Ayah dan putranya

1203 Words

"Perusahaan Abinaya bukan hanya tentang bisnis. Ini tentang warisan keluarga, amanah yang sudah turun-temurun." Bintang menegaskan, "Kau sudah sepakat. Itu sepaket dengan pernikahanmu. Aku belum menyerahkan kursi kepemimpinan langsung, tapi kau perlu dipersiapkan untuk itu. Tahun depan, saat usiamu delapan belas, barulah kau akan jadi pemegang takhta sebenarnya." Dinding-dinding Kastil Abinaya bisu, sebagaimana Khairan yang tetap khusyuk menyimak. Ia tahu amanah yang dimaksud ayahnya. Perusahaan permata Abinaya adalah nama besar yang patut dipertahankan kehormatan, harta, dan tentu saja, tanggung jawab besarnya. "Abati ingin kau mulai mendalami peranmu sebagai calon ahli waris takhta." Bintang menatap lurus ke mata Khairan. "Ini bukan sekadar formalitas, Nak. Kita sedang mempersiapkan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD