Mencintai seseorang dengan kadar yang tidak bisa ditakar adalah menyedihkan. Sama seperti kadar yang Asta miliki untuk mendiang Gita, dan kini, Anggi yang ikut menyedihkan karena kadar cintanya pada pria itu tak bisa ditakar sama sekali. Hidupnya sekilas tak terlihat menyedihkan, tetapi ditelaah lebih jauh akan sama mirisnya seperti yang Asta alami. Sebenarnya mereka sama saja, hanya berbeda cara menggoreskan luka yang sedang mereka lakukan satu sama lain. Menghitung waktu. Semuanya perlu waktu, dan menunggu. Setelah itu... akan terlihat babak—belur—baru yang akan keduanya lalui. "Bapak minta ketemu." Kata ibunya melalui saluran telepon. "Iya, nanti Anggi mampir ke rumah, ya. Sama Asta." "Kok manggilnya masih Asta?" tanya ibunya tak terima jika putrinya memanggil sang suami dengan n

