Suasana malam terasa begitu sunyi. Angin dingin yang berhembus seakan-akan memaksa menina bobokan siapapun yang masih terjaga malam itu. Disebuah tenda penjagaan gerbang Madia, tampak beberapa prajurit masih berjaga sambil menghangatkan diri didepan api unggun dan menikmati secangkir kopi. Dari kejauhan alunan musik dari Istana masih terdengar samar.
Beberapa prajurit berkeliling melakukan patroli selama dalam wilayah gerbang Madia. Tampak Areez dan Mayor taruna Arsy turun dari kuda nya setelah selesai melakukan patroli di gerbang Madia sisi barat. Hawa dingin yang dirasakan membuat mereka bergegas untuk segera bergabung di sekitar api unggun. Letnan Ardee berinisiatif membuatkan kopi untuk mereka berdua yang pulang dengan kondisi kedinginan.
"Apakah udara di sisi Barat begitu dingin?" tanya Kapten taruna Jodie.
"Entahlah, hanya saja memang terasa seperti itu. Mungkin juga karena sudah memasuki musim dingin." Areez sembari bergidik.
"Ini kopi untuk kalian." Letnan Ardee menyerahkan dua cangkir kopi panas kepada Areez dan Arsy.
"Wah terimakasih Letnan." ucap Mayor taruna Arsy dan Areez bersamaan sembari memeberikan hormat.
"Beberapa prajurit taruna harus tidur cukup malam ini karena besok akan memerlukan tenaga lebih. Jika ada yang berjaga penuh, maka liburkan untuk esok hari." Mayor taruna Arsy memberikan perintah.
"Hei reez, kau begitu dekat dengan yang mulia ternyata ya?" Jodie penasaran.
"Hanya kebetulan saja. Dulu yang mulia pernah berkunjung di desaku. Mungkin beliau masih mengingatku." jelas Areez datar sembari menyeruput kopi nya.
"Nah kau sudah tau Putri Kyra yang mana?" tanya Jodie lanjut.
"Yang duduk disebelah kiri Putri Adeena kah?" ucap Areez
"Yah kau benar, dulu dia terdampar disini bersama denganku. Tetapi nasib dia lebih beruntung. Dia diangkat menjadi Putri kerajaan oleh yang mulia. Tapi beruntungnya kami masih berteman baik sampai sekarang. Dia selalu ramah denganku dan yang lain. Kedua putri yang mulia Ratu miliki sangat sempurna," ucap Jodie sembari tersenyum.
"Bolehkah aku membuat teori sederhana setelah mendengar ceritamu itu kawan?" sela Areez sembari tersenyum.
"Haha teori apa lagi?" Jodie keheranan.
"Teori bahwa kamu itu jatuh cinta sama Putri Kyra. Iya kan?" Areez tersenyum lebar.
"Ngarang lah, aku ini apa Reez, remahan roti. Nggak pantas kalau menjadi pendamping Putri Kyra." Jodie tertawa.
"Itu kan katamu." sambung mayor Arsy bergabung duduk bersama.
"Betul kak, itu kan kata kamu haha." ledek Areez.
"Hei apa yang nggak mungkin didunia ini sekarang hah? Segalanya itu mungkin." ucap Mayor taruna Arsy.
"Mayor, aku penasaran kenapa yang mulia tidak memiliki pendamping?" tanya Areez penasaran.
"Hhmm aku dengar dahulu yang mulia sebenarnya hampir akan menikah. Tetapi calonnya ketahuan mempunyai maksud untuk menguasai kerajaan dan akan membunuhnya. Akhirnya setelah itu, Yang Mulia tidak pernah lagi dekat dengan seorang hawaki," jelas Mayor taruna Arsy.
"Terus, nasib hawaki itu bagaimana sekarang?" tanya Areez semakin penasaran.
"Dia dieksekusi mati di pulau penjara Thanato." ucap Mayor taruna Arsy.
"Kamu tahu, Kapten taruna Aiden adalah masih keluarganya?" tambah Jodie.
"Kenapa setelah aku tahu tentang Aiden, aku merasa khawatir dia akan menjadi duri dalam daging di kerajaan ini ya?" tanya Areez.
"Kami pun berfikir demikian Areez. Semua prajurit Eminent berfikiran sama denganmu. Tapi kita tidak bisa melakukan apa-apa saat ini jika tanpa bukti. Karena undang-undang pidana kerajaan adalah kita tidak bisa menangkap atau memenjarakan hawanian tanpa bukti," ucap Mayor taruna Arsy.
"Ngomong-ngomong apakah Mayor tidak akan istirahat malam ini?" tanya Jodie
"Yah sepertinya aku memang harus istirahat. Penjagaan ini membuat pola tidurku menjadi kacau. Kalian jangan lupa beristirahat juga." Mayor taruna Arsy sembari berjalan menuju kedalam tenda.
Sementara Areez dan Jodie saling berpandangan. Mereka berdua sepakat akan tidur diluar tenda sembari melakukan penjagaan. Malam kian merayap, udara dingin kian menusuk kulit. Perlahan api unggun terlihat mengecilkan sinarnya, hingga waktu berlalu menuju fajar.
&&&&
Areez dan Jodie terbangun tatkala terompet jam pagi telah dibunyikan oleh Prajurit Carna yang merupakan prajurit pengatur dan penjaga waktu. Mereka segera bergegas untuk melakukan apel pagi hari ini. Komandan penjagaan gerbang kedua menginstruksikan untuk memperketat pengamanan dan menyisir wilayah gerbang Madia dari anak-anak sekolah agar tidak berkeliaran bebas saat acara penobatan. Setelah apel pagi selesai, Areez dan Jodie beserta Mayor taruna Arsy meminta izin kembali ke Bangsal Ksatrian taruna Eminent untuk membersihkan diri. Setelah mendapat izin mereka bertiga kembali dan segera membersihkan diri masing-masing.
Pagi itu Areez menggunakan seragam kedinasan yang berwarna merah dengan celana berwarna putih. Sebuah tanda pangkat balok tiga tersemat di bahunya dan lencana kecakapan, penghargaan dan prestasi telah tersemat. Lambang Naga emas tersemat di lengan kanan bajunya serta simbol Akademi Ksatrian legiun Eminent tersemat disebelah kiri.
Sebuah pedang saber Legiun Eminent tersemat dipinggang kirinya. Sejenak Areez melihat gambar dirinya di cermin, betapa ia baru menyadari jikalau ia begitu gagah. Sembari memasang topi berwarna putih dengan list emas menghiasi depannya, Areez segera keluar dari kamar dan berangkat bersama kedua sahabat sekaligus orang yang sudah ia anggap sebagai kakak.
Suara musik terdengar keras dari dalam area Istana. Tamu-tamu dari berbagai negara dan kerajaan telah berdatangan untuk menghadiri upacara penobatan. Kendaraan yang terparkir panjang di halaman Istana menunjukan betapa pentingnya acara ini untuk kerajaan Archadia. Areez dan Jodie ditugaskan melakukan pengawalan didalam ruang penobatan. Atas saran dari Mayor taruna Arsy yang menceritakan kemampuan beladiri Areez diatas rata-rata, maka seorang staf khusus menugaskan mereka untuk membantu penjagaan didalam ballroom tempat upacara berlangsung.
Areez mengamati sekelilingnya, melihat para pembesar kerajaan yang tampaknya bersuka cita menghadiri acara yang sebentar lagi akan dimulai. Matanya selalu mengawasi gerak gerik setiap hawanian dengan cepat. Jika ada yang dirasa mencurigakan, Areez segera memberikan kode kepada Jodie yang berdiri diseberangnya menggunakan kode rahasia yang telah mereka buat. Suara terompet berbunyi tiga kali menandakan acara akan segera dimulai. Sontak semua tamu undangan duduk di kursi masing-masing, sementara seorang pemimpin upacara berdiri disisi panggung.
"Kepada hadirin yang terhormat. Selamat datang di kerajaan Archadia. Acara penobatan Putri Mahkota dari Archadia akan segera dimulai. Yang Mulia Ratu Zaina Hezekiah dari Archadia akan segera memasuki ruangan, tamu undangan dipersilahkan berdiri." ucap pemimpin upacara disusul suara musik pengiring kerajaan.
Pintu yang tinggi terbuka perlahan. Terlihat Ratu Zaina dengan gaunnya berwarna biru lengkap memasuki ruangan diiringi dua orang pengawal dibelakangnya. Ratu Zaina pun berdiri di tengah panggung berdampingan dengan Spiris Angel yang akan memberikan pemberkatan.
"Selanjutnya Putri Adeena Hezekiah dari Archadia memasuki ruangan didampingi oleh Putri Akyra Hezekiah dari Archadia." ucap pemimpin upacara lanjut.
Tak memerlukan waktu lama, Putri Adeena memasuki ruangan didampingi oleh saudarinya Putri Kyra. Balutan Gaun berwarna biru laut menghiasi Putri Adeena hari itu. Areez dan Putri Adeena yang bertemu mata kembali sama-sama saling mengumbar senyum. Desiran aliran darah di nadi kedua hawanian muda itu kembali menguat. Kedua Putri itu pun telah sampai di panggung dan segera Spiris Angel mengambil alih upacara penobatan hari ini. Sang Ratu duduk di singgasana yang telah disiapkan, sementara Putri Adeena berlutut di hadapan sang Ratu.
"Putri Adeena Hezekiah dari Archadia, kepadanya keberlangsungan kerajaan akan ditentukan. Dengan restu Semesta dan Yang mulia Ratu Zaina Hezekiah dari Archadia, menobatkan engkau sebagai Putri Mahkota Kerajaan Archadia. Dengan ini dan mulai hari ini, Putri Mahkota Archadia telah tersemat kedalam diri dan jiwa anda. Semoga Semesta merestui dan memberkati." ucap Spiris Angels sembari memercikan beberapa air suci.
Sembari mengangkat Tiara Putri Mahkota tinggi-tinggi, Ratu Zaina bersabda "Hari ini, dengan saksi dari Semesta dan kekuatan Spiris kerajaan Archadia, aku nobatkan Putri Pertama Kerajaan Archadia Sebagai Putri Mahkota dengan gelar Putri Mahkota Adeena Hezekiah dari Archadia." Ratu Zaina menyematkan sebuah Tiara yang tidak terlalu besar berlapis berlian di rambutnya. Putri Adeena pun berdiri dan mencium tangan ibunya. Ratu Zaina berdiri dari kursinya, diikuti oleh Putri Adeena berdiri disampingnya.
"Hidup Putri Mahkota Adeena!" teriak pemimpin upacara penobatan.
"Hidup!!!" ucap semua tamu undangan tak terkecuali Areez dan Jodie.
Upacara penobatan telah selesai dan dilanjutkan dengan pesta dansa dan makan bersama di Hall Utama Istana Chena Archadia. Areez dan Jodie berpindah pengamanan di Hall Utama dimana suara musik terdengar menghentak sangat keras. Semua tamu nampak bersuka cita. Banyak makanan mewah dan enak tersedia. Areez dan Jodie tidak terlalu ketat dalam melaksanakan pengamanan.
Mereka telah mendapat instruksi dari Mayor taruna Arsy untuk ikut menikmati hiburan yang ada. Kedua hawaki itu berdiri bersebelahan sambil tetap mengamati pergerakan para tamu undangan. Terlihat Ratu Zaina duduk bersama para pimpinan kerajaan sahabat yang datang memenuhi undangan, sementara barisan penari sibuk berdansa di depan panggung dengan iringan musik orchestra yang bersemangat.
"Para tamu undangan, Ratu dan Pangeran, telah bergabung di tengah kita semua Putri Mahkota Adeena dari Archadia dan Putri Akyra dari Archadia." ucap pemimpin acara memperkenalkan kedua putri kerajaan.
Kedua putri itu memasuki ruangan dan berdiri di panggung depan. Sementara para hadirin mengangkat gelas anggurnya sebagai rasa hormat dengan kedatangan kedua Putri Kerajaan Archadia.
"Mereka berdua sungguh cantik yang mulia." Duta Besar Kerajaan Pulau Timur untuk Archadia memuji kecantikan kedua putri kerajaan.
"Aku saja tak menyadari mereka tumbuh begitu cepat Rachel." Ratu Zaina memandang ke arah dimana kedua putrinya berada.
"Pasti tuanku Putri Mahkota sangat beruntung akan ada banyak pangeran tangguh yang akan segera meminangnya yang Mulia." ucap Rachel sembari tersenyum.
"Hahaha aku tidak pernah memaksakan putriku tentang pilihan jodohnya Rachel. Siapapun yang menjadi pilihannya kelak, akan aku dukung selama hawaki itu baik." ucap Ratu Zaina sambil tersenyum
"Yang mulia Ratu memang bijaksana." ucap Rachel memberi rasa hormatnya.
Sementara Ratu Zaina hanya tersenyum bangga melihat calon penerusnya banjir pujian dari para relasi-relasinya. Diseberang pandangan Putri Adeena, terlihat jelas Areez yang begitu gagahnya berseragam taruna berdiri asyik mengawasi tamu undangan. Sesekali mata mereka saling bertemu dan sesungging senyum langsung terukir dari bibir keduanya. Sedari tadi Jodie pun asyik bertatap pandang dengan Putri Kyra yang jelas sudah mengenalinya dalam waktu lama.
"Kak apakah kau sedang memandang apa yang aku pandang?" ucap Putri Kyra tersenyum
"Iyaaa." ucap Putri Adeena sembari tersenyum. Namun dia segera tersadar dengan maksud ucapan adiknya itu "Haah? Mmmm maksud kamu apa dhe?" Putri Mahkota Adeena salah tingkah.
"Hahaha siapa lagi kalau bukan yang sedang berdiri dipinggir pintu itu kan?" ledek Putri Kyra sembari melirik kearah Areez.
"Kamu lho sukanya meledek." ucap Putri Adeena sambil tersenyum
"Kakak tidak ingin mengajaknya berdansa kah?" Putri Kyra memancing hati kakaknya.
"Huussh nggak mungkin lah. Dia kan sedang bertugas. Lagian kami tidak pernah ngobrol lagi dhe. Pasti akan terasa kaku," ucap Putri Adeena.
"Nah inilah waktu yang tepat untuk mengobrol kembali, ayo ajak dia untuk mengobrol santai. Lagian ini kan pestamu kak. Kau berhak lah mau berbuat apa saja." Putri Kyra mengompori kakaknya yang semakin terlihat salah tingkah.
"Adikku sayang, bukan ini saatnya oke?" ucap Putri Adeena dengan tenang sembari tersenyum.
"Lalu kapan? Nanti keburu dia diambil sama putri dari kerajaan sahabat lho." ledek Putri Kyra sembari terkekeh.
"Ah nggak mungkin, dan nggak akan." Putri Adeena mulai agak kesal dengan ledekan adiknya.
"Hahaha kau itu lucu kak, malu-malu tapi mau, malu-malu tapi cemburu ckckck," ucap Putri Kyra
"Selamat siang Putri Mahkota Adeena, Putri Kyra." sapa seorang Hawaki sambil membungkukan badan dihadapan mereka berdua.
"Oh hai selamat siang Pangeran Nael dari kerajaan Hindira," sapa Putri Adeena.
Sementara Areez memperhatikan aktivitas Putri Adeena yang sedang didekati oleh seorang hawaki dari jauh.
"Selamat untuk penobatannya tuanku. Maukah tuanku bergabung dengan saya untuk berdansa di tengah?" ajak Pangeran Nael
"Hehe terimakasih pangeran Nael, sayang sekali saya tidak pandai dalam berdansa. Tetapi adikku ini bisa menemanimu jika engkau tak keberatan." Putri Adeena melirik Putri Kyra yang sontak langsung memasang muka juteknya.
"Oh dengan senang hati tuanku. Mari Putri Kyra kita berdansa sejenak."
Pangeran Nael sembari menarik tangan Putri Kyra ketengah Hall. Sementara Putri Mahkota Adeena tertawa geli setelah berhasil mengerjai adik kesayangannya.
Pesta yang sudah berlangsung selama dua setengah jam akan segera berakhir. Setelah pemimpin acara mewakili sang Ratu Archadia pamit untuk kembali ke kediaman, Areez merasakan ada hawaki yang terlihat mencurigakan. Hawaki itu terlihat gelisah dan sering memegang saku celananya. Saat melihat Ratu Zaina akan berlalu ke arah pintu keluar, tiba-tiba hawaki itu langsung menyerang dengan mengeluarkan sebilah pisau dari saku celana. Areez yang sudah memprediksi akan bahaya itu segera sigap menahan tangan hawaki itu sebelum menyentuh junjungannya. Dengan cepat ia segera memukul wajah penyerang sehingga tersungkurlah hawaki itu dilantai.
Ratu Zaina dan kedua putrinya yang masih tampak kaget dengan insiden itu segera memundurkan beberapa langkahnya kebelakang, sementara pengawal lain segera membuat posisi pertahanan di sekitar Ratu dan Putri Mahkota. Areez segera menginjak tangan hawaki itu sehingga terlepaslah pisau ditangannya.
Jodie menghampiri Areez dan segera mengambil borgol untuk menahan hawaki itu. Kemudian Jodie segera membawa hawaki penyerang itu keluar Hall. Areez segera mendekat ke arah Ratu Zaina yang memperhatikan aktivitas pengamanannya masih dengan rasa tak percaya malam ini akan ada p*********n dengan keamanan yang super ketat.
"Apakah yang mulia terluka?" tanya Areez dengan raut wajah khawatir.
Ratu Zaina pun tersenyum melihat kekhawatiran pada diri Areez kepadanya.
"Aku tidak apa-apa Kapten taruna Areez. Aku sangat berterima kasih karena kau telah menyelamatkan keluarga kami untuk kedua kalinya." Ucap Ratu Zaina sembari tersenyum.
"Syukurlah, sama-sama yang mulia, ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab hamba. Sekarang kondisi sudah aman yang mulia." Areez mempersilahkan Ratu Zaina untuk segera beranjak ke kediamannya.
"Terimakasih sekali lagi Areez." ucap Ratu sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan Hall Utama.
Sementara Putri Mahkota Adeena yang mengikuti langkah ibunya tersenyum saat melewati dihadapan Areez.
"Luar biasa Kapten." Putri Kyra tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
Atas sikap tuan Putri Kyra itu Areez sempat terbengong melihat sikapnya yang tidak terlalu kaku untuk seorang putri.
"Sama-sama tuanku."
Areez memberikan rasa hormat dan masih memperhatikan Putri Kyra mengacungkan jempolnya sampai hilang dibalik pintu besar Hall Utama. Areez yang melihatnya hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan.
Pesta penobatan hari itu selesai dan ruangan segera disterilkan. Para tamu undangan segera kembali ke Kerajaan nya masing-masing. Sementara kabar tentang p*********n itu segera menyebar luas begitu juga dengan aksi heroik Areez menyelamatkan sang Ratu. Areez dan Jodie kembali melaksanakan aktivitas trainingnya di Markas Utama Legiun Eminent.
Pangkatnya telah naik satu tingkat menjadi Mayor taruna, begitupula dengan Jodie. Banyak ilmu yang diserapnya selama masa training. Pengalaman dalam menangani teror dan berbagai kerusuhan berhasil menambah daftar prestasinya. Tiga bulan akan segera berlalu dan ujian akhir segera menanti Areez dan kawan-kawan sesama taruna di Legiun Eminent.
Pagi ini dia berada di hadapan Dewan Penguji. Areez akan mempresentasikan taktik perang Aggashe yang dicetuskan oleh nya. Dewan penguji yang berjumlah tiga hawanian Perwira Tinggi Legiun Eminent segera mempersilahkan untuk mempresentasikan. Areez pun mulai menjelaskan taktik Aggashe dengan detail dan rinci yang terbukti berhasil dalam melakukan p*********n terhadap musuh.
Aggashe sangat efisien digunakan dalam taktik berperang yang akan meminimalkan jumlah korban dari pasukan dan memaksimalkan jumlah korban dari lawan. Kurang lebih 45 menit sesi diskusi tentang teknik Aggashe berlangsung dengan sangat menarik.
"Mayor taruna Areez, saya ingin bertanya satu hal sebagai penutup. Jika anda lulus, anda ingin ditempatkan di Departmen mana di Legiun Eminent?" tanya Jenderal Ivonne yang nampak puas dengan presentasi taktik Aggashe yang Areez paparkan.
"Jenderal dan Dewan Penguji yang saya hormati. Saya datang kesini dengan berbekal keyakinan. Saya tidak punya apa-apa saat terdampar di Kerajaan ini. Bagi saya, Archadia adalah rumah yang harus saya pertahankan mati-matian agar tetap berdiri kokoh. Sebagai seorang prajurit, saya siap ditempatkan dimana saja. Departemen apapun, tugas saya adalah tetap membela dan mempertahankan kedaulatan kerajaan Archadia." ucap Areez dengan mantap.
"Baiklah jika jawabanmu seperti itu. Selamat anda lulus dan selamat bergabung di pasukan Naga." ucap Jenderal Ivonne sambil tersenyum dan bertepuk tangan, diikuti oleh Dewan Penguji lainnya.
Areez tersenyum lebar, merasa lega seketika mendengar ujiannya lulus. Segera Areez menjabat tangan seniornya itu dan meninggalkan ruang sidang uji. Jodie menyambut Areez dengan pelukan bangga.
"Aku turut berbangga kepadamu saudaraku." ucap Jodie dengan senyum lebar sambil menepuk-nepuk bahu Areez.
"Terimakasih saudaraku, kau juga sangat hebat. Akhirnya kita lulus dan akan resmi bergabung di kesatuan Eminent." Areez masih tak percaya
"Yah aku rasa kita semua telah melakukan yang terbaik. Bersiaplah untuk upacara pembaretan besok kawan," ucap Jodie.
Mereka berdua kembali ke Bangsal Ksatrian dan disambut suka cita oleh taruna lain yang telah lulus ujian hari itu juga.