Ludovic menginjakkan kaki ke kantor tepat pukul delapan. Pagi yang cerah, tapi pikirannya sedikit berawan. Di kantor milik Massimo, dia hanyalah seorang karyawan biasa, tapi hari ini, sesuatu tampaknya akan berbeda. Ludovic duduk di mejanya, menatap layar komputer dengan fokus. Dia mencoba mengabaikan kegugupannya yang mulai tumbuh. Tiba-tiba, langkah cepat terdengar mendekat. Massimo, bosnya, muncul dengan ekspresi serius. "Ludovic," ujar Massimo, berdiri di depan meja Ludovic. "Bisakah kita bicara sebentar?" Ludovic mengangguk, "Tentu saja, Pak Massimo. Ada yang bisa saya bantu?" Massimo mengambil napas dalam. "Ini tentang Elle, saudara tirimu. Aku rasa kamu sudah tahu bahwa kami... kami telah menghabiskan waktu bersama belakangan ini." Ludovic menelan ludah. "Iya, saya tahu, Pak. A

