Clara melangkah keluar dari mansion itu dengan kepala tegak, seolah tidak ada apa pun yang runtuh di dalam dadanya. Pintu besar tertutup di belakangnya, namun suara penutupannya seperti dentuman yang menghantam jantungnya berkali-kali. Tangannya mengepal. Kuku-kukunya menancap ke telapak, tapi rasa perih itu tak sebanding dengan luka yang menggerogoti harga dirinya. Orang asing. Kata itu terus berputar di kepalanya. Damian pria yang pernah menggenggam tangannya, berjanji tanpa kata, menatapnya seolah dunia hanya berisi mereka berdua baru saja menghapus keberadaannya begitu saja. Tanpa teriakan. Tanpa emosi. Seolah ia hanyalah masa lalu yang tidak layak diingat. Dadanya naik turun. Nafasnya terasa panas, emosi yang tertahan menyesakan jiwa. "Pelayan ..." gumamnya Clara tertawa keci

