Bab:10. nyaris lenyap

1246 Words
“Temukan wanita itu sekarang!” Suara Damian menggelegar, mengguncang seluruh penjuru mansion megah nan luas itu. Aura kemarahannya terasa begitu pekat hingga membuat para pelayan dan pengawal menunduk tanpa berani mengangkat kepala. “Berpencar!” teriak salah satu pengawal, segera memberi komando. “Cari ke seluruh area! Jangan sampai dia lolos!” Para pengawal bergerak cepat, berlari ke berbagai arah dengan senjata dan senter di tangan. Sementara itu, Damian melangkah dengan langkah tegap dan mengintimidasi menuju mobil mewahnya yang terparkir di halaman depan. Setiap langkahnya memancarkan amarah dingin yang berbahaya. “Berani-beraninya dia lari dariku,” gumam Damian rendah, namun penuh tekanan mematikan. Tangannya mengepal kuat. Rahangnya mengeras. Kabar kepergian Elena membuat dadanya bergejolak hebat. Amarah itu bukan sekadar karena pelanggaran aturan, bukan pula semata-mata karena utang yang belum lunas. Ada sesuatu yang lebih dari itu. Entah mengapa, Damian merasa tidak rela Elena pergi begitu saja dari mansion ini. Perasaan itu membuatnya sendiri terkejut sebuah emosi asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Apa ini hanya soal utang … atau ada sesuatu yang lain? Damian membuka pintu mobil dengan kasar dan masuk ke dalamnya. “Cari dia,” perintahnya dingin kepada pengawal yang mendekat. “Aku ingin wanita itu ditemukan. Sekarang.” Mesin mobil menyala, raungannya memecah malam yang kelam menandai dimulainya perburuan yang tak hanya didorong oleh amarah, tetapi juga oleh perasaan yang belum mampu ia pahami. Sementara itu, Elena terus berlari menjauhi mansion. Demi menghilangkan jejak, ia sengaja masuk ke kawasan hutan belantara yang gelap dan asing baginya. Aku harus pergi. Aku tidak boleh kembali ke dalam penjara monster itu! batin Elena dipenuhi ketakutan. “Lebih baik Anda berhenti, Nona Elena, sebelum Tuan Damian melenyapkan Anda malam ini juga!” Suara salah satu pengawal Damian terdengar menggelegar dari kejauhan, samar namun cukup jelas membuat darah Elena membeku. "Astaga … mereka sudah dekat," batinnya panik. Ia terus berlari, menahan rasa perih yang menjalar di kedua tangannya yang masih terbalut perban. Napasnya tersengal, penglihatannya mulai kabur. Di kejauhan, samar-samar Elena melihat sosok seorang pria yang berdiri di sisi jalan, seperti sedang menunggu seseorang. "Apa yang sedang dia lakukan di sini …?" pikir Elena, ragu sekaligus berharap. “Tolong aku! Siapa pun, tolong aku!” jerit Elena sambil melambaikan tangan sekuat tenaga. Pria itu menoleh, matanya menangkap sosok Elena yang berlari tertatih ke arahnya. “Elena!” serunya terkejut. Langkah Elena terhenti sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap pria itu dengan waspada, takut jika pria tersebut adalah bagian dari orang-orang Damian. “Elena! Hei, apa yang terjadi padamu?” Pria itu mendekat dengan wajah khawatir. Elena memicingkan mata, meneliti wajahnya. “Joy … ?” panggilnya ragu, takut salah lihat. “Ya. Apa yang kamu lakukan di tempat sunyi seperti ini? Ini sudah pukul dua dini hari. Kenapa kamu berkeliaran sendirian?” tanya Joy cemas. Tanpa menjawab, Elena menarik tangan Joy dengan panik. “Ayo, kita harus segera pergi dari sini! Mereka mengejarku! Tolong selamatkan aku!” “Hei, pelan-pelan—” Joy terhenti ketika pandangannya jatuh ke kedua tangan Elena yang terbalut perban. “Apa yang terjadi? Kenapa tanganmu seperti ini?” Elena terus menoleh ke kanan dan kiri, ketakutan pengawal Damian akan muncul kapan saja. “Ayo cepat! Ambil motormu! Aku akan menjelaskan semuanya nanti. Tolong, Joy!” desaknya dengan suara gemetar. Joy masih kebingungan, namun melihat ketakutan di wajah Elena, ia segera menuntunnya ke motor. Namun baru saja ia hendak menyalakan mesin, Beberapa mobil mewah berwarna hitam tiba-tiba berhenti mendadak, menutup jalan mereka. Joy membeku. “Ada apa ini …?” gumamnya. Beberapa pria berbadan kekar turun dari mobil dan langsung menahan tubuh Joy. Tubuh Elena bergetar hebat ketika sosok yang paling ia takuti turun dari mobil utama. Damian. Langkahnya tenang, namun aura kemarahannya begitu mengerikan. “Tuan Damian … tolong lepaskan aku. Aku tidak mau kembali padamu,” mohon Elena dengan suara bergetar. Joy menoleh bingung. “Elena, kamu punya masalah apa dengan Tuan Damian?” tanyanya. Damian tidak menjawab. Dengan kasar ia menarik tangan Elena. “Argh!” Elena menjerit kesakitan. Joy refleks menarik tangan Elena yang satunya. “Tuan, tolong lepaskan Elena! Saya tidak tahu masalah apa yang terjadi di antara Anda, tapi yang saya tahu Elena adalah wanita yang baik!” Ucapan itu justru membuat emosi Damian meledak. Dengan gerakan cepat, Damian mencengkeram kerah baju Joy dan menghajarnya tanpa ampun. “Argh—!” “Tidak! Tolong hentikan! Jangan lakukan itu!” Elena menangis histeris. Namun Damian tak peduli. Pukulannya terus mendarat tanpa belas kasihan. “Damian! Hentikan! Tolong hentikan!” Elena berusaha memeluk tubuh Damian dari belakang, menariknya menjauh dari Joy. “Bugh!” Dengan satu dorongan kasar, tubuh Elena terlempar dan terjatuh keras ke jalan. “Hiks … hiks …” Air mata Elena tumpah tak terbendung. “Mah … Papa … jemput aku …” Perban putih di tangannya kini berubah merah oleh darah segar. “Seret pria ini ke ruang bawah tanah,” perintah Damian dingin kepada anak buahnya. Beberapa pengawal segera menyeret Joy yang sudah tak berdaya. Damian lalu berjalan ke arah Elena dan menariknya dengan kasar menuju mobil. Elena pasrah. Matanya menatap tubuh Joy yang terkulai lemah sebelum pintu mobil tertutup. “Hiks … hiks … Joy, maafkan aku …” isaknya lirih. Tangisan itu justru membuat api kemarahan di d**a Damian semakin membara membakar sesuatu yang bahkan ia sendiri tak mampu ia pahami. ***** Bugh! Tubuh Elena terpental ke atas ranjang kamar dengan keras. Seprai berkerut, ranjang berguncang. Dalam sekejap, Damian sudah berada di atasnya. Tatapannya menyala penuh amarah saat tangannya mencengkeram lengan Elena dengan kuat. “Berani-beraninya kau mencoba mengelabuiku,” ucap Damian dingin namun menggelegar. “Kau tahu? Bahkan nyawamu tidak akan pernah cukup untuk menggantikan utang pamanku.” Elena menahan rasa sakit, menatap Damian tanpa gentar. Tak ada ketakutan di wajahnya yang tersisa hanya kepasrahan bercampur tekad kuat untuk melindungi dirinya sendiri. “Kalau memang nyawaku saja tidak bisa membayar utang pamanku,” balas Elena dengan suara bergetar namun tegas, “lalu kenapa kau masih mempertahankanku di mansion ini? Seharusnya kau biarkan saja aku pergi.” Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Elena. Kepalanya terhempas ke samping, rasa perih menjalar cepat. “Jangan pernah menentangku,” suara Damian rendah, dingin, dan mematikan. “Jika kau masih ingin hidup, ikuti semua perintahku.” Namun ancaman itu tak lagi menggoyahkan Elena. Baginya, hidup atau mati terasa sama keduanya sama-sama menyakitkan. “Bahkan aku lebih memilih mati,” ucap Elena lirih namun tajam, “daripada hidup bersama monster sepertimu di tempat terkutuk ini.” Ucapan itu seperti menyulut api yang tersisa di d**a Damian. “Ugh—!” Tangannya beralih mencengkeram leher Elena dengan keras. Wajah Elena perlahan memerah, napasnya tercekik. “Aku memang monster,” desis Damian dingin. “Dan aku bisa melenyapkanmu saat ini juga.” Cengkeramannya semakin kuat. “Ugh …” Elena meronta lemah. Pandangannya mulai mengabur, paru-parunya terasa terbakar karena kekurangan udara. “Tuan, kami sudah melaksanakan perintah Anda.” Suara salah satu pengawal dari luar kamar memecah fokus Damian. Seolah tersadar, Damian mendorong tubuh Elena dengan kasar dan melepaskan cengkeramannya. “Uhuk … uhuk …!” Elena terbatuk hebat, menghirup udara dengan rakus. Dadanya naik turun, tubuhnya gemetar hebat. Damian menatapnya. Wajah Elena memerah, matanya berair, napasnya terengah. Darah segar terlihat di tangannya yang terluka, perban yang memerah, tubuh rapuh yang nyaris tak berdaya. ada sesuatu yang mengusik hati Damian. Rasa cemas. Rasa sesal. Tangannya mengepal perlahan. Tatapannya masih dingin, namun ada retakan kecil di baliknya retakan yang bahkan ia sendiri belum siap mengakuinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD