Bab: 9. Kabur

1337 Words
8. Kabur Akhirnya mereka tiba di halaman belakang mansion. Di sana terbentang hamparan bunga yang tertata rapi, beraneka warna, bermekaran indah di bawah cahaya senja. “Waaah … indah sekali!” seru Elena tanpa sadar. Ia begitu terpukau hingga refleks menarik tangannya dari genggaman Damian. Pada saat yang sama, Damian pun tersadar sejak tadi ia telah menggenggam tangan Elena. “Apa yang terjadi padaku …?” gumam Damian lirih. Pandangannya tertuju pada Elena yang kini melangkah mendekat, menatap jejeran bunga dengan mata berbinar, Damian berdiri kaku. Wajahnya tetap datar, namun di balik ketenangan itu, pikirannya bergejolak. Lalu ... “Apa yang kamu lakukan?!” Suara Damian menggelegar, memecah ketenangan sore itu. Elena tersentak, wajahnya seketika menegang. Ia berdiri kaku, sebuah tangkai mawar kini berada di genggamannya. Tangannya gemetar saat melihat Damian melangkah mendekat, sorot matanya dingin dan penuh amarah. “Beraninya kau menyentuh sesuatu yang bukan milikmu!” hardik Damian tajam. Tubuh Elena bergetar hebat. “A-aku hanya ingin—” “Lancang kamu!” sentak Damian keras, suaranya menusuk dan mencekam. Beberapa pelayan yang menyaksikan dari kejauhan langsung bergidik ngeri. “Ya Tuhan … kenapa Nona Elena menyentuh bunga kesayangan Tuan Damian?” “Habislah dia …” “Itu bunga peninggalan Nyonya Besar!” bisik tiga orang pelayan dengan wajah pucat. Sementara itu, Elena masih terpaku di tempatnya. Napasnya tersengal, tangannya gemetar memegang mawar yang kini terasa begitu berat. Damian yang berdiri di hadapannya bukanlah Damian yang tadi yang berbicara tenang dan menuntunnya dengan genggaman hangat. Sosok di hadapannya kini tampak seperti monster, dingin dan menakutkan. Damian menatap bunga mawar yang masih tergenggam di tangan Elena. Sorot matanya memerah oleh emosi yang tak terkendali. Dan ... “Argh …!” ringis Elena tertahan ketika Damian mencengkeram tangannya kuat-kuat, tanpa peduli pada tangkai mawar yang dipenuhi duri tajam. Duri-duri itu menancap ke kulitnya, menambah perih yang tak tertahankan. “Ingat posisimu!” bentak Damian dingin. “Di sini kau bukan siapa-siapa. Sekali lagi kau berani menyentuh sesuatu yang bukan milikmu, maka bukan hanya bunga itu yang akan kuhancurkan tangannmu juga akan kupatahkan.” Damian sama sekali tak menghiraukan air mata yang jatuh dari sudut mata Elena, maupun rintihan kesakitan yang keluar dari bibir pucatnya. “Bugh …!” Tubuh Elena terhempas ke belakang hingga terjatuh dalam posisi duduk. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. Tangannya kini mengeluarkan darah segar luka robek akibat duri mawar terasa perih dan gilu, seakan berdenyut hingga ke tulang. “Hiks … hiks …” Elena terisak pelan, matanya kabur oleh air mata saat memandangi punggung Damian yang menjauh. Para pelayan segera berlari mendekati Elena dan membantunya berdiri dengan hati-hati. “Ya ampun, Nona Elena … tangan Nona belum sembuh, sekarang tangan yang satunya kembali terluka,” ucap salah seorang pelayan dengan wajah panik. “Hiks … hiks …” Elena terisak, suaranya bergetar. “Dia yang membawaku ke sini. Apa salahnya jika aku hanya memetik satu bunga?” gerutunya lirih, antara sedih dan kesal. Pelayan itu langsung terkejut dan menutup mulutnya sebentar, lalu menatap Elena dengan ekspresi khawatir. “Astaga, Nona Elena … tentu saja itu salah,” ujarnya pelan namun serius. “Itu adalah bunga kesayangan Nyonya Besar. Tidak ada seorang pun yang berani menyentuhnya, apalagi memetiknya. Hal itu hanya akan melukai perasaan Tuan Damian.” Elena menatap pelayan itu dengan mata membesar, masih belum sepenuhnya mengerti. “Yang boleh menyentuh bunga-bunga itu hanya tukang kebun,” lanjut pelayan tersebut, “dan itupun dengan sangat hati-hati. Tidak boleh ada satu kelopak pun yang rusak atau tergores.” Ketiga pelayan itu kemudian memohon agar Elena menjauh dari area taman tersebut. Elena menurut, meski bibirnya mengerucut kesal. "Lalu apa maksudnya dia membawaku ke sini?" batinnya geram. "Dasar pria aneh …" Elena menunduk sambil menahan perih di tangannya, hatinya dipenuhi tanda tanya. Semakin lama berada di mansion itu, semakin sulit baginya memahami Damian pria yang terkadang begitu melindungi, namun dalam sekejap bisa berubah menjadi sosok paling dingin dan kejam yang pernah ia temui. Sementara itu, Damian berada di dalam kamarnya, meluapkan amarahnya dengan menghancurkan apa pun yang ada di sekitarnya. Suara pecahan kaca dan benda jatuh beradu memenuhi ruangan. Namun, di balik amarah itu, bayangan wajah Elena terus menghantuinya—ringis kesakitannya, air mata yang jatuh, serta darah tipis yang mengalir dari tangannya. Dadanya terasa sesak. "Mah … kenapa aku tidak bisa menahan amarahku setiap kali ada yang berani merusak sesuatu yang Mama sayangi?" batinnya berteriak. “Argh …!” Prang! Damian kembali menyapu meja kerjanya dengan satu ayunan tangan. Semua barang di atasnya jatuh berserakan ke lantai, menciptakan suara gaduh yang memekakkan telinga. Ia memejamkan mata, rahangnya mengeras. "Tidak. Dia memang salah," yakinnya pada diri sendiri. Dia memang salah … Namun keyakinan itu terasa rapuh. Setiap kali ia mencoba membenarkan tindakannya, ingatan tentang Elena yang terjatuh dan terisak justru semakin menekan egonya. Tangannya mengepal kuat, bergetar. Ia membenci dirinya sendiri karena tak mampu mengendalikan emosi. Lebih dari itu, ia membenci kenyataan bahwa ada satu orang seorang gadis yang baru saja memasuki hidupnya yang kini mampu mengguncang pertahanan dingin yang telah ia bangun selama bertahun-tahun. Dan untuk pertama kalinya, amarah Damian tidak memberinya kepuasan. Yang tersisa hanyalah penyesalan yang ia tolak untuk diakui. ----- Malam itu, Elena duduk di tepi ranjang, menatap kedua tangannya yang terbalut perban tebal. "Sekarang aku bisa apa?" batinnya getir. Perlahan ia menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak, bukan karena luka di tubuhnya, melainkan oleh tekanan yang menghancurkan mentalnya sedikit demi sedikit. "Aku tidak bisa terus berdiam diri di sini. Fisikku mungkin belum sepenuhnya lelah, tapi mentalku bisa benar-benar hancur jika aku berlama-lama tinggal di tempat ini," pikirnya. Pandangan Elena beralih ke jam dinding. Jarumnya menunjukkan pukul dua dini hari. Ia berdiri perlahan, melangkah ke arah jendela. Dengan hati-hati, Elena membukanya dan menatap ke bawah. “Astaga … ini sangat tinggi,” gumamnya lirih. "Jika aku melompat dari sini, mungkin aku bisa langsung mati, batinnya, ngeri membayangkannya." Ia pun berbalik menuju pintu kamar. Elena membukanya sedikit dan mengintip ke luar. Lorong tampak sunyi, hanya cahaya lampu redup yang menemani keheningan malam. Mungkin semua orang sudah tidur, pikirnya. Dengan langkah mengendap, Elena berjalan menuju lift. Ting … Lift membawanya turun ke lantai dasar. Sunyi. Tidak ada seorang pun yang terlihat. Jantungnya berdegup kencang saat ia melangkah keluar dan berjalan menuju pintu utama. Ia membuka pintu itu perlahan, nyaris tanpa suara. Begitu berada di luar, Elena segera bersembunyi di balik tanaman besar yang mampu menutupi tubuhnya. “Astaga… banyak sekali penjaga,” batinnya terkejut ketika melihat para pengawal mondar-mandir di area mansion. Bahkan di sekitar gerbang, penjagaan tampak berlapis. Elena mengamati sekeliling, mencari celah, mencari satu kesempatan kecil. Dan secercah harapan itu akhirnya muncul. Di bagian belakang mansion, ada satu area yang tampaknya luput dari pengawasan. Dengan hati-hati, Elena bergerak menuju tembok belakang, bersembunyi setiap kali mendengar langkah atau suara. Hingga akhirnya ia berdiri tepat di hadapan tembok tinggi yang membatasi mansion. “Astaga… ini juga sangat tinggi,” gumamnya lemah. Ia menoleh ke sekitar, mencari sesuatu yang bisa membantunya. Pandangannya jatuh pada beberapa guci dan pot bunga besar. Dengan susah payah, Elena mulai menyusunnya. Setiap gerakan membuat tangannya terasa perih, namun ia menahan rasa sakit itu. Dengan napas terengah, ia memanjat perlahan, menggigit bibir agar tak mengeluarkan suara. Hingga akhirnya, Elena berhasil mencapai puncak tembok. Ia menatap ke bawah. Gelap. Tinggi. Menakutkan. "Mungkin kalau aku melompat … aku tidak akan sampai lumpuh," batinnya mencoba meyakinkan diri sendiri. Ia menghitung dalam hati. "Satu … dua … tiga …" “Bugh …! Argh …!” Jeritan tertahan keluar saat tubuh Elena menghantam tanah dengan keras. “Suara siapa itu?” tanya seorang penjaga dari kejauhan. “Sepertinya dari arah sana,” sahut yang lain. Elena refleks menutup mulutnya, menahan rasa sakit yang membakar di sekujur tubuhnya. Dengan susah payah, ia berdiri. Kakinya gemetar, namun ia memaksa diri untuk berlari menjauh dari tempat itu. “ADA TAWANAN KABUR!” Suara teriakan penjaga menggema, memecah keheningan malam. Elena berlari sekuat tenaga, meski rasa perih di tubuhnya seolah siap menjatuhkannya kapan saja. Namun satu hal memenuhi pikirannya— Ia harus pergi. Apa pun risikonya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD