Tengkorak kepala yang terbelah hingga wajahnya pun tak bisa dikenali lagi. Salah satu bola mata yang keluar dengan mulut yang hancur serta gigi yang terlihat rontok sebelah merupakan penampilan jenazah yang dilihat oleh Geundis begitu kain putih penutupnya disingkapkan oleh Pak Herman.
Geundis tanpa sadar berteriak histeris hingga suaranya menggema di dalam ruangan karena seumur hidupnya baru itu kali pertama dia melihat hal menyeramkan seperti itu. Geundis menutup mulut yang serasa ingin memuntahkan isi di dalam perut, dia juga langsung berbalik badan karena tak sanggup lebih lama lagi melihat ke arah sang jenazah yang begitu mengenaskan.
“Ini yang saya maksud jangan sembarangan membuka kain penutup jenazah karena Neng tidak tahu bagaimana penampilan mereka, kan?” Ucap Pak Herman, kini menjelaskan alasannya berkata seperti tadi pada Geundis.
Geundis tak menjawab, gadis itu masih mencoba menenangkan diri dengan masih membelakangi sang jenazah sembari membekap mulutnya dengan telapak tangan.
“Dia tewas karena tertabrak truk tronton, sebelah kepalanya terlindas ban.”
Geundis semakin meringis sembari menggelengkan kepala sebagai tanda dia tak ingin lagi mendengar informasi apa pun tentang jenazah itu. Dalam hati berharap semoga dia tak diminta untuk memandikan jenazah itu karena dia sungguh tak sanggup. Jangankan memandikan, melihatnya saja Geundis tak ingin melakukannya untuk yang kedua kalinya. Cukup sekali saja dia melihat tadi karena tak tahu menahu bahwa kondisi jenazah itu begitu mengenaskan karena kematiannya yang tragis.
“Pak, saya mohon jangan diteruskan. Tolong ditutup lagi saja kainnya,” pinta Geundis tanpa menatap wajah Pak Herman karena dia masih dalam posisi memunggungi.
“Sudah saya tutup kainnya, Neng.”
Dengan gerakan perlahan, Geundis menoleh ke belakang dan ternyata benar Pak Herman sudah kembali menutup kainnya. Seketika Geundis pun mengembuskan napas lega dan kembali berbalik badan menghadap Pak Herman.
“Bapak kenapa tidak bilang kalau penampilan jenazahnya menyeramkan? Kalau saya tahu, saya tidak akan minta melihatnya tadi.”
“Saya sengaja,” jawab Pak Herman tanpa ragu. “Biar Neng lihat sendiri alasan saya larang buka-buka sembarangan penutup kain jenazah.”
Geundis kini mengangguk-anggukan kepala, dia sudah paham sepenuhnya niat baik Pak Herman. “Iya, Pak. Saya kapok. Saya janji akan lebih berhati-hati ke depannya,” ucap Geundis serius.
“Selain itu, saya juga mau ngasih tahu. Kerja di tempat seperti ini harus hati-hati. Apalagi orang kayak Neng.”
Geundis mengernyitkan dahi, tak paham sedikit pun maksud ucapan Pak Herman. “Maksudnya, Pak? Saya tidak mengerti.”
“Mungkin Neng nggak sadar. Tapi Neng itu punya bakat. Mungkin ada keturunan dari leluhur makanya itu makhluk halus seneng deketin.”
Kedua mata Geundis melebar begitu mendengar ucapan Pak Herman, jadi berpikir itukah alasan dirinya sering melihat penampakan hantu setelah bekerja di rumah sakit ini?
“Saya juga sama kayak Neng. Punya bakat jadi bisa merasakan bakat Neng juga begitu melihat wajah Neng tadi. Auranya terasa, beda kok sama yang normal.”
Oh, itu rupanya alasan Pak Herman menatap Geundis begitu tajam. Kini Geundis memahaminya. Bukan karena Pak Herman tidak menyukai atau membencinya tapi karena alasan ini. Karena Pak Herman bisa merasakan aura berbeda dari diri Geundis yang bisa dikatakan mirip dengannya.
“Begitu ya, Pak. Pantas saja saya sering melihat penampakan hantu di ruang pemandian jenazah. Berarti itu bukan halusinasi saya ya, Pak? Itu benar-benar terjadi?” tanya Geundis memastikan kebenaran semua yang dialaminya pada Pak Herman. Sekaligus untuk menampik mentah-mentah ucapan Davin yang mengatakan dirinya hanya berhalusinasi.
“Iya, itu semua nyata. Mereka memang menampakan diri di depan Neng.”
“Tapi kenapa begitu, Pak?”
“Seperti yang saya bilang tadi, Neng punya bakat melihat dan bisa merasakan keberadaan mereka. Ini karena turunan dari leluhur mungkin.”
Geundis tertegun, seumur hidupnya baru sekarang dia mengalami kejadian seperti ini karena saat di kampungnya dulu dia tak pernah mengalami hal mistis, semua tampak baik-baik saja.
“Tapi selama saya tinggal di kampung, saya tidak pernah mengalami kejadian seperti itu, Pak. Baru di sini saja saya mengalami kejadian-kejadian seram. Itu kenapa ya, Pak?”
“Orang yang memiliki bakat itu biasanya merasakan keberadaan makhluk mistis di tempat yang angker. Walau ada yang tidak bisa melihat penampakanannya, biasanya orang yang memiliki bakat itu akan bisa merasakan hawa keberadaannya. Seperti bulu kuduk yang tiba-tiba meremang, tubuh menggigil kedinginan, merasakan kepala mendadak pusing atau tanda-tanda lain yang mengarah pada tanda-tanda ada makhluk tak kasat mata di dekatnya.”
Untuk kesekian kalinya Geundis terdiam, untuk masalah ini dia mengakui memang sering merasakannya. Tiba-tiba bulu kuduknya yang meremang jika mendatangi tempat yang seram dan mencekam seperti rumah sakit ini contohnya. Geundis pun tersentak saat pikirannya kini menyimpulkan sesuatu.
“Pak, apa itu artinya rumah sakit ini angker karena itu saya sering melihat penampakan dan merasakan hal-hal mistis?” Namun Geundis memutuskan untuk memastikan kesimpulannya benar karena itu dia bertanya demikian pada Pak Herman.
Pak Herman mengangguk, “Benar.” Pak Herman mencondongkan tubuh ke depan mendekati telinga Geundis dan berbisik, “Rumah sakit ini sangat angker apalagi di ruang tempat penyimpanan jenazah karena itu tadi saya bilang Neng harus hati-hati. Jangan banyak melamun. Harus fokus apalagi kalau sedang sendirian dan Neng sedang memandikan jenazah.”
Geundis meneguk ludah, sekarang berpikir bisakah dia berhenti saja bekerja di rumah sakit ini? Sungguh dia takut bukan main.
“Bapak bilang juga memiliki bakat seperti saya?”
Pak Herman menganggukan kepala, mengiyakan. “Begitulah, Neng. Makanya saya bisa merasakan aura Neng sama seperti saya.”
“Tapi kenapa Pak Herman tahan bekerja di tempat seperti ini padahal saya yakin Bapak sudah sering melihat penampakan seperti saya di sini?”
Geundis terdiam tatkala melihat Pak Herman tertawa seolah pertanyaannya itu hanya dianggap lelucon oleh Pak Herman.
“Itu karena saya sudah terbiasa, Neng.”
Geundis tanpa sadar meneguk saliva, “Bapak sudah biasa melihat penampakan arwah dan tidak merasa takut?”
“Terkadang rasa takut itu tetap ada, tapi mau bagaimana lagi. Memang sudah takdir saya seperti ini jadi ya dijalani aja. Lama-kelamaan juga Neng pasti terbiasa sama seperti saya.”
Geundis mengerutkan wajah, tidak, dia tidak mau jika harus terus-terusan melihat penampakan dan mengalami kejadian menyeramkan seperti tadi saat dia dikurung di ruang pemandian jenazah. Dia tak akan sanggup jika hidupnya menjadi begitu menyeramkan setiap saat semenjak bekerja di rumah sakit ini. Padahal dulu Geundis merasa hidupnya normal-normal saja.
Satu hal lagi yang membuat Geundis bingung, kenapa hantu-hantu itu mendatangi dirinya sampai menampakan diri dan mengganggunya? Padahal dia merasa tak mengganggu atau mengusik mereka.
“Pak, kenapa mereka selalu muncul di depan kita? Bapak tadi bilang makhluk mistis bisa merasakan bakat kita, tapi kenapa mereka mendatangi kita sampai menampakan diri dan mengganggu kita ya, Pak?”
