Bab 12. Berbicara Pada Cassie

1017 Words
Alexa menatap Razor dengan wajah tak percaya saat ia telah selesai menjawab pertanyaan wanita itu. Bahkan, masih terus menatapnya dari jendela kamarnya ketika Razor memasuki huracan miliknya dan pergi meninggalkan halaman mansion Arnold Wilson. "Dia benar-benar sangat polos," gumam Razor sembari tersenyum smirk. Membayangkan ekspresi lugu Alexa itu. Wanita itu baru berusia 19 tahun, ia tahu itu. Tetapi Alexa adalah cucu dari Arnold Wilson, Billionaire nomor satu di Glasgow. Membuatnya berpikir keras tentang bagaimana Arnold memanjakan cucunya itu hingga Alexa masih saja bertingkah seperti gadis remaja. "Pantas saja pria seperti Davin bisa menipunya," dengusnya sebal. Teringat akan Davin— Razor langsung menghubungi Seth. "Seth, di mana kau?" "Di seberang Wilson Group, Bos." "Apa yang kau lakukan di sana?!" lontar Razor tak habis pikir. Ia ingat ia tidak meminta Seth melakukan sesuatu setelah pagi ini bawahannya itu menghubungi dirinya. "Aku dan Ian hanya sedang berjaga-jaga, Bos. Untuk memastikan kalau Bos tidak akan bertemu dengan Mr. Arnold ketika Bos mengantar cucu pria itu pulang ke Mansionnya. Untungnya, menurut informasi yang telah kami dapatkan, saat ini Mr. Arnold masih berada di Wilson Group. Jadi kami berjaga di sini. Jika pria itu pergi, aku akan segera melaporkannya pada Bos." Razor menghembuskan napas gusar atas ulah kedua bawahannya yang terkadang suka berinisiatif sendiri. Tapi ia tahu kalau apa yang dilakukan oleh Seth dan Ian selama ini adalah demi melindungi dirinya. "Aku tahu, tadi ketika aku dan Alex hampir sampai di Mansion pria itu, pihak Wilson Group tiba-tiba mengirimkan undangan by email kepada semua jajaran Dewan Direksi Wilson Group. Arnold Wilson memanggilku dan semua Dewan Direksi agar datang besok ke Wilson Group," tukas Razor. "Bos?" "Hmm." "Mungkinkah pria itu sudah mengetahui tentang apa yang telah terjadi pada cucunya semalam?" Razor juga sempat memikirkan hal yang sama ketika ia tiba-tiba menerima email dari pihak Wilson Group beberapa saat yang lalu. Namun, jika Arnold benar-benar sudah tahu bahwa ia telah meniduri Alexa, seharusnya pria itu tidak akan tinggal diam. Kemungkinan terburuknya, Arnold telah menunggu kedatangannya dan juga Alexa di mansionnya. "Tidak, sepertinya dia belum tahu apa-apa," cetus Razor, seraya berpikir tentang maksud undangan yang ia terima dari pihak Wilson Group. "Lalu bagaimana dengan wanita itu, Bos? Apa dia baik-baik saja?" "Dia baik, Seth. Namanya bukan wanita itu, namanya Alexa Wilson. Mulai hari ini dia adalah orang yang harus kau hormati dan harus kau lindungi, apa kau mengerti?" ujar Razor dingin. "Baik, Bos. Akan kusampaikan juga hal ini pada Ian." Razor diam selama beberapa saat dengan tatapan lurus ke depan, "Seth? Aku ingin kau mengerjakan sesuatu," tukasnya. "Apa, Bos?" "Alex memiliki seorang kekasih, lebih tepatnya mantan tunangan. Apa kau tahu tentang ini?" Sambungan ponsel menjadi hening selama beberapa saat. Tapi samar-samar indera pendengaran Razor menangkap suara Seth yang sedang berbicara dengan Ian. Tak lama kemudian, Seth kembali berbicara padanya. "Ketika aku dan Ian sedang mencari informasi tentang Nona Alexa, kami kebetulan menemukan jika dia pernah bertengkar dengan Tuan Arnold Wilson gara-gara seorang pria bernama Davin Howard, Bos. Apakah dia pria yang Bos maksudkan?" "Davin Howard?" Razor meremas setir dengan geram, pria itu terlalu banyak bicara bahkan berhasil membuatnya yang tidak terlalu suka beradu debat, sampai membuka mulutnya gara-gara merasa kesal atas ucapan Davin pada Alexa. "Benar, itu dia. Cari informasi tentang pria itu, Seth. Di mana dia bekerja? Siapa keluarganya? Dan juga, siapa saja yang dekat dengannya saat ini? Termasuk siapa kekasih barunya." "Sekarang, Bos? Apakah pria itu telah mengganggu Bos dan Nona Alexa? Haruskah aku dan Ian memberinya pelajaran, Bos?" "Aku tidak memintamu untuk bertindak!" cetus Razor. Ia lalu menghela napas setelahnya, menyadari bahwa selama ini ia dan kedua bawahan terpercayanya memang terkadang tidak ingin terlalu banyak berpikir. Jika ada seseorang yang menghalangi jalan mereka, tanpa Razor turun tangan sekalipun, Seth dan Ian akan menyelesaikan orang tersebut untuknya. "Belum saatnya," lanjutnya lagi. "Saat ini aku hanya ingin tahu siapa keluarga pria itu dan siapa wanita yang sedang dekat dengannya hingga pria itu berani bersikap angkuh di hadapanku." "Baik, Bos." "Sampai bertemu di Klub nanti malam!" Tanpa menunggu jawaban dari Seth— Razor sudah memutuskan panggilan. Dan dengan wajahnya yang datar, ia pun melarikan Huracan miliknya menuju mansion miliknya. Hari ini ia butuh olah raga untuk melampiaskan emosinya, emosi yang terus ia tahan di hadapan Davin agar ia tidak merontokkan gigi pria itu yang telah menghina Alexa di hadapannya. "Tapi sebelum itu ... mari kita lihat, sebenarnya sehebat apa dirimu?" dengusnya. *** "Jadi pria b******k itu telah berselingkuh di belakangmu?" sorot mata Cassie yang tertuju pada Alexa menunjukkan kemarahan setelah ia mendengar cerita dari sahabatnya itu. Beberapa menit yang lalu, ia baru saja tiba di Mansion sahabatnya ini. Namun Alexa tidak menyambutnya seperti yang biasa Alexa lakukan padanya. Bahkan, pelayan Mansion mengatakan padanya bahwa sahabatnya ini pulang sambil digandeng oleh seorang pria dewasa yang mengantarkan Alexa sampai ke kamarnya. Saat ini, wajah sahabatnya ini juga terlihat sedikit pucat. "Lalu apa yang kau lakukan? Apa kau menamparnya? Sial, jika saja aku berada di sana tadi malam, maka aku akan ...." "Cas!" tegur Alexa, demi menenangkan Cassie yang tampak sangat marah. Sejak dulu, beginilah persahabatan mereka. Jika Cassie terluka, maka ia akan membalas orang yang telah melukai sahabatnya ini. Begitu pula jika ia diganggu oleh orang lain, Cassie pasti akan mati-matian membelanya. "Semalam aku ... tidak menemuinya. Aku terlalu kesal ketika mendengar percakapan Davin dengan selingkuhannya dan juga para sahabatnya. Karena itu aku pergi, dan mabuk. Terlalu mabuk hingga seperti sekarang," ungkap Alexa. Ia kemudian menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dalam satu kali hentakan. Cassie memperhatikan wajah sahabatnya itu dengan tatapan iba. Berharap semalam ia ada untuk menemani Alexa di saat sahabatnya ini mengalami ketidak adilan. Sialnya, Alexa tidak mengatakan apapun padanya. Sambil terus menatap sang sahabat, Cassie mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Alexa yang sedang duduk bersamanya di ranjang milik sahabatnya itu. "Lupakan, Lex. Dia tidak pantas untuk kau pikirkan. Sekarang katakan padaku, pria yang telah mengantarmu pulang, siapa dia? Mengapa dia mengantarkanmu sampai ke kamar?" "Dia?" Alexa menatap Cassie sambil meringis, tidak tahu bagaimana harus menjelaskan pada sahabatnya itu jika ia telah tidur dengan pria yang sedang Cassie tanyakan padanya. 'Seandainya jika kukatakan yang sejujurnya pada Cassie, apakah dia akan mengatakannya pada Kakek?' bisik hatinya cemas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD