4- BOS GALAK!

1839 Words
Gadis itu berdiri di depan jendela dengan tangan kanan memegang air mineral. Pandangannya tertuju ke awan yang bergerak pelan, tapi pikirannya tertuju ke kejadian beberapa jam lalu. Bevi ingat saat Birzy berbicara dengan kepala HRD, kemudian dia diterima magang kerja. Bahkan wawancara tadi seolah hanya formalitas. Tangan kiri Bevi terkepal. Baru semalam dia memaki Birzy karena terlalu menunjukkan kekuasaan, sekarang lelaki itu kembali berulah. Bodohnya, Bevi mau-mau saja masuk ke kekuasaan lelaki itu. Hati kecilnya menolak atas keputusannya, yaitu bekerja di tempat Birzy. Namun, logikanya menolak. Bagaimanapun Bevi butuh pekerjaan. Uang tabungannya hampir habis dan dia tidak tahu lagi harus ke mana. “Bevi, kamu dipanggil Pak Birzy.” Tubuh Bevi seketika menegang. Dia berbalik dan mendapati Pak Sony—kepala HRD yang tadi berbincang dengan Birzy. “Em... Ada keperluan apa, ya, Pak?” “Kamu tadi ingin bertemu dia, kan?” Pak Sony yang memiliki mata sipit sedikit melebarkan matanya. “Jangan banyak tanya. Cepat temui Pak Birzy.” Bevi mengembuskan napas, lalu meletakkan air mineral di atas meja. Dia mengusap d**a, menyiapkan mental untuk menghadapi lelaki sok berkuasa itu. Kemudian dia melangkah mantap keluar dari ruang akuntansi. “Bevi....” Tiba-tiba Pak Sony memanggil. Seketika Bevi berbalik. Dia mendapati raut wajah Pak Sony yang terlihat khawatir. “Kenapa, Pak? Ada masalah?” Pak Sony melangkah mendekat. “Saya nggak tahu kamu ada masalah apa dengan Pak Birzy, tapi saya minta kamu hati-hati. Jangan buat Pak Birzy marah.” “Memang kenapa kalau saya buat Pak Birzy marah?” tanya Bevi terang-terangan. “Apa saya akan dipecat? Semudah itu baginya memecat karyawan?” “Mungkin. Kamu memang nggak malu langsung dipecat di hari pertama?” Pak Sony tersenyum kecil. “Dia bos kamu.” Setelah mengucapkan itu Pak Sony melewati Bevi begitu saja. Di posisinya, Bevi masih penasaran mengapa Pak Sony mengingatkannya tentang hal itu. Sedetik kemudian, dia tersenyum miring. Dia yakin jika Birzy bos kejam yang suka bertindak semuanya. “Baiklah. Kita lihat dia bos seperti apa.” Bevi membusungkan d**a lalu berjalan dengan langkah mantap. Beberapa menit kemudian, Bevi sampai di lantai delapan. Dia mengedarkan pandang, karena lorong sangat sepi. Dia terus melangkah, hingga mendapati sebuah meja besar dengan tumpukan kertas yang hampir memenuhi meja. “Permisi,” ujarnya sambil celingukan. “Ya. Ada yang bisa saya bantu?” Seorang lelaki dengan kemeja biru muncul dari tumpukan kertas. Matanya terlihat memerah tapi senyum itu terlihat lebar. Bevi tersenyum tipis. Dia menebak lelaki itu pasti kelelahan hingga tidak sadar ketiduran. “Bisa saya bertemu dengan Pak Birzy?” “Dengan Ibu Bevi? Silakan, Pak Birzy sudah menunggu.” Lelaki itu berjalan menuju pintu besar berwarna cokelat. Dia menggerakkan tangan meminta Bevi segera masuk. Perlahan Bevi melangkah mendekat. Tiba-tiba dia merasa ada embusan angin dingin yang melewati tengkuknya, kemudian dia merasa merinding. Jelas, gue mau ketemu lelaki dingin. Saat Bevi berdiri di depan pintu, dia mendapati Birzy sedang berdiri memunggunginya. Lelaki itu bertolak pinggang dengan kepala sedikit menengadah. Bevi mendengus pelan, merasa Birzy sangat sok berkuasa. “Jadi, ada keperluan apa Bapak meminta saya ke mari?” Suara itu membuat lamunan Birzy langsung terputus. Dia berbalik dan mendapati Bevi yang berdiri dengan penuh percaya diri. “Duduk. Nggak sopan ngomong di depan pintu,” ujarnya sambil menggerakkan tangan ke arah sofa. Bevi menurut. Posisi duduk menghindarkannya untuk terlalu emosi. Dia duduk di sofa single lalu perhatiannya tertuju ke Birzy yang masih berdiri itu. “Tidak sopan jika Anda berbicara dengan posisi seperti itu.” “Apa?” Birzy menunduk memperhatikan kedua tangannya yang masih bertolak pinggang. Dia lalu menatap Bevi yang terlihat tidak takut dengan kalimat yang telah diucapkan itu. “Memang kenapa kalau saya kayak gini? Kamu nggak suka?” Tipikal bos yang nggak mau disalahin, batin Bevi dengan senyum sinis. Dia mengubah senyumannya menjadi segaris lantas menjawab. “Tidak juga, itu terserah Bapak.” “Itu, kamu tahu.” Birzy berdiri tegak lalu mendekati Bevi. “Gimana hari pertama magang?” Satu alis Bevi tertarik ke atas. Tidak mungkin Birzy memanggilnya ke mari hanya untuk menanyakan itu. “Jangan basa-basi. Bapak ingin menyampaikan apa?” Birzy geleng-geleng. Gadis di depannya ternyata penuh percaya diri dan to the point. “Begini, kamu bilang saya sok berkuasa, tapi kamu menerima juga kekuasaan saya. Bukitnya, kamu di sini.” Tanpa sadar kedua tangan Bevi langsung meremas. “Karena saya butuh uang,” jawabnya lantang. “Kalau saya tidak bekerja, saya tidak dapat uang. Saya tidak bisa memenuhi kebutuhan saya. Karena itu saya berada di sini.” “Kamu nggak masalah berada di kekuasaan saya?” Birzy melirik Bevi yang mulai emosi. Dia duduk bersandar lalu menyilangkan satu kaki. “Saya pikir, kamu tetap bertahan pada pendirian.” “Bapak Birzy yang terhormat!” Bevi langsung berdiri. “Terserah Bapak mau bilang saya bagaimana. Intinya saya akan bertahan di sini, setidaknya sampai beberapa bulan ke depan. Setelah itu saya akan meninggalkan tempat ini. Karena saya tidak mau berada di bawah kekuasaan Pak Birzy.” Birzy mendongak. Matanya bertemu pandang dengan mata Bevi yang mulai kemerahan. Dia membuang muka lalu mengangguk pelan. “Semoga betah.” Bevi geram dengan kelakuan bos di depannya. Rasanya dia ingin mengundurkan diri dari sekarang, tapi dia ingat harus memenuhi kebutuhannya. Gadis itu menarik napas panjang, lalu memaksakan senyuman. “Ada lagi yang ingin dibicarakan, Bapak Birzy?” “Anggap kita nggak pernah bertemu,” ujar Birzy tanpa menatap lawan bicaranya. “Kenapa? Kita pernah bertemu di beberapa kali kesempatan dan Bapak sangat menyebalkan.” Bevi tanpa kenal takut mengungkapkan itu. “Atau, Bapak takut image Bapak buruk di hadapan karyawan lain? Tenang saja, saya bukan tipe orang yang menjatuhkan orang lain dengan cara seperti itu.” Setelah mengucapkan itu Bevi berjalan keluar. Dia bahkan menutup pintu dengan kencang. Brak.... Birzy menatap ke arah pintu. Dia geleng-geleng atas tindakan Bevi. Baru kali ini ada karyawan yang memakinya terang-terangan. Baru kali ini juga ada karyawan yang berani menutup pintunya dengan kencang lengkap dengan wajah penuh amarah. Birzy tersenyum geli. “Menarik.” Tok... Tok... Tok... “Masuk!” Birzy berdiri menatap ke arah pintu. Dia melihat Risyad—sekretarisnya—berdiri dengan wajah takut-takut. “Apa?” “Soal karyawan tadi. Pak Sony bilang karyawan baru itu belum tahu etika di perusahaan ini. Jadi, mohon maaf.” Risyad menunduk. Birzy mengembuskan napas. “Saya tidak marah. Pastikan tidak ada karyawan lain yang bisa bertindak seperti tadi.” “Iya, Pak.” Risyad buru-buru menutup pintu sebelum bosnya marah. Ruangan Birzy kembali sepi. Dia duduk di kursi kebesarannya dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Tanpa diminta pikirannya memutar kejadian tadi. Dia ingat jelas, wajah gadis itu menatapnya penuh amarah dengan pipi memerah.   ***   Tak.... Bevi menendang kerikil dengan flat shoes-nya. Dia berjalan sambil melipat kedua tangan di depan d**a. Wajahnya terlihat suntuk, padahal hari ini hari pertama dia bekerja. Ah, tapi bagaimana bisa dia tersenyum jika tahu bosnya menyebalkan seperti Birzy? “Sial! Kenapa dunia sesempit ini?” Bevi menghentikan langkah. Dia bertolak pinggang, menatap beberapa orang yang berjalan dengan wajah suntuk, sama seperti dirinya. “Apa mereka juga punya bos yang galak? Ah, sial!” Bevi kembali melangkah, sesekali dia menendang kerikil yang ada di hadapannya. Tiba-tiba dia terbayang wajah angkuh Birzy. Belum lagi kalimat sombong lelaki itu yang membuatnya naik darah. “Bos galak sialan!” “Siapa yang kamu maksud?” Suara berat itu tiba-tiba terdengar. Tubuh Bevi seketika menegang. Dia memejamkan mata sambil menarik bibirnya ke dalam. Tidak mungkin bos dingin itu berada di belakangnya. Bevi mengangguk, percaya dengan apa kata hatinya. Perlahan dia menoleh dan mendapati lelaki dengan kaca mata yang bertengger di atas kepala. Bevi seketika mengusap dadanya dengan lega. “Ternyata elo. Ngapain, sih, lo selalu muncul tiba-tiba?” “Gue nggak muncul tiba-tiba.” Raka menggerakkan tangan ke kafe di sebelah kanan. “Gue habis selesai meeting, terus lihat karyawan baru yang lagi frustrasi.” Bevi menatap Raka penuh selidik. “Jangan bilang lo juga kerja di tempat itu?” “Sayangnya gue emang kerja di sana,” jawab Raka sambil mengedipkan mata. Bevi mengusap sisi kepala. “Apa gue bilang? Dunia ini emang sempit. Kenapa, sih, gue harus ketemu lo sama temen lo yang nyebelin itu?” Raka menahan tawa. Menurutnya gadis di depannya sangat lucu. Di saat perempuan lain ingin mendekati Birzy, gadis di depannya justru memasang pagar agar tidak ada yang mendekat. “Jangan terlalu benci, nanti jadi cinta.” “Gue?” Bevi menunjuk dirinya sendiri. “Gue cinta sama Birzy-Birzy itu? Enggak, makasih. Dia kayak kutub. Sedangkan gue kayak ketel di atas kompor.” “Hot, dong.” Raka tersenyum jail. “Mau ngopi biar stres lo ilang?” Bevi menoleh ke arah kafe. Dia ingin seperti karyawan lain yang pergi ke kafe untuk melepas penat. Lalu dia mendongak, menebak harga di kafe itu pasti mahal. “Gue pengen pulang terus istirahat.” “Kenapa nggak istirahat di sini dulu?” Raka masih berusaha membujuk. “Enggak.” Bevi menggeleng sambil bergerak mundur. “Gue harus punya kekuatan lebih buat kerja di tempat kutub itu. Bye.” Dia melambaikan tangan kemudian melanjutkan langkah. Di posisinya, Raka menahan tawa. Sepertinya kantor tidak akan membosankan jika Bevi tetap berada di sana. “Semangat, Karyawan Magang!” Bevi menoleh sekilas lalu melambaikan tangan. Kata semangat dari lelaki itu seolah tidak ada artinya. Bevi merasa kehidupannya semakin terasa berat. Dia berharap bisa bertahan sampai tiga bulan ke depan karena posisinya masih karyawan magang. Setelah itu dia tidak berharap akan menjadi karyawan tetap. Bisa-bisa dia ikut membeku karena bosnya yang terlalu dingin. Memikirkan hal itu membuat Bevi tanpa sadar bergidik.   ***   Hari ini hari kedua Bevi bekerja. Sejak pagi dia menjaga mood agar tetap semangat. Sekarang, dia melangkah di lobi dengan senyum cerah. Beberapa kali dia memberikan senyum terbaiknya kepada beberapa karyawan yang lewat. “Selamat pagi,” sapanya sambil melambaikan tangan. Bevi tahu, beberapa karyawan menganggap tindakannya ini aneh. Namun, ini salah satu cara agar dia betah di tempat kerja. “Selamat pagi!” Dia menyapa seorang lelaki yang berdiri di depan lift. “Apa begitu caramu?” Senyum Bevi seketika pudar. Dia menoleh, matanya mengerjab beberapa kali. Saat menyadari siapa yang berdiri, Bevi langsung bergeser menjauh. “Selamat pagi,” sapanya tidak seceria sebelumnya. Birzy menoleh, heran karena Bevi mendadak diam. Dia melihat dari kaca yang mengelilingi pinggiran lift, jika gadis itu tersenyum kepada setiap karyawan. “Kenapa jadi muram?” Bevi mengembuskan napas. Dia menggaruk belakang tengkuk, lalu menatap Birzy. “Selamat pagi!” Kali ini dia menyapa lebih ceria dari sebelumnya. “Labil.” Birzy kembali menatap depan. Bertepatan dengan itu, pintu lift terbuka. Dia berjalan masuk dan dibuat kaget saat Bevi ikut masuk dengannya. “Ngapain?” Jari telunjuk Bevi terarah ke atas. “Ke lantai tiga.” Dia menekan angka tiga kemudian memilih berdiri di ujung. Birzy menekan angka delapan dan fokus melihat arah panah yang bergerak ke atas. Suasana sekitar mendadak canggung, tapi dia pura-pura tidak merasakan hal itu. Bevi menggigit ujung bibir. Dia ingat betul tadi ada karyawan yang menunggu antrean lift. Namun, tidak satupun yang ikut masuk dengannya. Gadis itu menegakkan tubuh lalu menatap lelaki yang memunggunginya. “Apa ada aturan karyawan tidak boleh satu lift dengan bos mereka?” “Menurutmu gimana?” Birzy menyandarkan siku di pegangan lift. “Ah, sial!” Bevi menepuk kening. Jelas, di kantor ini tidak memperbolehkan karyawan lain satu lift dengan bosnya. “Tapi, bukannya itu terlalu membeda-bedakan? Karyawan juga manusia. Anda tidak bisa bertindak seperti itu.” Tring... Pintu lift terbuka. Bevi berjalan keluar, lalu berbalik menatap Birzy. “Saya nggak akan minta maaf karena satu lift dengan Bapak.” Birzy tidak merespons. Saat pintu lift mulai tertutup dia tetap menatap ke depan. Dia menggaruk pelipis. Dia sendiri juga tidak tahu mengapa karyawan lain tidak ada yang mau satu lift dengannya. Tidak seperti yang dituduhkan Bevi.   ***   “Beneran lo tadi satu lift sama Pak Birzy?” Bevi mengangkat kepala, heran mengapa rekan kerjanya terus menanyakan itu. “Iya. Emang nggak boleh? Kita juga manusia sama kayak dia. Jangan mau diatur-atur kayak gini.” “Tapi, lo tahu, kan Pak Birzy itu siapa?” “Tahu! Bos kita, kan?” Bevi melanjutkan menginput laporan keuangan mingguan. “Bevi!” Gatha—karyawan yang duduknya di hadapan Bevi langsung berdiri. “Kami nggak mau satu lift dengan Pak Birzy karena auranya dingin. Bukan karena itu aturan atau dia yang membeda-bedakan.” “Oh.” Bevi merespons dengan santai. Namun, sedetik kemudian dia tersadar. “Jadi, bukan karena dia beda-bedain? Salah, dong, gue tadi maki-maki dia! Aduh, gimana, dong?” Bevi seketika berdiri dengan wajah panik. “Masa gue minta maaf?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD