"Ckk, pria yang hebat hingga bisa membuatmu berkorban sebesar itu untuknya," sungut Razor. Ia lalu mematikan mesin mobilnya dan kembali berpaling pada Alexa. "Jangan lupa! Mulai hari ini kau adalah Sugar Baby-ku!" pungkasnya. "Setiap minggu kau harus meluangkan waktu untukku. Sebagai gantinya, aku akan menjagamu dengan baik."
Alexa ingin memprotes. Namun Razor mengabaikan ucapannya dan kembali menghidupkan mesin mobilnya.
Saat mobil mulai melaju, Alexa kembali membuka mulutnya. "Om, aku rasa kita harus membicarakannya lagi!" tukasnya gemas, pada Razor yang memasang wajah acuh tak acuh. Pria itu, bagaimana mungkin pria yang sedang duduk di sampingnya ini bisa memutuskan kehidupan cintanya begitu saja tanpa bertanya terlebih dahulu padanya?
Dan juga, wanita seusia dirinya, mana mungkin, 'kan menjadikan seorang pria dewasa yang lebih pantas untuk menjadi pamannya sebagai pria simpanannya?
'Ini gila!' rutuk Alexa dalam hati.
"Kita sudah sampai."
Ucapan Razor itu membuyarkan semua kebingungan yang mengisi otak Alexa.
"Tunggu saja, jangan turun!" titah Razor sambil membuka pintu di sisi mobilnya.
Alexa menekuk wajahnya, namun ia menuruti permintaan Razor itu. Salah! Ia sengaja tidak turun karena kakinya masih terasa lemas dan gemetar. Entah kapan penderitaannya ini akan berakhir. Memikirkan hal itu, ia sontak menghela napas lelah. Sesaat kemudian, Alexa menengadah menatap Razor yang telah berdiri di sampingnya.
Sejak mereka meninggalkan kamar hotel, pria itu terus saja menggendongnya seakan ia seorang gadis kecil yang sedang bermanja dengan ayahnya.
"Om ingin menggendongku lagi? Sampai ke unitku?" lontarnya tak percaya ketika Razor membungkuk dan bersiap-siap ingin mengangkat tubuhnya.
"Apa kau sudah bisa jalan sendiri?"
Alexa terdiam, terpaksa membiarkan Razor mengangkat tubuhnya meski hal itu sangat memalukan untuknya. Terlebih di saat para tetangga unitnya yang kebetulan berada di luar unit mereka— melihatnya dengan tatapan merendahkan.
"Om?" cicitnya pada Razor yang telah mulai menaiki anak tangga dengan langkahnya yang tetap stabil. Alexa tidak tahu sekuat apa pria ini, namun Razor tidak pernah terlihat kesulitan menggendongnya ke mana-mana. "Apa mobil yang Om pakai— punya Om sendiri?"
"Kenapa?" tukas Razor. Diam-diam melirik wajah Alexa dengan sudut matanya.
"Bukankah itu Lamborghini?"
Dalam hati Razor tertawa mendengar pertanyaan itu. "Huracan," cetusnya.
"Aku tahu." Alexa mencebikkan bibirnya. Satu setengah tahun yang lalu, ia pernah meminta mobil seperti yang Razor kendarai pada kakeknya. Hanya saja kakeknya tidak setuju jika ia menyetir sendiri terutama untuk mobil sekelas Lamborghini. Saat itu alasan kakeknya menurutnya sangat klise.
"Kau selalu melakukan sesuatu yang sangat tidak masuk akal, bagaimana jika kau membawa mobil itu ke arena balap? Dengar! Cucu Kakek hanya satu, kau!"
"Jadi mobil itu benar-benar punya Om?"
"Hmm," sahut Razor.
"Kalau begitu, apakah semua pria bayaran itu seperti Om?"
Razor sontak terbatuk. Pria bayaran? Ia sama sekali tidak mengerti dari mana Alexa melihat dirinya sebagai pria bayaran?
'Ckk! Seandainya aku menghukumnya sekarang, berapa lama kira-kira aku harus berpuasa?' pikirnya.
"Ternyata kau benar-benar memiliki pria simpanan?!"
Teriakan itu yang berasal dari suara yang sangat familiar bagi Alexa, membuatnya langsung mengalihkan pandangannya dari wajah Razor ke arah asal suara tersebut. Pada jarak beberapa meter darinya, tepat di depan pintu unit apartemennya, ia menemukan Davin Howard, tunangannya, sedang berdiri sambil menatap tajam ke arahnya.
Tidak hanya Alexa, Razor yang juga mendengar teriakan pria itu ikut melemparkan pandangannya ke arah Davin. Ia tidak mengenal siapa pria itu, namun dari ucapan pria itu pada Alexa— ia menebak jika pria itu adalah pria yang telah menghubungi Alexa pagi ini. Suara mereka kebetulan terdengar sangat mirip.
"Davin?"
Mendengar gumaman Alexa— Razor reflek menurunkan pandangannya ke arah wanita itu yang tengah menatap pria yang baru saja berteriak padanya.
"Aku menunggumu hingga larut malam di room Klub," oceh Davin sembari menghampiri Alexa dengan wajah merah padam. "Tapi kau tidak datang!" seiring ia menghentikan langkahnya, Davin mengangkat wajahnya sedikit untuk menatap pria yang sedang menggendong Alexa saat ini. Pria itu hanya lebih tinggi beberapa senti darinya. Tetapi tubuh pria itu ... 'Lebih baik dariku? Hebat kau, Lex!' umpatnya dalam hati. "Apa kau membatalkan janjimu padaku karena pria ini?!" tunjuknya ke wajah Razor.
Razor menendang perut Davin hingga membuat pria itu terbungkuk dan serta merta bergerak mundur karena menahan sakit. Alasan ia melakukan hal itu adalah karena ia tidak suka jika ada seseorang yang menunjuk wajahnya. Bagi seorang Razor Spencer, jari telunjuk yang mengarah ke wajahnya adalah isyarat bahwa orang yang melakukan hal itu ingin dihancurkan olehnya.
"Ugh!" sembari meringis menahan sakit pada perutnya, Davin melemparkan tatapan penuh amarah ke arah Razor. Hanya dengan melihat penampilannya saja, dan merasakan pukulan pria itu, ia tahu jika Razor adalah seorang preman. Berandalan yang kerap melakukan kejahatan di luar sana. "Ja-di, dia adalah pria simpananmu? Seorang berandalan?" Davin tertawa, tapi kembali meringis saat ia merasakan perutnya kembali terasa sakit.
"Jika benar kenapa?" tantang Alexa sinis. Sejenak, ia mengalihkan pandangannya pada Razor. Memberi isyarat pada pria itu agar menurunkan dirinya.
"Kau yakin ingin turun?" tanya Razor memastikan.
Alexa mengangguk tegas.
Razor segera menurunkan wanita itu setelah ia melihat anggukan Alexa. Dan meski kaki Alexa sudah menginjak lantai, ia tetap menahan pinggang dan juga tubuh wanita itu dengan tubuhnya. Membiarkan Alexa bersandar padanya.
"Bagaimana?" tanyanya lagi, sedikit mencemaskan keadaan wanita itu.
"Sudah lebih baik, Om." Alexa menganggukkan kepalanya. Setelahnya, ia pun kembali menatap Davin.
"Om?" Davin menegakkan tubuhnya sembari tertawa sinis. "Jadi preman itu sudah berumur? Oh, tentu saja. Wanita sepertimu, 'kan tidak mungkin bisa memiliki pria simpanan yang lebih baik dariku."
"Aku baru 32 tahun," cetus Razor membenarkan. Sial! Apakah ia memang terlihat setua itu di mata Davin dan juga Alexa?
"Apa kau orang yang telah mengangkat teleponku pagi ini?"
"Memang aku." Jika bisa, sejujurnya Razor enggan melayani perkataan Davin. Namun, jika ia tidak mengusir pria ini secepatnya dari hadapan Alexa— wanita yang ia sukai ini akan merasa lemas karena terlalu lama berdiri.
"Lalu, apa benar dia telah membayarmu sebanyak 5000 pounds seperti ucapanmu padaku? Aku lihat ... kau tidak lebih baik dariku, setidaknya aku jauh lebih muda darimu dan lebih pantas untuknya." Davin mencoba memprovokasi, tetapi tidak berani mendekati Alexa. Tendangan pria yang berada di belakang Alexa saat ini ke perutnya tadi, terasa keras dan sangat menyakitkan. Padahal, ia melihat pria itu tidak tampak seperti mengerahkan tenaga padanya. 'Benar-benar pria yang sangat mengerikan,' bisiknya dalam hati.