“Saya butuh kamu.”
Bevi menoleh dengan wajah kaget. Pandangannya kemudian tertuju ke pergelangan tangannya yang digenggam Birzy. Gadis itu mengangkat wajah dan menyadari Birzy menatapnya tajam. Seketika dia menarik tangan itu dan menyembunyikan di balik tubuh. “Butuh bantuan apa?” Dia melirik ke arah meja. “Mau dibikinin kopi lagi”
Birzy menjentikkan jari. “Pinter.” Setelah mengucapkan itu dia kembali ke meja kerjanya. Saat menatap Bevi, dia mendapati gadis itu masih terdiam. “Nunggu apa lagi?”
Seketika Bevi tergagap. Dia menggeleng lalu mengambil cangkir kosong di atas meja. Tanpa banyak kata dia keluar. Wajahnya terlihat sebal, tapi dia tidak bisa mengungkapkan kemarahannya. Dia sendiri yang datang ke mari untuk mengkhawatirkan Birzy.
“Ah! Sebenarnya gue kenapa, sih?” Bevi meletakkan cangkir di tempat kotor, lalu menunduk. Harusnya dia pulang dan beristirahat di rumah, bukannya tetap di kantor. Dia tidak lembur, tidak seharusnya dia terlalu bekerja keras untuk membantu Birzy.
Bevi mengangkat wajah. “Setelah ini gue langsung balik.” Dia mengambil cangkir baru dan mulai membuatkan kopi untuk Birzy.
Beberapa menit kemudian, Bevi kembali dengan secangkir teh. Tanpa mengetuk pintu, dia langsung masuk dan meletakkan cangkir itu di meja. “Ini kopinya, Pak. Saya balik.”
“Siapa yang nyuruh kamu balik?” tanya Birzy tanpa menatap lawan bicaranya. Tangannya sibuk mencoret beberapa dokumen.
“Apa?” Bevi mengangkat wajah, memperhatikan Birzy yang terlihat serius itu.
Birzy tersenyum kecil. “Coba kamu periksa lagi.” Dia meletakkan berkas yang baru saja dia koreksi di meja ujung. “Cepat. Ini buat rapat besok.”
Bibir Bevi terbuka. Itu artinya dia tidak bisa pergi? Gadis itu menarik napas panjang. Dia menyesal telah datang ke mari.
“Menyesal?” Birzy bersedekap, memperhatikan Bevi yang terlihat ogah-ogahan itu. “Terus kenapa kamu ke sini?”
Kedua tangan Bevi terkepal. Harusnya dia tidak mengkhawatirkan bosnya yang dingin itu. Sekarang dia terjebak dan entah kapan bisa pergi. Bevi melirik arloji di tangan kiri, pukul enam lebih tiga puluh menit. “Tapi jam tujuh saya pulang.”
Birzy geleng-geleng. “Baru kali ini ada karyawan kayak kamu.”
“Pak, tapi saya bukan sekretaris Bapak. Saya ditugaskan di bagian akuntansi.”
“Tapi kamu masih karyawan magang, kan?” Birzy memajukan tubuh. Kedua tangannya saling menggenggam di bawah dagu. Pandangannya tertuju ke Bevi yang kesulitan menjawab pertanyaannya itu. “Karyawan magang paling suka dimintai tolong. Biar tahu kualitas mereka kayak apa.”
“Huh....” Bevi mengembuskan napas. “Ya udah saya bantu.”
“Ya udah?” Birzy mengernyit. “Kalimatmu seolah-olah kamu sedang terpaksa.” Dia mengambil dokumen lagi dan kembali memeriksanya.
Bevi mengusap d**a. Dia tidak ingin buang-buang tenaga untuk memarahi Birzy. Tanpa banyak protes gadis itu mendekat dan duduk di hadapan Birzy. Dia membuka berkas dan mendapati coretan bosnya. “Jadi, saya harus cek ulang?”
“Hmm.” Birzy menggeser kalkulator di sampingnya ke arah Bevi. “Jangan sampai salah.” Nadanya terdengar dingin.
“Iya. Saya ngerti.” Bevi mulai menghitung ulang laporan di hadapannya. Sesekali dia melirik bosnya yang terlihat serius itu. Alisnya hampir menyatu dan keningnya mengernyit. Ekspresi seperti itu membuat Bevi tersenyum. Sebenarnya dia tampan.
Birzy merasa Bevi diam-diam memperhatikannya. Dia mengangkat wajah dan menangkap basah Bevi. “Apa saya suruh kamu buat periksa wajah saya?”
Bevi menunduk sambil jemarinya bergerak di atas kalkulator.
“Yang bener. Kamu hitung apa itu?” Birzy melongok, melihat jemari Bevi yang bergerak asal. “Jangan sampai salah!”
“Iya!” Bevi menjawab dengan nada sebal. Dia memperhatikan bosnya yang terlihat kaget itu. Seketika dia menunduk, sadar telah berbuat salah. “Saya boleh kerjakan di luar?”
Birzy membuang muka. “Silakan.”
Bevi seketika berdiri. Dia mendekap berkas dan kalkulator itu lalu keluar dari ruangan. Dia merasa bisa bernapas lega saat di luar ruangan. “Ruangan itu bener-bener dingin. Ruangan raja kutub.” Dia geleng-geleng lalu duduk di sofa tunggu.
Di dalam ruangan, Birzy mengembuskan napas lega. Dia melepas jas dan menyampirkan di pinggiran kursi. Ruangan ini mendadak terasa gerah.
Dua puluh lima menit kemudian, Bevi kembali ke ruangan Birzy. “Sudah selesai, Pak. Ada yang bisa saya bantu lagi?”
Birzy menutup berkas terakhir lalu mengangkat wajah. “Kerjamu lambat. Saya sudah menyelesaikan sendiri.”
Bevi menelan ludah. “Saya boleh pulang?” Meski diejek bosnya, setidaknya dia senang karena bisa segera pulang.
“Ya!” Birzy berdiri, memakai jasnya kembali. “Besok jangan sampai telat!” Birzy berbalik, berjalan keluar lebih dulu.
Di posisinya Bevi terdiam. Dia kaget melihat bosnya yang sok itu. Tidak tahu terima kasih. “Ish!” Bevi melempar berkas di dekapannya lalu buru-buru keluar. Dia tidak tahan di ruangan dingin itu. Lembur yang menyebalkan.
***
Tin... Tin...
Bevi menghentikan langkah mendengar suara klakson yang terdengar dekat. Dia menoleh ke kiri, melihat sebuah mobil hitam berhenti. Tanpa repot-repot mendekat, dia melanjutkan langkah. Jelas itu hanya orang iseng, atau bahkan orang yang berniat jahat.
Tin... Tin... Suara klakson itu kembali terdengar.
Tidak ada respons dari Bevi. Dia justru mempercepat langkah hingga ke halte bus. Saat menoleh ke arah kanan, dia melihat mobil hitam itu masih terparkir. Mendadak Bevi diserang rasa takut. Dia bergeser sedikit menjauh, memilih berada di tengah-tengah penunggu bus lainnya.
Kedua tangan Bevi mulai terasa dingin. Dia takut, itu orang suruhan. Gadis itu melirik ke mobil tadi, dan mobil itu masih ada di sana. Seketika dia bergerak mundur, tidak ingin melihat wajah menyeramkan di balik mobil itu.
Brum...
Tak berapa lama kemudian, bus yang ditunggu Bevi datang. Dia buru-buru masuk, bahkan nekat menerobos beberapa antrean di depan. Dia langsung memilih tempat di tengah dan menutup kaca dengan tas slempangnya.
Saat bus itu melaju, Bevi mencuri pandang ke arah belakang. Mobil hitam itu masih berada di posisinya. Bevi mengembuskan napas lega. Setidaknya mobil itu tidak mengikutinya. “Kalau sampai ngikutin, gue nggak tahu harus bersembunyi di mana.”
Bevi duduk bersandar sambil mengusap d**a. Entah kapan kehidupannya yang seperti ini akan berakhir. Dia ingin hidup tenang seperti orang-orang. Dia ingin mendapat pekerjaan bagus tanpa disangkut pautkan dengan masa lalunya. Dia ingin seperti wanita pada umumnya yang mulai sibuk mencari pendamping. Entah kapan itu terjadi. Untuk sekarang, Bevi harus bekerja keras untuk bertahan hidup dan membayar kontrakan.
Sedangkan di posisi lain, Birzy duduk sambil mencengkeram kemudi. Dia melihat Bevi yang naik bus dengan terburu-buru. Sebelum itu, Bevi terlihat ketakutan dan terlihat bersembunyi. Birzy geleng-geleng, merasa gadis itu sudah berpikiran yang tidak-tidak.
“Ck!” Birzy mulai melajukan mobilnya. Awalnya dia ingin memberi Bevi tumpangan, tapi gadis itu malah menjauh. Ah, tapi setidaknya ini yang terbaik. Birzy tidak yakin jika harus mengantar Bevi pulang. Bisa-bisa sepanjang perjalanan mereka berdebat dan Birzy harus berusaha mati-matian agar tidak menatap Bevi.
“Huh....” Birzy mengembuskan napas kasar. “Syukurlah hal itu tidak terjadi.”
***
Pukul delapan kurang lima menit, Bevi baru sampai di kantor. Di tangan kirinya memegang segelas kopi instan sedangkan di tangan kanannya memegang roti. Gadis itu melewati beberapa karyawan dengan senyum khasnya. Setelah sampai ruangan, barulah dia menyapa teman-temannya. “Selamat pagi!”
Gatha menoleh, melihat Bevi yang memakan roti sambil berjalan itu. “Lo udah minta maaf sama Pak Birzy?”
Bevi mendengus atas pertanyaan itu. Dia duduk di kursi kerjanya lalu menegak kopi instan hingga tandas. “Udah Kak Gatha. Jadi, tenang aja.”
“Syukurlah kalau lo udah minta maaf. Tadi Pak Sony tanya ke gue.” Gatha memajukan wajah, memperhatikan kantung mata Bevi. “Lo kurang tidur, ya?”
Refleks Bevi menyentuh bagian bawah matanya. Dia ingat, semalam tidak bisa tidur lelap karena terus teringat mobil hitam itu. “Gue semalem nonton drama Korea.”
“Ck! Harus inget waktu, dong. Lo kan harus kerja.” Gatha geleng-geleng.
“Habisnya, drama yang gue tonton itu bagus. Lain kali gue bakal bagi waktu.” Bevi mengakhiri pembicaraan ini dengan senyum segaris. Dia mulai menyalakan komputer lalu tersadar, dia tidak tahu pekerjaannya hari ini apa. “Ada yang bisa gue bantu?”
Gatha menyodorkan notes kecil ke Bevi. “Pak Risyad nitip itu ke gue.”
“Pak Risyad?” Bevi menerima notes itu dengan kening mengernyit. “Pak Risyad itu yang mana lagi?”
“Sekretaris Pak Birzy.”
Bevi seketika duduk tegak. Dia membaca notes yang tertulis, lalu mengangkat wajah menatap Gatha. “Kak Gatha, jadi gue harus temuin Pak Risyad?”
Gatha mengangguk. “Dia minta bantuan anak magang. Di divisi ini anak magang cuma lo doang.”
Hari ini bantu saya. Bawa peralatan tulis, saya tunggu di lantai delapan.
Bevi membaca tulisan itu dengan ekspresi bingung. “Dia minta tolong apa, ya?”
“Mungkin, lo diminta pilih lipstick yang bagus atau dress yang cantik.” Gatha menjawab tanpa menatap Bevi. “Udah, deh sana! Banyak tanya lo.”
Bevi seketika berdiri. “Jangan ngajak bercanda di saat kayak gini.”
“Gue nggak bercanda!” jawab Gatha dengan mata melotot.
“Hehe.” Bevi tersenyum kecil lalu berjalan keluar. Seiring langkahnya, dia penasaran mengapa diminta sekretaris Birzy ke lantai delapan. Sedetik kemudian Bevi tersadar, apa mungkin kemarin dia salah mengecek dokumen? Gadis itu terlihat mulai was-was, lalu bergegas ke lantai delapan.
***
Dari kaca jendela, Birzy melihat seorang gadis dengan kemeja putih duduk membelakanginya. Gadis itu beberapa kali menggaruk belakang kepala, lalu mendongak menatap Risyad. Birzy menutup gorden lalu duduk di sofa single. Sebenarnya dia yang meminta Bevi agar membantu Risyad. Tadi pagi dia mengecek dokumen yang diperiksa Bevi, ternyata gadis itu cukup jeli dan memberikan catatan kecil yang tertempel di notes.
Atas dasar itulah Birzy ingin Bevi mengecek dokumen ulang. Dua hari lagi dia ada rapat pemegang saham. Dia tidak ingin ada yang salah dengan pekerjaannya. Selain itu, dia jarang meminta bantuan karyawan lain untuk urusan semacam ini. Biasanya Risyad yang mengecek ulang. Sayangnya, pekerjaan Risyad terlampau banyak.
Tok... Tok... Tok...
“Masuk!” Birzy duduk tegak lalu mengambil majalah bisnis yang tergeletak di atas meja.
“Ini beberapa dokumen yang perlu ditandatangani.” Risyad berjalan masuk dan meletakkan dokumen di atas meja.
Birzy mengambil pulpen dari saku dalam jasnya. Dia mengambil dokumen dan membubuhkan tanda tangan. “Anak magang itu cukup membantu?”
“Iya, Pak. Dia teliti dan gampang diajari.” Risyad tersenyum saat menerima uluran dokumen dari bosnya.
“Baguslah!” Birzy berdiri. “Lanjutkan. Semoga kalian bisa bekerja sama.”
“Iya, Pak!” Risyad bergerak mundur, lalu berbalik.
“Nanti lembur.”
Langkah Risyad seketika terhenti. Dia menoleh ke bosnya dan mengangguk pelan. Saat kembali menatap depan, dia mengembuskan napas. Jelas kata lembur adalah kata yang enggan didengar oleh para karyawan.
***
Bevi duduk bersedekap dengan satu kaki bergerak gelisah. Dia melirik ke arah pintu, menunggu Risyad yang belum juga keluar dari ruangan Birzy. Sekarang Bevi was-was takut Birzy memberi setumpuk pekerjaan. Seharian ini Bevi sangat sibuk, bahkan saat makan siang dia hanya puas makan di meja kerja.
Ceklek.... Risyad keluar dengan setumpuk dokumen di tangan. Dia meletakkan dokumen itu di hadapan Bevi dan meninju bagian atas. “Kalau bisa selesai malam ini.”
“Apa?” Bevi menatap dokumen di hadapannya lalu menatap Risyad. “Yang bener aja. Dia ngerjain kita atau gimana, sih?”
Risyad menahan tawa melihat Bevi yang begitu ekspresif. Dia menepuk pundak Bevi lalu berbisik. “Jangan keras-keras, nanti kedengeran.”
Bevi mengembuskan napas. “Tapi dia keterlaluan. Kita udah ngerjain banyak, loh!”
“Tapi kerjaan lain juga banyak.” Risyad duduk di meja kerjanya dan mengambil tumpukan paling atas. Dia tersenyum kecil ke Bevi yang duduk di hadapannya. “Biasanya cuma saya yang ngerjakan ini sendirian. Saya senang kamu bisa bantu.”
“Kalau kamu nggak sanggup, bilang aja ke dia. Harusnya dia memperkerjakan dua sekretaris kalau kerjaanmu kayak gini.” Bevi mulai memeriksa dokumen.
Kring. Dering telepon tiba-tiba berbunyi.
Bevi melirik Risyad. Dia ingat betul, tadi pagi penampilan lelaki itu sangat rapi. Sekarang rambut tegap Risyad mulai layu. Bahkan sorot mata Risyad juga terlihat lelah.
“Bev. Pak Birzy minta dibikinin kopi,” ujar Risyad.
“Kopi?” Bevi mengerucutkan bibir. Dia meletakkan dokumen dengan kasar lalu berdiri. “Emang dia nggak bisa bikin sendiri? Kerjaan gue juga banyak!” Gadis itu berjalan menuju pantry sambil mengomel.
Beberapa menit kemudian, Bevi masuk ke ruangan Birzy. Seperti biasa, ruangan itu selalu dingin seperti kutub. Gadis itu meletakkan kopi di atas meja lalu berbalik.
“Mulai besok kamu di sini.” Suara Birzy terdengar pelan.
Bevi menoleh, melihat Birzy yang menatapnya sambil bersedekap d**a itu. “Maksudnya?”
“Kamu di sini. Bantu Risyad,” jelas Birzy. “Besok kamu lembur lagi. Pastikan kondisi tubuhmu sedang prima.” Setelah mengucapkan itu Birzy membuang muka.
Wajah Bevi memerah. “Pak, bisa nggak kalau minta tolong dengan nada yang enak didengar? Sama tolong tatap lawan bicaranya.” Bevi melihat rahang Birzy mulai mengeras.