Sorenya, Elena berniat keluar dari kamar. Baru saja ia berdiri dan hendak menutup pintu dari luar, sebuah suara berat tiba-tiba mengejutkannya.
“Mau ke mana?”
Suara Damian membuat Elena tersentak. Ia berbalik dan mendapati Damian sudah berdiri tepat di belakangnya, tubuh tinggi itu menghadang jalannya.
“E-em ... aku … aku ingin menghirup udara di luar. Aku bosan terus di kamar,” ujar Elena kaku.
Damian menatapnya tanpa ekspresi. Tatapannya perlahan turun ke tangan Elena yang masih terbalut perban putih.
Menyadari arah pandangan itu, Elena kembali bersuara.
“E-em, ini…” Elena mengangkat tangannya, seolah ingin menunjukkan keadaannya pada Damian.
“Tadi perbannya sudah diganti sama dokter. Ini ... sudah tidak sakit lagi,” lanjutnya cepat, mencoba meyakinkan.
Tanpa berkata apa pun, Damian melangkah maju. Gerakannya dingin dan penuh tekanan. Elena refleks mundur, tetapi punggungnya membentur pintu kamar hingga ia tak punya ruang untuk menghindar.
Jantung Elena semakin berdebar tak karuan
Damian mengangkat tangan Elena yang terbalut perban.
“Awh …” Elena meringis kesakitan saat Damian menyentuhnya.
“Ini masih sakit,” ucap Damian datar. “Masuk.”
Nada perintahnya jelas tidak memberi ruang untuk dibantah.
Meski takut, Elena tidak ingin menurut begitu saja.
“Tapi aku bosan di kamar. Aku hanya ingin keluar ke halaman, menghirup udara sore. Udara segar bisa menenangkan perasaan,” jawab Elena, berusaha tetap tenang.
“Jangan membantahku,” balas Damian dengan tatapan dingin dan menusuk.
Elena menunduk sesaat.
Lebih baik tinggal bersama paman … setidaknya aku bebas ke mana saja, batinnya getir.
Dengan pelan, Elena membuka pintu kamar. Matanya sempat melirik Damian.
“Hanya di halaman. Masa tidak boleh?” rengeknya tanpa sadar, wajahnya tampak cemberut.
Damian hanya menatapnya, ekspresinya sulit dibaca.
“Masuk!” perintahnya kembali.
Elena menghela napas panjang. Ia membuka pintu, tetapi sedetik kemudian
Brugh!
Elena mendorong tubuh Damian dengan lengannya sekuat tenaga, lalu berlari menuju lift.
“Ting!”
Pintu lift terbuka tepat waktu. Elena segera masuk dan menekan tombol dengan tergesa.
Sementara itu, Damian mematung di tempatnya, masih mencerna apa yang baru saja terjadi.
“Apa dia baru saja mendorongku?” gumamnya pada diri sendiri, nyaris tak percaya.
Damian menggeram pelan bukan karena marah, melainkan karena rasa gemas yang aneh.
“Dasar keras kepala,” gumamnya, lalu melangkah cepat menyusul Elena.
Damian menyusul Elena, menelusuri area mansion dengan langkah cepat. Tak butuh waktu lama hingga ia menemukannya berdiri di tepi kolam renang, menatap langit senja yang berwarna jingga keemasan.
Tanpa menoleh, Elena bersuara, seolah sudah tahu siapa yang berdiri di belakangnya.
“Aku hanya ingin bersantai. Apa itu salah?”
Damian tidak langsung menjawab. Ia menatap Elena cukup lama. Perasaan asing kembali menyeruak di dadanya. Entah mengapa, ia tak mampu marah pada gadis itu.
Amarah yang biasanya membara setiap kali ada yang berani membantahnya, kini lenyap begitu saja ketika berhadapan dengan Elena.
“Di sini kurang efektif untuk menikmati senja,” ujar Damian tiba-tiba.
Elena menoleh dengan wajah sedikit gemas.
“Lalu di mana tempat yang indah?” tanyanya.
“Aku hanya tahu tempat ini. Mansion ini terlalu besar, aku bisa tersesat kalau berkeliling sendiri,” lanjutnya jujur.
Tanpa disadari, sudut bibir Damian terangkat membentuk senyum tipis senyum yang nyaris tak terlihat dan hanya ia sendiri yang menyadarinya.
Dia terlalu menggemaskan, batin Damian.
“Ikut saya,” ucap Damian singkat, lalu melangkah lebih dulu.
Elena menatap punggung Damian yang menjauh.
“Kenapa kau masih diam di situ?” tanya Damian ketika menyadari Elena tidak mengikutinya.
“Kau menyuruhku ikut, tapi malah berjalan duluan tanpa menungguku,” jawab Elena.
“Kau pikir aku akan mengejarmu dengan langkah kecilku?” lanjutnya ketus.
Damian terdiam.
"Astaga … kenapa dia cerewet sekali? Dan kenapa dia tidak takut padaku?" batinnya heran.
Ia akhirnya berhenti dan menunggu. Elena pun berjalan mendekat dengan langkah perlahan.
“Nah, sekarang ayo kita pergi!” ujar Elena santai bahkan melangkah lebih dulu darinya.
Damian hanya bisa mengikuti langkah kecil Elena, mendengarkan celotehannya yang mengalir tanpa beban.
“Kau membangun mansion sebesar ini untuk apa?” ucap Elena tiba-tiba. “Megah, tapi tak ada keceriaan di dalamnya. Bukankah itu sangat disayangkan?”
Kalimat itu menghantam tepat di jantung Damian.
Elena benar. Entah sudah berapa lama ia mengurung dirinya dalam dunia yang sunyi, penuh kekuasaan namun hampa. Tanpa tawa, tanpa kehangatan, tanpa kehidupan yang benar-benar terasa hidup.
Elena terus melangkah mengikuti arah yang ia kira benar, hingga tiba-tiba tangan Damian meraih pergelangan tangannya dengan kuat. Tarikan itu membuat Elena tersentak kaget.
“Lewat sini,” ujar Damian singkat, nadanya tegas namun tidak kasar.
Tanpa sempat bertanya, Elena menurut dan mengikuti langkahnya. Entah sejak kapan, genggaman itu tak lagi sekadar tarikan. Jari-jari mereka perlahan saling bertaut, menggenggam tanpa sadar.
Elena menyadari hal itu, tetapi tak berani melepaskan. Ada rasa hangat yang aneh—menenangkan, sekaligus membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Beberapa pelayan yang melihat dari kejauhan saling berbisik, mata mereka menyiratkan keterkejutan dan haru.
“Bukankah Tuan tampak berbeda saat berada di dekat Nona Elena?” bisik salah satu pelayan.
“Iya… Tuan terlihat lebih hidup,” sahut yang lain pelan. “Seperti dulu, sebelum kegelapan menemukan beliau.”
“Iya,” pelayan lainnya mengangguk. “Dulu Tuan adalah pria yang lembut dan penuh kasih sayang.”
Bisikan itu mengalir lirih, penuh kenangan. Mereka adalah orang-orang yang telah bekerja belasan tahun di mansion Damian menyaksikan perubahan sang tuan dari seorang pria hangat menjadi sosok dingin yang ditakuti.
Kini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka kembali melihat secercah cahaya itu. Dan cahaya itu … bernama Elena.
"Bukankah pria ini terkenal galak?" batin Elena.
Ia melirik Damian sekilas, menatap wajah dingin yang selama ini dikenal banyak orang sebagai sosok kejam dan tak tersentuh. Pria yang namanya saja sudah cukup membuat siapa pun gemetar ketakutan.
Lalu mengapa dia tidak pernah benar-benar marah padaku? lanjut batinnya.
Elena mengernyit pelan. Ia telah beberapa kali membantah, bahkan berani melawan perintahnya. Namun Damian tidak pernah menghukumnya seperti yang ia lakukan pada orang lain. Tidak ada bentakan, tidak ada amarah membabi buta hanya tatapan dingin yang entah mengapa selalu disertai kekhawatiran tersembunyi.
Jantung Elena berdegup tak beraturan.