“Pak, bisa nggak kalau minta tolong dengan nada yang enak didengar? Sama tolong tatap lawan bicaranya.”
Rahang Birzy mengeras mendengar kalimat itu. Dia mengangkat wajah, mendapati wajah Bevi yang memerah. Lelaki itu seketika berdiri dengan gaya angkuh. “Kenapa kamu nasihatin saya?”
Bevi menggeleng pelan. “Saya nggak nasihatin, cuma ngasih tahu aja. Syukur-syukur kalau Bapak dengerin ucapan saya.”
“Apa maksudmu ngomong kayak gitu?” Birzy mendekat hingga berdiri di depan Bevi. Matanya bertemu pandang dengan mata kecokelatan itu. Dia membuang muka, memilih menatap ke arah jendela yang menampilkan langit gelap.
“Sudahlah. Lupain aja!” Bevi hendak pergi, tapi pergelangan tangannya dicekal oleh Birzy. Dia mengangkat wajah, ternyata lelaki di depannya masih membuang muka.
“Terserah saya mau melakukan apa. Kamu nggak ada hak atas hidup saya.”
Kalimat itu seolah menampar Bevi keras-keras. Dia tersadar apa yang barusan dia lakukan, memarahi bosnya. Padahal, dia tahu Birzy tipe bos yang suka seenaknya sendiri. Bevi menarik napas panjang, lelah membuatnya tidak bisa berpikir jernih. “Iya saya mengerti.” Gadis itu menarik tangannya tapi cekalan Birzy semakin mengerat.
Birzy menoleh. “Cukup kerjakan apa yang saya perintahkan!” Dia melepas cekalannya lalu kembali ke meja kerjanya.
Bevi menyentuh tangannya yang terasa memanas. Dia menatap Birzy yang terlihat semakin menyebalkan itu. Sebelum dia kembali emosi, dia segera keluar dari ruangan.
“Birzy!” Teriakan itu tiba-tiba terdengar.
Pandangan Bevi terarah ke depan, melihat lelaki dengan kancing kemeja yang telah dilepas hingga memperlihatkan kaus tipis yang dikenakan. Bevi tersenyum ke lelaki itu, kemudian mendekati Risyad.
“Loh, anak magang ternyata di sini?” Raka memperhatikan Bevi yang duduk memunggunginya itu. Dia menunjuk ke arah ruang kerja Birzy lalu menunjuk ke arah Bevi. “Bantuin Birzy?”
Risyad berdiri. “Bevi membantu saya, Pak,” jawabnya. “Pak Birzy ada di dalam.”
Raka manggut-manggut dengan wajah bingung. Dia memperhatikan Bevi, bahu gadis itu terlihat naik turun. Dia mulai penasaran apa yang sebenarnya terjadi. “Semangat kerjanya!” Setelah mengucapkan itu dia berjalan masuk.
Birzy memperhatikan Raka yang berpenampilan terlalu kasual itu. “Ini kantor, tolong pakaian lo.”
“Udah di luar jam kerja!” Raka menarik kursi di hadapan Birzy. Dia memiringkan kepala, memperhatikan sahabatnya yang sedang menyeruput kopi itu. “Jadi, anak magang itu bantuin Risyad?”
“Menurut lo?” Birzy meletakkan cangkir lalu memperhatikan Raka. “Lo ke sini mau ngomong apa?”
Raka menggaruk belakang kepala. “Kerjaan gue udah selesai, udah gue email.”
“Nanti gue cek!” Birzy duduk bersandar, wajahnya terlihat begitu lelah.
“Kok tiba-tiba anak magang itu bantuin Risyad? Lo nggak takut?” Raka kembali membahas Bevi.
Birzy mengurut pelipis. “Takut apa maksud lo?”
“Takut Risyad naksir Bevi, lah!” Raka menahan tawa. Sedetik kemudian, dia tersadar jika Birzy tidak banyak merespons. “Lo emang nggak takut?”
“Dari wajah gue emang terlihat takut?” Birzy sedikit mengangkat dagu. “Terserah kalau akhirnya mereka jatuh cinta. Gue juga nggak mungkin jatuh cinta sama dia.”
“Masa?” Raka berdiri lalu setengah membungkuk ke arah Birzy. Dia tersenyum melihat Birzy yang membuang muka sambil melonggarkan dasi itu. “Kalau ujungnya lo yang jatuh cinta gimana?”
Birzy menggeleng tegas. “Nggak mungkin.” Kakinya menendang ujung meja, hingga kursi yang dia duduki bergerak. “Lo bisa keluar sekarang?”
Raka memperhatikan Birzy yang pura-pura sibuk itu. “Jangan berusaha nutup-nutupi, lo tahu gue udah kenal lo dari lama. Gue nggak bakal ketipu sama tampang dingin lo.”
Tubuh Birzy terasa panas. Dia menoleh, matanya menajam menatap Raka. Sedangkan yang ditatap justru tersenyum kecil. “Keluar!”
“Nggak mau!” Raka menggeleng tegas. “Hahaha. Kenapa lo jadi salah tingkah, sih? Udah ada rasa emang sama dia?”
“Enggak!” Birzy mengambil hiasan meja dan mengarahkan ke Raka. “Gue lempar, nih!”
“Jangan kasar-kasar!” Raka seketika berdiri. “Jadi, udah ada rasa, nih?”
Birzy mulai kehilangan kesabaran. “Keluar!”
“Iya... Iya...” Raka berlari keluar sebelum sahabatnya itu mengamuk.
Brak! Birzy menutup pintu dengan kencang. Tidak lupa, dia mengunci pintu dari dalam tidak ingin Raka tiba-tiba masuk dan menggodanya.
Di depan pintu, Raka masih terbahak karena berhasil mengerjai sahabatnya. “Jangan capek-capek lemburnya, Sayang! Selalu jaga diri.”
Risyad yang hafal tabiat Raka hanya menahan tawa. Sedangkan Bevi menatap Raka penuh selidik. Gadis itu tidak tahu hubungan Raka dengan Birzy seperti apa.
Raka merasa ada yang memperhatikannya. Dia menoleh, melihat Bevi yang menatapnya penuh selidik. “Lo juga, jangan capek-capek ya, Sayang!” Dia mengedipkan mata kemudian berjalan menjauh.
Bevi masih cukup kaget dengan tindakan barusan. Dia hanya geleng-geleng lalu melanjutkan pekerjaannya.
***
“Gue harap lo jangan bikin dia marah.”
Bevi mendongak ke Risyad. “Emang kenapa? Kalau kita nggak salah, kita harus membela diri.”
Risyad mengangguk. Dia berjalan santai sambil sesekali menatap Bevi. “Tapi kalau ngomong sama Pak Birzy nggak bisa dengan nada keras. Bisa-bisa lo kena marah.”
“Hmm....” Bevi berjalan sambil bersedekap. “Apa lo denger omongan gue tadi?”
“Ya. Lo coba kasih tahu Pak Birzy, kan?” Risyad menghentikan langkah. Dia memperhatikan rambut Bevi yang mulai kusut. Jelas, sekarang pukul sepuluh malam dan mereka baru keluar dari kantor.
Bevi menatap Risyad lalu mengangguk. “Gue juga salah terlalu ikut campur. Padahal status gue masih pegawai magang.”
“Tapi patut diapresiasi.”
“Apa?” Bevi berdiri tegak. Dia melihat seulas senyum terbit di bibir Risyad. “Maksud lo apa?” tanyanya karena Risyad berjalan lebih dulu.
Risyad tersenyum. “Cuma lo yang berani ngomong gitu ke Pak Birzy. Dan cuma lo yang berani satu lift sama Pak Birzy.”
“Aish!” Bevi geleng-geleng. “Karyawan lain terlalu mendewakan Pak Birzy, padahal dia juga sama-sama manusia.”
“Lebih tepatnya kami takut ke Pak Birzy. Lo tahu sendiri orangnya terlalu dingin kayak gitu. Daripada canggung deket dia mending pergi,” jelas Risyad. “Yah, meski akhirnya gue bisa sih deket sama dia.”
Bevi meninju lengan Risyad. “Lo kayaknya udah betah. Berapa tahun kerja di sana?”
“Lima tahun.” Risyad menjawab dengan senyum getir. Dia terbayang saat awal bekerja bersama Birzy. “Dulu dia nggak sedingin itu.”
“Maksud lo?” Bevi menghadang Risyad. Dia mengernyit kala teman barunya itu membuang muka. “Birzy dulu nggak gitu?”
Risyad bergeser. “Pulang, yuk! Makin malem, besok kita harus kerja lagi.”
Bevi berbalik, menatap Risyad yang berjalan cepat menjauhinya itu. “Hei! Maksudnya dia nggak sedingin itu apa? Gue penasaran!” Dia berlari mengejar Risyad.
“Bukan apa-apa!” Risyad berlari menjauh dari Bevi.
Tanpa mereka ketahui, sebuah mobil melaju pelan tidak jauh dari mereka. Birzy melihat interaksi antara Bevi dan Risyad. Mereka baru sehari bekerja sama, tapi terlihat cukup akrab. Birzy tersenyum kecil, lalu menambah kecepatan mobilnya. Saat melewati halte, dia melihat Bevi yang mendorong pundak Risyad seolah sedang membujuk.
Birzy kembali menatap depan dan ekspresi wajahnya terlihat dingin. Dia teringat kalimat Bevi tadi. Gadis itu memakinya karena dia terlalu semena-mena. Sayangnya, cara Bevi memberitahunya kurang tepat. Birzy merasa gadis itu terlalu ikut campur.
Selama empat tahun terakhir, Birzy tidak dekat dengan gadis manapun. Lalu tiba-tiba Bevi muncul dengan kejadian-kejadian yang membuat Birzy marah. Dia selalu bersikap dingin kepada Bevi tapi gadis itu tetap tahan dengan sikap dinginnya. Banyak wanita yang akhirnya mundur teratur karena Birzy terlalu dingin. Birzy justru merasa lega, karena tidak perlu repot-repot meminta menjauh. Ini semua dia lakukan untuk menjaga hati.
***
Pukul enam pagi, Birzy terbangun. Dia mengucek mata lalu menatap foto yang berada di atas nakas. “Good morning.” Dia turun dari ranjang lalu menuju kamar mandi. Begitulah aktivitas Birzy saat pagi hari, selalu menyapa sebuah foto yang selalu ada di nakas.
Jika mengingat Birzy adalah bos yang dingin, memang sedikit aneh karena dia menyapa sebuah foto. Namun, apa yang diperlihatkan di depan orang belum tentu itu kepribadian yang sesungguhnya. Terlebih, foto itu adalah foto seseorang yang sangat Birzy hormati.
“Birzy! Gue dateng, nih!”
Birzy yang sedang membasuh wajah langsung tersentak. Dia memakai kimono handuk lalu keluar kamar. “Lo ngapain pagi-pagi ke sini?” Pandangannya tertuju ke lelaki bertelanjang d**a yang berbaring di sofa itu.
Raka mengangkat wajah. Dia tersenyum melihat wajah segar sahabatnya itu. “Kalau kayak gini lo kelihatan ganteng, Bir!”
“Jangan ngomong gitu! Kalau ada yang denger bisa salah paham!” Birzy berjalan menuju dapur, mengambil air hangat lalu menyerahkan ke Raka. “Bersihin dulu luka lo.”
“Lo emang sahabat yang pengertian.” Raka bangkit sambil merintih. Dia mulai mengompres luka di perutnya. “Gue nggak berantem. Tiba-tiba ada yang mukul gue.”
Birzy mengembuskan napas. Dia duduk di sofa single, memperhatikan sudut bibir Raka yang sobek itu. “Mau sampai kapan lo kayak gini? Bisa nggak lo kurangi kehidupan malam lo? Untung lo kerja sama gue!”
“Sst!” Raka menggerakkan jari telunjuk ke kiri dan ke kanan. “Kalau di apartemen lo banyak omong, ya.”
“Gue marah lo selalu dateng kayak gini!” Birzy menghela napas sambil membuang muka. “Kali ini siapa musuh lo? Lo rebut cewek lagi?”
Raka geleng-geleng. “Gue nggak rebut tuh cewek. Dia aja yang deketin gue, terus pacarnya marah. Begonya tuh cowok mukul gue, harusnya jagain tuh ceweknya.”
“Lo juga salah. Jelas lo sambut kan tuh cewek?” Birzy sangat hafal dengan kebiasaan Raka. Sahabatnya itu memang tampan dengan senyum memikat. Sayangnya, kelebihan itu dimanfaatkan untuk bersenang-senang saja. Setiap malam Raka pergi ke kelab bersama para wanita. Berkali-kali lelaki itu terlibat pertengkaran, tapi tidak pernah kapok.
“Nggak usah bahas itu. Pusing kepala gue!” Raka menyandarkan tubuh. “Gue pinjem baju lo, ya! Capek kalau harus ke apartemen lo dulu.”
Birzy seketika berdiri. “Baju gue yang kemarin belum lo balikin.”
“Lo nggak akan miskin gue mintain baju terus, Bir!”
“Berisik!”
Raka terkekeh. Dia kembali berbaring. Seingatnya hari masih cukup pagi, masih ada waktu untuk terlelap sebentar. Saat dia hendak terlelap, sebuah pakaian terlempar ke arah wajahnya. Raka menarik kemeja itu dan mendongak. “Yang bagus, dong, kalau ngasih!”
Birzy heran kenapa bisa bersahabat dengan Raka. Sifat mereka berbeda, Birzy jauh lebih rapi sedangkan Raka lebih serampangan. “Gue bentar lagi berangkat.”
“Masih pagi.” Raka menatap arloji. “Masih jam setengah tujuh.”
“Banyak kerjaan yang harus gue selesaiin.” Setelah mengucapkan itu Birzy masuk ke kamar.
Raka bangkit dari posisinya. Dia masuk ke kamar Birzy dengan senyum menggoda. “Bilang aja pengen cepet ketemu anak magang itu. Gue bener, kan?”
Birzy sontak menoleh. “Gue sama sekali nggak tertarik sama dia,” jawabnya. “Lo jelas tahu siapa yang selama ini gue cintai!” Birzy menarik kemeja berwarna abu-abu lalu berjalan menuju kamar mandi.
“Ya, Bir, gue tahu,” jawab Raka dengan wajah sendu. “Gue tahu siapa yang lo cintai.” Dia berbalik sambil memegang perutnya yang terasa kaku.
***
Pagi ini Bevi terlambat datang ke kantor. Tidak sepenuhnya terlambat, karena tadi dia sudah sampai di halaman kantor, sebelum akhirnya Risyad menelepon untuk membelikan Birzy makanan. Bevi seketika ke kafe seberang yang antreannya sangat panjang, bertepatan dengan jam sarapan. Saat mengantre, berkali-kali Risyad menelepon. Bevi jelas semakin panik, takut kena marah.
“Permisi!” Bevi memegang dua kantong makanan sambil melewati beberapa karyawan lain yang juga telat. “Tunggu!” Dia berteriak saat pintu lift hendak tertutup.
Bevi segera masuk lalu mengembuskan napas lega. Dia melirik ke kiri dan ke kanan. “Selamat pagi.” Dia menyapa dengan ceria.
“Lo anak magang, kan?” Wanita di samping kiri Bevi bersuara.
“Iya. Salam kenal.”
“Gue denger, lo bantuin Pak Risyad.”
Bevi menoleh, mendapati lelaki yang sepertinya seumuran dengan Birzy. Gadis itu mengangguk dengan senyum ceria. “Iya. Ternyata berita udah menyebar secepat itu, ya.”
“Jarang-jarang ada anak magang langsung bantuin Pak Risyad.”
Tubuh Bevi seketika menegang. Dia berdiri menyerong menghadap kiri. Dia merasa wanita di sampingnya terdengar mengejeknya. “Emang kenapa? Pekerjaan Pak Risyad sangat banyak. Wajar, kan, kalau minta bantuan?”
“Lo godain Pak Risyad, ya?” Wanita di samping kanan Bevi berucap tajam.
“Atau jangan-jangan Pak Birzy juga?” tuduh wanita di samping kiri Bevi.
Bevi menggeleng tegas. “Gue nggak godain siapapun. Gue juga nggak tahu kenapa disuruh bantu Pak Risyad. Beneran, deh.”
“Udahlah, mana mau ngaku dia!”
Wajah Bevi memerah. Dia tidak terima dituduh menggoda. “Gue kasih tahu, ya! Gue nggak tertarik sama Pak Birzy! Apalagi sampai godain dia! Amit-amit!”
Tring! Pintu lift terbuka. Seorang lelaki berdiri di depan lift dengan sorot dingin.