Marsha bangun, pagi sudah menyelinap, dan kejutan itu datang tanpa aba-aba bahwa ia tidur di pelukan Kalandra. d**a pria itu naik turun teratur di punggungnya, satu lengan melingkar di pinggangnya dengan sikap protektif yang nyaris refleks, seolah posisi itu telah disepakati oleh tubuh sebelum pikiran sempat ikut campur. Kali ini Marsha tidak refleks mendorong atau menendang, ia justru diam. Ini bukan pertama kalinya mereka tertidur berdekatan, dan entah bagaimana tanpa perlu penjelasan ia memilih tetap di sana. Ia memandangi wajah Kalandra yang terlelap, garis tegas di rahang dan alis yang tetap berwibawa bahkan saat tidur. Lalu tanpa sadar terlelap kembali, seakan pagi memberinya izin untuk menunda dunia. Ketika ia bangun lagi, matahari sudah naik lebih tinggi dan jam menunjukkan pukul

