Suster Viona menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan sebelum dia memberanikan diri melangkah menaiki satu demi satu anak tangga yang akan membawanya menuju lantai tiga. Kedua telapak tangannya saling menggesek karena spontan dia melakukan itu saat merasakan hawa dingin yang tiba-tiba di saat semakin tinggi dia menaiki tangga. Hingga akhirnya kedua kakinya mendarat sempurna di keramik lantai tiga. Suster Viona meneguk ludah, kepalanya memutar ke kiri dan kanan untuk melihat kondisi sekeliling. Tak ada apa pun, hanya keheningan dan cahaya lampu remang-remang yang dia lihat. “Kenapa di sini cahayanya gak terang sih? Udah serem hawanya, cahayanya juga begini lagi,” gerutu Suster Viona, sebelum akhirnya dia melanjutkan langkahnya. Kedua tangannya kini menyilang di depan d

