Ketiga pria yang sepertinya teman Ansell itu berjalan menghampiri kami. Aku mulai takut apalagi jika melihat tatapan mereka yang terlihat jelas berniat jahat padaku. “Sell, bukankah dia ini pacarmu? Aku pernah melihat kalian berjalan sambil bergandengan tangan di depan kampus,” tanya salah satu teman Ansell. Ansell mendecih, raut wajahnya terlihat tak suka mendengar pertanyaan temannya tersebut. “Yang kau lihat itu hanya sandiwara, mana mungkin aku mau berpacaran dengan wanita aneh dan tidak jelas seperti dia,” sahutnya seraya menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya. “Aneh? Padahal menurutku dia cantik dan menarik.” Teman Ansell yang lain menimpali. “Huh, kau bicara begitu karena tidak tahu tindakan jahat apa yang sudah dilakukan wanita ini pada kakakku dan suaminya.” “Memangnya apa

