Apapun yang berhubungan dengan Dani adalah hal yang sangat ingin Senja hindari saat ini. Termasuk perdebatan yang menurutnya buang-buang waktu. Karenanya alih –alih terus mendebat Senja lebih memilih menurut ketika pria itu terus memaksanya pulang. Lagi pula, Dani tidak akan membiarkannya bersama Morgan. Tidak akan lucu kalau keberadaannya di tempat Morgan ditemani sang bodyguard. Niat ingin menghindar justru terjebak.
Dani membuka pintu kemudi begitu mobil berhasil masuk garasi. Mengejar langkah sang nona yang sudah lebih dulu turun, menuju teras.
Sejak keluar dari halaman rumah Morgan, Senja tak lagi bicara. Bahkan pertanyaan dari Dani tak ditanggapinya sama sekali. Senja lebih memilih mendengarkan lagu melalui perangkat audio ponsel. Hal itu membuat Dani semakin kesal.
“Tunggu, Sen,” cegahnya meraih pergelangan tangan sang gadis.
“Aku harap kamu ngerti batasan,” ujar Senja melirik tangannya yang dicekal seolah mengingatkan bahwa mereka tak setara walau Dani tampak tak peduli.
“Nggak ada orang di sini.” Dani membalas santai meski tahu di balik pintu pos penjagaan Pak Sugeng - sang penjaga pintu gerbang - memperhatikan interaksi mereka. “Ayo kita bicara.”
“Aku capek, abis jalan jauh. Apa kamu nggak ngerti juga?”
Senja adalah jenis wanita yang tidak akan mengatakan secara langsung penyebab dirinya marah atau menghindar walau dalam hal ini Dani sangat mengetahui. Ia ingin setidaknya Dani peka bahwa dirinya tidak baik-baik saja. Perlu waktu untuknya menerima penjelasan pria itu. Karena menurutnya, harus ada rasa bersalah atas pengkhianatan yang pria itu berikan. Seharusnya Dani sadar bahwa kesalahannya sangat fatal.
“Kamu nyusul aku ....”
“Aku capek. Please tinggalin aku sendiri,” potong Senja .
“Nggak, kamu harus denger penjelasan aku.”
“Perlu aku panggil Pak Sugeng buat ingetin bahwa ini bukan lagi waktu berbicara untuk dua orang berbeda gender?”
“Nggak ada yang bakal mikir aneh-aneh. Semua orang berpikir kita cuma bawahan dan majikan.”
“Kalau gitu, sebagai majikan aku nyuruh kamu pergi. Udah hampir jam sepuluh malam dan aku butuh istirahat.”
Kalau sudah seperti ini Dani tidak bisa lagi menolak. Menggunakan kekuasaan membuatnya mengerti posisi diri.
“Baik, Non.” Dani mengangguk dan menarik diri. Menyadari bujukannya tidak akan membuahkan hasil. Ia bertekad untuk menjelaskan begitu keadaan memungkinkan.
Pintu baru akan Senja tutup saat suara dering ponsel Dani berbunyi. Di balik pintu dapat ia dengar pria itu memekik khawatir kemudian dengan tergesa-gesa berlari hingga menghilang di balik pintu gerbang.
Tak ingin lagi peduli pada Dani dengan segala urusannya, Senja memilih melipir ke dapur. Membuka pintu kulkas, perhatiannya tertuju pada sebuah kaleng minuman beralkohol yang terlihat menggiurkan. Seolah melambaikan tangan untuk segera dinikmati.
Senja menggeleng, mengambil kaleng itu kemudian memutarnya. Mencari informasi kandungan yang tertera pada label.
“Minuman ginian masih aja nangkring di sini,” gerutunya kemudian tanpa rasa bersalah melemparnya ke dalam tong sampah. Lagi pula siapa yang menyimpan? Senja bahkan tak pernah lagi mendapati sang kakak atau papanya mengkonsumsi minuman yang dapat merusak kesehatan itu. “Apa punya Dani?”
“Iya, Non itu punya Mas Dani.”
“Astaghfirullah!” kaget Senja, mengelus d**a yang tiba-tiba bergerak naik turun. Dari mana munculnya wanita paruh baya itu kenapa tiba-tiba berdiri di sisinya? “Simbok ngagetin aja, deh.”
“Ya maaf. Abis Non Senja ngomong sendiri,” bela Mbok Darmi setengah nyengir.
“Kenapa punya Dani ada di sini, Mbok?”
“Itu udah lama, Non, sejak Mas Dani tinggal di sini buat jaga rumah.” Yah. Senja ingat. Saat di mana mereka kembali melakukan hubungan haram dua bulan lalu setelah dirinya bebas dari penjara Morgan.
“Ya udah aku kamar dulu, Mbok,” pamitnya mengambil sebotol air dingin membawanya ke dalam kamar.
Dalam hitungan detik air itu tandas menyisakan botol kosong yang Senja lempar sembarang ke tempat sampah di sudut ruangan. Perutnya seketika kembung padahal belum ada makanan yang masuk hari ini. Entahlah, ia tidak merasa lapar sama sekali. “Apa iya sakit hati bisa bikin kenyang?” gumamnya asal.
Senja menghempaskan tubuh ke Ranjang. Menghela nafas berat, angannya menerawang pada kejadian masa lalu.
“Kenapa kamu tega lakuin ini, Dan?” tanya Senja setelah pengaruh obat dalam tubuhnya menghilang. Menyadari betapa bodoh dirinya beberapa saat lalu yang meminta kehangatan dari pria itu.
“Maaf, Non, saya ... saya kelepasan.” Mana ada kucing yang menampik disuguhi ikan? Lagi pula Dani sudah lama mendamba tubuh indah itu. Karena jika mau, ia bisa saja membuat Senja sadar tanpa harus memanfaatkan keadaan. Tapi bagaimana? Jiwa jantannya meronta meminta pelepasan. “Saya janji akan bertanggung jawab kalau Non hamil.”
Senja menggeleng. “Nggak mungkin.”
“Kenapa?”
“KARENA AKU NGGAK CINTA SAMA KAMU!” teriaknya memenuhi sudut hotel.
Berkali Senja memberi penegasan namun sepertinya Dani terlalu percaya diri. Berpikir bahwa cintanya pada sang nona akan mendapat balasan.
“Kamu tahu, ‘kan? Nggak ada yang benar-benar bikin aku jatuh cinta! Kalian nggak bisa ambil hati aku jadi manfaatin kelemahan aku.”
Dani mengangguk .Sangat tahu. Bahkan saking tahunya ia buntuti Senja ketika Dean mengundang gadis itu ke club malam pembawa petaka. Dan terbukti Dean berniat mencelakai sang majikan.
“Dean berniat kurang ajar,” ujarnya dengan mata memerah. Mengingat bagaimana tangan kotor itu memapah Senja menuju kamar hotel.
“Apa bedanya sama kamu?”cibir Senja tepat sasaran.
Kalimat itu seolah menamparnya. Bukankah benar Dani juga memanfaatkan kelemahan Senja? “Saya nggak bisa, Non. Saya nggak bisa melihat tatapan mendamba Nona.”
Senja menutup wajah dengan kedua tangan. Apa iya setidak tahu malu itu ia memberikan tatap penuh damba pada orang yang bahkan tak pernah mampir di hatinya?
“Saya nggak bisa menahan gejolak yang terasa hampir meledak akibat Non buka baju,” imbuh Dani.
“Astaga.” Senja makin meratap pilu. Tak terpikir sekali pun akan melakukan hal hina itu.Merayu pria yang menjaganya selama ini.
Senja memijit pelipis yang terasa berdenyut. Tidak cinta? Lalu apa yang mereka lakukan setelah itu? Senja bahkan berkali-kali memberikan diri untuk Dani. Ia ingat terakhir kali melakukan di rumah itu. Di kamarnya sendiri. Dua bulan lalu.
“Kamu ngaco, ya? Kalau mama sama papa lihat gimana?” tanya Senja setelah berhasil meloloskan suara laknat di tengah penyatuan mereka.
Dani tak sanggup menjawab, fokus pada kegiatannya.
“Dan, aku ... aku.” Akhirnya kata cinta itu keluar begitu saja tepat saat puncak keindahan mereka capai.
Dani merasa puas walau kalimat itu hanya keluar saat mereka tengah bercinta. Entah cinta atau hanya nafsu. Yang pasti ia ingin selalu memberikan kenikmatan itu pada sang pujaan hati. Ada atau tanpa cinta yang terucap dari mulut gadis itu.
“Love you more,” balas Dani menempelkan keningnya pada kening Senja. Menjadikan satu aliran keringat yang deras mengucur hasil dari penyatuan mereka.
“Cinta kamu bilang?” Senja bergumam sinis. “Cinta mana yang kamu maksud, huh?”
Senja bangkit, berjalan menuju benda berbentuk persegi panjang yang memperlihatkan proyeksi diri. Memperhatikan tubuh itu dari kepala hingga ujung kaki.
“Menjijikan!” serunya mengumpat diri sendiri.
Prang
Sekali sentak tangan itu mengeluarkan darah segar karena beradu dengan cermin. Luka akibat pecahan beling tak seberapa sakit dibandingkan nyeri yang menggerogoti hati.
“Non, itu suara apa?” Mbok Darmi yang masih berada di dapur, tergopoh-gopoh menghampiri. Suara yang terdengar nyaring itu membuatnya panik. “Non, buka pintunya.”
Tidak ada orang lain di rumah kecuali dirinya dan sang nona muda. Oh, Mbok Darmi ingat, ada Pak Sugeng di depan. Diseretnya langkah menuju pos jaga.
“Pak, tolongin, Pak,” serunya sembari meremas-remas jarik yang dikenakannya. Kebiasaan jika Mbok Darmi sedang panik.
“Ada apa, Mbok?”
“Itu, Non Senja ....”
“Non Senja kenapa?” Pak Sugeng ikut panik.
“Non Senja ... “ Wanita itu tampak berpikir. Ia tak tahu apa yang dilakukan Senja dalam kamar. “Ndak tahu tapi ada suara pecahan beling ... kayanya ....”
Sontak Pak Sugeng bergegas masuk diikuti Mbok Darmi. Berbagai pikiran negatif muncul dalam benak. Namun ... alangkah terkejutnya mereka mendapati sang nona duduk santai sembari mengupas kulit jeruk di meja dapur.
“Asem!” gumam Pak Sugeng melirik tajam Mbok Darmi yang kini nyengir menunjukkan gigi yang masih terlihat rapi. Tanpa mereka sadari tetes demi tetes darah mengotori lantai tempat nona mereka duduk.