BELENGGU Bab 22 Demian menghentikan mobilnya di depan rumah baru wanita itu. Ia mengambil payung dan membuka pintu mobil, menahan tubuh Zea agar tidak terkena tetesan hujan. Demian memeluk wanita itu sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Zea mengibaskan ujung rambutnya yang basah, kemudian berjalan mendekati Demian. wanita itu meraih payung yang digenggam Demian, menutupnya. “Ah, aku langsung pulang saja. Sudah larut, Jovanca pasti menungguku.” Demian berniat mengambil payung itu lagi, namun tangan Zea menahan lengannya, wanita itu cemberut, menggelengkan kepala, “masuk dulu sebentar, hujan masih sangat lebat. Setidaknya, minum teh hangat sebelum kau pulang. Temani aku sebentar, Demian.” “Tapi,” jawab Demian ragu. “Ayolah, sebentar saja. Bukankah di kantor, aku hampir tidak bisa