“Itu karena mereka berpikir bisa menyampaikan keinginan mereka sama kamu. Pasti ada alasan kenapa mereka menampakan diri dan biasanya mereka masih penasaran sehingga mau meminta tolong pada Neng.”
Geundis tersentak, terkejut mendengar jawaban Pak Herman. “M-Minta tolong sama saya?”
Dengan gerakan perlahan Pak Herman menganggukan kepala, “Karena mereka sudah tidak bisa menyampaikannya secara langsung makanya mereka mendatangi manusia yang punya bakat seperti Neng. Jadi mulai sekarang Neng harus membiasakan diri melihat mereka ya.”
Dengan tegas Geundis menggelengkan kepala, “Nggak, Pak. Saya nggak mau. Saya nggak sanggup lihat penampakan mereka. Seram sekali, Pak.”
“Mau bagaimana lagi itu sudah takdirnya Neng. Saya juga awalnya begitu tapi lama-kelamaan saya terbiasa. Neng juga pasti begitu kok.”
Geundis semakin merasa kesal di dalam hatinya, kesal karena dia jadi harus mengalami semua kejadian menyeramkan ini setelah bekerja di rumah sakit ini. Dia menyesal sudah menerima tawaran dari Aarav. Andai waktu bisa diputar kembali, dia pasti akan menolak mentah-mentah tawaran itu.
“Oh, iya. Saya lupa memberitahu. Tidak semua hantu menampakan diri karena ingin meminta tolong. Ada juga hantu yang jahat karena mereka memiliki dendam atau kebencian yang dibawa hingga ke kubur karena itu mereka melampiaskan kebenciannya dengan mengganggu manusia. Sengaja menampakan diri dengan maksud menakut-nakuti dan meneror manusia.”
Untuk kedua kalinya Pak Herman mendekatkan diri pada Geundis dan berbisik, “Di rumah sakit ini ada hantu seperti itu. Hati-hati, Neng. Kalau dia muncul artinya dia bukan mau minta tolong atau menyampaikan apa pun tapi dia memang menampakan diri karena ingin melakukan sesuatu yang buruk. Dengan sengaja ingin meneror manusia.”
Mendengar ucapan Pak Herman ini seketika Geundis jadi teringat pada hantu pria mengenakan scrub yang diceritakan Cindy padanya saat jam istirahat siang.
“Apa hantu yang Bapak maksud ini hantu pria mengenakan scrub operasi yang sering muncul dan mengganggu pasien anak-anak di bangsal khusus anak-anak?”
Melihat ekspresi Pak Herman yang terbelalak seolah dia terkejut karena Geundis sudah mengetahui hal ini sebelum dia bercerita, Geundis yakin tebakannya memang benar. Memang hantu itu yang dimaksud oleh Pak Herman.
“Benar. Itu dia yang saya maksud. Hati-hati, Neng. Dia berbahaya. Jadi jangan coba-coba berurusan sama dia ya. Kalau misalkan Neng nggak sengaja lihat penampakan dia, langsung menghindar aja. Jangan dideketin. Sekali lagi saya peringatkan dia berbahaya.”
Geundis jadi semakin penasaran dan ingin menanyakan banyak hal lagi tentang hantu itu pada Pak Herman sehingga Geundis sudah membuka mulut hendak bertanya namun …
“Sudah ah, Neng. Jangan ngomongin dia lagi. Saya juga takut kalau ngebahas dia. Takut didatengin nantinya. Mendingan sekarang kita langsung bawa jenazah yang mau dimandiin ke ruang pemandian aja.”
Mulut Geundis yang terbuka seketika kembali terkatup. Dia juga teringat kembali pada tugasnya yang terabaikan karena keasyikan mengobrol dengan Pak Herman. Sudah bisa membayangkan pasti Davin akan marah besar padanya nanti karena dia jadi menunggu lama di ruangan itu sendirian.
“Iya, Pak. Mohon bantuannya untuk memindahkan jenazah itu ke ruangan pemandian ya, Pak.”
“Iya, Neng. Ayo!”
Geundis pun memutuskan untuk menunda hal-hal yang ingin dia tanyakan tentang hantu pria yang selalu meneror pasien anak-anak itu pada Pak Herman. Memilih melanjutkan pekerjaannya. Tapi tetap jika bertemu dengan Araav nanti Geundis ingin mengajukan banyak protes pada tunangannya yang begitu tega menawarinya bekerja di rumah sakit angker seperti ini.
***
Dengan dibantu Pak Herman, Geundis berhasil memindahkan jenazah yang akan dimandikan ke ruangan pemandian jenazah. Sehingga kini dia sudah berada di ruangan itu berdua bersama Davin.
Benar saja seperti dugaan Geundis, dia mendapati raut wajah Davin sangat masam, terlihat tengah tersulut emosi karena dia menunggu terlalu lama.
“Kamu ngapain aja sih berusan? Ngambil jenazah aja lama banget ampe mau satu jam?”
Geundis meringis, walau merasa bersalah karena benar dia pergi selama itu dan membuat Davin menunggu lama. Tapi apa mau dikata, pembahasan dengan Pak Herman tadi memang membuatnya lupa diri dan lupa waktu.
“Maaf tadi itu aku nyari Pak Herman dulu. Dia gak ada soalnya waktu aku dateng. Aku sempet muter-muter dulu di lorong buat nyari dia.”
Membicarakan soal lorong yang ada di dekat ruang penyimpanan jenazah, Geundis seketika teringat sesuatu dan berpikir ini kesempatannya mencari tahu pada Davin.
“Oh, iya. Dav, lorong di samping ruang penyimpanan jenazah kok sepi banget ya? Itu kalau ditelusuri lorongnya menghubungkan ke tempat apa ya?”
“Jadi tadi kamu ke lorong itu?”
Geundis mengangguk, “Kan dibilangin tadi Pak Herman gak ada di tempat waktu aku dateng makanya aku cari dulu. Aku sempet cari ke lorong itu karena kan siapa tahu Pak Herman ada di sana. Itu lorong menghubungkan ke tempat apa sih, Dav? Sepi sama serem ya lorongnya. Udah gelap, gak ada orang yang lalu-lalang di sana.”
Davin berdecak, “Itu emang jarang didatengin orang. Lorong itu nantinya menghubungkan dengan ruangan autopsi mayat. Sama ruangan identivikasi korban bencana yang udah nggak bisa dikenali lagi karena tubuhnya hancur. Seperti korban pesawat jatuh contohnya.”
Geundis bergidik ngeri walau dia tak heran semua tempat di sekitar ruang untuk mengurus jenazah pastinya memang terdengar menyeramkan. Bahkan sekilas pun bisa terasa aura mistisnya. Geundis sekali lagi merutuki nasibnya yang begitu sial ini karena harus ditugaskan di tempat seperti ini.
“Tadi juga Pak Herman ngasih tahu aku banyak hal. Ternyata dia orangnya menyenangkan juga ya. Aku pikir dia itu galak kayak kamu.”
Davin memicingkan mata, entah karena pria itu tersinggung dikatakan galak oleh Geundis atau ada alasan lain yang membuatnya berekspresi seperti itu.
“Kamu tahu gak, Dav. Pak Herman bilang semua kejadian seram yang aku alamin itu emang nyata. Bukan halusinasi kayak yang kamu bilang. Soalnya aku ini punya bakat bisa merasakan kehadiran makhluk mistis. Pak Herman bilang sih ini karena ada turunan dari leluhurku. Walau aku nggak tahu siapa kira-kira leluhurku yang punya kemampuan bisa lihat hantu.”
Davin mendengus seolah tak mempercayai ucapan Geundis.
“Beneran. Aku serius tadi Pak Herman bilang begitu. Oh iya. Ada satu lagi, dia juga bilang rumah sakit ini emang angker. Kita juga harus hati-hati sama hantu pria mengenakan scrub operasi itu soalnya dia berbahaya.”
“Hantu mengenakan scrub operasi?” gumam Davin sembari mengernyitkan dahi.
Geundis mengerjapkan mata melihat ekspresi bingung yang kini tersirat di wajah Davin. “Jangan bilang kamu nggak tahu rumor tentang hantu itu, Dav?”
“Rumor apaan sih?”
Geundis menggeleng-gelengkan kepala, sekarang semakin yakin Davin memang tidak mengenal siapa pun di rumah sakit ini selain Pak Herman. Pria itu pasti kurang bergaul dengan karyawan rumah sakit lainnya karena itu dia tak mengetahui apa pun padahal sudah lebih dulu bekerja di rumah sakit ini dibanding Geundis yang baru dua hari bekerja.
“Kamu ini ngapain aja sih selama kerja di rumah sakit ini? Masa rumor penting kayak gitu aja kamu nggak tahu?”
“Emangnya ada rumor apaan?” tanya Davin, mengulangi pertanyaannya.
Sambil bersedekap d**a, Geundis kini melayangkan tatapan serius karena apa yang akan dia ceritakan pada Davin ini memang sesuatu yang serius, sama sekali bukan lelucon atau candaan.
“Rumor tentang hantu pria mengenakan scrub operasi yang sering muncul di bangsal khusus pasien anak-anak. Dia suka menampakan diri dan neror pasien anak-anak kalau malam. Apalagi pasien yang namanya Cindy. Dia hampir lompat dari balkon lantai tiga gara-gara ketakutan diteror hantu itu. Katanya kasus ini ramai kok di rumah sakit ampe mau dituntut segala sama pihak keluarga pasien. Masa kamu nggak tahu sih masalah sepenting ini, Dav?”
Geundis meneguk ludah saat mendapati Davin tiba-tiba mendelik tajam padanya. “Denger ya. Aku mohon kamu denger baik-baik apa yang mau aku bilang ini. Aku di sini mau kerja, nyari uang. Bukan buat bergosip sama orang lain. Kamu juga kalau emang bener mau kerja jadi rekan aku, mulai sekarang stop dengerin gossip gak penting kayak gitu. Pantes aja kamu sering ngelamun, ketakutan gak jelas ampe halusinasi, ternyata kebanyakan denger omongan orang yang nggak bener.”
Geundis melongo karena Davin secara terang-terangan menunjukan tak mempercayai semua yang dikatakannya.
“Aku serius, Dav. Yang aku ceritain ke kamu tadi semuanya fakta bukan hanya gossip.”
“Terserah deh, aku nggak peduli. Lagian sekarang aku tahu alasan kamu lama banget bawa jenazahnya. Ternyata kamu ngobrol dulu sama Pak Herman?!”
Davin membentak dan itu sukses membuat Geundis menegang di tempatnya berdiri.
“Kamu tahu nggak tindakan kamu itu hanya menghambat pekerjaan kita? Lihat tuh, jam segini kita jadi belum beres mandiin. Padahal seharusnya sekarang kita udah beres mandiin jenazah ini,” kata Davin sambil menunjuk jenazah yang terbujur kaku di ranjang masih tertutupi kain putih. “Tapi gara-gara kamu jam segini kita malah baru mulai mandiin. Awas ya kamu, jangan diulangi lagi.”
“Iya, iya. Maaf,” sahut Geundis dengan suara teramat pelan.
Saat Davin berbalik badan menghadap sang jenazah siap untuk memulai pekerjaannya, Geundis justru tetap berdiri mematung sambil menundukan kepala. Hal itu sukses membuat Davin semakin tersulut emosi.
“Geundis, ngapain kamu bengong di situ? Sini, cepet bantuin mandiin jenazahnya!”
“Ah, iya. Maaf, maaf.”
Geundis pun berjalan cepat menghampiri jenazah dan berdiri tepat di seberang Davin sehingga kini hanya jenazah yang akan mereka mandikan itu yang menjadi pemisah mereka berdua.
Geundis membuka kain putih yang menutupi tubuh sang jenazah karena mereka akan segera memandikannya. Begitu melihat wajah jenazah itu … seketika Geundis terdiam dan beberapa menit kemudian kedua matanya melotot seolah akan melompat keluar dari kelopaknya.
Davin yang melihat ekspresi wajah Geundis itu pun mengernyit bingung. “Kenapa lagi kamu?” tanyanya karena merasa Geundis kembali bersikap aneh.
Yang terjadi selanjutnya adalah Geundis menunjuk wajah sang jenazah dengan jari telunjuknya yang gemetaran hebat. “I-Itu … itu … jenazah ini … aku yakin banget dia hantu yang ngurung aku di ruangan ini tadi.”
Davin memutar bola mata, tak ingin mempercayai ucapan Geundis yang dia yakini hanya halusinasinya saja. Namun melihat ekspresi wajah Geundis yang serius ketakutan, dia jadi berpikir … mungkinkah semua yang dialami gadis itu memang nyata?