Bola mata Geundis bergulir ke sekeliling rumah berlantai satu yang menyerupai asrama. Terdapat banyak pintu yang saling berhadap-hadapan, melihatnya sekilas pun memang rumah itu terlihat jelas sebuah kost-an. “Yuk, masuk. Kamar kamu ada di pojok kiri.” Suara Davin membuyarkan lamunan Geundis. Dia kini memang berada di kost-an Davin, baru saja selesai bertemu dengan ibu kost dan sekarang Geundis sudah bisa menempati salah satu kamar yang kosong. Davin berbohong saat mengatakan untuk pembayaran bisa hutang dulu karena nyatanya pria itu langsung memberikan uang untuk membayarkan kost-an untuk Geundis. Melihat Davin melangkahkan kaki, Geundis pun bergegas mengikutinya. Hingga akhirnya mereka tiba di depan pintu kamar yang ada di pojok kiri yang akan menjadi tempat tinggal Geundis mulai d

