Aroma kapur barus langsung menyeruak dan menusuk hidung begitu Geundis menginjakan kaki di ruangan yang memang cocok untuk digunakan sebagai tempat memandikan jenazah. Ada meja besar di bagian tengah dimana sesosok tubuh terbujur kaku masih tertutupi kain putih. Peralatan untuk memandikan jenazah seperti selang panjang untuk keluarnya air yang akan digunakan saat memandikan jenazah, sabun, shampoo, sikat, handuk dan kain untuk digunakan mengelap tubuh janazah, sudah disiapkan pula di ruangan tersebut.
Davin tanpa ragu melenggang santai mendekati meja berisi jenazah itu. Dia mengenakan sarung tangan, masker dan penutup kepala sebelum tiba-tiba dia menyingkap kain putih yang menutupi tubuh si jenazah.
Geundis menahan napas saat menyaksikan penampilan jenazah seorang pria yang cukup mengenaskan. Tubuhnya berlumuran darah dan yang membuat Geundis susah payah menahan mual karena melihat salah satu tangannya putus dari bagian siku. Selain itu, bau anyir darah begitu kental tercium. Untunglah jenazah itu belum mengeluarkan bau bangkai pertanda pemilik jasad itu belum terlalu lama meregang nyawa. Geundis membekap mulutnya dengan telapak tangan agar suaranya yang sedang menahan mual tak terdengar oleh Davin.
“Kamu bisa ambil sarung tangan, masker dan penutup kepala di lemari itu,” kata Davin sembari menunjuk dengan dagunya ke arah lemari yang terletak tak jauh dari tempat Geundis berdiri. Gadis itu menurut, dia berjalan menghampiri lemari dan mengambil peralatan yang harus dikenakannya. Dengan gesit dia memakai sarung tangan, masker dan juga penutup kepala. Setelah siap, dia pun berjalan menghampiri Davin.
Tatapan Geundis kembali tertuju pada tubuh jenazah. “D-Dia meninggal karena apa?” tanyanya, penasaran sekaligus heran karena kondisi jenazah itu cukup mengenaskan terlebih satu tangannya sampai putus seperti itu.
“Tangannya terlindas kereta sampai putus. Tubuhnya juga terseret cukup jauh karena itu dia berlumuran darah.”
Geundis kembali membekap mulutnya, sungguh dia ingin muntah sekarang saat membayangkan hal tragis yang menimpa jenazah itu sebelum tewas.
“Sebelum membersihkan tubuhnya, kita harus menyambungkan dulu tangannya yang putus,” kata Davin sembari tangannya gesit mengambil jarum dan benang untuk menyambungkan kembali tangan yang putus itu dengan menjahitnya.
Geundis benar-benar tak tahan melihat jenazah itu, jika boleh jujur dia ingin segera pergi dari ruangan ini. Tapi mengingat kembali tujuan awalnya bekerja di sini, dia berusaha menguatkan diri agar bisa bertahan.
“Jangan melamun. Perhatikan baik-baik karena aku hanya akan mengajarimu satu kali. Tidak ada pengulangan.”
“Eh? Kenapa begitu? Aku kira kamu bakalan nemenin aku dulu sampai aku benar-benar bisa?”
Davin berdecak sembari bersedekap d**a, kedua matanya memicing tajam membuat Geundis lagi-lagi menelan saliva tanpa disadarinya. “Asal kamu tahu, tugas aku itu banyak. Kamu pikir cuma satu jenazah yang aku mandiin tiap hari? Alasan kamu ditugasin di tempat ini karena untuk membantu aku menangani jenazah. Paham?”
“Tapi mana mungkin aku langsung bisa hanya diajari sekali. Apalagi ini pengalaman pertamaku mengurus dan memandikan jenazah,” sahut Geundis sambil memasang raut memelas.
Davin mendengus keras, “Dasar merepotkan.”
“Apa kamu bilang?” Geundis tak terima tentu saja.
“OK. Aku ajari kamu dua hari. Setelah itu kamu harus menangani jenazah sendiri. Kita punya tugas masing-masing. Aku tidak punya waktu luang sebanyak itu buat ngajarin kamu. Makanya perhatikan baik-baik dan punya mulut itu jangan banyak bertanya. Biasanya orang yang banyak ngomong, susah bisa fokus kerja. Gunakan otak kamu untuk berpikir dan mencerna semua yang aku ajarkan nanti. Pakai mata kamu buat memperhatikan semua yang aku lakukan saat memandikan jenazah ini. Dan punya mulut mendingan ditutup aja rapat-rapat, jujur aku tidak suka keributan apalagi berada dalam satu ruangan dengan orang yang cerewet.”
Geundis meringis, pria yang baru dikenalnya ini sudah berani bicara kasar padanya sejak tadi. Bagaimana jadinya jika setiap hari dirinya harus berurusan dan berinteraksi dengan pria itu, memikirkannya membuat Geundis bergidik ngeri.
“Aku akan mulai menjahit tangannya, kamu perhatikan baik-baik,” tambah Davin yang membuat lamunan Geundis buyar seketika.
“OK,” jawab Geundis memilih patuh daripada harus mendengar kata-kata pedas pria itu lagi.
Davin pun memulai pekerjaannya menjahit tangan kiri sang jenazah yang terpisah dari bagian siku. Dengan telaten dia menjahit seolah sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti itu. Saat sedang fokus-fokusnya memperhatikan, Geundis tersentak saat Davin tiba-tiba mengulurkan jarum dan benang padanya.
“K-Kenapa?” tanya Geundis, tak paham.
“Ck, masih nanya lagi? Udah jelas kan sekarang giliran kamu yang jahit. Kamu terusin sampai selesai.”
“Kenapa aku yang melanjutkan?” Geundis menunjuk dirinya sendiri. “Aku pikir tugasku sekarang cuma merhatiin yang kamu ajarin.”
Davin berdecak kali ini, “Ya, tidak dong. Kamu juga harus coba. Lagian kamu ini suster, kan? Harusnya kamu bisa menjahit pasien. Kalau kamu tidak bisa, aku jadi meragukan kamu ini beneran suster atau bukan sih?”
Geundis tak kuasa lagi menahan emosinya yang sejak tadi dia tahan karena mencoba bersabar meski pria di hadapannya itu terus mengatakan kata-kata pedas padanya. Tapi semut jika diinjak pun akan menggigit juga, itulah yang dilakukan Geundis sekarang karena kesabarannya sudah diambang batas.
“Maaf ya, Ners Davin. Ini hari pertama pertemuan kita sekaligus kita baru saja berkenalan. Bisa anda menjaga sopan santun dan cara berbicara anda?”
Alih-alih menyadari dirinya sudah keterlaluan, Davin justru mendengus keras, “Emang kamu dari tadi sopan? Tidak, kan? Udahlah, tidak perlu basa-basi pakai bahasa formal segala. Lagian kamu sendiri yang lebih dulu marah-marah, banyak bertanya, mengeluh dan cerewet lagi. Jadi jangan menyalahkan aku kalau aku tegas supaya kamu diem dan serius menjalankan tugas.”
Gaundis sudah membuka mulut hendak membalas, namun diurungkannya saat sadar bertengkar di hari pertama berkenalan bukan ide yang bagus. Terlebih kelak, pria itu akan menjadi rekannya. Setiap hari mereka akan bertemu dan berinteraksi. Tak ingin bermusuhan dengan rekannya sendiri, Geundis memilih mengalah. Dia pun menerima jarum dan benang yang tadi diulurkan Davin lalu menggantikan pria itu menjahit lengan si jenazah yang belum diselesaikan Davin.
“Nah, begitu. Kan enak kalau kamu tidak cerewet dan banyak nanya. Ingat ya, aku ini senior kamu di sini.”
“Iya, senior. Maaf,” balas Geundis ketus tanpa mengalihkan tatapannya dari lengan jenazah yang sedang dijahitnya.
Davin tak lagi bersuara, dia memerhatikan dalam diam saat Geundis dengan begitu serius menjahit lengan itu. Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit, tangan yang putus itu kini sudah tersambung kembali.
“Sekarang kita bersihkan tubuhnya,” kata Davin langsung ke intinya karena tak ingin berbasa-basi dengan Geundis.
Geundis tak menyahut, tapi dia memerhatikan dengan seksama saat Davin membasuh tubuh jenazah yang berlumuran darah itu dengan air yang mengalir dari selang. Setelah itu, Davin memakaikan sabun di sekujur tubuh jenazah.
“Bisa kamu bantu aku memberi shampoo di rambutnya?”
Geundis nyaris melontarkan protes namun tak jadi karena ingat kelak seperti itulah tugasnya. Membersihkan rambut jenazah tentu menjadi tugas penting yang tidak bisa dia tinggalkan. Geundis menurut, dia dengan telaten mengoleskan shampoo pada rambut jenazah pria tersebut.
Dan seharian itu yang Geundis lakukan di rumah sakit hanya belajar cara memandikan jenazah bersama Davin yang galak dan bermulut pedas.
***
Semenjak dirinya mengetahui ditempatkan sebagai orang yang bertugas memandikan jenazah, Geundis belum sempat menanyakan atau meminta penjelasan pada Aarav. Karena tunangannya itu sangat sibuk bekerja, banyak operasi yang harus dia lakukan sehingga hampir dua hari ini Geundis belum bertemu dengannya.
Ini adalah hari kedua Geundis belajar dan berlatih memandikan jenazah. Namun berbeda dengan kemarin yang dia masih melakukannya berdua bersama Davin, kali ini Davin menyuruh Geundis melakukannya sendiri. Sedangkan pria itu memerhatikannya bagai guru killer yang akan langsung mengeluarkan muridnya dari kelas jika ketahuan menyontek. Geundis bergidik bukan karena dirinya takut akan memandikan jenazah, melainkan karena tatapan Davin yang teramat tajam seolah sinar laser bisa kapan pun keluar dari kedua mata itu.
Sesosok tubuh yang sudah tak bernyawa terbujur kaku di atas meja. Jenazah seorang wanita yang dari segi penampilan lebih baik dibandingkan jasad pria yang tangannya putus kemarin karena tergilas kereta.
Geundis sudah mempersiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkannya untuk memandikan jenazah tersebut. Dirinya sudah mengenakan sarung tangan, masker, lengkap dengan penutup kepala untuk merapikan rambutnya.
Sebelum mulai memandikan jenazah itu, fokus Geundis tertuju pada sekujur tubuh jenazah wanita yang berlumuran darah karena banyak luka sayatan benda tajam nyaris di beberapa titik vital tubuhnya. p******a, perut, paha bahkan di wajahnya pun terdapat luka sayatan.
“Apa yang terjadi pada jenazah ini? Kenapa tubuhnya penuh luka sayatan?” tanya gadis itu pada Davin. Namun alih-alih memberikan jawaban, hanya gelengan kepala yang diberikan Davin sebagai tanggapan.
“Kamu lupa yang aku katakan kemarin?”
Satu alis Geundis terangkat naik, “Kata-kata kamu yang mana?”
“Ck, aku sudah bilang padamu, baca dan periksa dulu surat pengantar yang diberikan perawat padamu. Di surat itu tertera semua informasi tentang jenazah ini termasuk alasannya meninggal. Surat itu juga menegaskan pihak keluarga jenazah sudah memberi izin untuk dimandikan di rumah sakit.”
Geundis tiba-tiba menyengir lebar, “Oh, iya. Maaf, aku lupa. Ya sudah, aku baca dulu surat keterangannya.”
Karena tak ingin mendapat omelan lagi, Geundis berjalan cepat menuju meja lain dimana surat itu tergeletak. Dia pun membaca semua informasi tentang jenazah yang tertera di dalam surat. Sedikit meringis setelah mengetahui kondisi jenazah penuh luka sayatan karena dia dibunuh oleh kekasihnya sendiri setelah mereka bertengkar hebat karena kekasihnya tertangkap basah memiliki selingkuhan.
“Haah, kasihan sekali jenazah itu,” gumamnya pelan sembari meletakan kembali surat tersebut di atas meja. Namun keganjilan terjadi saat tiba-tiba Geundis merasakan bulu kuduknya meremang.
Sssshhh!
Geundis tersentak, cepat-cepat dia menoleh ke arah belakang begitu merasakan seolah ada seseorang yang bernapas tepat di belakangnya. Namun nihil karena tak ada seorang pun di belakangnya.
“Lama sekali baca suratnya? Cepat ke sini!”
Geundis yang awalnya tengah menggulirkan mata untuk menatap sekeliling itu pun cepat-cepat berjalan menghampiri Davin setelah mendengar teriakan pria itu.
“Dav, kamu merasa di ruangan ini lebih dingin dari sebelumnya tidak? Terus tiba-tiba bulu kuduk berdiri?” tanya Geundis sembari memegangi tengkuknya yang masih merinding. “Aku juga tadi seperti mendengar seseorang bernapas di dekat telinga aku deh.”
“Kapan kamu merasakannya?”
“Barusan udah baca surat keterangan jenazah ini.”
Davin mendengus pelan, “Cuma perasaan kamu aja mungkin karena aku tidak merasakan apa-apa tuh. Atau bisa jadi arwah jasad ini tidak suka karena kamu baca-baca informasi tentang dia.”
Seketika Geundis terbelalak, “Jangan sembarangan kamu. Mana mungkin begitu.”
Davin berniat menyahut hingga mulutnya sudah terbuka namun urung karena ponsel dalam saku celananya tiba-tiba bergetar. “Sori ya, aku keluar sebentar. Ada telepon,” katanya sembari memberi isyarat dengan mengangkat ponselnya. “Kamu mulai aja mandiin jenazahnya supaya cepet beres. Awas aja kalau aku kembali, kamu belum melakukan apa pun.”
“Isshh, cowok nyebelin itu suka seenak jidat kalau nyuruh-nyuruh,” gumam Geundis pelan dan tak mungkin didengar Davin karena pria itu sudah melenggang pergi meninggalkan Geundis berduaan saja dengan jenazah.
“Ya udah deh, aku mulai aja mandiin jenazah ini.”
Geundis pun mulai menyiram tubuh jenazah yang berlumuran darah kering itu dengan air dari selang. Di saat dia hendak memberikan sabun, hal ganjil tadi kembali terjadi. Dia merasakan hawa di dalam ruangan tiba-tiba lebih dingin dibanding sebelumnya.
Ssshhh!
Lagi, suara seseorang bernapas terdengar jelas di telinga Geundis bahkan embusan napas seseorang di belakang terasa menerpa kulit lehernya. Tubuh Geundis tiba-tiba gemetaran saking takutnya, ini pengalaman pertamanya merasakan kondisi mencekam seperti ini.
“Ini pasti cuma halusinasiku aja. Ya, cuma halusinasi karena aku kebanyakan nonton film horor,” gumam Geundis, mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Geundis kembali memakaikan sabun di tubuh jasad tanpa memedulikan semua keanehan yang sedang dia rasakan. Namun ...
Sakit. Tolong ... sakit.
Seketika Geundis menjerit histeris, suara seorang wanita jelas-jelas didengarnya baru saja mengatakan hal seperti itu dengan nada lirih bagaikan sedang menahan sakit.
“Ada apa? Kenapa teriak-teriak? Suara teriakan kamu sampai kedengeran ke depan, tahu?” tanya Davin ketus begitu dia kembali menghampiri Geundis yang sedang berjongkok sambil menutupi telinga dengan telapak tangan, di dekat meja jenazah dibaringkan.
“Aku barusan denger ada yang ngomong gini di dekat telinga aku ‘Sakit. Tolong, sakit’, itu siapa coba yang ngomong begitu padahal tidak ada siapa-siapa di sini selain aku?”
Davin berdecak, “Udah jelas, kan? Mungkin arwah jenazah itu yang bilang begitu.”
Geundis terbelalak karena Davin dengan santainya menjawab demikian.
“Wajar jika ada aja kejadian aneh waktu mandiin jenazah. Kamu sebagai orang yang bertugas memandikan jenazah harus kuat mental. Harus mulai membiasakan diri.”
“J-Jangan bilang kamu juga sering ngalamin kejadian serem kayak aku barusan?” Melihat Davin hanya menganggukan kepala, Geundis semakin dibuat merinding.
“Kamu harus belajar berani. Ingat, besok kamu harus mulai bekerja.”
“A-Apa maksudnya aku besok mulai bekerja?”
Davin berdecak kesal, “Aku udah bilang kan cuma ngajarin kamu dua hari aja. Jadi besok kamu harus mulai bekerja.”
“Maksudnya aku memandikan jenazahnya sendiri tanpa bantuan atau ditemani sama kamu?”
Davin mengangguk tegas membuat Geundis seolah membeku di tempat, takut luar biasa membayangkan entah kejadian menyeramkan apa yang akan dialaminya besok. Dan yang menjadi pertanyaan terbesar Geundis, sanggupkah dia melakukannya, memandikan jenazah seorang diri di ruangan yang luas dan begitu mencekam ini?