KATA SEMESTA

1881 Words
Kurang dua hari lagi penobatan Putri Mahkota akan segera tiba. Pagi buta Areez dan Jodie telah keluar dari Bangsal Ksatrian taruna Eminent untuk ikut melaksanakan pengamanan dimana tamu-tamu kerajaan sudah mulai berdatangan. Dengan berseragam lengkap, kedua hawaki itu sudah berjaga di pintu gerbang Madia kerajaan. Sambil mengamati aktivitas warga sekitar yang sedang memasang umbul-umbul berwarna warni, Areez meminta izin untuk berkeliling di sekitar Grand Market sebentar ke kakak asuhnya.        Setelah mendapat izin dari Mayor taruna Arsy, Areez pun segera bergegas menuju Grand Market. Penampilan yang berseragam taruna lengkap dengan lambang Naga dilengannya, serta wajahnya sebagai hawaki yang tergolong tampan mendapat beberapa perhatian dari warga yang berpapasan. Setelah berkeliling dan merasa keadaan aman akhirnya Areez kembali ke pos penjagaan. "Hei Istana membutuhkan beberapa penjaga lagi untuk jamuan makan siang tamu dari seluruh Kementerian dan Departemen. Apakah kalian mau menjadi relawan?" tanya Mayor taruna Arsy. "Siap Mayor, kami mau." ucap Areez dan Jodie bersamaan. "Baiklah, ayo kita berangkat." ajak Mayor taruna Arsy dan mereka segera menuju Istana.       Istana putih dengan halaman rumput bak permadani hijau membentang luas itu baru dilihat oleh Areez untuk pertama kali. Ditengah halaman, sebuah kolam air mancur besar menyemburkan airnya yang berwarna biru. Istana bertingkat lima bak kastil megah berdiri kokoh dihadapan Areez. Mereka segera memasuki Istana dan berjaga didepan pintu masuk.       Di belakang Istana terdapat danau buatan yang cukup luas dengan beberapa Angsa putih sedang berenang. Sementara didekat danau ada kuil untuk bermeditasi bersama, dimana beberapa Spiris Angel Istana selalu memimpin ritual itu pada pagi dan sore hari. Tamu mulai berdatangan dan tugas pengamanan pun berjalan sesuai alur. "Kapten, kita berjaga sampai jam berapa disini?" tanya Areez. "Entahlah, menunggu perintah Mayor saja." ucap Jodie.       Akhirnya acara makan siang telah selesai. Areez sibuk membantu hawanian staf Istana memasang umbul-umbul disekitar jalan menuju gerbang luar Istana. Pelayan-pelayan dan staf istana yang ramah cepat bersahabat dengan Areez yang memang suka membantu orang lain. Matahari yang berwarna kuning keemasan bergeser perlahan ke sisi Barat. Angin dingin berhembus pelan menambah suasana Istana sore itu terasa damai. "Hai Jod, mana Areez?" tanya Mayor taruna Arsy sembari mencari sosok Areez berada. "Itu Mayor, sedari tadi hawaki itu tidak mau diam. Membantu para pelayan memasang umbul-umbul. Padahal saya sudah perintahkan untuk tetap berjaga disini." ucap Jodie sambil memperhatikan Areez yang masih memegang umbul-umbul. "Hhmm dasar ya hawaki itu memang nggak mau diam. Segera panggil dia Jod, kita diminta ikut meditasi bersama sore ini di dekat danau. Aku tunggu kalian disana ya." perintah Mayor taruna Arsy. "Siap Mayor." ucap Jodie memberi hormat. "Heii Areez." teriak Kapten Jodie sambil melambaikan tangan ke arahnya untuk mendekat. "Siap Kapten, ada apa?" tanya Areez sembari berlari kecil menuju arah Jodie berada. "Kita diminta ikut meditasi bersama dibelakang, ayo segera bersiap," ucap Jodie "Oke baiklah," ucap Areez        Dua taruna itu berjalan perlahan menuju danau Angsa dibelakang Istana Chena. Sudah terlihat beberapa hawanian disana tetapi acara belum dimulai. Sebelum memasuki area meditasi, Areez dan Jodie menitipkan topi, sarung tangan, senjata dan sepatunya ke petugas jaga tempat penitipan barang yang berada didekat pintu masuk kuil meditasi.        Segera mereka mendapat ikat kepala berwarna putih dan membersihkan tubuh mereka disebuah pancuran khusus bertabur bunga untuk bersuci. Setelah selesai bersuci, mereka memakai alas kaki yang telah dipersiapkan, sementara Areez masih sibuk merapikan ikatan kepalanya. "Apakah yang mulia sudah hadir?" Jodie bertanya ke petugas jaga. "Yang Mulia belum hadir, akan tetapi Putri Adeena dan Putri Kyra sudah hadir disana." jelas petugas berpawakan tinggi itu. "Oh baiklah, terimakasih informasinya," ucap Jodie "Areez ayo cepetan, sudah ditunggu Mayor Arsy," "Iya kak, ayoo aku sudah siap." ucap Areez menyusul Jodie.        Akhirnya mereka segera berjalan beriringan menuju tempat meditasi danau Angsa Istana Chena. Tempat meditasi itu terbuka dan menghadap langsung ke arah Barat. Di sekilingnya ditumbuhi pohon cemara perak yang membuat suasana sangat asri dan sangat tenang. Penampilan Areez dan Jodie berseragam taruna lengkap yang berjalan menuju tempat meditasi menjadi perhatian tersendiri bagi hawanian yang telah hadir.        Posisi meditasi Hawaki dan Hawana adalah saling berhadapan, sementara Spiris Angel duduk ditengahnya. Setelah sampai dipinggir tempat meditasi, harum aroma terapi segera menusuk hidung mereka. Jodie melihat mayor taruna Arsy memberikan aba-aba bahwa dia telah menyediakan tempat untuk mereka berdua duduk. Segera Areez dan Jodie melepas alas kaki dan memasuki tempat meditasi yang sebagian besar terisi oleh kaum hawana.        Areez berjalan pelan dan membungkuk dihadapan hawaki senior menuju tempat disebelah Mayor taruna Arsy yang berada dibarisan kedua dari depan. Putri Adeena yang duduk dibagian paling depan melihat Areez berjalan pelan sambil menunduk menuju ke barisan kedua hawaki. Tercengang sekaligus bahagia itu yang Putri Adeena rasakan. Saudarinya yang sedari tadi mengajaknya bercerita sudah tidak diperhatikan lagi. Perhatiannya hanya tertuju pada hawaki yang tengah sibuk memposisikan diri untuk duduk disebelah Mayor taruna Arsy dan bersalaman dengan para hawaki disebelahnya.        Enam bulan tidak pernah melihat Areez sejak kejadian di klinik. Siapa sangka hari ini Putri Adeena melihat untuk kedua kali di Istana nya. Tentunya jauh lebih berbeda karena Areez yang dahulu berpakaian rakyat biasa sekarang telah berseragam taruna Legiun Eminent. Putri Adeena menikmati momen kerinduannya selama enam bulan yang telah terbayar sore ini. "Kakak woy, wah malahan melamun." Putri Kyra sedikit kesal karena baru menyadari sedari tadi ceritanya tidak digubris apalagi diperhatikan oleh kakaknya. "Hah? Kenapa dik?" Putri Adeena tersadar dari lamunan dan rasa terkejutnya. "Tuh kan beneran melamun, aku cerita panjang lebar dari tadi lho kak." Putri Kyra semakin kesal. "Haduh maaf, nanti cerita lagi ya di Keputrian. Sekarang kan waktunya meditasi." Putri Adeena memandang wajah adiknya dengan tersenyum. "Lagian kakak ngelihatin apa si dari tadi? Sampe melamun begitu?" tanya Putri Kyra sambil mencari-cari apa yang membuat kakaknya beralih perhatian. "Nggak, nggak ngelihatin apa-apa, tapi fokus haha." Putri Adeena tertawa lirih. Suaranya memaksa Areez menoleh untuk melihat siapa hawana yang sedang tertawa di acara meditasi.       Saat mencari sosoknya, Areez terpaku pada hawana yang pernah ia marahi di klinik omty Kora. Yah dia adalah Putri Adeena yang sedang tertawa dan bercanda dengan seorang wanita yang tak kalah cantiknya. Terpana Areez sesaat mengetahui dihadapannya juga hadir sang putri yang berambut panjang perak berkilau dengan gaun putih yang berpadu indah dengan kulit putihnya. Lama Areez memperhatikan sang putri tanpa berkedip, sampai ketika mata mereka saling bertemu. Rasa canggung dan bahagia bertumpuk menjadi satu.       Mendadak aliran darah kedua hawanian itu sama-sama saling berdesir kencang. Putri Adeena tersenyum saat Areez menyadari keberadaannya. Areez membalas senyumnya dan segera menundukan wajahnya kembali tak kuasa melihat wajah sang putri terlalu lama. Sementara Ratu Zaina Hezekiah telah hadir di lokasi meditasi dan segera semua hawanian berdiri memberi hormat.       Ratu Zaina duduk disebelah Putri Adeena dan mempersilahkan Spiris Angel untuk memulai upacara. Semua hawanian berfokus dalam meditasi sore itu sebagai bentuk rasa syukur terhadap kebaikan Semesta. Semilir angin dan senja yang begitu syahdu membuat hati siapapun yang berada di area itu akan merasa damai. "Semesta, ada apa dengan perasaan ini? Kenapa mendadak kacau sekali hatiku? Apa yang membuat gusar hatiku ini? Semesta apakah pertemuan aku dan Putri Adeena disini secara kebetulan atau memang engkau yang menghendaki? Jika iya, kenapa desiran darah ini semakin kencang saat aku mengingat wajahnya. Berikan aku jawaban atas pertanyaan ini Semesta" ucap Areez dalam hati. Sementara Putri Adeena memanjatkan doa dalam meditasinya. Matanya terpejam, semilir angin sore memainkan rambut panjangnya dengan lembut.  "Semesta, selama ini aku mencoba melupakannya tapi aku tidak pernah bisa. Sore ini kau hadirkan dia di hadapanku. Apa ini artinya jawaban atas pertanyaanku selama ini? Semesta jika memang dia jodohku, dekatkanlah hati dan raga kami. Penolong dan pelindungku hanya dia yang kupercaya untuk menjaga raga dan hatiku ... Areez."       Selama tiga puluh menit meditasi berlangsung, diakhiri dengan olah nafas dalam sebagai penutup upacara meditasi sore ini. Sebelum membuka mata, Areez melihat wajah Putri Adeena dengan tersenyum tergambar jelas dipikirannya. Perlahan ia membuka mata dan samar-samar melihat hawana itu telah memperhatikannya sedari tadi. Areez segera menundukan kepalanya kembali. Bukan karena apa-apa, tetapi sebagai bentuk rasa hormat kepada junjungannya dan asas kesopanan lebih tepatnya.       Para hadirin satu persatu meninggalkan ruang meditasi untuk kembali ketempatnya. Terlihat Ratu Zaina sedang berdiskusi dengan Spiris Angel didampingi Putri Adeena dan putri Kyra. Mayor taruna Arsy segera mengajak Areez dan Jodie untuk kembali ke pos penjagaan. Mereka bertiga berjalan beriringan menuju tempat menaruh alas kaki. Terlihat pula sang Ratu tengah berjalan menuju tempatnya menaruh alas kaki yang kebetulan berdekatan dengan mereka bertiga. Dengan sigap mereka memberikan hormat kepada sang Ratu yang kemudian dibalas dengan senyuman. "Bunda, dia adalah Areez." ucap Putri Adeena sambil berbisik ke arah ibunya. "Kau kah hawaki di klinik itu? Areez?" Ratu Zaina tersenyum melihat penampilan Areez yang sedikit berbeda sekarang. Sementara Putri Kyra yang mendengar nama Areez disebut tercengang dan segera melihat ke arah kakaknya yang sedari tadi selalu tersenyum sendiri. "Benar yang mulia, salam hormat. Semoga yang mulia Ratu dan keluarga selalu diberi perlindungan dan kesehatan." Areez menundukan kepala sembari tersenyum. "Syukurlah kamu sekarang sudah bergabung di Ksatrian. Saya kira kamu menolak permintaan kami." ucap Ratu dengan bijaksana. "Mana berani hamba menolak Yang Mulia. Terimakasih sudah memberikan saya dan teman saya kesempatan untuk bergabung," ucap Areez. Sementara Mayor taruna Arsy dan Kapten taruna Jodie saling berpandangan melihat keakraban Ratu mereka dengan junior mereka. "Baiklah Areez, sedang pesiar atau mampir untuk ikut meditasi?" tanya Ratu "Maaf yang mulia. Sebenarnya Kapten taruna Areez sedang menjadi relawan untuk masa training pengamanan, sampai hari penobatan Putri Adeena besok." Mayor Arsy memberikan penjelasan. "Wow baguslah, saya sangat senang kau membantu kami untuk acara besok. Terimakasih ya." ucap Ratu sambil tersenyum. "Sama-sama yang mulia. Maaf yang mulia, kami mohon undur diri untuk kembali ke pos penjagaan." ucap Areez sambil memberikan hormat diikuti Mayor Arsy dan Jodie. "Baiklah silahkan." sang Ratu mempersilahkan dan melepas ketiga hawaki itu meninggalkan tempat. Sementara Ratu dan pelayannya berjalan terlebih dahulu untuk kembali ke Istana. Putri Kyra yang masih penasaran dengan sikap apatis mendadak kakaknya terpancing rasa penasaran yang besar. Mereka pun berjalan santai sambil menikmati sore di sekitar danau Angsa. "Jadi, itu yah hawaki yang udah buat kakaku jadi apatis dadakan gini?" ledek Putri Kyra. "Diiih apaan si kamu dhe?" Putri Adeena tersipu malu. "Ganteng si, pasti banyak yang suka tuh." ledek Putri Kyra. "Hiiish Putri Kyra, apaan si? Jangan ngomong sembarangan." Putri Adeena nampak sedikit kesal dengan becandaan adiknya. "Lho lho kok marah? Ya siapa tahu. Emang kakak tahu? hahaha." goda Putri Kyra "Sudahlah lagian kenapa si? Dia kan bukan siapa-siapa kakak dhe." Putri Adeena malas meladeni ledekan adiknya. "Yang benar? Baiklah kalau bukan siapa-siapa kakak, berarti boleh dong buat Kyra. Habis ganteng juga si." ledek Putri Kyra semakin menjadi. "Iiihhh kamu ya dhe, becanda apa ngajak berantem hah?" tanya Putri Adeena tersenyum menanggapi ucapan adiknya. "Hahaha kakak-kakak, lagian apa salahnya jujur sama perasaan, toh nggak ada yang ngelarang. Itu wajar kak. Kalau kakak suka, Kyra siap jadi jembatannya." Putri Kyra tersenyum menatap wajah cantik kakak nya. "Apaan si, ikuti alurnya saja lah. Kalau jodoh juga nggak akan kemana dik." Putri Adeena memandang jauh kearah danau. "Kalau mengandalkan aliran, tapi tujuan aliran itu ketempat yang salah juga nggak bagus kan? Cinta itu harus diperjuangkan kak." Putri Kyra menyemangati kakaknya. "Hhmm makasih ya dek untuk nasihatnya. Tapi kakak yakin, kalau dia memang jodoh, pasti nggak akan kemana." Putri Adeena memandang wajah adik satu-satunya itu sembari tersenyum. "Yasudah kak, ayoo kita kembali. Senja sudah mulai temaram." Putri Kyra merangkul kakaknya itu untuk kembali ke Istana Keputrian. Suara Angsa terdengar mulai ramai ditengah danau dengan kilauan cahaya matahari yang berwarna jingga membias melalui air-air jernih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD