Bab 6. Gugurkan Saja

1218 Words
Farhan menatap Kendra dengan tajam. "Apa maksudmu dengan tidak bisa menikahi Alea?" tanyanya, suaranya penuh dengan ketegasan. "Ya, aku memang tidak mau menikah. Aku tidak akan menikah Alea atau siapa pun." Kendra menghela napas berat. "Aku tidak mau terikat dalam pernikahan atau terikat dengan wanita mana pun." Farhan mengerutkan kening, tidak bisa menerima jawaban itu begitu saja. "Kenapa? Apa alasanmu tidak mau menikah?" Kendra mengalihkan pandangannya, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan perasaannya. "Aku... aku hanya tidak percaya pada pernikahan. Semua wanita sama saja." Farhan tersenyum pahit, merasa kecewa dengan pandangan Kendra yang sempit. "Tidak semua wanita sama, Kendra. Lihatlah Kasandra! Dia berbeda. Itu berarti pandanganmu tentang wanita tidak sepenuhnya benar." Kasandra, yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Kendra, pernikahan bukanlah sesuatu yang harus kamu benci. Pernikahan adalah komitmen, dan komitmen itu penting dalam kehidupan," katanya dengan suara penuh pengertian. Namun, Kendra tetap pada pendiriannya. "Aku tidak mau menikah. Aku tidak percaya dengan semua itu," ujarnya tegas. Farhan, yang mulai kehilangan kesabarannya, mendekat ke arah Kendra. "Kendra, ini bukan hanya tentang perasaanmu. Ini tentang tanggung jawab. Alea hamil, dan kamu harus bertanggung jawab atas itu." Kasandra juga menambahkan, suaranya penuh dengan kekecewaan, "Kendra, kami membesarkanmu dengan harapan kamu bisa menjadi pria yang bertanggung jawab. Apakah kamu akan mengingkari semua yang sudah kami ajarkan?" Kendra mengepalkan tangannya, matanya memancarkan kemarahan yang mendalam. "Aku benci komitmen!" serunya dengan suara penuh emosi. "Aku tidak pernah lupa bagaimana ibuku meninggalkan ayahku. Dia bercerai, memilih pria lain, dan meninggalkan aku di pinggir jalan seperti sampah yang tidak berharga. Itu membuatku benci pernikahan! Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama!" Kasandra, yang terpukul mendengar kata-kata adiknya, mencoba menenangkannya. "Kendra, itu adalah perkara lama. Ibu kita punya pilihannya sendiri, dan itu tidak bisa dijadikan alasan untuk membenci semua wanita atau pernikahan. Kita tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu." Namun, Kendra tetap keras kepala, menolak untuk mengubah pendiriannya. "Aku tetap tidak mau menikah," tegasnya lagi. Kasandra, yang sudah tidak tahan lagi, menampar Kendra dengan keras. Tamparan itu bergema di seluruh ruangan, membuat semua orang terdiam. "Aku membesarkanmu bukan untuk menjadi pengecut, Kendra!" serunya dengan suara bergetar, penuh dengan emosi yang tertahan. Kendra hanya bisa diam, memegangi pipinya yang terasa kebas karena tamparan Kasandra. Matanya kemudian beralih pada Alea yang tiba-tiba melenguh pelan, tanda bahwa dia mulai sadar. Kasandra cepat-cepat mendekati Alea, membantu duduk dan menanyakan, "Alea, apa kamu baik-baik saja? Apa yang kamu rasakan?" Alea, yang masih tampak bingung, mengedipkan mata beberapa kali sebelum akhirnya bertanya, "Apa yang terjadi?" Karin, yang berdiri di dekat pintu, menjelaskan dengan tenang, "Tadi kamu pingsan, tapi kondisimu sudah stabil sekarang." Alea mengangguk pelan, meskipun wajahnya masih tampak lelah. "Kenapa semua orang di sini terlihat begitu tegang?" tanyanya, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Menyadari situasi yang semakin rumit, Karin memutuskan untuk memberi ruang bagi mereka. "Aku akan keluar dulu. Kalau ada yang perlu, kalian bisa panggil aku," ujarnya sambil meninggalkan ruangan. Setelah Karin pergi, Farhan mengalihkan perhatiannya kembali pada Kendra. "Kendra, duduklah di samping Alea. Kamu harus ada di sini untuknya," perintahnya dengan nada yang lebih lembut, meskipun tetap tegas. Kendra menggelengkan kepala, "Aku tidak mau." Alea, yang melihat sikap dingin Kendra, menatapnya dengan tajam. Matanya penuh dengan kemarahan yang tertahan, namun dia memilih untuk diam. Kasandra, yang tidak bisa lagi menahan kekecewaannya, menatap Kendra dengan pandangan yang keras. "Kendra, duduklah," desaknya, suaranya sarat dengan otoritas kakak yang selama ini merawatnya. Kendra akhirnya menurut dan duduk di samping Alea, meskipun ia merasa sangat tidak nyaman. Namun, ia tetap menjaga jarak dan meminta Alea untuk duduk di ujung ranjang, seolah-olah ia ingin memisahkan diri sejauh mungkin dari situasi tersebut. Suasana di ruangan itu semakin tegang, dengan berbagai emosi yang berkecamuk. Alea, yang merasa situasi di dalam kamar sangat asing dan penuh ketegangan, memutuskan untuk bangkit dari tempat duduknya. "Saya sebaiknya pergi. Saya tidak ingin mengganggu urusan keluarga," ujarnya pelan, suaranya bergetar karena cemas dan bingung. Namun, sebelum Alea sempat melangkah lebih jauh, Farhan segera meminta Alea untuk kembali duduk. "Alea, tolong duduk dulu. Ada sesuatu yang penting yang perlu kamu ketahui," katanya dengan nada yang lebih lembut namun tegas. Alea, meskipun bingung, menuruti permintaan Farhan dan kembali duduk. Ia merasakan detak jantungnya semakin cepat, tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Farhan. Tatapannya beralih dari Farhan ke Kasandra, dan akhirnya ke Kendra yang duduk di ujung ranjang dengan ekspresi datar. Farhan menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara. "Alea, kamu hamil," katanya langsung, tanpa berbelit-belit. Alea menatap Farhan dengan ekspresi terkejut, dan satu-satunya kata yang keluar dari mulutnya hanyalah, "Hah?" Suaranya terdengar datar, penuh kebingungan dan ketidakpercayaan. "Apa maksud Bapak?" tanyanya, tidak yakin bahwa dia mendengar dengan benar. Farhan menghela napas sekali lagi, mencoba menenangkan diri sebelum melanjutkan. "Alea, kamu sedang hamil. Dokter yang memeriksa tadi sudah memastikan hal ini. Tapi untuk lebih meyakinkan, besok kita akan pergi ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut." Alea menggelengkan kepalanya dengan cepat, seolah berusaha menolak kenyataan yang baru saja disampaikan padanya. "Tidak, itu tidak mungkin," katanya dengan suara gemetar. "Ini tidak mungkin terjadi padaku." Kasandra, yang berdiri di samping Alea, meletakkan tangannya di bahu Alea. "Itulah yang dikatakan oleh dokter, Alea. Kami juga terkejut, tapi ini kenyataan yang harus kita hadapi," katanya dengan nada penuh simpati. Mendengar kata-kata itu, Alea langsung merasa seluruh dunianya runtuh. Air matanya mulai mengalir deras, dan ia mulai menangis histeris. "Tidak! Ini tidak mungkin! Aku tidak mungkin hamil!" serunya dengan suara yang pecah karena emosi yang meluap-luap. Alea memegangi perutnya dengan tangan gemetar, seolah mencoba merasakan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi. "Bagaimana ini bisa terjadi padaku? Aku tidak siap! Aku tidak bisa... aku tidak bisa hamil! Bagaimana aku bisa hamil tanpa suami, Bu?!" ujarnya sambil menangis semakin keras. Kasandra mencoba menenangkan Alea, namun usahanya sia-sia. Alea terlalu syok dan frustasi untuk mendengar kata-kata penghiburan. "Alea, tolong tenang dulu! Kita akan mencari solusi bersama," kata Kasandra dengan suara lembut, namun Alea tetap histeris. "Aku tidak bisa menerima ini! Kenapa harus aku? Kenapa ini terjadi padaku?" Alea berteriak dalam keputusasaan, wajahnya basah oleh air mata. Dia merasa dikhianati oleh diri sendiri, juga oleh takdir yang kejam. Farhan dan Kasandra saling bertatapan, tidak tahu harus berkata apa untuk menenangkan Alea. Kendra, yang masih duduk di ujung ranjang, hanya bisa diam menatap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Ia merasa bersalah, namun juga bingung harus berbuat apa. "Kendra," panggil Farhan, berharap adik iparnya itu akan mengatakan sesuatu yang bisa menenangkan Alea. Namun, Kendra tetap diam, wajahnya kaku dan tidak menunjukkan emosi. Dia merasa terperangkap dalam situasi yang tidak pernah ia inginkan. Semua yang terjadi terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Alea akhirnya menunduk, tubuhnya terguncang oleh isak tangis. Dia merasa tak berdaya, seolah-olah seluruh hidupnya tiba-tiba keluar dari kendali. "Ini tidak mungkin... Ini tidak mungkin," gumamnya berulang-ulang, suaranya hampir tidak terdengar. Kasandra, yang tidak tega melihat kondisi Alea, akhirnya menarik Alea ke dalam pelukannya. "Alea, kami semua ada di sini untukmu. Kami akan mendukungmu. Kamu tidak sendirian," bisik Kasandra, berharap bisa memberikan sedikit ketenangan bagi Alea. Namun, Alea hanya bisa menggelengkan kepala, menolak untuk percaya pada kenyataan yang baru saja menghancurkan hidupnya. Di dalam pikirannya, dia hanya bisa bertanya, "Kenapa harus aku? Kenapa ini terjadi padaku?" Kasandra menghela napas, menatap pada Kendra dengan mata tajam. "Ken, katakan sesuatu! Apa yang akan kamu lakukan?!" Kendra diam, berpikir sejenak dan menghela napas. "Kita gugurkan saja anak itu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD