Keesokan harinya Ara bangun lebih pagi dan langsung membuat sarapan. Rencananya ia akan membuat nasi goreng untuk sarapan pagi ini, beruntung hari ini ia tidak memiliki jadwal apapun hari ini sehingga membuatnya bisa lebih santai. Ia belum mandi dan juga belum memeriksa keadaan Devan, mungkin setelah membuat sarapan, ia akan memeriksanya. Kurang lebih setengah jam akhirnya nasi goreng sayuran dengan telur ceplok akhirnya jadi. Ia pun menata nasi goreng buatannya ke atas meja. “Oke, sekarang waktunya suruh Kak Devan untuk sarapan.” Ia pun pergi ke kamar tamu di mana Devan berada. Tok tok tok, “Kak, aku masuk ya.” Tidak ada jawaban dari dalam hingga akhirnya Ara langsung membuka pintu kamar dan mendapati Devan masih terlelap. Tangannya tergerak mengangkat kompresan yang masih melekat di

