Bab: 7. Malaikat Penolong

1043 Words
Elena merintih kesakitan. Kaki Pretty masih menekan telapak tangannya yang telah melepuh dan berdarah. “Hahaha … rasakan itu!” ejek Pretty. “Kau baru saja menginjakkan kaki di mansion ini, tapi sudah bertingkah seolah-olah kau adalah nyonya di rumah ini.” Elena hanya terisak. Ia tak lagi merasakan apa pun selain perih yang menyiksa, telapak tangannya terasa seperti remuk berkeping-keping. Tiba-tiba ... “Apa yang kalian lakukan?!” Suara bariton Damian menggelegar, membuat Pretty, Maria, dan Jennie tersentak. Pretty tersentak panik. Dengan tergesa, ia mengangkat kakinya dari telapak tangan Elena. “Da–Damian … bagaimana bisa …” gumam Pretty gugup. Damian melangkah cepat mendekat. Tatapannya langsung tertuju pada Elena yang tergeletak tak berdaya di lantai. Tanpa ragu, Damian berlutut dan meraih tangan Elena. Darah mengalir jelas. Kulitnya melepuh, jemarinya tampak cedera parah. “Kau berani melakukan ini padanya?” Suara Damian dingin, tajam, dan mencekam saat diarahkan pada Pretty. “A-aku hanya menghukumnya,” balas Pretty ketakutan. “Bukankah ini hanya hukuman ringan?” “Kau menyebut ini hukuman ringan?” suara Damian meninggi. “Pengawal!” Beberapa pengawal segera muncul dan berdiri tegak. “Kami siap menerima perintah, Tuan,” ujar mereka serempak. “Bawa mereka bertiga,” perintah Damian tanpa emosi. “Kurung di ruang bawah tanah.” Wajah Pretty langsung memucat. “Ti-tidak, Damian!” teriaknya. “Aku hanya menghukumnya! Mengapa kau begitu marah? Apakah dia gadis yang spesial bagimu?” “Cepat. Laksanakan perintahku,” ucap Damian tegas. “Tidak! Ini tidak adil!” Pretty meronta saat pengawal mulai menyeretnya bersama Jennie dan Maria. “Kau lebih membela wanita itu yang baru beberapa hari berada di mansion ini daripada kami yang sudah bertahun-tahun berada dalam hidupmu!” “Tuan Damian, tolong lepaskan kami!” jerit Maria. “Kami tidak bersalah. Pretty yang melakukannya!” Ucapan itu membuat Pretty semakin murka. “Dasar munafik!” bentaknya. Sementara itu, Damian masih memegang tangan Elena yang terus mengeluarkan darah. “Hiks … hiks …” Tangisan Elena meruntuhkan sesuatu dalam diri Damian, sesuatu yang telah lama membeku. “Ini sakit?” tanya Damian dengan nada lembut, tak seperti biasanya. Elena hanya mengangguk. Ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Rasa sakit itu telah melampaui batas. Tanpa berkata apa-apa lagi, Damian mengangkat tubuh Elena dan membawanya ke ruang tamu. Ia meletakkan Elena perlahan di atas sofa mewah. Tak lama kemudian, dokter keluarga datang tergesa. “Obati dia,” perintah Damian. “Dan pastikan lukanya tidak sampai infeksi.” “Baik, Tuan,” jawab dokter itu sigap. Damian duduk di depan Elena, menatap wajah pucat gadis itu saat ia meringis ketika obat menyentuh lukanya. “Apa yang terjadi denganku?” batin Damian. “Mengapa aku begitu peduli padanya?” Setelah perawatan selesai, Damian kembali mengangkat tubuh Elena dan membawanya ke dalam lift menuju lantai tiga. “Tuan … aku bisa berjalan sendiri,” ujar Elena pelan saat masih berada dalam gendongan Damian. “Diamlah,” jawab Damian singkat. “Jangan keras kepala.” Ting … Pintu lift terbuka. Damian melangkah menuju kamar Elena dan meletakkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur. “Kau jarang mematikan lampu saat tidur?” tanyanya tiba-tiba. “Aku takut gelap,” jawab Elena jujur. “Kau takut kegelapan?” Damian mengernyit heran. Elena mengangguk. “Tapi … mengapa malam itu kau tidur dalam keadaan gelap?” lanjut Damian. “Aku tidak punya tenaga untuk bangun dan menyalakan lampu,” jawab Elena lirih. “Pretty sengaja mematikan lampuku.” Rahang Damian mengeras. “Apa yang terjadi jika kau tidur dalam gelap?” tanyanya lagi, semakin penasaran dengan gadis yang dijadikan jaminan utang oleh pamannya sendiri itu. “Aku punya trauma,” jawab Elena. “Biasanya aku ketakutan… dan tubuhku akan melemah.” “Pantas saja,” batin Damian. “Malam itu tubuhnya begitu lemah hingga tak sadarkan diri.” Tanpa berkata apa-apa lagi, Damian merapikan posisi Elena dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut lembut. “Beristirahatlah,” ucapnya pelan. “Biarkan pelayan yang melayanimu.” Damian lalu berbalik dan melangkah keluar. Elena menatap punggungnya. Banyak pertanyaan berkecamuk di benaknya. “Apakah dia benar-benar Tuan Damian yang terkenal kejam itu?” batinnya. “Lalu … mengapa hari ini dia terlihat begitu berbeda? Seperti malaikat yang datang menolongku?” ***""***""*** Damian melangkah menuju ruang bawah tanah mansion. Setiap langkahnya menggema dingin, semakin mendekatkan dirinya pada jeritan yang mengguncang dinding-dinding tebal di bawah sana. Semakin dekat, suara teriakan Pretty, Maria, dan Jennie terdengar semakin jelas. “Keluarkan aku dari sini, Damian!” jerit Pretty histeris. “Kau akan menyesal telah melakukan ini padaku!” Maria, yang sejak awal tak pernah kehilangan kelicikannya, berusaha mencari jalan lain. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah para pengawal, suaranya berubah menggoda. “Hei, pengawal …” ujarnya lirih namun penuh rayuan. “Lepaskan aku. Aku bisa memberimu kenikmatan … apa pun yang kalian mau, asalkan aku keluar dari sini.” Beberapa pengawal saling melirik, namun tak satu pun bergerak. Wajah mereka tetap tegang dan kaku. Mereka tahu, amarah Damian jauh lebih mengerikan daripada godaan mana pun. Maria kembali mencoba, suaranya semakin manja. “Apa kalian tidak ingin menikmati tubuhku yang lembut ini? Hm?” Tak ada jawaban. Lalu ...! Tap … tap … tap … Suara sepatu memantul di lantai marmer, terdengar berat dan penuh tekanan. Sekejap, seluruh pengawal menundukkan kepala. Damian muncul dari balik lorong gelap. Tatapannya membara, dingin, dan mematikan seolah siap menghancurkan siapa pun yang berani menantangnya. Pretty menelan ludah. Harapan terakhirnya muncul. “Damian …” suaranya bergetar. “Kau datang untuk melepaskan kami, bukan? Kau berubah pikiran, kan?” Namun harapan itu hancur seketika. “Kirim mereka ke kandang peliharaanku,” ucap Damian datar. “Biarkan mereka merasakan … hukuman yang sebenarnya.” Wajah Pretty, Maria, dan Jennie langsung pucat pasi. Tubuh mereka gemetar hebat. “T-tidak!” jerit Pretty panik. “Lepaskan kami, Damian! Kau akan menyesal setelah ini!” “Tolong …!” jerit Jennie histeris. “Kami mohon …!” Maria ikut meronta, suaranya kini penuh ketakutan, bukan lagi rayuan. Namun Damian sama sekali tidak bergeming. Tatapannya tetap dingin, tak sedikit pun menunjukkan belas kasihan. Isyarat kecil dari tangannya sudah cukup. Para pengawal segera bergerak. Jeritan mereka menggema semakin keras, tenggelam bersama langkah Damian yang berbalik pergi meninggalkan ketakutan, penyesalan, dan hukuman yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD