana kantin sangat ramai di jam makan siang, telat sedikit bisa kehabisan tempat duduk. Seperti Ibnu yang sedang mencari bangku kosong dan dibawa menuju meja teman-teman Rai.
“Ini Rai udah aku pesenin, tadi aku lihat ada bakso, jadi sekalian aja aku pesen buat kamu” Indra yang sudah lebih dulu ke kantin bersama yang lain menyodorkan semangkok bakso, makanan kesukaan Raimas dimanapun. Tiada hari tanpa bakso.
“Makasih Indra, mimunya engga sekalian? Hehehe”
“Rai-rai, lo di kasih hati minta jantung hahaha” ledek Richam sambil menyuapkan makanannya.
“Minumnya udah dipesan, cuma belum datang, es jeruk, untuk menetralkan lemak bakso dalam diri kamu hehehe”
“Dra, gue dipesenin juga gak?” rasa aneh datang lagi.
“kak ibnu juga suka bakso juga?”
“kakak mau aku pesenin makan?” tawar rai.
“boleh, tolong pesenin nasi padang aja, minumnya samain kaya kamu rai ya” Raimas bangkit dari duduknya, belum sempat menyicipi bakso yang sudah disediakan oleh Indra. Kali ini ia ingat bahwa ada Ibnu disana sebagai suaminya, sedikit perhatian pada Ibnu mungkin tidak salah juga.
“Kamu gak makan dulu rai?” Tanya indra, melihat Rai yang langsung berdiri menerima permintaan Ibnu, aneh pikirnya.
“Bentar doang kok” Rai ngeloyor pergi.
“Kenapa Rai malah menawarkan makan ke Ibnu, dia bisa beli sendiri”.